Sinar mentari pagi yang menyilaukan masuk melalui celah-celah kaca jendela rumah tua itu. Semilir udara pagi yang menyejukkan pun ikut masuk, memberikan kesegaran dan kesejukkan bagi siapa saja yang menghirup dan merasakannya. Perlahan tapi pasti mata yang sejak semalam terpejam akibat obat bius yang secara paksa harus ia hirup karena bekapan pria berbadan besar kemarin, mulai membuka matanya. Cahaya yang menyilaukan itu berhasil mengusik tidur panjang sang gadis, membangunkan dan menyadarkannya dari sebuah mimpi buruk yang lumayan panjang itu.
Fitri, gadis kampung yang cantik tapi malang itu menghela nafasnya kasar, setelah ia sadar dan berhasil mengingat semua kejadian buruk yang menimpanya kemarin. Mulai dari keluguannya yang mau-mau saja berkenalan bahkan mengobrol panjang dengan dua pria berbadan besar yang tak lain adalah orang asing bagi Fitri, percaya dengan mudahnya untuk menerima ajakan mereka yang menawarkan bantuan untuk mengantarkan Fitri ke tempat tujuannya yaitu tempat penginapan, hingga terkuaknya motif jahat dibalik kebaikan yang orang asing itu tawarkan, membuatnya sadar bahwa pergi merantau ke ibu kota, meninggalkan kampung halaman yang memberinya banyak kenyamanan, yang menawarkan suasana ketenangan, bukanlah hal yang mudah dan gampang, bahkan di saat ia baru saja ingin memulai untuk mengadu nasib, di saat ia baru saja menginjakkan kakinya di tanah rantau, dirinya sudah mendapatkan masalah besar.
Segala macam upaya yang Fitri lakukan kemarin agar terbebas dari dua pria berbadan besar itu, mulai dari aksi melarikan dirinya, mencoba melawan dengan cara menginjak kuat-kuat kaki pria asing itu yang berhasil mencekal tangannya, memukul mereka dengan tangan lemahnya, dan segala bentuk perlawanan serta pemberontakan lainnya yang tak memberikan efek baik, tak membuatnya berhasil lepas dan lolos dari aksi penculikan terselubung yang dua pria asing itu lakukan kepada dirinya, membuat Fitri kembali sadar bahwa modal keberanian saja tak cukup untuk bisa kuat di tanah rantau, karena seorang perantau harus punya banyak bekal agar bisa terus berdiri tegak di tanah rantau yang terkenal dengan pola kehidupannya yang cukup keras.
Banyaknya perantau yang datang dari berbagai macam daerah di Indonesia membuat persaingan di antara mereka semakin ketat, dan kadang berujung dengan memilih dan melakukan berbagai tindak kejahatan sebagai jalan pintas. Pasalnya mengadu nasib di daerah rantauan tak semanis apa yang kita kira, juga tak se-enak dan tak seluar biasa yang kita pikirkan, karena mereka-mereka yang sudah bergelar sarjana saja masih sangat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, apalagi yang seperti mereka-mereka yang hanya bermodalkan ijazah SMA atau bahkan mungkin SMP atau SD.
Hanya mereka-mereka yang selalu berusaha, bersabar, dan berdoa yang berhasil sukses dan bertahan, tak seperti mereka-mereka yang tak sabaran kemudian mengambil jalan pintas seperti melakukan tindak kriminal entah itu mencopet, memalak, dan lain sebagainya yang jelas saja tidak akan mendatangkan banyak kebaikan untuk mereka, karena pekerjaan yang mereka pilih bukanlah pekerjaan yang halal, yang jelas saja tidak akan mendatangkan banyak keberkahan, yang ada hanya kesenangan semu yang kehadirannya hanya untuk sementara.
Setelah berhasil menguasai dirinya dari rasa pusing yang sejak sadar tadi ia rasakan, rasa pusing yang tentu saja merupakan efek samping dari tingginya dosis obat bius yang ia hirup, pemandangan di depan matanya serta apa yang terjadi kepada dirinya saat ini membuatnya kembali merasa ketakutan.
Pasalnya di depan Fitri ada dua pria berbadan besar yang amat dihindari dan ditakutinya saat ini. Dua pria asing yang sudak menculiknya sampai Fitri kini bisa berada di tempat ini, tempat yang lebih cocok Fitri sebut dengan sebutan kandang harimau daripada rumah tua yang antik, saking menyeramkan dan saking berbahayanya rumah tua ini. Tak hanya itu, apa yang terjadi kepadanya saat ini dimulai dari tubuhnya yang diikatkan dengan kencang ke sebuah kursi tua yang ia duduki, kedua tangannya pun disatukan menjadi satu kemudian diikat kuat menggunakan tali tebal berwarna putih, dan satu hal yang tak boleh dilupakan, mulutnya pun kini sudah dibekap menggunakan lakban hitam, membuat keringat dingin bercucuran di beberapa bagian tubuhnya, saking dirinya merasakan takut yang teramat dalam.
Sadar bahwa keterdiamannya saat ini karena perasaan takut yang ia alami tak akan membuatnya bisa berhasil melarikan diri, kini Fitri berusaha keras, memikirkan jalan keluar agar dirinya bisa lolos, keluar dari rumah tua itu, sebelum dua pria asing berbadan besar itu bangun dari tidur mereka.
Langkah pertama yang ia ambil adalah mencari sesuatu yang tajam, yang bisa melepaskan tali tebal itu dari kedua tangannya. Seulas senyum terbit di bibir Fitri yang merah alami itu, kala ia melihat sebuah paku berkarat berukuran sedang tertancap di sudut meja panjang, tak jauh dari tempatnya kini diikat. Fitri berusaha menggerak-gerakkan kursi tempatnya duduk secara perlahan ke arah meja panjang itu, agar tidak ada bunyi decitan yang terdengar, dengan sesekali melirik ke arah dua pria asing berbadan besar itu, takut aksi nekatnya itu membangunkan kedua pria asing berbadan besar itu yang masih tertidur pulas.
Setelah berusaha keras menggerakkan kursinya secara pelan-pelan ke dekat meja panjang itu tanpa menimbulkan bunyi decitan keras, Fitri pun akhirnya sampai di dekat meja panjang itu. Tak ingin membuang-buang banyak waktu, Fitri memulai aksi keduanya dengan menggesak-gesekkan tali tebal berwarna putih itu di atas paku berkarat yang ukurannya lumayan sedang, berkali-kali hingga perlahan tapi pasti tali yang tebal itu pun lama kelamaan mulai terurai dan ikatan tali yang sangat kuat itu pun akhirnya terputus, dengan meninggalkan jejak merah keunguan di tangan Fitri, akibat ikatan tali yang sangat kuat itu dengan rentang waktu ia diikat hampir dua belas jam. Pantas saja bukan bisa meninggalkan bekas seperti itu?
Apakah itu sakit? Tentu saja sakit, bahkan sangat sakit bagi Fitri. Bayangkan saja kedua tanganmu diikat menjadi satu dengan menggunakan tali yang tebal, dan diikatkannya dengan ikatan yang kuat selama hampir dua belas jam, pasti luar biasa bukan sakitnya? Bahkan kalau Fitri boleh mengeluh , dengan senang hati ia akan menjawab “Satu jam saja sakit apabila diikat seperti itu, apalagi selama berjam-jam lamanya?” Tapi sudahlah memang ini bukan saatnya untuk Fitri mengeluh, ini adalah saat yang tepat untuk dirinya kabur, melarikan diri dari dua pria asing berbadan besar itu selagi mereka berdua masih asyik melakukan banyak hal sesuka hati mereka di alam mimpi.
Langkah berikutnya yang Fitri lakukan adalah melepas ikatan kuat yang membuatnya harus menempel selama berjam-jam dengan kursi tua itu dengan menggunakan kedua tangan lemahnya. Butuh waktu hampir lima menit bagi Fitri untuk melepaskan ikatan tali yang kuat itu, mengingat betapa lemahnya kedua tangan Fitri saat ini. Setelah semua ikatan kuat itu berhasil Fitri lepas, ia pun kembali mencari cara agar dirnya bisa melarikan diri dari rumah tua yang sangan menyeramkan itu. Setelah mengarahkan pandangganya ke segala penjuru ruangan itu, tatapan matanya membulat kemudian mulai menatapnya dengan pendar berbinar, seakan ia berhasil menemukan harta karun yang telah lama terkubur di dalam tanah, seakan ia menemukan oase di tengah panasnya padang pasir, dan seakan ia berhasil menemukan garam, bahan pelengkap hampir semua masakan yang entah di mana sang Ibu menyembunyikannya. Di sana, jendela berukuran sedang namun panjang yang Fitri Lihat beberapa meter tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat mudah baginya untuk keluar melalui jendela itu dikarenakan slot penguncinya yang sudah tak lagi utuh akibat rusak termakan usia.
Sebelum melangkahkan kakinya menuju jendela tersebut, sebuah ide jahil muncul di benak Fitri, sebuah ide untuk mengerjai kedua pria asing berbadan besar itu yang masih saja tidur dengan nyenyaknya, bahkan sesekali Fitri pun mendengar suara dengkuran yang cukup keras dari bibir keduanya. Fitri mengambil tali tebal berwarna putih tadi, tali yang cukup panjang yang digunakan kedua pria asing berbadan besar itu untuk mengikatkan tubuhnya ke kursi tua, kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka. Dengan perasaan ragu dan tangannya yang sedikit gemetar karena takut aksinya ini akan membangunkan mereka dari tidur nyenyaknya, Fitri mulai menggerakkan tangan lemahnya untuk mengikat mereka berdua dengan tali tebal itu. Perasaan takut dan ragu pun hilang seketika saat mereka berdua tak terusik sedikitpun, tak merasa terganggu dengan apa yang Fitri lakukan kepada mereka.
“Dasar maraneh jalma jahat, wani na ka b***k kampung, ka jalma lemah. Ngarasa maneh mun urang bejakeun ka Pak Polisi. Sugan urang sieun kitu ka maraneh? Heunteu nya, saha maneh? Nu ku urang pisieun mah Cuma hiji nyaeta gusti Allah Subhanahu Wata’ala, nu Maha Sagalana. Geus maraneh sare bae ka tibra, mun bisa mah waka ka gugah sakalian da jalma jahat mah rek naon mun teu ngajahatan batur mah. Astaghfirullah geuning urang malah nyumpahkeun batur, Hampura ya Allah, Fitri lepat,” ucap Fitri pelan dengan nada sebalnya seraya menatap mereka berdua dengan tatapan tajam, dengan menggunakan bahasa Sunda. (Dasar kalian orang jahat. Beraninya sama anak kampung, sama orang lemah. Rasain kalian kalau aku laporin ke Pak Polisi. Emangnya aku takut gitu sama kalian? Nggak ya, siapa kalian? Yang saya takuti hanya satu yaitu Allah Subhanahu Wata’ala, yang Maha Segalanya. Udah kalian tidur aja yang nyenyak, kalau bisa jangan sampai bangun lagi sekalian karena orang jahat mah mau apa lagi kalau nggak ngejahatin orang lain mah. Astaghfirullah kok aku malah nyumpahin orang lain, maafin ya Allah, Fitri lupa).
“Ish, kok malah jadi ngomel-ngomel nggak jelas gini, lebih baik aku kabur sekarang dari pada dua curut itu” Fitri langsung membekap mulutnya. “ups, sorry, walaupun badan kalian gede-gede tapi menurut aku kalian lebih cocok dipanggil curut, sampah masyarakat! Udah ah bye duo curut,” ucap Fitri pelan disertai dengan lambaian tangannya sebagai tanda perpisahan.
Fitri melangkahkan kakinya menuju jendela tersebut, menarik slot pengunci jendela yang tak lagi utuh itu, mendorong jendela ke arah luar secara perlahan dengan sesekali menengok ke belakang, memastikan kedua pria asing yang berbadan besar itu tak menyadari dirinya yang sedang berusaha untuk melarikan diri.
Ketika dilihatnya kondisi sekitar dan semua aman, Fitri pun mulai menggerakkan kakinya menaiki jendela kemudian turun dengan perlahan hingga kedua kakinya berhasil menapaki lantai halaman luar rumah. Untunglah tinggi pembatas antara ruangan tempatnya disekap dengan halaman luar rumah hanya sekitar satu meter saja, sehingga ia tak harus meloncat untuk turun dari jendela itu. Tak ingin berlama-lama berada di tempat itu, Fitri pun mulai melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan rumah tua itu, setelah ia menutup jendela itu kembali, agar aksinya melarikan diri melalui jendela rusak itu tak diketahui oleh dua pria asing itu.
Siapa tahu saja kan Fitri kembali tertangkap oleh mereka kemudian dibawa kembali ke rumah tua itu, Fitri jadi tahu ia harus bagaimana agar bisa kabur kambali, yaitu dengan menggunakan jendela ajaib itu. Jendela rusak yang sangat tak berguna bagi orang lain yang nelihatnya, tapi bagi Fitri jendela itu amat sangat berguna. Jendela ajaib, jendela penyelamatnya. Terdengar sangat berlebihan memang tapi itulah hidup hal kecil bisa sangat berarti bagi kita jika kita benar-benar sangat membutuhkannya. Fitri sangat bersyukur dan berterima kasih bisa menemukan jendela itu.“Lho kok jadi mikirnya gitu sih? Amit-amit, amit-amit, aku nggak mau lagi ketemu sama mereka. Aku nggak mau lagi disekap di rumah tua itu. Jangan sampe, Ya Allah. Jangan sampe,” monolog Fitri dalam hati ketika pikirannya berkelana, memikirkan hal-hal aneh yang jelas saja tak ingin ia alami kembali.