Part 11

582 Words
********** Di tengah gelapnya malam, dua pria berbadan besar, dengan seorang gadis cantik digendongan salah satunya, berjalan dengan tergesa-gesa menuju satu-satunya rumah yang terletak di pinggiran jalanan sepi, jalan yang hanya dilalui sesekali oleh para pengemudi, karena lokasinya yang jarang diketahui oleh banyak orang. Jalanan yang bagian kanan kirinya dipenuhi oleh pepohonan yang menjulang tinggi, dengan dedaunannya yang rindang. Setelah sampai di depan pintu rumah yang sudah mulai terlihat kumuh itu, rumah yang mereka berdua dan teman-temannya klaim sebagai markas mereka, barulah kedua pria berbadan besar itu bisa bernafas lega. Karena akhirnya mereka berdua bisa segera sampai di markas mereka dengan membawa seorang gadis cantik, tanpa menimbulkan kecurigaan dari banyak orang, mengingat salah satunya menggendong gadis cantik yang sedang tak sadarkan diri. Pria berbadan besar dengan rambut panjangnya yang dikuncir kuda, menurunkan tubuh Fitri dari gendongannya, mendudukkan Fitri di sebuah kursi tua yang sudah lusuh, mengikatkan tubuh Fitri ke kursi, juga kedua tangan Fitri yang diikat menjadi satu, dengan menggunakan sebuah tali tebal berwarna putih. Dosis obat bius yang sepertinya lumayan tinggi itu mampu membuat Fitri masih betah dengan ketidak sadarannya, meninggalkan dua pria berbadan besar yang kini menatap puas ke arah Fitri. Karena setelah melalui kejar-kejaran, kaki yang sakit karena ijakan gadis itu, pemberontakan Fitri, serta drama lainnya yang menurut dua pria berbadan besar itu sangat menjengkelkan, akhirnya Fitri bisa mereka taklukkan, dan bisa mereka bawa ke tempat persembunyian. "Gila, baru kali ini gue nangkep mangsa sampe sebegini capeknya," ucap pria berbadan besar dengan tato berukuran sedang ditangannya, seraya menyelonjorkan kedua kakinya di lantai. "Iya nih, gue juga. Capek bener rasanya, udah mana berat banget lagi badannya. Lu mah enak cuma jalan doang, lah gue? Harus ngegendong dia dari tadi. Capek bro, badan gue rasanya udah remuk deh, pegel banget." "Lebay ah lu! Kan lu tau kalo kaki gue masih sakit karena diinjek gadis kampung itu, kalo nggak mah gue jabanin deh, seberat apa sih emangnya? Orang badanya kecil gitu," ucap salah satunya yang tak percaya mendengar ocehan lebay itu. "Ye, nggak percaya, beneran gue. Gue pikir-pikir, kayaknya gadis kampung itu gadis jadi-jadian deh, bukan gadis beneran. Kelakuannya ya ampun, kayak preman." "Bahasa lu, Bro! Gadis jadi-jadian? Haha, ada ada aja, Lo. Menurut gue yang namanya gadis kampung ya tetep kampung. Gadis desa ya deso. Coba deh kalo dia nggak kampungan dan deso, kayaknya nggak akan semudah itu dia akan percaya sama kita, sampe mau aja diajak pergi bareng, padahal kita kan nggak sama-sama kenal." "Iya juga sih, tapi tetep aja menurut gue kelakuan dia udah kayak gadis kampung jadi-jadian. Ya gimana gue nggak panggil dia gitu coba? Lo pikir aja, di mana-mana yang namanya gadis desa, atau gadis kampung. Orangnya itu pasti kalem-kalem, lugu, udik, lemah lembut, sopan santun, polos. Lah dia? Pemberontak. Larinya kenceng, tenaganya kuat, injekannya bikin kaki orang sampe nggak bisa jalan, nyebelin banget pokoknya. Jauh banget dari artian gadis desa sesungguhnya. Dia mah nggak ada kalem-kalemnya, nggak ada manis-manisnya gitu." "Hiya, hiya, hiya. Udah ah, gue capek, udah mulai ngantuk juga. Gue mau tidur dulu. Lo juga kalau mau tidur mending sekarang, Bro. Mumpung gadis kampung itu masih pingsan, ntar kalau udah sadar nggak yakin gue kita bisa tidur nyenyak." "Suka bener lu kalau ngomong. Oke deh, gue juga ngantuk, pingin tidur." Setelah itu hanya keheningan yang menemani malam mereka, dengan Fitri yang masih tak sadarkan diri, juga kedua pria berbadan besar itu yang sudah mulai terlelap, mengistirahatkan tubuh mereka dari rasa pegal, lelah, dan amarah yang menjadi satu, setelah bertemu dengan Fitri sedari siang tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD