Imelda melangkahkan kakinya di depan meja makan, ke kanan dan ke kiri, layaknya setrikaan. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir, dan helaan nafas panjang beberapa kali terdengar keluar dari bibir merahnya.
Tak berbeda jauh dengan sang istri, Galuh pun kini sedang duduk di kursi favoritnya di ruang makan dengan kepala menunduk, raut wajah yang tak dapat diartikan, juga bibirnya yang tak pernah berhenti mengucapkan kalimat istighfar.
Begitu pun dengan Dion dan Ayu, yang kini sedang duduk di kursi meja makan dengan tubuh mereka yang terlihat lemas seperti orang yang tak bertenaga, wajah yang terlihat lesu dan dipenuhi oleh banyak pikiran, tangan kanan yang mereka gunakan untuk bertopang dagu, dan tangan kiri mereka yang mereka gunakan untuk mengetuk-ngetuk meja makan, sesuai ritme yang meraka buat masing-masing.
Suasana ruang makan yang biasanya ramai dan penuh dengan kehangatan kini berubah menjadi sepi, layaknya tempat yang tak berpenghuni. Bukan kehangatan dan kebersamaan yang membersamai mereka, melainkan suasana hening dengan atmosfer kekhawatiran yang belum juga hilang sejak sore tadi.
Ya, sejak sore tadi, waktu yang diperkirakan Imelda, Galuh, Dion, dan Ayu, akan terdengar dering telepon dari Fitri untuk mengabarkan kedatangan Fitri di tempat tujuan, tak sesuai dengan ekspektasi mereka. Bahkan sampai detik ini, saat mereka harusnya sedang serius menikmati makan malam mereka dengan penuh khidmat, saat sang mentari yang bersinar cerah telah bertukar jadwal dengan sang rembulan yang membawa keheningan malam, yang ditunggu-tunggu pun belum juga menelpon mereka.
Awalnya mereka semua mencoba untuk ber-positive thinking terhadap keanehan yang terjadi dengan Fitri. Pertama, mungkin karena jalan raya yang bus Fitri lewati ramai dan macet, sehingga bus yang Fitri tumpangi mengalami keterlambatan jadwal kedatangan di terminal tujuan. Kedua, mungkin karena baterai handphone Fitri yang low battery, membuat sang empunya tak bisa menghubungi mereka dengan segera.
Tapi setelah menunggu hampir lima jam setengah, dihitung dari perkiraan awal mereka, waktu di mana seharusnya Fitri sudah sampai di tempat tujuan, yang ditunggu-tunggu pun belum juga memberikan kabar. Dua kemungkinan tadi dengan cepatnya digantikan oleh berbagai spekulasi buruk.
Pertama, tak mungkin bukan jika waktu kedatangan bus yang Fitri tumpangi di tempat tujuan bisa molor hingga lima setengah jam? Memang mungkin saja, tapi hari di mana Fitri berangkat ke tempat perantauan bukan termasuk golongan hari-hari yang diperkirakan akan terjadi kemacetan setiap saatnya, seperti beberapa hari menjelang idul fitri, menjelang tahun baru, dan lain sebagainya. Fitri berangkat di hari-hari biasa yang jika terjadi kemacetan pun mungkin hanya akan mengalami keterlambatan satu sampai tiga jam. Dan saat ini? Lima jam setengah, sepertinya bukan karena itu penyebab Fitri tak ada kabar.
Kedua, handphone yang low battery, tak mungkin bukan men-charger-nya bisa menghabisakan waktu sampai lima setengah jam lebih?
Oke, satu-satunya kemungkinan positif yang Imelda, Galuh, Dion, serta Ayu pikirkan, yang mungkin saja Fitri alami adalah gadis cantik itu lupa menghubungi mereka karena alasan lelah mungkin? Atau memang Fitri benar-benar lupa?
Tapi kenyataannya, kenyataan yang makin membuat mereka semua bertambah khawatir terhadap Fitri adalah, sudah satuan bahkan puluhan kali panggilan telepon yang mereka upayakan untuk bisa menghubungi Fitri, tak ada satu pun panggilan yang Fitri jawab. Padahal semua panggilan itu tersambung, tak mungkin juga bukan Fitri sengaja tak mengangkat semua panggilan itu? Benar-benar aneh, pikir mereka.
Berbagai pemikiran-pemikiran buruk pun mulai bergantian hadir di benak mereka. Perasaan khawatir pun semakin tinggi skalanya setiap pertambahan jam. Apa yang terjadi dengan Fitri? Kenapa ia tak sekali pun mengabari mereka sedari tadi? Dan kenapa tak sekali pun ia menjawab panggilan telepon dari mereka?
Ayu menarik kursinya ke belakang, berdiri lalu berjalan menuju sang Ibu yang tak pernah lelah mondar-mandir di depan meja makan. "Bu, lebih baik Ibu duduk dulu yuk sekarang. Kita makan dulu, isi tenaga Ibu! Jangan sampai Ibu sakit karena Ibu lupa makan." Ayu menggandeng lengan Ibunya untuk duduk di tempat duduk favoritnya, sebelah kanan kursi sang kepala rumah tangga.
"Ibu nggak selera makan, Nak. Kalian semua saja yang makan, Ibu nggak akan merasa tenang sebelum ada kabar dari Tetehmu itu," ucap Imelda lirih seraya mengusap lembut tangan Ayu.
"Bu, jangan begitu! Kita semua harus makan sekarang! Bukan hanya Ibu saja yang merasa khawatir dengan Fitri, tapi kita juga. Sekarang Kita semua makan ya, Fitri akan sedih jika tahu keadaan kita saat ini, baru setelah makan, kita pikirkan baik-baik langkah apa yang harus kita ambil selanjutnya," ucap Galuh tegas, seraya menatap satu per satu istri dan kedua anaknya.
Tak ingin berdebat panjang, Imelda pun menganggukkan kepalanya lemah, kemudian mulai memakan menu makan malamnya. Begitu pun dengan Dion dan Ayu, semuanya mulai menikmati makan malam mereka, walaupun berbagai pikiran buruk bergelayut manja di benak mereka.
Bunyi dentingan sendok yang diletakkan secara asal ke piring, membuat suaranya terdengar sangat nyaring. "Pak, apa yang harus kita lakukan sekarang? Sampai detik ini pun Fitri tak ada kabar. Apa kita hubungi polisi saja? Entah kenapa perasaan Ibu tak enak saat ini, Ibu takut hal buruk menimpa Fitri, Pak. Apalagi Fitri baru pertama kali datang ke ibu kota, kalau terjadi apa-apa dengan Fitri, bagaimana?"
Galuh menghembuskan nafasnya panjang, ia juga bingung harus sepeti apa. Lapor polisi? Jelas bukan waktu yang tepat untuk saat ini, mengingat harusnya lapor setelah dua kali dua puluh empat jam orang yang dicari belum juga ditemukan, sementara sekarang dua puluh empat jam pun belum terlewati. "Kita tunggu sampai besok saja ya, kita harus ber-positive thinking saat ini. Mungkin Fitri memang sedang tak bisa untuk menghubungi atau mengangkat panggilan kita. Kita doakan saja semoga Fitri selalu berada dalam perlindungan Allah subhanahu wata'ala, Aamiin."
"Tapi Pak----"
"Sudahlah, jangan berpikir yang macam-macam dulu sekarang. Lebih baik kita istirahat, dan selalu mendoakan yang baik-baik untuk keselamatan Fitri. Bapak yakin Fitri tidak apa-apa, mungkin dia sedang sibuk berlatih untuk casting esok hari, sehingga tak sempat untuk menghubungi kita, atau bisa jadi dia ingin memberi kejutan kepada kita dengan cara menelpon kita di saat dia sudah lolos casting. Sudah, pikirkan saja yang baik-baik untuk Fitri, semoga besok dia sudah menelepon kita," ucap Galuh, mencoba mengajak istri dan kedua anaknya itu untuk selalu ber-positive thinking, walaupun dirinya juga masih tak yakin dengan apa yang ia ucapkan tadi. Tapi Galuh harap, semoga Fitri memang dalam keadaan baik-baik saja saat ini.
"Iya, Bu. Ibu jangan terlalu cemas dulu sekarang, bisa jadi kan handphone Teh Fitri kehabisan pulsa, dan Teh Fitri masih kesulitan mencari counter pulsa di Jakarta. Ibu tau sendiri bukan, ini pengalaman pertama Teh Fitri ke Jakarta? Mungkin nanti setelah Teh Fitri sudah mengisi pulsanya, Teh Fitri akan segera menelpon kita," ucap , Dion, kembali mengajak sang Ibu dan semuanya untuk tidak terlalu khawatir terhadap Fitri. Alasannya cukup masuk akal bukan? Semoga saja yang sebenarnya terjadi kepada Fitri saat ini tak jauh berbeda dengan dugaanya, yang jelas Dion harap semoga Fitri baik-baik saja, dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.
Saat ini, di tengah heningnya malam yang mereka rasakan, di tengah perasaan mereka yang tak menentu. Sedih, gelisah, dan panik, hanya doa dan harapan yang mampu mereka panjatkan kepada Allah subhanahu wata'ala, Sang Maha Pengabul Doa. Doa dan harapan agar Fitri baik-baik saja, selalu sehat, dan selamat di mana pun Fitri berada saat ini. Karena bukan kah Doa merupakan senjata terbaik seorang mukmin? Ya, maka perbanyak lah doa, dan hanya berdoalah kepada-Nya.
Bagaimana keadaan Fitri saat ini? Apakah dia akan baik-baik saja? Apakah ia akan berhasil melarikan diri dan dapat mengikuti kegiatan casting?