Part 9

1577 Words
Fitri terus berjalan di antara dua pria berbadan besar itu. Ia mengikuti arah yang mereka berdua tuju, hingga tak terasa ia sudah berjalan hampir lima belas menit. Fitri pikir, apakah penginapannya memang tidak jauh dari terminal? Sehingga ia dan kedua pria berbadan besar itu hanya cukup berjalan kaki saja untuk sampai di tempat tujuan? Tapi sampai kapan ia harus terus berjalan? Kakinya sudah mulai pegal, dan hari pun sudah mulai sore. Karena rasa penasaran yang ia tahan sedari tadi sudah membumbung tinggi, Fitri pun memberanikan dirinya untuk bertanya. Ia tatap salah satu dari keduanya, kemudian mulai mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah ia pikirkan masak-masak sedari tadi. "Emm, Bang. Masih jauh ya penginapanya? Kalau masih jauh kenapa kita nggak naik angkutan umum saja, Bang? Kaki saya sudah mulai pegal nih, kira-kira berapa lama lagi kita akan sampai?" Mendengar pertanyaan yang sangat panjang dan beruntun itu, pria berbadan besar dengan rambut panjangnya yang dikuncir kuda, menatap Fitri dengan tatapan tak suka. Membuat Fitri yang melihatnya didera rasa gugup, dan takut luar biasa. "Ehh, Fitri bawel ya, Bang? Maaf, tapi Fitri beneran udah capek, kaki Fitri juga udah pegal-pegal dari tadi. Kita udah jalan hampir dua puluh menitan lho, Bang. Kalo sekiranya masih jauh, Fitri naik ojek aja deh." Kedua pria berbadan besar itu saling beradu pandang setelah mendengar celotehan panjang Fitri, seakan mereka berdua sedang melakukan diskusi lewat tatapan tajam mereka. "Iya, kamu bawel banget dari tadi. Ikutin kita aja ya, nggak lama lagi kita akan sampai ke tempat tujuan kok," Jika pria berbadan besar dengan rambut panjangnya yang dikuncir kuda tadi menanggapi celotehan panjang Fitri dengan tatapan tak sukanya, pria berbadan besar dengan tato sedang di tangan kanannya justru menanggapi celotehan panjang Fitri dengan ucapan lembutnya, membuat Fitri yang tadi merasa ketakutan, kini mulai kembali tersenyum lebar. Bayangan akan kesenangan dan keseruan yang akan ia rasakan nanti, membuat Fitri yang sudah mulai menyerah karena jalan terlalu lama pun kini kembali bangkit semangat, melawan rasa lelahnya. Samakin lama mereka bertiga berjalan, Fitri baru sadar bahwa entah hanya kebetulan atau memang benar adanya, semakin sepi jalanan yang ia lalui. Perasaan senang dan semangat yang ia rasakan kini beralih kembali menjadi perasaan takut. Tak hanya itu, berbagai pikiran buruk pun mulai menggangu ketenangan Fitri. Semakin lama membuat Fitri semakin merasa curiga kepada kedua pria berbadan besar di sebelahnya itu. "Bang, ini cuma perasaan Fitri aja atau memang beneran ya, kenapa kita jadi ke tempat sepi begini? Bukannya penginapan biasanya berada di pinggir jalan, ya? Atau setidaknya penginapan biasanya berada di tempat yang kanan kirinya banyak tempat jualan. Kenapa jadi malah ke sini?" "Ya ampun, kamu gadis desa kenapa cerewet sekali sih? Jika kamu ingin segera sampai lebih baik kamu diam saja dan tetap berjalan mengikuti kami, karena sebentar lagi kita akan sampai. Kamu tenang saja," ucap salah satu pria berbadan besar itu, yang mulai jengah mendengar celotehan Fitri. Entah kenapa semakin ke sini, Fitri merasa ada sesuatu yang aneh dengan kedua pria berbadan besar itu, apalagi saat mereka mulai berjalan di jalanan yang sangat sepi, bahkan saking sepinya tidak ada perumahan atau pertokoan di sekitarnya, yang ada hanya pohon-pohon besar yang berbaris rapi di pinggir jalan. Mendadak perasaan Fitri menjadi tak enak, keringat dingin pun mulai membanjiri tubuh Fitri. Ia kembali melihat sekelilingnya, memastikan siapa tahu mereka hanya mengambil jalan pintas saja agar bisa segera sampai ke penginapan, tapi tetap saja pohon-pohon besar yang masih mengelilingi sisi kanan dan sisi kirinya. Bahkan sejauh mata Fitri memandang pun ke arah depan, hanya pohon-pohon besar yang ia lihat. Hello, mana ada penginapan yang lokasinya di tempat sepi sepeti ini? Di tempat yang sekelilingnya dipenuhi oleh pepohonan besar? Tempat yang lebih cocok Fitri sebut dengan sebutan hutan daripada daerah penginapan. Di desanya yang terbilang daerah kampung saja, penginapan berada di pinggir jalan, daerah yang mudah dijangkau oleh berbagai macam kendaraan. Daerah yang sekelilingnya ramai dengan pertokoan, sehingga para tamu yang menginap pun merasa nyaman. Tapi daerah ini? Fix sudah, Fitri semakin yakin bahwa kedua pria berbadan besar ini telah menipunya. Mereka berdua ini bukan orang yang baik. Fitri merutuki dirinya yang dengan mudahnya percaya kepada orang asing. Dilihat dari penampilannya saja dua pria berbadan besar di sebelahnya ini bukan seperti orang baik-baik, ke mana saja Fitri dari tadi? Hingga baru menyadari bahwa tindakannya menganggap dua pria berbadan besar ini orang baik-baik adalah sebuah kesalahan yang fatal? Tak ingin melangkah lebih jauh lagi, tak ingin mendapat sesuatu yang lebih beresiko buruk lagi, Fitri pikir sepertinya ia harus kabur. Ia harus selamat. Sebelum ia lebih jauh dari perkotaan dengan semakin melangkahkan kakinya maju memasuki daerah yang semakin sepi, alangkah lebih baiknya ia kembali berlari ke belakang, mendekat ke arah perkotaan yang ramai dengan kebisingan kendaraan, juga orang-orang yang berlalu lalang, bukan? Fitri pikir, setidaknya ia bisa meminta tolong kepada orang-orang jika ia berhasil kembali ke sana. Tak ingin membuang banyak waktu, Fitri mulai bersiap-siap untuk melarikan diri. Ketika dilihatnya kedua pria berbadan besar itu sedikit lengah, ia mulai membalikkan tubuhnya, dan berlari sekencang yang ia bisa untuk menjauh dari mereka. Untunglah dulu ia pernah menang kejuaran lomba lari antar desa, jadi posisinya saat ini ia berada cukup jauh di depan kedua pria berbadan besar itu, yang terlihat sangat terkejut sekaligus marah melihat kelakuan Fitri saat ini. Mereka pikir, Fitri gadis desa yang benar-benar polos saat gadis cantik itu dengan suka relanya mau mengikuti mereka, sehingga tak terbesit sedikit pun perasaan khawatir bahwa gadis cantik itu akan melarikan diri. Tapi melihat kelakuannya yang sudah berlari menjauh bahkan dengan beraninya memeletkan lidahnya ke arah mereka, membuat cap gadis polos yang mereka sematkan di awal pertemuan mereka dengan Fitri, menjadi bumerang bagi mereka saat ini. Fitri terus berlari menjauh dari mereka, hingga tanpa ia sadari ada batu yang lumayan besar berada tak jauh di depannya, mengganggu jalannya, dan membuat kakinya tersandung kemudian jatuh dengan kaki yang berdarah. "Aw, duh, sakit banget lagi kaki aku sekarang." Fitri memutarkan sebagian tubuhnya ke belakang, melihat sejauh mana jaraknya kini dengan jarak mereka. "sial, mereka udah mulai mendekat lagi." Tak ingin tertangkap Fitri pun mulai bangkit berdiri, memaksakan kakinya yang sakit itu untuk kembali berlari, walau dengan tertatih-tatih. Tapi sayang seribu sayang, sakit yang ia rasakan di kakinya mambuat larinya tak sekencang ia berlari tadi, dan dengan mudahnya dua pria berbadan besar itu pun berada di dekat Fitri, dan berhasil mencekal pergelangan tangan Fitri. "Akhirnya kena juga lo. Nggak nyangka gue, ternyata gadis kampung kayak lo cepet juga ya larinya." Fitri berusaha memberontak, melepaskan cekalan pria berbadan besar itu tapi nihil, semua usaha yang ia kerahkan tak kunjung berhasil. Tenaganya tak sebanding dengan tenaga dua pria berbadan besar itu. "Lepasin! Jahat banget sih kalian berdua, kalian mau apa dari aku? Aku bukan orang kaya raya yang sangat berharga bagi kalian, keluargaku bukan orang kaya yang bisa kalian kuras hartanya dengan jalan meminta tebusan. Aku datang ke sini bukan untuk berlibur dan berfoya-foya, aku datang ke sini untuk mencari uang. Jadi tolong lepasin aku, kalian nggak akan untung banyak dengan menculikku." "Gadis kampung, gadis kampung. Dari awal kan gue udah bilang, di terminal itu banyak orang jahat. Termasuk ya kita berdua ini, haha, tapi elonya aja yang b**o! Kenapa nurut-nurut aja buat pergi bareng kita? Lo nggak punya pilihan lain sekarang, lo harus ikut kita. Siapa bilang lo nggak berharga? Asal lo tau, semua yang ada di tubuh lo itu sangat berharga bagi kami. Lo akan menjadi mesin penghasil uang buat kami, hahaha." Fitri sangat ketakutan mendengar semua ocehan yang tergolong sangat sadis itu. Ia kembali mengumpulkan lagi semua tenaganya yang tersisa. Ia beranikan diri untuk menginjak kaki pria berbadan besar itu kuat-kuat. "Aww, berani banget ya lo nginjek kaki gue? Salah satu dari mereka yang diinjak kakinya menoleh ke arah temannya. “lo tunggu apalagi? Cepat kejar gadis kampung itu!" Ya, berkat tenaganya yang masih tersisa, Fitri berhasil lolos dari cekalan pria berbadan besar itu. Tapi kesenangannya itu tak berlangsung lama, sulitnya ia berlari kencang karena kakinya yang terluka membuat tubuhnya mudah dijangkau oleh pria berbadan besar itu. "Akhirnya dapat juga lo, pake sok-sok-an kabur lagi dengan kaki pincang kayak gitu. Buang-buang tenaga tau nggak, Lo? Ayo sekarang ikut gue!" Tangan Fitri kembali ditarik mundur oleh pria berbadan besar itu menuju temannya yang masih kesakitan karena kakinya Fitri injak. Fitri pun tak kenal lelah, ia terus berusaha untuk melepaskan diri. "Lepasin woy! Lepasin!" Fitri terus memberontak. "Bro, mending lo bius aja dia. Gue udah cape ngeladenin pemberontakan dia. Sekarang kaki gue yang sakit, nanti apalagi kalau dia masih sadar kayak gitu? Udah bius aja," teriak pria berbadan besar yang Fitri injak kakinya. Setuju dengan usulan temannya, pria berbadan besar yang sedari tadi menarik-narik tangan Fitri pun mengambil sesuatu dari saku celananya. Mengeluarkan sapu tangan yang sudah ditetesi obat bius, kemudian dibekapkannya ke hidung Fitri. Dan kesadaran Fitri pun perlahan mulai hilang, dan tak lama dari itu Fitri pun pingsan. Melihat keadaan Fitri saat ini, kedua pria berbadan besar itu saling beradu tatap dan tertawa kencang. Salah satu dari kedua pria itu mengangkat tubuh Fitri layaknya karung beras, kemudian membawanya ke tempat persembunyian. "Halo, Bos. Kita udah punya mangsa baru nih. Gadis cantik yang berasal dari kampung." "............" "Aman, Bos. Bos tidak perlu khawatir, tadi kami bawa gadis polos ini tanpa paksaan kok, dengan suka relanya dia mau aja ikut bersama kami. Saya pastikan tidak ada orang yang akan curiga terhadap kami." "............" "Baik, Bos. Sebentar lagi kami akan sampai di markas. Dengan senang hati kami akan menjalankan tugas yang Bos berikan." "............" "Selamat malam, Bos. Selamat bersenang-senang." Apa yang akan terjadi dengan Fitri, ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD