SEBELAS - Siksaan

1002 Words
Vanilla POV “Ganti saja! Yang ini menyebalkan.” Adu Jordyn. “Karena mereka lebih mendengarkan Papi daripada kalian. Dasar anak tidak tahu diuntung!” akhirnya nada suara Maximus meninggi. “Keluarga kita harus memiliki pengawal pribadi setiap anggota karena kita adalah incaran empuk lawan bisnis dan paparazzi. Harusnya kalian bisa bekerja sama dengan mereka. Sangat sulit mencari bodyguard yang cocok meski mereka dari agensi yang ternama. Terutama kamu!” Maximus menunjuk Jocelyn dengan pisau makan yang digenggamnya. “Papi lelah mencarikan bodyguard yang baik jika kamu terus meniduri mereka. Kamu tidak sadar jika mereka bisa mengambil keuntungan di atasmu?! Awalnya mereka memang baik dan professional tetapi siapa yang bisa menebak hati manusia.” Jocelyn menatap Maximus sama tajamnya, tetapi tak ada satupun kata yang terlontar. Jocelyn tahu benar, menentang atau menjawab ayahnya pastilah berefek pada supply keuangannya perbulan. Tentu saja dia tak bisa jika tidak berbelanja setiap hari. “Dan kamu!” Kali ini Maximus menunjuk Jordyn. “Meskipun kita berganti-ganti pengawal setiap bulan, mereka tidak akan mampu menjagamu. Papi lelah menghadapi skandalmu!” “Babe.” Wera akhirnya bangkit melerai keadaan panas itu. “Mereka terlalu manja!” Maximus belum juga reda mengomel. Wera mengedipkan mata kearah Jocelyn dan Jordyn agar segera pergi. “Tenanglah. Mereka hanya menikmati masa muda.” Wera mengelus pundak Maximus dan mengecup pipinya mesra. “Vanilla.” Maximus memanggil namaku tiba-tiba. Wajah Wera mendadak tegang. “Apa yang kamu inginkan untuk ulang tahun ke 27?” “Aku tidak menginginkan apapun, Pi.” Jawabku datar. Kening Maximus berkerut seketika. “Kamu selalu seperti ini setiap tahun. Saudarimu bahkan meminta mobil, perhiasan, penthouse… apapun itu. Kenapa kamu…” “Ah… Babe, Vanilla sudah memiliki semuanya. Cukup sudah memanjakannya.” Wera memberikan sign untuk diriku segera pergi meskipun aku belum selesai menghabiskan makanan milikku. “Tapi…” “Mami benar, Pi. Aku sudah memiliki semuanya.” Dalihku dan bangkit berdiri. “Terima kasih untuk sarapannya." “Vanilla! Nak…” Maximus masih berusaha memanggilku tetapi Wera terlihat menghalanginya. Aku melangkah menuju kamar dan mengunci pintunya. Aku menduduki meja belajar dan membuka laptop milikku. Script kelima milikku akan diangkat menjadi film. Terdapat dua rumah produksi yang sudah menawarnya dengan harga tinggi. Aku menghela napas panjang, memang mudah memilih di antaranya. Hanya saja bukan ini yang benar-benar aku inginkan. Aku ingin diakui dengan identitas asliku bukan dengan nama samaran. Tetapi lagi-lagi aku tak bisa melakukannya karena ibuku akan melihatku sebagai batu sandungan untuk kesekian kalinya. Bunyi ketukan dipintu kamarku mengalihkan lamunanku. Aku bangkit membukanya. BUUUUK! Sebuah dorongan keras mengenai pundakku. Aku terjatuh tanpa bisa mengantisipasi. Ibuku berdiri di hadapanku dengan tatapan membunuh. Dirinya segera menutup pintu dan menguncinya. “Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mencari muka!” Murka Wera tanpa basa-basi. Aku terduduk sambil menunduk, menunggu untuk dibantai seperti biasa. “Maximus memiliki hati yang lembut dan kamu memanfaatkannya! Di mana tiara itu?!” “Jordyn mengambilnya.” Lirihku. “APA?!” “Jordyn mengambilnya.” PLAAAK! Sebuah tamparan mendarat dipipiku. “Tiara itu berharga puluhan miliaran dan kamu menyerahkan begitu saja kepada dua anak setan itu?” Aku mengelus pipiku pelan, mataku menatapnya tajam. “Mami tidak pernah mengatakan aku harus mempertahankannya!” “Anak kurang ajar!” Wera menarik rambutku keras. “Harusnya tanpa aku memberitahumu, kamu sudah paham. Pakai otakmu!” makinya menggelegar. Aku menutup mata menahan sakit. Haruskah setelah ini aku menggunduli rambutku agar dirinya tak memiliki celah untuk menariknya? “Tiara itu pasti sudah dijualnya.” “Jordyn baru mengambilnya pagi ini.” Ringisku. “Lagipula…” aku bangkit berdiri. Entah dari mana keberanian itu, untuk pertama kalinya aku memiliki keberanian menghempaskan tangan ibuku sendiri. “Mami sudah memiliki kekayaan berlimpah, apa lagi yang kurang? Kenapa Mami selalu haus akan harta? Sampai mana, Mi? Sampai mana baru Mami puas?” ujarku tanpa henti. PLAAAAK! Lagi. Sebuah tamparan mendarat dipipiku keras. Kali ini nyeri sengatannya jauh lebih menusuk. “Kamu berani menjawabku anak jalang? Kamu pikir kamu bisa menikmati kemewahan ini jika bukan karena usahaku?” tangan kanannya menarik rambutku lagi. Oleh karenanya aku jatuh tersungkur. “Beruntung Maximus ada di rumah, jika tidak… kamu tahu sendiri akibatnya. Kamu pikir karena kita sedarah, aku tidak akan tega? Aku bisa dengan mudah membuangmu!” setelah mengatakan itu, Wera melepaskan cengkramannya dan menghempaskan tubuhku. Kepalaku terbentur kelantai meski tidak menimbulkan nyeri. Air mataku mengalir kemudian. Mungkin ini kali pertamanya aku kembali menangis histeris setelah bertahun-tahun hidup bersama ibu kandungku sendiri. Hatiku terasa ingin meledak seketika. Aku ingin lari darinya tetapi aku menyayanginya sebagai satu-satunya anggota keluargaku yang tersisa. Tidak bisakah dia memaafkanku atas masa lalu? Meski sebenarnya di tempat pertama aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku ingin dicintai, hanya sesimpel itu. *** Jose POV  Aku menghabiskan waktu di gym dari pukul 4 subuh. 3 jam berlalu tanpa terasa. Silas mendekatiku dengan sebuah handuk dan sebotol air mineral. “Tuan besar mencari anda.” Aku mengangguk dan mengusap keringat dikeningku dengan handuk tersebut. “30 menit.” Jawabku terengah-engah. Setelah membersihkan diri, aku memasuki kantor Josiah. Silas berada di hadapannya dengan beberapa dokumen. “Ah, Nak… duduklah.” Josiah menyambutku dengan antusias. Aku mengangguk dan duduk dibangku sebelah Silas. Kami terpisahkan dari Josiah oleh meja mahoganinya yang besar. “Ada tugas?” “Ya. Kali ini pekerjaannya jauh lebih besar.” Josiah tersenyum lebar dan mengangguk kepada Silas. “Seorang klien meminta agensi kita untuk menyiapkan 20 pengawal sekaligus. 5 darinya akan menjadi pengawal inti anggota keluarga klien.” “Siapa orang besar ini?” “Pemiliki rumah produksi perfilman terbesar.” “Benarkah?” aku sedikit terkejut tetapi keningku berkerut. Agensi Josiah memang memegang banyak level keamanan diseluruh dunia dan umumnya mereka banyak disewa oleh industri entertainment. Tetapi aku tidak menyangka mereka akan menyewa 20 pengawal sekaligus. “Harga yang mereka tawarkan pun menggiurkan.” Lanjut Silas. “Berikut kontrak dan profile dari klien. Maximus adalah kepala keluarganya.” Silas menunjukkanku wajah kelima anggota keluarga tersebut. Dua dari antaranya tidaklah asing karena mereka berdua membintangi beberapa film. Selebihnya hanya pasangan suami-istri dan satu puteri yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD