Jose POV
“Bagaimana menurutmu, Nak?” Josiah meneguk whiskinya perlahan.
“Aku hanya mengikuti perintah.” Simpulku datar. “Mereka terlihat seperti keluarga biasa-biasa saja.”
“Saat ini dua anak mereka diliputi skandal, klien meminta fokus kepada puteri-puteri mereka.” Lanjut Silas.
“Paman, aku rasa senior – seniorku lebih berhak mengemban tugas ini.”
“Why? Ini kesempatan bagus untukmu.”
“Aku tidak akan menolaknya. Hanya saja untuk pengawalan inti, lebih baik menyerahkan kepada senior-senior yang lebih berpengalaman.”
“Kamu takut?”
“Aku tidak takut… aku…”
“Jose… Look, tidak akan ada yang menusukmu dari belakang karena kariermu di sini melejit cepat. Mereka justru mengagumi kerja kerasmu. Tidak ada satupun anak buahku yang tidak mengetahui bagaimana kamu hanya tidur 4 jam dalam sehari.”
“Aku tahu, Paman. Hanya… please… aku ingin menjalaninya secara bertahap.”
Josiah saling bertatapan dengan Silas dan mengangguk pada akhirnya. “Jose akan menjadi 15 pengawal luar, Silas. Berikan datanya secepat mungkin kepada klien kita.”
“Baik, Tuan.”
1 minggu kemudian, aku sudah berkemas menuju mansion Maximus. Mereka membiarkan kami bergantian berlibur setelah enam hari kerja secara bergiliran. Kamar yang Maximus berikan pun nyaman dan bersih. Awalnya aku harus berbagi kamar dengan 2 pengawal lain tetapi aku bersedia tidur di kamar yang jauh lebih kecil dan cukup untuk diriku seorang. Sejujurnya tidur sendiri lebih menyenangkan.
Perkenalan pertama tidaklah terlalu menyenangkan. Maximus memiliki karakter keras, istrinya Wera pun terlihat jauh lebih keras. Dua puteri kembar itu tidak semenyenangkan di layar meski aslinya mereka terlihat lebih cantik. Sifat mereka mengerikan. Namun satu puteri mereka terlihat tidak dominan dan pasif. Wajahnya selalu terlihat datar dan sepertinya memiliki fisik lemah. Salah satu pelayan selalu mengikutinya kemanapun.
Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena dirinya yang memilih tertutup dan hanya menghabiskan waktu dikamar serta taman pada waktu-waktu tertentu. Berbeda dengan si kembar yang berkeliaran sepanjang waktu di dalam mansion.
“Nona Jocelyn begitu seksi.” Weis berseru memecah keheningan saat kami sedang menikmati makan malam di ruang belakang mansion khusus pelayan.
“Uhuy! Tentu saja. Lihat bokongnya itu, damn! Andai aku bisa menyetubuhinya dari belakang.” Cengir Ryker.
“Nona Jordyn jauh lebih menggairahkan. Lihat kedua payudaranya itu.” Legend ikut menimbrung dengan semangat. Mereka terus bersahut-sahutan dengan antusias. Kami hanya 7 orang di dalam ruangan ini tetapi terasa seperti puluhan orang di dalamnya.
“Med, bagaimana dengan Nona Vanilla. Aku jarang melihatnya.” Lanjut Ryker. Kali ini perhatian mereka beralih ke puteri ketiga yang misterius.
“Seperti biasa, tidak ada yang spesial.” Med menjawab datar.
“Benarkah?” Weis mengerutkan kening. “Aku sibuk mengikuti Nona Jocelyn sehingga tidak pernah bertemu dengannya. Seharusnya sebagai pengawal pribadinya, kamu lebih tahu sosoknya.”
“Aku hanya menjaganya dari kejauhan. Nona itu tipikal tertutup, dia tidak ingin terlalu dekat dengan siapapun kecuali Letta, pelayan pribadinya.”
“Aneh.” Legend bergumam.
“Setidaknya dia tidak menyusahkan bukan? Tidak bisa dibandingkan dengan Nona Jordyn dan Jocelyn.” ringis Ryker kemudian.
“Ya. Aku nyaris tidak memiliki pekerjaan. Nyonya terlihat melarangnya mengikuti aktifitas sosial.” Tambah Med.
“Aku masih melihatnya dibeberapa premier film saat menjaga saudarinya.”
“Hanya sesekali.” Ucap Med final. Aku mendengarkan dalam diam. Bagiku sejauh ini pekerjaan ini lebih mudah dibandingkan menjaga kepala daerah atau pemimpin suatu Negara.
Waktu berjalan dengan cepat. Tidak terasa 3 bulan sudah aku bekerja di mansion Maximus. Tentu saja pekerjaan ini semakin sulit setiap harinya apalagi si kembar itu harus berganti pengawal setiap bulannya. Ini sudah kedua kalinya.
Seniorku yang terlibat masalah itu harus menelan ludah pahit di lengserkan posisinya dan dipecat. Meski begitu, Maximus berpikir bijaksana. Dia tak berpikir untuk mengganti semua penjagaan, hanya pada Ryker dan Weis yang bermasalah dengan puteri-puterinya. Aku juga tidak merasa semua sepenuhnya salah Ryker dan Weis jika mereka kedapatan meniduri si kembar itu, karena pada awalnya mereka digoda.
Namun lagi-lagi masalah ini yang sangat dibenci Maximus. Pria tua itu tak ingin anaknya bergaul dengan kalangan miskin meski kedua seniorku tersebut tidaklah semiskin kelihatannya. Aku tidak mengambil pusing, toh pada akhirnya aku hanya menjalankan tugasku secara professional. Aku terang bersimpatik kepada kedua seniorku tersebut, namun aku tidak bisa melakukan apapun.
Aku tetap melaksanakan olahraga fisikku setiap hari secara rutin bersama pengawal yang lain. Aku bangun lebih awal dari biasanya. Entah mengapa aku tidak bisa beristirahat dengan tenang. Aku mendapat shift siang untuk 1 bulan kedepan. Jam menunjukkan pukul 3 subuh. Aku bangkit dan berjalan menuju dapur.
Saat melintasi koridor, aku melihat seorang wanita mengenakan gaun tidur berwarna putih sebatas lutut berdiri menghadap balkon yang terbuka lebar. Angin menerpa rambut hitamnya yang panjang sehingga aku tidak bisa melihat jelas wajahnya.
Awalnya aku tidak ingin ambil pusing dikarenakan ini bukanlah jam bertugasku. Namun apa yang digenggam wanita itu membuatku terkejut. Sesuatu diremasnya erat sehingga membuat telapak tangan kiri wanita itu terluka. Darahnya mengalir deras dan membasahi lantai.
“Kamu gila!” aku berlari sekuat tenaga dan meraih tangan wanita itu lalu menepis benda tajam yang adalah pisau kecil. Aku meraih tubuhnya menghadapku. Betapa terkejutnya aku melihat wajah wanita itu yang babak belur. Mata kirinya yang terbaret mengeluarkan darah. Sudut bibir kanannya robek dan juga mengeluarkan darah. Pipi kirinya yang lebam.
Siapa wanita ini? Apakah puteri ketiga? Matanya sama sekali tidak menatapku. Sorot matanya seperti tanpa jiwa, tubuhnya lunglai sehingga aku harus menopangnya. Bibirnya pucat. Jika aku harus menggambarkannya, dia bagai boneka Barbie yang rusak.
Aku mengusap rambutnya yang bertebaran menutupi wajahnya. Barulah disitu aku melihatnya secara jelas. Dialah puteri ketiga yang misterius itu. Mataku terpana sejenak, meski dihiasi luka, hal itu tidak menutupi kecantikannya yang natural. “Nona!” panggilku berusaha menyadarkannya. Aku meraih tangannya yang terluka, darah tak berhenti mengalir dari sana.
Dengan panik aku menggendongnya bridal style menuju kamarku. Aku tidak sadar apa yang merasukiku sehingga membawanya menuju ruanganku dan bukannya kamar miliknya. Aku membantunya duduk dipinggir tempat tidur. Aku meraih perlengkapan P3K milikku yang selalu kubawa kemana-mana saat mendapat pekerjaan baru.
Tanganku cukup gemetaran saat mencoba menekan lukanya. Sosoknya terlihat seperti barang pecah belah yang kapan saja bisa hancur berkeping-keping. Napasku berburu dengan detak jantungku. Aku sudah banyak melihat darah sejak bekerja di bawah Josiah, tetapi ini kali pertamanya aku begitu gugup. Pikiran dan hatiku tidak bekerja sama dengan baik.
“Jangan dihentikan.” Lirihnya pelan, nyaris tak terdengar. “Biarkan darahnya mengalir. Mereka lelah terperangkap di dalam tubuhku.”