Jose POV
“A… Apa?” tanyaku syok. Puteri ketiga itu menarik tangannya. Darah segar kembali mengalir keluar. Dirinya berusaha bangkit. Bahkan gerakan tubuhnya seperti sebatang lidi tipis yang kapan saja bisa patah bahkan hanya dengan sedikit tekanan. “Kamu terluka!” pungkasku melupakan tata krama meski aku tahu dia adalah puteri pemilik rumah ini.
“Le… lepaskan.” Teriaknya pilu. Teriakan itu sama sekali tidak nyaring dan cenderung seperti berbisik.
“Biarkan aku merawat lukamu dulu.” pintaku memelas. Aku juga tidak mengerti kenapa aku memelas seperti ini.
“Lep… lepaskan.” Kali ini dengan tangan kecilnya dan tubuhnya yang ringkih, dia berusaha melawan. Kupeluk tubuhnya sangat erat berusaha menenangkannya.
Bahkan didalam pelukanku pun, aku seperti turut merasakan kesedihannya. Apapun yang telah dialaminya, wanita ini sudah terlalu lama bertahan. Kami terdiam selama kurang lebih 2 menit ketika aku tidak merasakan respon sama sekali. Kuuraikan pelukanku dan menatap wajahnya cepat. Dia pingsan.
“Hey! Hey!” aku menepuk pipinya pelan berusaha menyadarkannya namun gagal. Kubaringkan tubuhnya di atas tempat tidurku dan meraih kain kasa menekan luka tangannya. Seharusnya aku bisa dengan mudah menghubungi rekanku yang berjaga. Mereka bisa memanggil dokter sehingga aku tidak perlu terlibat masalah seperti ini. Tetapi hatiku iba melihat wajah pilunya.
Wanita ini tidak meminta untuk dikasihani. Raut wajahnya tetap datar meskipun sebelumnya aku menuangkan alkohol pada lukanya. Wanita lain bahkan pria sepertiku akan meringis perih, tetapi tidak berlaku baginya. Wajahnya tetap berekspresi sama. Apa dia mati rasa? Aku menarik kain kasa tersebut dan menuangkan alkohol di alat jahit luka yang kumiliki. Aku mulai beraksi tanpa obat bius.
Aku berharap dia tidak akan terbangun. Dan benar saja, dari awal hingga selesai dia sama sekali tidak bergerak. Aku takjub di buatnya. Apa dia benar-benar mati rasa? Ini kali keduanya aku bertanya pada diriku sendiri. Aku membungkus telapak tangannya setelah memberikan obat oles lainnya. Aku membersihkan bercak darah di wajahnya.
Luka-luka itupun kuberikan obat oles. Semakin lama aku menatap wajahnya, semakin aku merasa sedih. Kehidupan macam apa yang dilaluinya sehingga dia menjadi seperti ini? Kedua orangtuanya kaya raya, dia hidup dalam kemewahan yang hanya bisa menjadi mimpi orang lain.
Tetapi kenapa? Aku mengepalkan tanganku erat, ini bukan urusanku. Aku tidak berhak mencampurinya. Jam menunjukkan pukul 5. Aku memilih mengabarkan pelayan pribadinya, Letta sehingga dia bisa membawanya pergi. Beberapa menit kemudian, Letta datang terburu-buru dengan wajah kesetanan.
“Vanie!” pekiknya panik. “Apa yang terjadi?!” tanyanya sengit di hadapanku seolah-olah akulah yang melukainya.
“Aku menemukannya dibalkon dalam keadaan tangan terluka. Here…” aku memberikan pisau yang sebelumnya digenggam oleh puteri ketiga itu. Letta kembali syok dan meraih pisau itu. Tangannya bergetar dan meraih handphonenya menghubungi seseorang.
Kami terdiam tanpa seorangpun ingin memulai percakapan. Tak menunggu lama, dua pelayan lainnya memasuki kamarku dan mengangkat tubuh puteri ketiga itu. Aku masih enggan menyebut namanya karena aku tidak benar-benar diperkenalkan sewaktu pertama kali bekerja di sini. Kamarku kembali menjadi sunyi. Aku melanjutkan rutinitas seperti biasa.
Keesokan harinya, aku melihat puteri ketiga itu duduk di taman belakang sendirian tanpa pengawalan. Aku tidak melihat Med di manapun. Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya memilih berlalu pergi. “Hey.” Sapanya.
Aku menoleh dengan eskpresi datar. “Nona memanggil saya?” jawabku menunduk sesopan mungkin. Aku tak ingin menatap wajahnya.
“Kamu bisa mengangkat wajahmu.” Pintanya, suaranya nyaris tak terdengar. Aku mengangkat wajahku dan melihat lurus wajahnya yang kini mulai terlihat bengkak oleh karena luka-luka kemarin. “Siapa namamu?”
“Jose.”
“Marga?”
“Kyte.”
Dirinya menghela napas panjang. Aku menatapnya bingung. “Sebelumnya aku tidak terlalu cerewet tentang penjagaanku tetapi sepertinya kamu tidak tahu apa-apa. Lain kali jika kamu melihatku seperti itu, abaikan saja. Itu bukan tugasmu untuk menyelamatkanku. Kamu akan terhindar dari skandal juga.” Terangnya dingin. Aku tidak merasakan sama sekali emosi dari kata-katanya.
“Anda nyaris mati kehilangan banyak darah.” Aku berani bersuara.
“Benarkah?” seutas senyuman kecil terukir di wajahnya yang pucat. Perpaduan dengan sorot matanya yang hampa membuatku sedikit merinding.
“Maafkan kelancangan saya jika mengusik privasi anda. Saya tidak akan melakukannya lagi.” Aku merasa terluka, dia tidak menghargai pertolonganku sama sekali. Oh wait! Bukannya dia tidak ingin ditolong?
Putri ketiga itu mengangguk pelan. “Terima kasih. Kamu bisa kembali bekerja.” Lanjutnya tanpa melihat wajahku lagi. Aku berangsur berjalan mundur dan menjauh darinya.
Setelah kejadian itu, aku selalu mengabaikannya di manapun jika kami berada dalam satu ruangan. Sejujurnya aku bersikap kekanak-kanakan, dia memintaku untuk mengabaikannya dan aku memilih menjauhinya. Tetapi dibalik itu, hatiku masih saja terluka dengan alasan yang tidak aku ketahui.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi hingga suatu malam aku melihat secara langsung dengan kepala mataku sendiri bagaimana puteri ketiga itu dianiaya oleh ibu kandungnya secara brutal. Itukah alasan mengapa wajahnya penuh luka saat aku menemukannya pertama kali? Aku sudah akan melerai mereka ketika Med menghentikanku dan menarikku menjauh.
“Dia nyaris mati! Kamu gila!” lontarku nyaris berteriak.
“Tenanglah, Jose!”
“Bagaimana aku bisa tenang?! Lalu apa ini? Kamu adalah pengawal pribadinya dan kamu hanya diam?”
“Itulah yang terjadi! Inilah yang sebenarnya!” Med memegang kedua pundakku menenangkan. “Nyonya selalu melakukan ini sejak dulu. Belasan tahun lamanya sudah berlangsung secara rutin, ini bukan pertama kalinya. Kamu tak berhak ikut campur. Tidak! Bahkan kita semua tidak berhak ikut campur.”
“Apa katamu?!” geramku berusaha menahan amarah. “Dia bahkan memiliki berat badan di bawah rata-rata. Tubuhnya lemah dan ringkih, bagaimana mungkin dia bisa menahan semuanya?”
“Aku tidak tahu dari mana kamu mendapatkan informasi berat badannya, tetapi aku tetap tidak mengizinkanmu ikut campur. Bos menitipkan dirimu kepada kami semua. Kita bukan siapa-siapa di sini, Jose! Kenapa kamu begitu emosional tentangnya?”
Mendapat pertanyaan itu, kepalaku seperti terhantam kenyataan. Benar juga, kenapa aku harus bereaksi berlebihan? Kami bahkan tidak memiliki hubungan apapun. Aku menelan ludah keras dan menoleh kearah Nyonya dan puterinya itu.
Lagi-lagi hatiku seperti mengerut melihatnya kini terbaring dilantai tanpa melawan dan ibu kandungnya masih memukulnya tanpa henti. Kedua tanganku terkepal keras bahkan ketika rambutnya tertarik memaksanya bangkit.
“Kemana dia akan dibawa?”
“Kurungannya.”