EMPAT BELAS - Kurungan

1130 Words
Jose POV “Kurungannya?” jadi penyiksaannya belum berakhir. Med mengangguk pelan. Aku memejamkan mata. Aku tidak boleh kehilangan akal sehatku. Jikalau ibunyaa membunuhnya, itu bukan urusanku. Lagi-lagi, itu sama sekali bukan urusanku. Shift siangku berakhir, aku melangkah menuju kamar dan membersihkan diri. Namun pikiranku tidak juga tenang. Aku mempercepat rutinitasku dan melangkah menuju kamar yang dikatakan Med sebelumnya. Begitu tiba, Letta sudah berada di sana bersama dua pelayan lainnya. Aku bersembunyi dibalik pilar. Mereka mengeluarkannya secara perlahan dan membawanya pergi. Aku mengikuti hingga mereka tiba pada sebuah kamar. Aku mendengar Letta memerintahkan dua pelayan itu membawakan handuk dengan air hangat dan beberapa obat-obatan. Aku mengurunkan niatku untuk melihatnya secara langsung. Esok harinya, aku tidak melihatnya sama sekali. Biasanya dia akan menghabiskan waktu di sore hari sambil membaca buku di taman, tetapi sepertinya lukanya benar-benar serius. 1 minggu berlalu begitu saja, aku benar-benar tidak melihatnya. Saat itulah Letta berjalan tak jauh dariku. “Hey.” Panggilku menghentikannya. Letta menoleh heran. “Ya?” “Puteri ketiga… I mean… Nona Vanilla… bagaimana keadaannya?” Letta menatapku semakin heran. “Kenapa kamu bertanya?” Aku terdiam tanpa bisa menjawab. “Aku melihatnya terluka terakhir kali.” “Ah! Kamu yang membawa Vanie ke kamar pribadimu itu kan?” Letta menodongku dengan jari telunjuknya. “Ya.” Letta menatapku dari ujung sepatu hingga ujung rambutku. “Menyerahlah. Vanie bukan wanita yang bisa kamu kencani.” Cetus Letta lemas. Wajahku memerah mendengarnya, “A… apa? Kencan? Aku hanya ingin mengetahui keadaannya. Kamu terlalu berlebihan.” Letta menghela napas lelah. “Vanie tidak di mansion untuk beberapa waktu.” “Why?” “Dia menderita geger otak dan harus dirawat di rumah sakit.” Aku sama sekali tidak bisa mengontrol wajahku yang terkejut. “Separah itu?” “Vanie baik-baik saja. Dokter bilang asal dia menjalani perawatan, dia akan pulih.” Aku menerawang mendengar jawaban Letta. Ibu kandung mana yang setega itu? Belum cukupkah melihat buah hatinya babak belur? Lalu ini… Geger otak? “Aku jadi semakin yakin, kamu pasti menyukai Vanie.” Cengir Letta. “Aku sudah bilang aku tidak punya perasaan seperti itu!” protesku. “Lagipula kamu adalah pelayan pribadinya, kamu kelihatan santai sekali padahal tuanmu dirawat di rumah sakit.” Letta tertawa kecil. “Ini bukan kali pertamanya, sudah kesekian kali. Aku tahu kapan kesehatan Vanie benar-benar buruk. Luka yang dideritanya saat ini hanya seperti goresan kecil baginya.” Lagi-lagi aku tak bisa menyembungikan ekspresi syokku. *** Vanilla POV  Aku terbangun dengan serangan nyeri pada tenggorokanku. Letta yang berada tak jauh dariku membantuku untuk bangkit duduk. “Pelan-pelan.” Katanya. Aku meminum air mineral yang disodorkannya. Tak lama nyeri dileherku berkurang. “Kamu ingin makan?” Aku menggeleng pelan. “Berapa lama aku tertidur?” “Satu hari.” Aku mengangguk dan kembali berbaring. “Kapan aku bisa pulang?” “Dokter mengatakan dua hari lagi.” “Aku bosan di kamar ini.” “Aku tahu kamu akan merasa bosan. Here.” Letta menyerahkan tas laptopku. Aku tersenyum menerimanya. “Thanks.” “You know what…” “Hm?” “Seorang pengawal pernah bertanya tentangmu.” “Lalu?” “Aku punya feeling bagus untuk ini.” “Benarkah?” Godaku. Aku berpikir kegagalan rumah tangga Letta tidak membuatnya kapok untuk bersuami lagi. “Hey! Ini bukan untukku tetapi untukmu!” Pekik Letta begitu mengerti apa yang kupikirkan. Aku kembali tertawa. “Wajahnya tampan, postur tubuhnya pun menggiurkan. Dan…” “Aku bisa meminta Mami menjodohkan kalian.” sergahku. “Hey! Sudah kukatakan ini bukan untukku. Untukmu!” Decak Letta dengan wajah cemberut. “Aku? Why?” “Ha???” Letta balik menatapku aneh. “Aku tidak mengerti apa kamu paham maksudku atau pura-pura bego. Kamu tak merasa dia tampan?” “Siapa?” “Pengawal yang menolongmu. Kita sedang membicarakannya dari awal, Sayangku Vanie.” Lanjutnya nyaris frustasi. “Jose Kyte itu?” “Nah! Finally! Eh, wait! Kamu tahu namanya?” “Kami pernah berbicara empat mata.” “Wow! Dia benar-benar menyukaimu rupanya.” “Kami tidak membicarakan apapun berkaitan tentang cinta jika itu yang kamu maksudkan. Dan kamu harus membedakannya, dia bertanya tentang itu bukan karena rasa suka tetapi rasa kasihan. Orang manapun pasti akan syok melihat Mami berlaku seperti itu.” “Kamu terlalu pesimis.” “Menurutmu Mami akan membiarkanku memiliki keluarga dan pergi darinya?” Letta terdiam, dia sudah ingin bersuara namun kembali diam. “Aku tidak peduli jika aku akan menjadi single selamanya. Tidak ada yang menginginkan wanita rusak sebagai istrinya. Aku hanya akan menjadi beban bagi orang lain.” Lanjutku sambil menarik selimut sebatas dadaku. “Aku ingin beristirahat, tolong jangan ganggu aku untuk sementara.” Setelah mengatakan itu Letta meninggalkan ruangan VVIP itu dan membiarkanku sendirian sama seperti waktu-waktu yang dulu. Letta membawakan makan malam menjelang pukul 7. Aku menikmati bersamanya. Beberapa hari kemudian, aku diijinkan pulang. Tas yang berisi pakaian kotorku terletak di sofa tak jauh dariku. Aku menunggu pengawalku untuk mengangkatnya. Letta sedang berada di ruang administrasi. Aku berdiri di depan jendela menikmati udara sejuk di pagi hari. Pintu terbuka kemudian. “Anda sudah siap, Nona?” sebuah suara baritone menyapaku. Aku berbalik dan mendapati Jose Kyte dengan seragam bekerjanya lengkap dengan earpiece. Seluruh pengawal pribadi dari agensinya selalu mengenakan jas hitam. Mereka lebih mudah menyembunyikan senjata untuk melindungi klien. Aku cukup terkejut ketika dia mengangkat tas milikku. “Di mana Med?” tanyaku merapatkan jaketku. “Ibu anda meminta kami bertukar posisi.” Aku berpikir sejenak tanpa menyadari jika dia berjalan kearahku menggenggam sebuah syal. “Di luar sangat dingin, anda pasti membutuhkan ini.” Tangannya yang besar membantu melilitkan syal di area leherku. Aku menatapnya penasaran. “Kamu biasa melakukan ini kepada klienmu yang lain?” “Hm?” “Memasangkan syal seperti ini.” “Tidak, ini pertama kalinya.” Jawabnya datar dan memperbaiki rambutku yang terurai menutupi wajahku. Senyum kecil tercetak diwajahnya, sepertinya dia puas telah mengalungkan syal agar aku tidak kedinginan. “Thanks.” Jawabku singkat. “Silahkan.” Tangannya mengarahku menuju pintu yang terbuka. Jose berjalan di belakangku waspada. Meski aku tidak bisa melihatnya secara langsung, tetapi aku bisa merasakan keamanan dan kenyamanan yang diberikannya. Berbeda dengan Med, Jose terlihat lebih bertanggung jawab. Aku sangat mengerti bagaimana Maximus dan Wera pasti memperingatkan tegas semua pengawal pribadi untuk tidak terlalu dekat dengan kami puteri-puterinya, sehingga Med cenderung menjaga jarak. Lagipula aku tidak pernah memiliki perhatian khusus kepada mereka. Sejauh ini mereka hanya seperti pegawai bayaran yang menjalankan tugas secara professional. Ketika tiba di mobil, Jose membukanya untukku. Letta menyusul kemudian. Jose duduk di depan bersama pengemudi yang adalah pengawal dari agensinya juga. Letta menyikut lenganku. “Kenapa Jose di sini?” Aku mengangkat bahu tidak tahu. “Hey!” Letta memanggil Jose tiba-tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD