Vanilla POV
“Ya?” Jose menoleh kebelakang. Mata kami saling bertemu tatap tetapi aku dengan cepat mengalihkan pandanganku ke arah jalanan.
“Di mana Med?”
“Nyonya menukar posisi kami.”
“Alasannya?” cerca Letta semakin penasaran.
Jose menatapku sejenak sebelum menjawab. “Nyonya tidak memberikan alasan apapun.”
“Tidak mungkin.”
Jose kembali menatapku dan rekan kerjanya yang fokus menyetir. “Tuan yang memintanya secara langsung.”
“Tuan?”
“Beliau ingin saya menjaga Nona.”
Letta menatapku namun aku tidak mengalihkan pandanganku dari jalan raya. Sudah menjadi rahasia umum jika ibuku suka memukulku tetapi Maximus tidak bisa melakukan apapun. “Oh oke… aku mengerti jika Tuan yang meminta.” Letta berdehem. Kami semua kembali diam.
Setibanya di mansion, Jose membantuku keluar mobil. Letta membawakan tas milikku. “Anda ingin digendong?” tanya Jose tiba-tiba.
Aku dan Letta saling menatap terkejut. Aku tertawa kecil, “aku memang terlihat kurus dan penyakitan tetapi aku tidak selemah itu. Terima kasih, Jose.”
“Aku tidak melihat anda sebagai sosok yang lemah. Hanya saja pasti tidak nyaman berjalan dengan gips itu.”
“Ide yang baik.” Cetus Letta bersemangat. Aku tahu benar apa yang direncanakannya dengan cengiran khasnya itu.
“Letta!” pekikku pelan.
“Nyonya tidak berada di mansion jika itu yang anda takutkan.” Lagi-lagi Jose mengatakan sesuatu yang tepat dan tanpa basa basi. Sebanyak apa yang diketahuinya sejauh ini? Belum pernah ada orang yang selancang ini berbicara kepadaku berhubungan dengan ibuku.
“Vanie, come on.” Letta justru semakin antusias.
“Oke?” Jose menunggu persetujuanku. Aku mengangguk pada akhirnya. Jose menggendongku bridal style. Tubuhnya yang berotot dapat aku rasakan dari balik pakaiannya. Cuaca yang dingin membuat tubuh Jose sebagai sumber kehangatan. Aku merapatkan pelukanku pada lehernya yang kokoh. Hembusan napasnya sesekali mengenai pipiku.
Ini kali pertamanya aku merasa sedekat ini dengan lawan jenis. Pengalamanku dengan mereka selalu berujung dengan hal menyedihkan. Bukan karena aku memiliki pacar atau sejenisnya, tetapi aku tidak tahu apapun tentang cinta.
Sejak remaja aku selalu bersama ibuku yang protektif. Jika aku memiliki kesempatan menghadiri acara atau pergelaran, aku tidak memiliki kesempatan untuk sekedar mengobrol karena instruksi ibuku agar tak membiarkan siapapun mendekatiku.
Jose begitu lembut dalam memperlakukanku. Aku bisa merasakannya saat menggendongku seperti ini. Kami menaiki banyak tangga tetapi aku tidak merasakan goncangan yang keras. Letta membukakan pintu kamarku dan memperbaiki bed coverku. Jose mendudukanku di pinggir tempat tidur.
“Terima kasih.” Lirihku tersipu.
“Tidak masalah.” Letta membantuku melepaskan syal dan membaringkanku. Jose menyelimutiku kemudian.
“Aku akan menyiapkan teh untukmu. Jose, bisakah kamu menemani Vanie hingga aku kembali?”
“Ya.” Jose menduduki kursi yang tak jauh dari tempatku berbaring. Kamu lebih muda dariku, tidak apa jika aku berbicara santai denganmu bukan?” katanya setelah hening.
“Dari mana kamu yakin?”
“Usia kita berbeda 4 tahun.” Lanjutnya dan menatap sekeliling kamarku.
Aku tahu dia memiliki informasi lengkapku dari agensinya. “Vanilla, kamu bisa memanggilku dengan santai kalau begitu.”
“Oke.” Angguknya. Letta datang kemudian. “Aku berjaga di luar, kamu bisa memanggil dengan interkom ini.” Jose melangkah keluar meninggalkanku bersama Letta.
“What?” tatapan Letta membuatku tak nyaman. Aku meletakkan cangkir teh yang telah kosong.
“Kamu menyukainya! Kamu tersipu tadi. Yeaaay! Akhirnya seorang Vanilla Wensey jatuh cinta.” pekik Letta girang, dia bahkan menari-nari tak jelas.
“Haaaaa?”
***
Jose POV
Aku sedang berjaga ketika Maximus menghampiriku. Sejujurnya aku merasa aneh mengapa dia menghampiriku tiba-tiba. Selama ini dia terlihat seperti sosok yang sangar.
“Jose Kyte?”
“Iya, Tuan.” Jawabku hormat.
Maximus terlihat melirik kiri dan kanan. “Kamu yang menyelamatkan Vanilla beberapa waktu lalu?” Aku menggangguk. “Aku ingin meminta bantuanmu darimu.”
“Tentu, Tuan.”
Maximus menghela napas panjang. “Aku ingin kamu menjaga Vanilla kedepannya.”
“Med sudah menjaganya dengan baik sejauh ini.” Ucapku bingung. Med tidak terlibat skandal dengan si kembar bukan?
“Ah ya… hanya saja.” Maximus terlihat berat mengatakan. “Aku sulit mengatakannya. Aku bingung harus memulai dari mana. Tetapi aku akan meminta istriku untuk menukar pengawalnya yang sekarang denganmu.”
“Saya masih tidak mengerti.”
Maximus menghela napas lagi. Kini dia benar-benar terlihat seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan puterinya. “Kamu terlihat perhatian kepada Vanilla. Penyiksaan itu, kamu sudah tahu bukan?”
“Seluruh pengawal sudah mengetahuinya sekarang.” Koreksiku. Lagi-lagi wajah Maximus menjadi mendung. “Anda adalah ayahnya, anda pasti bisa menghentikan Nyonya.” Lanjutku.
Maximus tersenyum kecil. “Ceritanya panjang. Oke… jadi mulai sekarang aku mempercayakan Vanilla terhadapmu.”
Aku tidak bisa bertanya lebih lanjut karena Maximus terlihat sulit mengungkapkannya. “Baiklah, Tuan.”
“Aku benar-benar menaruh harapan kepadamu untuk menjaga Vanilla.” katanya menepuk pundakku.
“Baik, Tuan.” Dengan itu aku resmi menjadi pengawal puteri ketiga yang teraniaya. Awalnya aku sendiri tidak mengerti mengapa pekerjaan penting seperti itu dipercayakan kepadaku. Josiah menghubungiku dan setuju dengan permintaan Maximus. Med berpindah posisi, dia terlihat tak terlalu mempermasalahkannya.
Saat pertama kali bertemu Vanilla di rumah sakit setelah sekian hari dirawat, hati kecilku merasa sangat iba terhadapnya. Mungkin karena aku bisa melihat sebagian pengalaman hidupku yang terukir diekspresi sedihnya. Aku merasa iba, tetapi lebih dalam dari itu aku ingin melindunginya.
Wanita pertama yang kurangkul dekat dengan diriku secara sadar adalah dia. Ini kali pertamanya aku menggendong seorang wanita. Tubuhnya yang kurus dan ringkih semakin menyesakkan dadaku. Vanilla sama sekali tidak mengeluh. Dirinya berlaku hanya seperti boneka pelampiasan.
Kini aku mengerti kenapa dia memintaku menjauhinya dulu, dia hanya tidak ingin siapapun menjadi susah oleh karenanya. Semakin aku berada di sisinya, semakin aku mengerti seperti apa sifatnya… tentu saja dengan bantuan mulut ember Letta. Vanilla cenderung tertutup dan tidak ingin melampiaskan emosinya di depan semua orang.
“Aku tidak pernah menceritakan tentang Vanie kepada siapapun. Kamu yang pertama.” Ujar Letta disuatu siang. Vanilla sedang berada di kamar mandi, dia akan menghadiri premier film besutan ibunya. Aku membantunya mengangkat perlengkapan Vanilla. Letta bisa saja meminta pelayan lain tetapi sepertinya dia ingin berdiskusi denganku.
“Kenapa kamu begitu mempercayaiku? Kita baru mengenal beberapa bulan.”
“Tuan memintamu menjaga Vanie secara langsung.”
“Kamu mengetahuinya?”
“Tentu saja. Kamu pikir dari mana Tuan mengetahui jika kamu yang menyelamatkan Vanie malam itu?”
“Ah…”