ENAM BELAS - Suka

1220 Words
Jose POV “Kamu menyukai Nona kami bukan?” Aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya. “Jangan mengada-ada.” “Aku bisa melihat dari perlakuanmu.” “Aku hanya melaksanakan tugasku.” “Jadi kamu tidak memiliki perasaan suka kepada Vanie?” “Kenapa aku harus?” “Vanie cantik dan menawan. Kamu sepertinya buta.” Cecarnya tajam. Kali ini Letta terlihat kesal. “Nona memang cantik dan menawan.” “Oh… kamu mulai menjaga jarak. Kamu bisa memanggil namanya.” “Lalu kamu pikir orangtuanya tidak akan membunuhku jika aku berani menyukai puteri mereka?” “Suka adalah suka. Cinta adalah cinta.” Puitis Letta. “Bukan itu jawaban yang kuinginkan.” Letta tertawa kecil. “Aku harus mengambil teh di dapur, aku akan meninggalkanmu bersama Vanie. Sepertinya dia akan selesai dalam beberapa menit.” “Oke.” Jawabku dan memindahkan kotak make up Vanilla dan meletakkan di atas meja. Tak lama Vanilla keluar dengan handuk rendah melilit ditubuhnya. Aku terpana tidak mampu bergerak, wajahnya juga terlihat sama terkejutnya denganku. Mungkin dia mengira hanya Letta yang berada di kamarnya. Mataku menyusuri setiap sisi tubuhnya yang tidak tertutup. Hatiku seperti ditusuk ribuan jarum melihat luka-luka lama dan baru bertaburan secara acak. Setiap jengkal kulitnya tidak memiliki warna yang sama karena luka-luka itu. Aku menelan ludah keras bukan karena birahi tetapi karena rasa malu dan iba. Selama ini aku berpikir hanya aku yang menderita di dunia ini sehingga menyalahkan takdir. Tetapi wanita rapuh di hadapanku ini jauh lebih menyedihkan. “Ah, aku tidak tahu…” Vanilla kembali masuk kedalam kamar mandi. “Bisakah kamu memberiku bathrobe itu?” telunjuknya menunjuk bathrobe di sebelahku. “Oh… oke.” Aku meraihnya dan berjalan mendekati kamar mandi. “Ini.” Serahku. Vanilla mengambilnya dan tak lama keluar dengan wajah memerah. “Di mana Letta?” “Mengambil teh.” Aku ikut merasa canggung. “Kamu membutuhkan sesuatu?” “Tidak, terima kasih.” Jawabnya pelan dengan senyum kecil. Vanilla terduduk dibangku di depan meja riasnya. Kami terdiam. “A… apa tubuhmu sudah lebih baik?” tanyaku memecah keheningan. Baru kali ini aku merasa kikuk di hadapan seorang wanita. “Ya.” jawabnya singkat. Aku memperhatikan ekspresinya yang datar dengan seksama. Benar, dia cantik dan menawan. Perkataan Letta selama ini berlompatan di pikiranku. Wajah telanjangnya tanpa make up sungguh pahatan sempurna Yang Maha Kuasa. “Ada yang ingin kamu sampaikan?” sepertinya dia merasa aku memperhatikannya intens. “Uh? No.” gagapku. Vanilla tersenyum kecil. “Pasti menjijikan melihat tubuh penuh luka milikku. Aku harap kamu tidak bermimpi buruk.” “Apa katamu?” Aku tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba menjadi marah. Aku kecewa dia menghakimi dirinya sendiri dengan sadis. Terlepas dari luka-luka itu, semua pria pasti tidak akan menolaknya. Mereka bahkan akan rela menjilati jalan yang dilaluinya. Cantik, kaya, beratitude dan cerdas… di mana kamu akan mendapatkan kombinasi luar biasa ini? Vanilla berbalik dan menatapku bingung. “Kamu marah?” Aku sudah ingin menjawab ketika Letta membuka pintu dan menatap kami berdua dengan aneh. “Apa yang terjadi?” “Tidak ada. Aku akan menunggu di luar.” Tampikku cepat meninggalkan kamar. Aku menunggu dengan mengepalkan tangan keras. Aku merasa frustasi dengan semuanya. Perlakuan orangtuanya, sikap pesimis Vanilla dan keadaan moodku yang berubah-rubah tanpa peringatan. Aku terbentuk untuk tidak melibatkan perasaan dan hanya menggunakan akal sehat. Tetapi berhadapan dengan Vanilla beberapa hari ini benar-benar mengaduk-aduk habis hatiku. Pintu terbuka kemudian menampilkan Vanilla dengan gaun hitamnya yang glamour. Gaun turtle neck yang dikenakannya berlengan panjang dan bagian bawahnya memanjang hingga batas mata kaki. Meski semuanya serba tertutup, wajahnya yang berkilau tetap menjadi daya tarik utama. Terlebih lagi aku baru menyadari jika bentuk tubuh Vanilla sangat menggiurkan. Meski kurus, aku bisa melihat lekukan itu dengan jelas. Aku menuntunnya menuju mobil. “Jaga dia dengan baik.” Bisik Letta. Aku mengangguk dan turut memasuki mobil. Begitu tiba di red carpet, beberapa wartawan mengambil fotonya. Aku berdiri setia di sebelahnya. Aku bisa merasakan jelas tatapan lapar setiap pria yang melihat. Ha! See? Aku tidak salah bukan? Lihat pria-pria buaya yang melihatnya lapar! Aku tahu benar karena aku juga pria. Kini aku merasa cemburu. Aku benci mengakui tetapi aku tahu benar perasaan ini. Vanilla terlihat ramah tersenyum dan menjabat tangan tamu yang hadir. 2 jam berlalu tanpa jeda. Vanilla sama sekali tidak mengeluh dengan rundown acara tersebut. Ibunya berada jauh darinya sibuk menyapa para tamu kehormatan. Vanilla hadir hanya sebagai pemanis untuk menunjukkan pada publik bagaimana keluarga harmonis mereka. Si kembar menempel di antaranya. “Kamu lelah?” bisikku. Vanilla terkejut mendapat pertanyaan itu. “Kenapa?” kali ini aku bertanya lebih lanjut. “Baru kali ini ada yang bertanya seperti itu kepadaku.” Lirihnya. “Kamu lelah? Haruskah kita pulang sekarang?” kali ini aku mendekatkan tubuhku lebih menempel kepadanya. Sejujurnya aku ingin mengusir pria-pria yang sudah menargetkan Vanilla dari kejauhan. Vanilla tidak langsung menjawab pertanyaanku dan melirik kearah ibunya. “Aku harus ijin.” “Biar aku yang melakukannya. Tunggulah di sini.” kataku lembut berbisik. Aku menghampiri Wera dan mengatakan kondisi Vanilla. Wera sama sekali tidak menoleh dan hanya mengangguk kecil. Tentu saja tamunya lebih berharga daripada puterinya. Aku kembali mendekati Vanilla dan membantunya bangkit. Sepanjang jalan menuju pintu keluar, aku memeluk pinggangnya erat di sebelahku. “A… aku baik-baik saja, Jose. Kamu tak perlu menuntunku seperti ini.” Ujarnya melihat sekeliling. Beberapa pasang mata melihat kami menyelidik. “Istirahatlah. Kamu bisa bersandar kepadaku.” Kataku tak peduli. Tahu tak bisa berargumen, Vanilla hanya menurut. Setibanya di rumah, Letta menyambut kami dengan senyum lebar. “Tumben cepat pulang.” Vanilla tidak menjawab dan berlalu menuju kamarnya. “Vanie baik-baik saja?” tanyanya kepadaku. “Ya, aku meminta ijin ke Nyonya untuk pulang lebih awal.” Letta menatapku takjub. “Good job!” tangannya menepuk-nepuk lenganku bangga. *** Vanilla POV Aku menikmati air hangat di dalam bathtub. Tubuh dan pikiranku rileks seketika. Aku memejamkan mata saat wajah Jose terlintas dalam benakku. Aku menghela napas panjang. Jose hanya melaksanakan tugasnya, dia tak memiliki niat khusus. ‘Kamu tak pantas memiliki kekasih atau suami.’ Kata-kata itu terus terngiang di dalam pikiranku. Bagaimana jika mereka menyakitiku? Bagaimana jika aku terbuang dan terluka lagi? Aku takut membuka hatiku. Keesokan harinya aku mengerjakan script di dalam kamar. Seluruh anggota keluargaku keluar entah kemana, aku tidak pernah mendapat info detail. Tugasku hanya berada di mansion seperti terpenjara. “Hey.” Aku menoleh menemukan Jose dengan sebuket kecil bunga daisy putih. Wajahnya tersenyum. Aku harus mengakui kalau saat ini dia terlihat sangat tampan. Figurenya yang maskulin sedikit lucu disandingkan dengan bunga daisy yang manis itu. “Hey.” Balasku dan menutup laptopku secepatnya. “Aku tahu apa yang kamu lakukan, Letta menceritakannya.” Jawabnya spontan ketika melihat gerakan refleksku. “Oh…” lirihku. “Aku tidak akan memberitahukan siapapun.” Imbuhnya dan menarik sebuah kursi duduk di hadapanku. “Here.” Jose menyerahkan bunga itu. “Untukku?” “Tentu saja, siapa lagi?” Jose tersenyum kecil. Tanganku bergetar menerimanya. “Thanks.” Baru kali ini aku menerima bunga dari seseorang. “Cantik.” Gumamku. “Aku hanya mengambilnya di kebun belakang. Mansion ini memiliki halaman yang sangat luas. Aku melihatnya tumbuh liar.” “Ah… benarkah?” Sebenarnya aku tidak benar-benar menyusuri mansion yang luas ini. Maximus memang memiliki landasan helipad dan lapangan golf sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD