ISTRI RAHASIA CEO 10.
**
"Saudara, Pak?" tanya Bik Mun.
"Iya, Bik. Kalian sudah berkenalan, 'kan?" tanya Wildan kembali.
"Oh, udah, Pak. Nama Non ini Ana."
Ana hanya tersenyum kecut ketika Bik Mun mengatakan itu sambil mengelap meja. Wildan pun beranjak menuju dapur. Sedangkan Ana memilih untuk keluar dan menuju teras.
Ana menghirup udara dan rasanya begitu nyaman berjumpa dengan suasana pagi yang menyegarkan. Ana melihat ada tanaman dan bunga-bunga. Dari dulu dia sangat menyukai bunga-bunga. Mungkin beberapa waktu Ana akan menghibur dirinya dengan bunga-bunga ini. Berkebun sepertinya mengasyikkan.
Ana juga harus berpikir untuk masa depannya. Tidak mungkin di rumah terkurung saja. Bukankah Wildan tadi malam mengatakan dia bisa keluar rumah tetapi harus tahu mana yang baik dan mana yang buruk dan juga tidak akan mencampuri urusannya.
Ketika Ana sedang melihat-lihat bunga-bunga serta menyentuh beberapa tanaman hias tersebut. Tiba-tiba Ana tersentak kaget karena Wildan sudah ada di belakangnya.
"Astagfirullah, Kak," kata Ana.
"Bagaimana Istirahat mu?" tanya Wildan.
Ana heran. Kenapa Wildan peduli padanya?
"Jangan berpikir macam-macam aku hanya ingin tahu kau sakit atau tidak karena kalau terjadi apa-apa denganmu. Pasti orang tuaku sibuk. Mereka sangat mencintaimu melebihi mencintaiku."
"Aku istirahat dengan cukup baik," sahut Ana.
Wildan menyerahkan sesuatu kepadanya. Itu adalah surat perjanjian tadi malam yang harus ditandatangani Ana.
"Serahkan kembali kepadaku jika kamu sudah selesai menandatanganinya. Aku juga tidak ingin berlama-lama dengan surat kontrak ini dan ikuti perjanjian di dalam."
Ketika selesai menyerahkan ke tangan anak. Wildan dan berlalu dari wanita tersebut. Ana melirik punggung Wildan yang berlalu masuk lagi ke dalam rumah. Dia juga melihat kembali kertas yang akan ditandatangani. Saat ini Ana hanya bisa pasrah ketika harus menikah seperti ini. Pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya.
Wildan beranjak untuk pergi menuju kantor, karena Ana tidak dianggap sebagai istri. Perempuan tersebut hanya menatap kepergian Wildan dari atas kamarnya melirik lewat jendela.
Sarapan pagi pun mereka tidak bersama. Ana akan sarapan setelah Wildan pergi. Dia tidak ingin mengganggu Wildan. Mungkin memang tidak berkomunikasi secara langsung lebih baik dan akan menjaga perasaannya. Bagaimanapun Wildan sering berkata kasar, jutek dan tidak peduli kepadanya. Ana harus maklum, mereka memang tidak punya hubungan apa-apa selain pernikahan kontrak.
Ketika Ana turun. Bik Mun sedang memasak. Asisten rumah tangga itu mempersiapkan bahan-bahan yang akan di masak. Saat Ana hendak membantunya. Bik Mun menolak.
"Jangan, Non. Pak Wildan tidak ingin kalau Non membantu pekerjaan ini. Dia mengatakan Non tidak boleh membantu apa-apa. Harus saya yang mengerjakan."
"Oh, baik, Bik." Ana kembali duduk.
Dia pun menyantap sarapannya. Bik Mun menghidangkan sarapan tersebut kepada Ana.
"Bik, kira-kira ada lowongan pekerjaan nggak ya? Saya sedang mencari pekerjaan di Kota Ini," tanya Ana.
"Oh, kalau soal itu Bibik juga nggak tahu, Non. Soalnya kan Pak Wildan juga punya kantor. Punya perusahaan. Kenapa Non nggak melamar saja di perusahaan Pak Wildan."
"Iya, Bik. Kalau bisa saya tidak mau bekerja di kantornya Kak Wildan. Misalnya bekerja di mana saja gitu yang penting saya nggak bosan di rumah. Mungkin kalau di kantornya tidak bisa untuk bekerja."
"Wah, kurang paham juga Bibik, Non." Bik Mun menanggapi.
"Oh, ya udah gak apa, Bik," sahut Ana tersenyum kecut. Ana kembali bertanya.
"Kalau jalan-jalan sekitaran kota ini, Bibik bisa gak anterin saya muter-muter? Soalnya saya juga baru datang dan ingin melihat kota ini," tanya Ana.
"Anu ... Bukannya Bibik nggak mau, Non, lagi pula kan Bibik banyak pekerjaan. Bibik itu kalau kerja di rumah ini dari pagi sampai sore. Setelah itu nanti sore Bibik pulang. Eh, Bibik punya anak yang bisa bawa Non jalan-jalan. Masih SMA juga, mungkin bisa membantu. Mau gak Non pergi sama anak Bik Mun?" tanya wanita paruh baya itu.
"Anak Bibik perempuan?" tanya Ana.
"Iya, Non. Kalau mau, Bibik kirimkan nomor handphonenya sama Non biar dia juga bisa kemari dan jalan bersamaan Non keliling kota."
"Mau, Bik."
Bik Mun pun memberikan nomor handphone anaknya ke Ana. Ana mencatatnya dan merasa senang. Akhirnya dia tidak harus di rumah saja. Bagaimanapun dia tidak mungkin di rumah saja. Ana juga harus bisa mandiri di kota ini.
Setelah selesai sarapan pagi. Ana menghubungi anak Bik Mun yang bernama Indah. Dia berkata akan datang untuk menjemput Ana. Mereka jalan-jalan bersama. Indah akan datang sepulang sekolah. Kira-kira pukul satu siang, mereka akan jalan bareng untuk mengelilingi kota.
Sebenarnya Ana sudah tidak sabar untuk melihat kota, selama ini dia juga hanya melihat lewat televisi. Tidak pernah datang ke kota besar. Sembari menunggu siang hari. Ana iseng melihat kontrak yang akan ditandatanganinya. Di kontrak tersebut Wildan tidak menyinggung masalah keuangan.
Ana bingung. Dia bukannya materialistis. Tapi Ana juga punya kebutuhan. Apakah Ana harus meminta kepada Wildan sebagai suaminya?
Di sana hanya tertulis kontrak mereka menikah selama dua tahun sedangkan Ana tahu kalau masalah makan memang sudah diberikan Wildan sepenuhnya.
Bik Munaroh selalu bekerja di rumah memasak untuk Ana. Tetapi untuk kebutuhan lain seperti membeli pakaian atau membeli kebutuhan lainnya dan lain-lain yang dibutuhkan Ana, tidak dituliskan Wildan. Jadi intinya Wildan tidak menyinggung masalah uang kepada Ana.
Jujur saja untuk meminta kepada Wildan Ana sangat gengsi. Bagaimanapun seorang suami harus bertanggung jawab kepada istri terlepas pernikahan mereka entah seperti apa. Apakah hanya pernikahan pura-pura atau sandiwara atau bagaimana. Tanggung jawab kepada istri wajib. Tapi, Wildan tak peduli dan acuh. Ana malas mencari masalah.
Dirinya adalah anak yang biasa bekerja sendiri tanpa bantuan Wildan sekalipun. Ana berpikir ketika harus meminta ke Wildan. Lelaki itu mungkin berpikir Ana materialistis.
Jadi lebih baik Ana bekerja saja di kota ini. Mencari pekerjaan yang halal, baik dan bermanfaat. Pasti ada pekerjaan yang menunggunya di sini. Ana tidak akan mengharapkan apa-apa dari Wildan.
Hingga sampailah indah. Ana meminta izin ke Bik Mun jalan-jalan bersama Indah dan mereka pun jalan-jalan mengelilingi kota. Indah membawa Ana ke tempat-tempat yang menjadi objek wisata di ibukota.
Mereka berfoto. Ana merasa sangat bahagia. Menggunakan uang pribadi, mentraktir Indah. Bagaimanapun dia dulu pernah bekerja di kota kelahirannya jadi Ana punya uang untuk kebutuhannya beberapa waktu ke depan.
"Makasih ya, Indah. Kamu udah mau ngajak Mbak jalan-jalan. Senang sekali bisa main ke sini."
Mereka juga makan di warung sederhana dengan antusias Ana dan indah makan bersama.
"Sama-sama, Mbak. Mbak bagaimana bisa tinggal di rumah Pak Wildan? Mbak saudaranya kata ibu?" tanya Indah kepo.
"Cuma begitu saja. Mungkin gak lama lagi Mbak juga bakal keluar dari rumah itu. Kira-kira kamu ada nggak teman yang bisa mencarikan pekerjaan untuk Mbak. Mbak lagi butuh pekerjaan yang pasti pekerjaannya harus halal."
"Wah kalau soal itu indah juga belum ada, Mbak. Tapi nanti tanyakan sama temen-temen atau kalau ada informasi Indah kasih tahu lagi tentang pekerjaan yang Mbak butuhkan. Semoga aja bisa membantu."
"Terima kasih ya, Indah," sahut Ana.
Setelah selesai, mereka makan di warung sederhana tersebut. Indah pun mengajak Ana kembali jalan-jalan. Kali ini sudah cukup sore dan mereka sebelum pulang menyempatkan diri dulu jalan-jalan ke Mall. Jalan ke Mall ibukota, Ana sangat antusias karena pusat perbelanjaannya besar dan ramai.
"Gimana, Mbak. Bagus gak Mall nya?" tanya Indah.
"Bagus banget, Indah. Makasih ya kamu udah ngajakin Mbak jalan-jalan. Sudah mau meluangkan waktu kamu untuk ngajakin Mbak ke sana, ke sini."
"Aku juga makasih Mbak, Mbak menyenangkan dan baik. Aku senang kok jalan-jalan sama Mbak. Kapan-kapan kalau Mbak mau pergi-pergi lagi boleh hubungin aku. Aku pasti ngajakin Mbak jalan-jalan," sahut Indah.
Beberapa kali mereka berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.
"Eh, Mbak. Itu bukannya Pak Wildan. Dia lagi sama pacarnya. Wah, emang beneran cantik sih Mbak. Aku baru sekali sih melihat Pak Wildan bawa pacarnya ke rumah ketika bantuin Ibu kerja."
Mata Ana membola melihat Wildan Yang bergandengan tangan mesra dengan seorang perempuan sangat cantik.
Tiba-tiba perasaan Ana bergetar hebat. Ternyata Wildan sedang jalan dengan perempuan. Wanita itu bagaikan langit dan bumi dengan Ana. Pantas saja Wildan sangat jijik kepadanya karena kekasihnya sangat cantik jelita.
Jika dibandingkan dengan Ana sangat kalah jauh. Ana tersadar kalau Wildan sudah punya pasangan dan menikah hanya terpaksa sebagai syarat saja dari orang tua.
"Itu pacar Kak Wildan?" tanya Ana dengan suara parau.
"Iya, Mbak. Mbak kan saudaranya Pak Wildan. Masa nggak tahu sih kalau itu kekasihnya Pak Wildan."
Ana menghela napas panjang, dia berusaha mengontrol perasaannya.
**