Bab 9

1102 Words
ISTRI RAHASIA CEO 9. ** Ana heran dengan Wildan. Kenapa mereka harus menikah begitu lama? 3 tahun itu terlalu lama untuk Ana. Jika pernikahan ini hanya pernikahan pura-pura. Ana tidak akan sanggup terlalu lama. Menikah yang terlalu lama akan menambah beban mentalnya. "Kak Wildan tolong dikoreksi lagi. Jangan membuat pernikahan kita sampai 3 tahun. Karena aku tahu kita memang hanya pura-pura. Jadi tidak perlu terlalu lama." "Bukan tanpa alasan. Aku rasa tidak mungkin kita menikah tiga bulan lalu bercerai. Apa kata orang tuaku? Bagaimanapun aku harus mengulur waktu. Sepertinya tiga tahun memang waktu yang tepat." Wildan berkata sarkas. "Tapi kenapa kamu hanya memikirkan dirimu saja. Kakak bilang kalau perjanjian ini tidak akan berat sebelah dan tidak akan ada yang dirugikan. Namun waktu 3 tahun terlalu lama. Bukankah kita berdua juga masih punya masa depan." Ana menatap Wildan penuh harap agar mengubah keputusan. Dia juga tak bisa bermanis mulut memanggil Wildan dengan sebutan Mas. Kakak lebih baik, Wildan juga tak menganggap dia istri. Jadi Ana memanggil dengan sebutan seorang senior saja. Kakak kelas lebih tepatnya. Justru Ana protes karena rasanya 3 tahun terlalu lama. 3 tahun terlalu menyakitkan untuk mereka berdua. Kasihan sekali orang tua mereka yang terlalu banyak berharap. Padahal sebelum Ana naik pesawat. Ibu mertua mewanti-wanti agar dia menjaga pola makan. Mengatur hubungan dengan baik bersama Wildan dan segera memberi mereka cucu. Namun Ana tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, itu semua takkan mungkin terjadi. "Baik, jadi kamu mau pernikahan berapa lama?" tanya Wildan. Lelaki itu berusaha mempertimbangkan apa yang dikatakan Ana. Padahal sebenarnya dia juga tidak mau terlalu lama. Namun mengingat kedua orang tuanya. Tidak mungkin mereka begitu cepat bercerai, apa kata orang tuanya. Nanti pasti orang tuanya sangat sedih. Apalagi papanya sedang sakit. Jadi mungkin waktu 3 tahun adalah waktu maksimal agar orang tuanya paham ketika mereka akan berpisah. "Kalau menurutku lebih cepat lebih baik, Kak. Tapi tolong jangan 3 tahun. Mungkin satu tahun itu terlalu maksimal." "Kamu hanya memikirkan dirimu. Bagaimana dengan orang tuaku. Satu tahun terlalu cepat. Kamu pikir aku mau lama-lama menikah denganmu!" Wildan meluapkan emosinya mengatakan itu. Dia menghela napas panjang berusaha tenang. Sementara Ana semakin tertunduk. Ana merasa takut dengan ucapan tajam Wildan. Wildan pun melanjutkan ucapannya. "Begini saja. Kita ambil jalan tengahnya. Bagaimana kalau 2 tahun. Ya maksimal 2 tahun. Kamu tidak usah terlalu kepedean karena aku juga tidak akan pernah mencintaimu. Tidak akan mau denganmu. Kamu harus catat itu. Waktu 2 tahun juga terlalu lama untukku. Tapi maksimal keputusannya 2 tahun!" Wildan menekankan perkataannya dan perkataan yang barusan keluar dari bibirnya menggores hati Ana. Ana sudah tahu tapi kenapa harus terus diingatkan. "Mungkin 2 tahun memang waktu yang pas untuk pernikahan pura-pura ini. Meskipun selama 2 tahun aku nggak tahu apa kita berdosa atau tidak mempermainkan pernikahan. Dan Kakak jangan khawatir. Aku juga sudah sadar diri. Aku tahu seperti apa diriku. Kakak selalu mengulang-ulang kalau tidak menyukaiku. Aku tahu, aku paham tidak perlu diingatkan." Ana harus kuat. Meskipun dia mengatakannya dengan perkataan bergetar. Bagaimanapun dia hanya perempuan yang punya perasaan. Meskipun dia hanya orang kampung tapi dia juga bukan perempuan murahan. Dia juga punya harga diri walaupun Wildan sangat tampan dan punya harta kekayaan melimpah. Namun Ana tidak sekalipun berharap Wildan juga membalas perasaannya. Kalau tidak mau ya sudah. Tidak perlu dipaksakan tidak perlu menghina segala. "Baik kita sepakat dengan waktu 2 tahun. Kita bersama selama dua tahun dan setelah itu kita akan mengurus perpisahan. Selama kamu menjadi istriku. Aku berharap kamu juga merahasiakan pernikahan kita. Kalau bisa tidak boleh ada orang yang tahu tentang pernikahan ini. Setiap hari pembantu rumah tangga akan datang kemari membersihkan rumah. Dia wanita paruh baya. Sore harinya dia akan pulang. Jadi kamu tidak perlu khawatir tenagamu terpakai di sini. Oh ya. Aku berharap kita mengurus urusan kita masing-masing." Hati Ana semakin sakit mendengarnya. Ternyata sampai se-takut itu Wildan tahu tentang keberadaan dirinya dari banyak orang. "Baik, Kak. Aku juga tidak akan mengganggu urusan Kakak. Tapi, apakah aku bisa keluar rumah dan bekerja karena mungkin berada di rumah aku akan bosan." "Terserah apapun yang mau kamu lakukan. Kamu juga sudah dewasa, sudah tahu baik dan buruk. Aku tidak akan mengganggu urusanmu. Begitupun kamu juga tidak boleh mengganggu urusanku. Silakan pakai kamar mana saja yang kamu mau. Asalkan jangan di kamarku!" kata Wildan dengan aura beku. Ana terdiam, terpaku di tempatnya dan berjanji pada dirinya kalau dia tidak akan mengganggu urusan Wildan. "Surat perjanjian akan diperbarui lagi. Besok kita duduk lagi untuk menandatangani. Aku mau istirahat dulu." Wildan mengatakan begitu saja dan dia berlalu dari Ana. Tiada basa-basi lagi. Lelaki itu naik ke lantai dua. Kemudian memasuki kamarnya membiarkan Ana masih terduduk. Ana merasa bingung kamar mana yang akan dia pakai. Akhirnya wanita itu melihat-lihat sendiri rumah Wildan. Ana naik ke lantai dua untuk melihat kamarnya. Ada sebuah kamar di samping kamar Wildan. Ana memutuskan untuk beristirahat di sana. Kamarnya juga terasa nyaman sepertinya ini kamar tamu. Wildan mengatakan boleh tidur ataupun memakai kamar mana saja kecuali kamarnya. Sepertinya Wildan tidak akan marah kalau Ana menempati kamar ini. Ana merebahkan tubuhnya. Merasa lelah hingga akhirnya dia tertidur karena rasa lelah dan capek yang melanda. Keesokan harinya ketika Ana bangun pagi. Ana akan memulai aktivitasnya. Sudah sekitar jam enam pagi. Sebenarnya Ana sudah bangun dari tadi. Saat salat subuh. Namun dia lebih memilih menghabiskan waktu di kamar saja. Merasa tak enak. Akhirnya Ana bangun juga untuk melihat keadaan rumah. Ketika dia keluar kamar dan handak turun tangga. Ana melihat pembantu yang dikatakan Wildan sudah datang. Seorang wanita paruh baya. Dia sedang menyapu dan akan mengepel lantai. Ana pun turun ke bawah untuk berkenalan dengan perempuan yang menjadi asisten rumah tangga tersebut. "Assalamualaikum, Bik. Yang kerja di sini?" tanya Ana. "Waalaikumsalam, Ia Non. Saya Bik Mun. Nama panjang saya Munaroh. Non siapa ya?" tanya Wanita paruh baya itu heran. Selama dia bekerja di sini belum pernah ada wanita berhijab yang dilihatnya. Setahu Bik Mun, majikannya memiliki kekasih yang sangat cantik. Seorang model, wanita yang jadi kekasih majikannya juga terjun di dunia akting dan bekerja di dunia hiburan tanah air. "Perkenalkan, Bik. Nama saya Ana. Saya ..." Ana bingung mencari perkataan tepat untuk disampaikan ke Bik Mun tentang statusnya. Kemarin Wildan menyuruh Ana agar tidak memberitahu jati dirinya sebagai istrinya. "Bik Mun. Sudah sampai?" Ana melirik, ternyata Wildan hendak turun juga. Dia berada di anak tangga. "Eh, Iya, Pak. Maafin Bibik ya malah ngobrol. Soalnya heran juga ada perempuan cantik di sini. Ini siapa ya, Pak, kalau boleh tahu?" Bik Mun bertanya ke Wildan. "Oh, dia ... perkenalkan, Bik. Dia seperti saudara saya. Saudara jauh gitu," sahut Wildan. Ana tersentak kaget. Dia benar-benar tak diakui sebagai istri. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD