ISTRI RAHASIA CEO 8.
**
"Ana, maafkan Wildan, Sayang. Terpaksa bulan madu kalian ke luar negeri dibatalkan untuk sementara. Tapi tadi Wildan udah janji sama Mama dan Papa kalau nanti setelah pekerjaannya selesai di ibukota. Dia pasti ngajak kamu jalan-jalan ke luar negeri ke tempat yang lebih indah."
Farida mengatakan itu saat makan malam.
"Oh, iya, Ma."
Sementara Ana melirik Wildan. Ternyata ancamannya dilakukan juga oleh lelaki tersebut. Wildan mengatakan sendiri ke orang tuanya kalau dia tidak ingin berbulan madu. Wildan mengatakan kalau banyak pekerjaan yang harus selesaikan di kota, sebagai alasan tidak mau berbulan madu.
"Wildan. Papa mengikuti kemauan kamu karena memang alasan kamu tepat. Tetapi kalian baru saja menikah. Jangan terlalu mem-forsir pekerjaan. Ingat kalau kalian masih pengantin baru. Masih layak liburan." Fuad menimpali. Lelaki paruh baya itu mengambil gelas dan meminum air putih perlahan.
"Baik, Pa. Maafkan Mas ya Ana, tapi Mas akan berusaha meluangkan waktu untuk kamu dan kita pergi setelah semua pekerjaan selesai," kata Wildan melirik Ana dengan senyuman. Ana hanya tersenyum sekilas. Lebih ke terpaksa. Dia tahu ini pura-pura.
"Iya, Kak," jawab Ana.
"Ana. Kamu jangan manggil Wildan kakak lagi. Sekarang kalian udah menikah. Panggil aja Mas Wildan. Itu lebih harmonis dan lebih enak didengar ya kan, Sayang," ucap Farida mengkoreksi panggilan Ana untuk putranya. Bagaimanapun sekarang Ana adalah menantunya. Rasanya tidak elok memanggil dengan panggilan Kakak. Lebih mesra memanggil dengan panggilan Mas seperti juga Farida yang memanggil suaminya dengan sebutan Mas.
"Oh, Iya, Ma," jawab Ana canggung.
"Santai aja, Mbak. Sekarang kita keluarga," sahut Atikah, adik iparnya. Ana hanya tersenyum getir.
"Kalau Papa boleh tahu. Kenapa Ana memanggil Wildan Kakak?" tanya Fuad. Penasaran juga dengan menantunya soalnya ketika mereka pertama kali bertemu sampai sekarang sudah menjadi suami istri. Ana tetap memanggil Wildan dengan sebutan Kakak.
"Oh itu ... hanya, Mas Wildan kakak kelas saya ketika SMA, Pa. Jadi untuk lebih menghormatinya. Saya memanggil Kakak saja," kata Ana.
Rasanya memanggil Kakak jauh lebih nyaman, bagaimanapun Wildan dulu memang kakak kelasnya serta kalau memanggil dengan sebutan Mas sepertinya Ana merasa nggak pantas karena Wildan juga tidak menyukainya.
"Wah, ternyata emang udah kenal lama ya kalian?" tanya Farida antusias.
"Iya, Ma. Kayak di novel aja nih kisah Mas Wildan," sahut Atikah.
"Enggak kok, Ma, kita nggak saling kenal. Saya dulu kelas X dan Kak, maksud saya Mas Wildan kelas XII. Hanya saya saja mengenal Mas Wildan. Dia tidak mengenal saya, jadi kami tidak ada hubungan apa-apa," sahut Ana menjelaskan.
"Benar Wil kamu dulu gak kenal Ana?" tanya Fuad.
"Iya, Pa. Tapi memang Wildan nggak mengenal Ana," sahut Wildan.
Ana melirik lelaki itu yang santai saja dan kembali mengunyah makanannya.
"Tenang, Mbak. Sekarang lelaki yang dulu idola sekolah jadi suami kamu," ucap Atikah lagi.
Ana hanya tertawa getir mendengarnya. Jika boleh memilih dia juga tidak mau menikah dengan idola sekolah. Mungkin Wildan hanya bisa dijadikan idola sekolah, tidak dijadikan pendamping hidup. Menikah soal perasaan. Mana mungkin Ana bisa memaksa orang lain untuk menyukainya. Walaupun dia juga memiliki perasaan ke Wildan ketika sekolah. Sekarang cukup sadar diri, Wildan hanyalah lelaki yang sulit di jangkau.
.
.
Besok harinya, semuanya sudah berkumpul di bandara di mana mereka akan mengantar Wildan sampai di bandara saja. Wildan berjanji kepada kedua orang tuanya serta adiknya akan memperlakukan istrinya dengan baik.
Kedua orang tuanya pun memahami. Mereka percaya sepenuhnya ke Putra mereka dan berharap Wildan selalu bertanggung jawab dan menjaga istrinya dengan baik.
Ketika akan menikah dulu Wildan sempat berdebat dengan Fuad, ayahnya. Saat itu Wildan mengatakan setuju untuk menikahi Ana. Tetapi Wildan akan membawa Ana ke ibukota dan harus siap mendampinginya sebagai istrinya.
Wildan berharap setelah menikah keluarganya tidak turut campur dalam urusan rumah tangganya. Wildan berkilah ingin mengenal Ana lebih jelas. Ketika itu kedua orang tuanya setuju. Wildan ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan Ana. Jadi dia berharap orang tuanya lebih mengerti. Alasan tersebut dipakai Wildan agar orang tuanya paham.
"Sayang, jaga menantu Mama baik-baik. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami."
"Pasti, Ma, tenang aja. Wildan akan menghubungi Mama dan Papa. Kita selalu berkomunikasi. Bukankah sudah ada handphone jadi lebih mudah untuk menghubung," ucap Wildan.
"Ya udah. Mama percaya sama kamu, Nak," jawab Farida.
Sebelum pergi. Ana menyalami mertuanya takzim. Farida berpesan kepadanya kalau ada apa-apa segera menghubungi. Farida juga menyuruh Ana menjaga pola makan agar tetap sehat dan yang pasti segera memberikan mereka cucu. Mereka sangat mengharapkan kabar gembira dari Ana dan Wildan. Berharap mereka harmonis, rumah tangganya berjalan baik sakinah, mawaddah, warahmah.
Ana hanya tersenyum getir menanggapi sambil memeluk mertuanya. Walaupun ada rasa sakit di palung hati. Dia berusaha menghapus air mata di pelupuk mata. Entah bagaimana nasibnya nanti di kota. Ana berharap Wildan dan memperlakukannya dengan baik. Seperti perjanjian yang selalu Wildan katakan.
Kedua orang tuanya melepas Wildan. Mereka pun menaiki pesawat. Kini, Ana dan Wildan sudah berada di pesawat. Pertama kalinya Ana menaiki pesawat, selama ini memang tidak pernah, kondisi ekonomi keluarganya dulu yang memang susah.
Ketika pesawat lepas landas. Itu suatu pengalaman buat Ana yang tidak akan pernah dilupakannya dan wanita itu juga lebih banyak diam. Tidak mau terlalu banyak berbicara dengan Wildan. Dia tahu Wildan juga menjaga jarak dengan dirinya.
Hingga tak terasa Wildan dan Ana sampai juga di ibukota. Saat itu sekretarisnya, Chandra, menjemput. Candra juga terkaget ketika melihat Wildan datang bersama seorang perempuan.
Wildan memang tidak mengatakan apa-apa ke orang lain kalau dirinya sudah menikah. Hanya di kota kelahirannya saja, mereka pada tahu kalau Ana istrinya. Tapi di ibukota, satu orang pun tidak ada yang tahu.
"Bos, mohon maaf, siapa wanita itu?" tanya Chandra kepo.
"Nanti ku jelaskan kepadamu. Sekarang kamu menyetir saya dengan baik."
"Baik, Bos."
Wildan dan Ana menaiki mobil. Mereka duduk di belakang. Sementara Chandra di depan. Wildan menanyakan tentang pekerjaannya dan meminta Chandra untuk menjelaskan. Lelaki tersebut menjelaskan kepada bosnya, apa saja agenda yang akan dilakukan bosnya. Sementara Ana hanya melirik keluar dari kaca mobil tersebut. Sama sekali tidak berpikir tentang pekerjaan Wildan. Wanita itu lebih memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan hidupnya.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah. Sekretarisnya Chandra sudah meninggalkan rumah kediaman Wildan yang mewah. Ana dan Wildan memasuki rumah tersebut dan Ana begitu takjub melihat istana Wildan yang benar-benar besar sangat mewah.
Saat itu ada merasa kecil diri, rendah diri dan sadar siapa dirinya. Pantas Wildan sangat membencinya dan jijik kepada dirinya, dia dan Wildan tidak satu level. Ana hanyalah orang kampung. Tidak pantas dengan lelaki kaya seperti Wildan. Lelaki sibuk, lelaki yang punya kekuasaan, jabatan dan juga harta yang melimpah sedangkan Ana benar-benar hanya gadis biasa. Riba-tiba nyali Ana menciut.
"Ini rumahku. Mari kita duduk sebentar untuk membicarakan tentang poin pernikahan kita," kata Wildan.
Dengan tertunduk. Ana menatap marmer.
Ana pun mengikuti Wildan. Tetapi tidak berani melihat ke atas. Wajahnya lebih banyak ditundukkannya.
Ana pun mengikuti Wildan duduk di sofa mahal miliknya. Wildan menyodorkan kertas di mana berisi perjanjian pernikahan mereka. Ana melihat kertas tersebut sekaligus nantinya di tandatangani.
"Ini adalah kontrak pernikahan kita. Lebih bagus tidak ada yang perlu tahu tentang hubungan kita dan pernikahan ini. Aku ingin menyembunyikan pernikahan ini selamanya. Biar saja orang di kota kelahiran kita yang tahu tapi kalau di tempat ini. Kalau bisa jangan ada satu orang pun yang tahu."
Ana menatap nanar kertas berisi perjanjian pernikahan mereka. Rasanya dadanya dihantam balok kayu berukuran besar. Sungguh sangat menyakitkan perkataan Wildan. Kontrak pernikahan itu dipegang Ana dengan tangan bergetar. Beberapa poin di baca Ana.
"Kak Wildan. Kenapa kita harus menikah selama 3 tahun. Bukankah kamu tidak menyukai ku. Kenapa harus begitu lama."
Wildan juga tidak sanggup untuk hidup terlalu lama dengan Ana yang tidak dicintainya. Lagi pula usianya masih bisa dipergunakannya untuk hal yang lain.