ISTRI RAHASIA CEO 7.
**
Mereka sudah kembali lagi ke rumah Fuad dan Farida setelah menghabiskan malam pengantin bersama di Hotel. Raut wajah Farida dan juga Fuad serta Atikah yang masih belum kembali ke Singapura ceria menyambut kedatangan pengantin baru.
Wildan memeluk Papanya begitu pula Farida yang menyambut anak dan menantu. Ana mencium tangan mertuanya takzim. Kemudian mereka duduk di ruang keluarga.
"Bagaimana di sana? Kalian berdua senang, 'kan?" tanya Fuad antusias.
"Hus! Papa Kenapa sih harus bahas masalah itu. Lagi pula itu privasi mereka. Mereka ini sudah menikah dan Insya Allah Mama mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." Farida protes ke suaminya.
"Iya, Papa juga sama seperti Mama mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."
"Semoga kalian berdua segera memberi Mama dan Papa cucu. Kita udah nggak sabar menanti dan mengharapkan cucu, kebahagiaan orang tua adalah mendapatkan cucu dari anaknya."
Mendengar pernyataan kedua orang tua dari Wildan. Ana hanya tersenyum kecut. Bahkan dia sama sekali tidak tahu apa dirinya bisa mengabulkan permintaan kedua orang tua tersebut, pernikahan ini hanya pernikahan pura-pura yang dirahasiakan oleh putranya sendiri.
Ana hanya tertunduk dalam. Sebenarnya dia tidak bisa berpura-pura seperti Wildan berpura-pura bahagia, menikah dengan dirinya Padahal semua itu hanya kepalsuan.
Wildan segera merangkul Ana ketika orang tuanya mengatakan hal itu. Ana ter-kaget saat tangan Wildan berada di bahunya. Jantungnya berdegub kencang, ini adalah sentuhan pertama sebagai suami istri.
Ana berusaha menetralkan degub jantung yang berulah dari dirinya. Dia beristighfar dalam hati kalau semuanya hanya pura-pura. Wildan hanya pura-pura. Tetapi sebenarnya Ana tak suka dijadikan objek ke pura-puraan, beginilah adanya kalau menikah hanya sebatas kertas pasti ada saja Yang tersakiti.
"Insya Allah, Ma. Pokoknya Wildan dan Ana se-dikasihnya aja sama Allah doakan yang terbaik aja untuk kehidupan kami. Mudah-mudahan lancar pekerjaan Wildan juga lancar."
Wildan berusaha meyakinkan kedua orang tuanya kalau pernikahan mereka bahagia seperti yang diinginkan orang tuanya. Wildan tidak ingin orang tuanya berpikir yang aneh-aneh. Bisa jatuh jabatannya sebagai CEO kalau Papanya murka ketika dia tidak membahagiakan istrinya.
Wildan akan berusaha kalau dia menjadi suami yang baik di depan mereka. Hanya di depan saja di belakang entahlah. Yang pasti keduanya orang tuanya harus tahu kalau mereka menikah secara bahagia sesuai dengan amanat yang diberikan orang tuanya.
"Mama senang sekali mendengarnya. Tidak menyangka kalau kalian cepat sekali akrab. Insya Allah pacaran setelah menikah jauh lebih baik. Kalian akan merasakannya, Iya kan, Pa?"
"Iya benar sekali. Papa juga mendukung. Ternyata Papa dan Mama tenang ketika Wildan sudah menikahi Ana, yang pasti Wildan akan bertanggung jawab menjadi suami untuk Ana. Kalau ada apa-apa Ana cerita aja sama Papa dan Mama. Kami pasti akan membantu. Sebagai hadiah Papa dan Mama juga akan memberikan hadiah gratis berbulan madu untuk kalian berdua."
"Bulan madu, Pa?" tanya Wildan heran.
"Iya, Mama dan Papa serta Atika sepakat memberi hadiah bulan madu untuk kalian berdua. Pilih negara mana yang akan kalian kunjungi sebagai pengantin baru dan juga untuk memulai keakraban sebagai suami istri. Kalian perlu berbulan madu agar kalian menjadi lebih harmonis dan saling mengenal satu sama lain."
Farida menerangkan dengan seksama rencananya memberi hadiah bulan madu ke anak dan menantunya. Mereka semua terlihat antusias. Fuad, Farida dan juga Atika. Tetapi hati Wildan gusar. Dia ingin segera kembali ke ibukota dan meninggalkan kota kelahirannya karena sangat risih dengan kelakuan orang tuanya yang memaksa dirinya untuk bahagia dengan pernikahan konyol yang harus dilaluinya.
"Bagaimana pendapat Ana?" tanya Fuad ke Ana, menantunya. Gadis itu dari tadi diam saja. Tidak menyambung pembicaraan. Bahkan lebih banyak menundukkan kepalanya, tidak berani melihat mereka. Lebih hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Ana ..." Farida memanggil.
Ana tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya saat ibu mertuanya memanggil dirinya.
"Oh, Iya, Bu."
"Sayang, sekarang kita sudah satu keluarga. Jangan panggil Ibu lagi. Kamu adalah menantu Mama jadi panggil aja Mama dan Papa. Jadikan kami sebagai orang tuamu. Kamu tidak memiliki orang tua lagi. Jadikan kami sebagai pengganti orang tuamu," kata Farida tersenyum ke Ana.
"Benar, Mbak. Jadikan kami benar-benar keluarga. Tidak usah malu ataupun merasa risih Ketika harus nimbrung, Mbak." Atikah juga menimpali.
"Baik, Bu, Eh, Ma." Ana berkata dengan canggung. Dia juga melirik Wildan yang memasang wajah datar. Lelaki di sampingnya benar-benar mampu berkamuflase di depan kedua orang tua dan terlihat bahagia. Namun, ketika Ana yang meliriknya. Wildan memasang wajah datar saja.
Ana pun tersenyum getir. Semoga saja senyuman yang hadir untuk keluarga suaminya benar-benar tulus. Meskipun dia juga tidak tahu senyuman seperti apa yang bisa diberikannya.
"Pa, saya dan anak masuk kamar dulu ya. Mau istirahat. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi. Kami juga baru pulang dari Hotel." Wildan menyela.
"Oke, kalian istirahat aja dulu. Bener seperti yang dikatakan Wildan. Mungkin lelah. Maaf kalian berduanya udah kami tanya-tanya." Farida menimpali.
"Terus hadiah bulan madunya mau ke mana?" tanya Fuad masih belum puas. Dia ingin sekali memberikan hadiah ke anak dan menantunya jika mereka berdua menjawab hari ini juga Fuad akan memesan tiket.
"Nanti saja kita ceritakan lagi, Pa. Kami masuk kamar dulu ya," sahut Wildan.
"Ya udah. Kalian istirahat saja dulu," sahut Fuad mengalah.
Ana pun mengikuti sang suami masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Di mana sebenarnya ini adalah kamarnya Wildan. Sudah dibersihkan dan dihias menjadi lebih rapi. Kamarnya Wildan sendiri dengan kasur king size yang muat untuk tidur berdua. Namun, sebagaimana diketahui mereka hanya pura-pura menikah. Jadi mungkin salah satu dari mereka tidur di sofa.
Setelah berdua dengan Wildan. Aura lelaki itu kembali seperti biasa, dingin. Ana juga tidak berani untuk berbicara lebih jauh. Wanita itu lebih memilih diam.
Ana beranjak ke balkon yang ada di kamar Wildan. Duduk di balkon terasa menyenangkan. Bisa menghirup udara segar. Tak berselang lama Wildan pun menghampiri Ana yang sedang berdiri di balkon kamarnya.
"Ada yang mau aku bicarakan." Wildan berkata dingin.
"Tentang apa?" tanya Ana gusar.
"Kamu katakan kepada Mama dan Papa kalau kamu tidak menginginkan bulan madu. Kita harus segera pergi ke ibukota dan meninggalkan tempat ini secepatnya."
Ana terdiam ketika Wildan mengatakan itu kepadanya. Kenapa harus dia yang menolak? Kenapa tidak Wildan saja?
"Tapi ..."
Saat Ana ingin mengutarakan pendapatnya. Wildan sudah berlalu darinya. Tapi Ana merasa tidak adil. Kenapa dia yang harus mengatakan. Bukankah pernikahan ini adalah dua insan yang saling sepakat. Ana yang selalu kena getahnya. Tentu dia tidak menginginkan hal itu.
"Kak Wildan, jika kakak tidak menginginkan bulan madu itu. Kakak sendiri yang harus mengatakannya ke Pak Fuad. Tolong jangan bebani aku lagi. Kakak pikir aku menikah ini juga karena keinginanku. Bukankah aku sudah menolak untuk menikah dengan Kakak. Aku sekarang juga sedang melakukan permainan yang kakak inginkan. Berpura-pura untuk bahagia. Padahal aku juga nggak bahagia dengan pernikahan ini!" kata Ana.
Wildan juga harus sadar kalau Ana tak bahagia dengan kepura-puraan. Jangan dia terlalu gede rasa mengira Ana menyukainya. Ana akan jual mahal juga mulai sekarang. Wildan-lah yang memulai.
**