ISTRI RAHASIA CEO 6
**
Ana mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Wildan. Lelaki itu mengatakan kalau mereka harus sama-sama nyaman dengan pernikahan ini. Ana berusaha tenang meskipun hatinya diliputi rasa sakit. Tapi ini adalah pilihannya untuk menikah jadi dia harus menerimanya.
"Kamu tahu kan, Ana, kalau aku sama sekali tidak mencintaimu. Aku tidak akan pernah mencintaimu. Aku menikahimu karena terpaksa. Oleh karena itu kamu harus tahu kalau aku tidak pernah tertarik kepadamu. Aku tidak akan memberikanmu nafkah batin jadi jangan berharap lebih terhadapku."
"Bukankah Kakak sudah mengatakan kepadaku kalau tidak mencintaiku. Kenapa terus diulang-ulang? Aku sudah tahu kalau pernikahan ini pura-pura. Sampai kapan kita seperti ini? Aku juga tidak ingin kita selamanya seperti ini? Bukankah pernikahan pura-pura juga butuh waktu. Sampai kapan?" tanya Ana.
Ana menghela nafas panjang dan dia berusaha se-tenang mungkin menghadapi Wildan. Lelaki itu harus tahu kalau Ana juga tidak menginginkan pernikahan ini. Ana tidak mau Wildan berpikir jika dia sangat menginginkan menikah dengan Wildan karena Ana juga melakukannya dengan terpaksa.
Tidak mencintai dan dicintai itu rasanya sakit. Mungkin seumur hidup juga terlalu lama jadi tidak mungkin mereka seumur hidup dalam kepura-puraan.
"Iya bener yang kamu katakan. Tidak mungkin kita selamanya menikah apalagi pura-pura. Aku akan menyusun poinnya nanti ketika kita sudah berada di ibukota. Kamu tidak perlu takut, tidak ada yang dirugikan diantara kita. Yang paling penting adalah kita tidak perlu mencampuri urusan masing-masing. Urusanlah urusan kita sendiri." Wildan berkata sarkas.
"Baik, aku menunggu," sahut Ana.
"Aku akan menggunakan kamar mandi terlebih dahulu, setelah ini aku akan pergi mencari udara segar di luar. Ketika aku selesai dari kamar mandi. Kamu boleh menggunakan kamar mandi, tidak perlu menunggu ku pulang."
Ana diam ketika Wildan mengatakan itu. Wildan beranjak dari kasur. Sebelum Wildan lebih masuk ke kamar mandi, lelaki itu berhenti sebentar di depan pintu kamar mandi. Dia melirik Ana yang tertunduk, diam mematung.
"Malam ini kamu tidur saja di ranjang. Aku akan tidur di sofa!" katanya dengan suara dingin.
Setelah mengatakan itu suara pintu kamar mandi terdengar dan Wildan sudah berada di dalamnya. Rasa sakit ber-talu di hati Ana tapi dia harus sabar dan tabah menghadapi semua cobaan yang memang harus dihadapinya.
Wildan sudah selesai menggunakan kamar mandi dan dia juga sudah memakai pakaiannya. Wildan sudah rapi, seperti yang dikatakannya. Dia akan pergi keluar. Saat itu Ana sama sekali tidak menggubris. Masih menggunakan pakaian pengantinnya. Ana memasuki kamar mandi seakan-akan tidak peduli pada Wildan.
Benar saja Wildan sudah pergi meninggalkan kamar pengantin mereka. Di dalam kamar mandi, Ana sudah membuka pakaiannya. Dia berendam di air hangat. Saat air itu membasahi tubuhnya, berharap rendaman air bisa menghilangkan rasa sakit di hati walaupun sedikit.
Namun nyatanya bulir bening mengalir lewat netranya. Ana tidak menyangka kalau pernikahan yang diimpikannya jadi seperti ini.
Cukup lama Ana berendam dan sudah terasa nyaman. Ana menggunakan lingerie yang diberikan Atika lalu dia menggunakan pakaian tidurnya. Ana masih menggunakan hijabnya dalam keadaan bertemu Wildan.
Kenapa Ana harus menggunakan lingerie. Dia hanya berusaha untuk menghibur dirinya. Menghibur adik iparnya yang sudah memberikan hadiah kepadanya. Meskipun Wildan tidak akan pernah melihat itu. Sedangkan Ana tetap menggunakan hijabnya karena khawatir Wildan tidak menyukainya ketika dia menggerai rambutnya.
Sebelum menuju kasur. Ana terlebih dahulu melakukan salat isya. Dia salat dengan khusyuk. Setelahnya Ana berdoa agar hatinya jauh lebih tenang menghadapi semua yang sudah digariskan. Tak hanya sampai di situ, Ana membaca Alquran lalu berdzikir berusaha mengusir sepi dalam dirinya.
Usai sholat dan mengaji, Ana merapikan kembali sajadah dan mukena. Wanita itu meletakkannya di dalam lemari. Saat mata tertuju ke kasur yang dipenuhi kelopak bunga.
Meskipun sudah halal sebagai suami istri. Tapi Ana tahu, dia adalah wanita yang tidak dicintai suaminya. Hati Ana semakin tercabik ketika dia berbaring di kasur yang dipenuhi dengan kelopak bunga.
Ana tersenyum kecut saat kelopak bunga mengitari seluruh kasur. Ini adalah malam pengantinnya di mana seharusnya dua insan yang sudah menikah akan menggebu-gebu untuk saling mengagumi satu sama lain.
Dua insan yang sudah menikah seharusnya berkata romantis dan baik-baik kepada pasangannya satu sama lain. Saling berpelukan ketika tidur, saling berkata dengan perkataan manja dan saling melihat satu sama lain dengan tatapan penuh cinta dan gairah. Tapi sama sekali itu tidak dirasakan Ana di malam pengantin. Bahkan suaminya pergi entah ke mana.
Ana menutup matanya berusaha agar dia bisa terlelap. Setetes bulir bening jatuh lewat netranya lagi, membasahi sprei putih. Meskipun sulit tertidur karena banyak pikiran yang melanda dirinya. Ana meminjamkan matanya lagi, berpikir tentang keluarga yang harmonis saat dirinya masih memiliki ayah, ibu yang lengkap. Senyum mengembang lewat bibir Ana. Rasa kantuk mulai terasa dan Ana terlelap begitu saja.
.
.
Sementara Wildan sendiri berusaha menghibur dirinya di klub malam. ternyata klub ada di kota ini tidak buruk juga. Sama seperti ibu kota. Wildan hanya berusaha mengusir rasa kesalnya dengan pernikahan konyol yang terpaksa dijalaninya. Pernikahan yang dia sendiri tidak menginginkannya.
Beberapa kali menghubungi Sherly wanita itu sampai sekarang belum juga mengangkat panggilannya. Apakah sesibuk itu dia di Paris sampai melupakan Wildan? Meskipun berada di keramaian tapi hati Wildan tetap saja tidak tenang. Sudah beberapa jam dia berada di klub tersebut dan waktu semakin beranjak naik. Wildan melirik jam tangannya sudah pukul 02.00 pagi.
Akhirnya Wildan pulang juga ke kamar hotelnya, dia juga merasa lelah akibat berbagai ritual upacara pernikahan yang harus dijalaninya. Begitu sampai di kamar hotel. Wildan melihat Ana sudah tertidur di kasur pengantin mereka. Ana tertidur memakai hijabnya.
Wildan tertawa ringan melihat kelakuan Ana. Seharusnya, tidak perlu berhijab saat tidur. Bukankah mereka sudah suami istri. Apakah wanita yang tidur di kasur itu takut kalau Wildan menyentuhnya? Bukankah Wildan tidak tertarik kepadanya.
Wildan sama sekali tidak peduli pada Ana. Dia beranjak ke sofa. Walaupun dengan rasa tidak nyaman, akhirnya Wildan mengambil selimut dan tidur di atas sofa.
Sebelum tidur, Wildan berusaha berpikir tentang poin-poin pernikahan apa yang harus dituliskannya. Wildan harus menuliskan poin-poin pernikahan agar mereka berdua jelas statusnya. Meskipun menikah mereka tidak menikah secara benar-benar. Sampai kapan mereka menikah itu juga harus jadi pertimbangan, tidak mungkin mereka bercerai begitu cepat. Akibatnya kedua orang tua Wildan akan mempertanyakan.
Sebaik mungkin Wildan harus menyembunyikan pernikahannya ketika dia sudah berada kembali di ibukota. Di sanalah kehidupannya. Wildan berpikir akan menyembunyikan Ana dan tidak boleh diketahui siapapun Kalau Ana adalah istrinya. Secepatnya poin pernikahan akan Wildan berikan, sebagai syaratnya menjalani pernikahan pura-pura ini.
**