Bab 5

1191 Words
ISTRI RAHASIA CEO 5. ** Juru photo menyuruh mereka melakukan beberapa gaya. Sebenarnya Ana merasa risih dengan beberapa gaya yang disuruh juru foto untuk mereka lakukan. Bukan apa-apa, Ana tahu suaminya tidak menginginkan dirinya. Begitu pula dia yang terpaksa menikah. Satu hari ini hanyalah sebuah akting belaka. Tidak ada perasaan bahagia ataupun senang. Beberapa kerabat, saudara, tetangga kanan dan kiri memberikan selamat ke mereka atas pernikahan yang baru saja berlangsung. Wildan tersenyum semringah menghadapi mereka para tamu undangan. Begitu pula dengan Ana, dia ketika mengenal Wildan harus benar-benar pintar berakting seperti suaminya sekarang ini. Ana hanyalah istri di atas kertas bukan istri sebenarnya. Ketika waktu makan siang. Pengantin berada di kamar sejenak. Ana sholat Zuhur terlebih dahulu sedangkan Wildan sibuk dengan gawainya. Setelah sah menjadi suami istri mereka bahkan belum berbicara satu sama lain. Ana selesai sholat dan masih menggunakan kebaya pengantin. Farida, Ibunya Wildan datang membawa makanan untuk mereka berdua. Farida melihat Ana yang baru selesai sholat. Dia merasa bahagia sekali memiliki menantu seperti Ana berharap Ana bisa mengajari Wildan untuk menjadi lelaki yang lebih baik lagi. Wildan tersentak kaget melihat mamanya masuk begitu saja. Dia kembali sibuk dengan gawai. "Wildan. Mama bawa makanan untuk kalian berdua. Kalian harus makan karena acara ini sampai sore masih ada saudara yang datang, kerabat, tetangga kanan, kiri untuk memberikan selamat atas pernikahan kalian. Meskipun ini hanya pernikahan kecil-kecilan tetapi Papa juga mengundang beberapa teman bisnisnya." Wildan melihat mamanya hanya membawakan satu piring serta air mineral saja. Kenapa hanya satu piring? Bukankah mereka berdua? Apakah ada makanan lain yang akan datang lagi? "Lagi pula, nggak usah terlalu mengundang banyak orang juga, Ma. Aku hanya ingin pesta kecil-kecil tapi kalian buatkan juga pesta yang cukup ramai mengundang beberapa tetangga, saudara dan lainnya," sahut Wildan menatap Farida, Mamanya dengan wajah datar. "Ya meskipun kecil-kecilan. Nggak mungkin kan hanya menikah begitu saja. Pernikahan kalian juga harus diketahui oleh banyak orang seperti saudara kita. Ya udah sekarang kalian makan aja dulu. Ana kamu makan aja dulu ya, Nak karena masih banyak tamu yang menunggu kalian untuk memberikan ucapan selamat," kata Farida tersenyum ke Ana. Ana hanya mengangguk. "Ma, Kenapa makanannya cuma satu? Bukankah kami berdua?" tanya Wildan menyela. "Oh, sebaiknya pengantin baru itu makan sepiring berdua supaya kalian menjadi lebih akrab dan hatinya menyatu serta saling menyayangi dan saling mengasihi. Ini juga porsinya banyak kok Mama buat jadi cukup untuk kalian berdua." Saat mengatakan itu Ana hanya meringis mendengar perkataan mertuanya. Ana tahu Wildan tidak nyaman apabila makan berdua bersamanya dalam satu piring. "Oh, ya udah taruh saja, Ma," kata Wildan. Farida tersenyum, kemudian dia meletakkan piring makanan untuk Wildan dan menantunya. Farida pun keluar dari kamar mereka karena sebentar lagi perias pengantin juga akan datang membenarkan make up Ana. Sang pengantin wanita baru selesai salat sehingga make up nya harus ditambah lagi untuk menyambut tamu yang datang memberikan ucapan selamat ke mereka. Setelah kepergian Ibu mertuanya. Ana menatap nanar piring yang ada di nakas serta Wildan yang masih sibuk dengan gawainya. Ana sudah merasa lapar, sebentar lagi juga akan menyambut beberapa tamu yang masih datang silih berganti. "Mohon maaf Kak Wildan. Saya akan ambil lagi piring agar makanannya yang banyak itu di bagi dua," kata Ana membuka suara. Ini ucapan pertama Ana sebagai istri Wildan. Setelah mereka sah menikah, Wildan dan Ana belum sepatah katapun berbicara. "Terserah!" sahut Wildan tanpa melihatnya. Ana mendesah melihat kelakukan Wildan yang tak peduli padanya. Sakit rasanya hati Ana. Tapi, bagaimanapun ini sudah pilihannya. Menikah dengan Wildan adalah pilihan dan keputusannya. Hanya karena amanat orang tuanya serta kesehatan Ayah mertua yang menurun. Ana pun beranjak keluar. Dia berniat mengambil piring dan air mineral di luar. Ana bertemu, Nia kakaknya yang heran melihat Ana. "Duh, pengantin baru jangan sibuk ambil makanan, Ana," kata Nia. "Iya, Mbak. Soalnya sudah lapar, sebentar lagi juga banyak tamu yang mau di sambut," sahut Ana meringis. "Ya udah, biar Mbak ambilkan makanan buat kamu." "Enggak apa, Mbak. Cuma butuh piring saja," kata Ana mengambil sebuah piring. Nia heran tapi, Ana sudah berlalu. Nia teringat saat pengantin baru dulu makan sepiring berdua dengan suaminya. Apa Ana tidak makan bersama suaminya? ** Ana dan Wildan bisa bernafas lega. Setelah pesta pernikahan sederhana itu selesai sore harinya. Para tamu undangan, saudara dan kerabat juga sudah mengunjungi mereka dan mengucapkan selamat. Pesta pernikahan itu hanya digelar sampai sore saja. Sebelum Fuad, Farida dan Atika mengantarkan Ana dan wildan untuk menginap di Hotel. Mereka terlebih dahulu makan malam bersama anak dan menantunya. Wildan menginginkan agar mereka menghabiskan malam pengantin di Hotel saja. Bukan tanpa alasan. Wildan tidak ingin orang tuanya terlalu kepo dengan apa yang akan terjadi. Setelah menikah, Wildan tidak ingin urusannya dengan Ana dicampur lagi oleh orang tuanya. Jadi dia sudah punya privasi. Malam pertama adalah hal privasi yang orang lain tak perlu tahu. Wildan dan Ana juga sepakat pernikahan ini bukan pernikahan sebenarnya. Hanya pernikahan karena desakan orang tua semata. "Sayang, bersikaplah lembut dengan Ana. Sayangi dia dan bahagiakan," kata Mama ke Wildan memberi wejangan. "Baik, Ma," kata Wildan. Ana hanya tertunduk saja mendengarkan percakapan mertuanya. Tak berani menyela. Dia merasa hanya orang asing. Meskipun mertuanya baik. Pernikahan ini tak diinginkan Wildan sama sekali. "Mbak, di pakai hadiah dariku," kata Atika adik iparnya ke Ana. "Baik, terima kasih, Atika," sahut Ana seadanya. "Kalau begitu Papa dan Mama serta Atika pulang dulu. Jadilah suami yang bertanggung jawab, Wildan." Fuad juga memberikan wejangan ke Wildan sebelum dia meninggalkan anak dan menantunya di Hotel yang sudah dipilih Wildan untuk menghabiskan malam pengantin. Wildan tersenyum semringah kepada kedua orang tuanya. Merasa seakan-akan bahagia sekali dengan pernikahan ini agar kedua orang tuanya yakin dan percaya kalau pernikahan mereka baik-baik saja sesuai keinginan kedua orang tuanya. "Baik, Pa." Wildan menyalami tangan kedua orang tuanya dengan takzim begitu pula Ana. Selanjutnya kedua orang tua Wildan beserta Atika sudah meninggalkan Ana dan Wildan di Hotel. Kini, setelah kepergian kedua orang tua serta Atika, adik iparnya. Ana dan Wildan berada berdua di dalam kamar Hotel. Jantung Ana berdegup kencang. Ana tahu pernikahan ini tidak diinginkan Wildan. Malam pertama juga tak akan terjadi. Ini adalah resiko dirinya menikahi lelaki yang tak mencintainya. Menikahinya hanya untuk tuntutan orang tua. Wildan hanya bermain gawai saja. Tak ada hal lain yang di kerjakannya di dalam kamar pengantin yang sudah di hiasi bunga itu. Jika saja Ana dan Wildan saling mencintai, mungkin akan lain keadaannya. "Kak, saya pakai kamar mandi terlebih dahulu ya. Saya mau mandi," kata Ana ke suaminya yang sibuk menatap benda pipih di tangannya. Wildan melihat Ana, wanita yang sudah menjadi istrinya itu masih menggunakan kebaya pengantin. "Tunggu. Duduk dulu!" "Kenapa, Kak?" tanya Ana heran. "Duduk dulu. Kita harus membicarakan poin-poin penting tentang pernikahan rahasia kita agar tidak salah kaprah di kemudian hari. Bagaimanapun pernikahan ini adalah rahasia. Mungkin ketika kita berada di kota ini. Pernikahan ini diketahui oleh banyak orang. Tetapi aku akan membawamu merantau ke ibukota di sana aku bekerja, banyak relasi dan teman-temanku di sana. Mereka sama sekali tidak mengetahui kalau kita menikah. Jadi kita harus membuat poin-poin pernikahan kita agar kita berdua sama-sama nyaman!" Wildan menerangkan ke Ana. Ana gusar. Bagaimanapun hanya Wildan yang nyaman dengan pernikahan ini. Dia sama sekali tidak nyaman menikah secara rahasia. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD