Bab 4

1248 Words
ISTRI RAHASIA CEO 4. ** Akhirnya dengan penuh pertimbangan Ana terpaksa menerima keputusan Wildan untuk menikahinya. Ana melakukan itu juga untuk wasiat dari ayahnya yang sudah tiada. Begitu pula Pak Fuad yang teramat menginginkan Ana menikah dengan Wildan, putranya. Setelah melalui salat istikharah dan berdoa kepada Allah akhirnya Ana menemukan jalan terang dan dia mengambil keputusan untuk menikah dengan Wildan. Ana khawatir dengan kesehatan ayahnya Wildan. Ana berharap keputusannya ini tepat karena di sisi lain dia juga tidak ingin Pak Fuad terbaring lemah terus di rumah sakit akibat kebanyakan pikiran memikirkan anak lelakinya. Hingga acara lamaran digelar, di mana para warga dan saudara jauh juga membantu di kediaman keluarga Ana, termasuk Mbak nya-nya Nia juga pulang saat tahu Ana akan dilamar dan menikah. Keluarga Pak Fuad juga sudah hadir secara lengkap. Putri bungsu Fuad yang kuliah di negeri juga datang. Putrinya bernama Atika menyempatkan diri datang melihat abangnya akan bertunangan. Rasa bahagia dirasakan semua orang ketika Bu Farida Mama dari Wildan menyematkan cincin di jemari manis Ana, tetapi tidak sama sekali yang Ana rasakan. Ana beberapa kali melirik pria bernama Wildan tersebut. Lelaki itu memandangnya dengan raut dingin. Ana hanya bisa menelan ludah beberapa kali karena dia tahu Wildan sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Acara lamaran ini sama sekali tidak berkesan buat Ana maupun Wildan. Semuanya di dasari keterpaksaan. Setelah Acara lamaran selesai. Semua tamu juga sudah pulang termasuk keluarga Wildan. Kini Ana bersama dengan Nia kakak kandungnya. Nia datang dengan suami dan anak lelakinya. Ana duduk di teras sambil melamun. Dia merasa ada sesuatu dengan adiknya yang tidak biasa. Sepertinya Ana tidak senang dengan lamaran yang baru saja dilakukan. Padahal calon suami adiknya sangat tampan. Adiknya pasti memiliki masalah. Kalau tidak, Ana tidak akan mungkin memikirkan sesuatu yang meresahkan dirinya. "Ana, kamu sedang memikirkan apa? Kamu terlihat tidak bahagia. Padahal kamu sebentar aja akan menikah dengan lelaki tampan. Apalagi dari keluarga kaya dan yang Mbak dengar dia juga seorang pengusaha terkenal datang kemari hanya untuk mengunjungi orang tuanya dan kamu akan dibawa ke kota. Ana, Kenapa kamu terlihat nggak bahagia? Apakah ada masalah? Kamu bisa cerita sama mbak masalah kamu. Insya Allah mbak akan memberikan solusi." Ana menatap mbaknya, Nia. Dia tidak mungkin mengatakan kalau Wildan sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini dan Ana terpaksa menikah akibat kesehatan orang tua Wildan yang menurun. Tetapi setelah Ana setuju menikah. Perlahan kesehatan orang tua Wildan membaik. Jadi Ana takut kalau kesehatannya memburuk kembali kalau terjadi penolakan. "Aku tidak apa-apa, Mbak. Namanya juga sebentar lagi akan meninggalkan kota ini. Jadi mungkin ada perasaan sedih." Nia memegang pundak adiknya berusaha untuk menghibur Ana agar tidak bersedih lagi. "Ana. Kamu harus bersyukur karena kamu akan pergi ke kota sementara Mbak dibawa suami Mbak ke pelosok pedesaan. Ya namanya suami kemanapun kita pergi kita harus mengikutinya. Alhamdulillah Mbak juga bahagia walaupun Mbak tidak ke kota tetapi bisa berkumpul dengan suami dan anak-anak justru akan membahagiakan. Nanti kamu juga akan merasakannya. Insya Allah Mbak berdoa semoga pernikahan kamu langgeng dengan Wildan calon suami kamu ini." Ana hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia dengan Nia berpelukan. Ana mencoba untuk tegar, dia tidak tahu permasalahannya. Andai saja Wildan punya rasa sedikit saja kepadanya. Mungkin pernikahan ini akan lain adanya. Tetapi secara terang-terangan Wildan menolaknya bahkan bersikap jujur kepadanya. Ana juga tidak tahu akan seperti apa rumah tangganya. Apakah mungkin rumah tangga yang tidak akan bertahan lama? ** Sementara itu Wildan sedang duduk di balkon kamarnya tiba-tiba seorang gadis mengejutkan dirinya. "Duar ..." "Atika!" kata Wildan. Atika tersenyum melihat Abang yang sedang melamun seperti memikirkan sesuatu yang sangat penting. "Kamu Lagi ngelamunin apa, Mas? Kamu Lagi ngelamunin calon istri ya?" tanya Atika menggoda Wildan. "Eh, enggaklah." Wildan meringis ketika adiknya bertanya masalah itu. Sudah lama Wildan dan Atika tidak bertemu. Maklum saja adiknya kuliah di luar negeri. Atika kuliah di Singapura jadi jarang menghabiskan waktu keluarga dengan Wildan serta Mama dan Papa. Wildan juga tidak bisa jujur sebenarnya yang dipikirkannya adalah Sherly, kekasih modelnya. Entah apa yang dikerjakan Sherly sekarang. Sherly mengatakan dia sedang ke Paris. Ada pemotretan. Bagaimana keadaan dari Sherly? Bagaimana kabarnya di sana? Kenapa tidak menghubungi? Yang dipikiran Wildan cuman Sherly. Tidak ada wanita lain. "Jangan bohong." Atika menimpali. Wildan tertawa ketika adiknya mengatakan itu. Wildan tidak mungkin mengatakan kalau dia hanya berpura-pura untuk menikahi Ana. Ini adalah rahasia dirinya dan Ana. Tidak ada orang lain yang tahu pernikahan mereka yang pura-pura. "Gimana kuliah kamu di Singapura? Kayaknya kamu betah di sana? Kamu di sana jadi makin cantik?" tanya Wildan mengalihkan pembicaraan. "Iya, dong. Calon istri Mas juga cantik. Gak salah Papa milih dia. Aku kaget ketika Mas juga mau menikah pasti Mas menyukainya," kata Atika. Wildan hanya tersenyum saja. Tidak bisa menjawab kalau sebenarnya Ana tidak ada di hatinya. Hanya Sherly tapi kalau keluarganya tahu pasti mereka akan marah besar. "Semoga aja pernikahan ini lancar." "Kenapa kamu nggak mau merayakan pesta secara besar-besaran, Mas? Hanya sederhana saja. Padahal Papa bisa mengadakan pesta besar," kata Atika heran. "Iya, Mas juga ingin sederhana saja sama seperti Ana calon istri. Jadi kami memang tidak ingin yang meriah hanya sederhana yang penting sah saja." Wildan meringis ketika menjawab pertanyaan dari adiknya. Dia tidak mungkin mengadakan pesta besar karena Wildan tidak ingin seluruh dunia tahu Ana adalah istrinya. Jadi syarat agar mereka bisa menikah adalah mengadakan pesta kecil saja asalkan sah. Fuad dan Farida menyetujui. Yang penting pernikahan mereka tercatat di KUA serta mendapat buku pernikahan. . . Hari pernikahan akhirnya di jadwalkan. Wildan mengucapkan ijab kabul. Semua keluarga sudah menunggu di mana Wildan akan menghalalkan Ana sebagai istrinya. Sementara Ana berada di ruangan yang lain menunggu Wildan selesai mengucapkan ijab kabul. Acara sederhana itu dilaksanakan di Rumah orang tua Wildan dan mengundang saudara terdekat saja. Tidak ada pesta besar hanya pesta kecil-kecilan saja. Dengan satu tarikan nafas akhirnya Wildan mengucapkan ijab Kabul para saksi mengatakan sah pernikahan mereka. Wildan dan Ana sudah resmi menjadi suami istri. Bu Farida mengelap butiran bening yang keluar dari netranya. Dia sungguh bahagia akhirnya putranya menjadi seorang suami dan akan bertanggung jawab terhadap Ana sebagai istrinya. Begitu pula Pak Fuad yang benar-benar lega. Akhirnya bisa menikahkan Wildan dengan Ana. Akhirnya janji dengan temannya terpenuhi juga. Setelah sah menjadi suami istri. Ana akhirnya menemui Wildan. Wanita itu menggunakan pakaian bernuansa putih khas seorang pengantin dengan memakai kebaya serta Swarovski di pakaian putihnya menambah kesan glamor dan semakin cantik. Ana di tuntun untuk mendekati Wildan yang sudah sah menjadi suaminya. Saat melihat wanita berhijab dengan kebaya putih yang telah sah menjadi istrinya. Wildan tertegun, ternyata Ana cantik juga. Dia tak sangka Ana bisa secantik ini setelah di make over. Jantung Wildan sedikit berdegup melihat wajah sang istri, walau tak ada senyum sedikitpun di wajahnya. Wildan berusaha mengusir debaran yang datang tiba-tiba. Wildan heran kenapa Ana bisa begitu cantik hari ini. Wildan berusaha tersadar kalau dia sama sekali tidak mencintai Ana, di hatinya hanya ada Sherly. Pernikahan ini terpaksa. Wildan akan menjadikan Ana sebagai istri pajangan saja bukan istri yang sebenarnya. Wildan menyadarkan dirinya kembali. Tak ada rasa untuk wanita yang ada di depannya yang sudah duduk dan bersiap menyalami dirinya. Wildan menatap Ana yang sudah duduk di depannya. Istrinya lebih banyak tertunduk tanpa berani melihatnya. Juru photo menyuruh Ana menyalam tangan Wildan sang suami agar mendapatkan gambar yang baik dan sakral. Ana melihat tangan Wildan sudah ter-ulur untuk dia salam. Ana tahu ini semua terpaksa. Jantungnya berdegup lebih kencang, pasalnya, ini pertama kali dia bersentuhan langsung dengan Wildan yang sah menjadi suaminya. Rasa takut menjalari diri Ana saat hendak menyentuh tangan suaminya sendiri. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD