Bab 3

1084 Words
ISTRI RAHASIA CEO 3. ** Ana tersentak kaget ketika Wildan mengatakan dia setuju untuk menikah. Apa yang terjadi dengan lelaki di depannya? Padahal beberapa hari yang lalu jelas-jelas Wildan menolaknya. "Ana, maafkan atas sikap Wildan ya, Nak. Semoga kamu bisa memahaminya. Insya Allah Bapak sangat tepat sekali memilih Wildan sebagai calon suami kamu dan kamu sebagai istrinya nanti." "Tapi, Pak." Ana tak dapat berkata-kata. Dia juga bingung mau mengatakan apa. Bibirnya terkunci dan dia melirik Wildan yang masih memasang wajah datar. Tiba-tiba Wildan mengatakan ingin menikah. Padahal beberapa hari yang lalu mengatakan hal sebaliknya. "Ana ... kami sudah berjanji dengan ayahmu, Insya Allah janji dengan ayah kamu akan terealisasi karena kami teman dekat. Jadi memang ini keinginan kami untuk menjodohkan kalian. Ibu dan Bapak tahu kalau Ana dan Wildan belum saling mengenal dan belum saling mencintai tetapi cinta itu bisa datang dengan sendirinya kalau saling bersama. Kami mohon, Nak turutilah amanat terakhir ini," kata Fuad menyambung. Berharap Ana mau menikahi Wildan sebab Wildan sudah setuju melalui pertikaian sengit juga. Sementara Farida setuju saja dengan keputusan suaminya ingin menjodohkan Wildan dengan Ana. Lagi pula Wildan bergaul dengan wanita yang tidak jelas. Apalagi kekasihnya model tidak tahu seperti apa hubungan mereka di luar sana. Kedua orang tuanya benar-benar takut terjadi apa-apa dengan Wildan dan jalan satu-satunya adalah memberikan tanggung jawab untuk menikahi Ana yang memang Fuad sendiri sudah berjanji ke teman dekatnya, ayah Ana untuk menikahkan anak mereka bersama. "Pa, sebaiknya Papa istirahat saja dulu. Lagi pula Papa masih sakit. Ma, jaga Papa dan jangan biarkan semua ini menjadi beban pikirannya. Wildan sudah setuju dengan apa yang diinginkan Mama dan Papa. Aku akan menjalankannya. Semoga saja Mama dan Papa memilihkan istri yang tepat untukku dan Wildan yakin itu." Ana lirik Wildan yang tersenyum kecil ke kedua orang tuanya. Baru kali inilah Ana melihat senyuman di wajah Wildan yang ditujukan bukan untuk dirinya. Tetapi entah kenapa Ana tahu kalau Wildan sedang berpura-pura. Dia berpura-pura untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya. Sebenarnya Wildan sangat tidak ingin menikahinya. Wildan merasa Ana dan dirinya tidak satu kasta. Tapi entah apa yang merasuki lelaki tersebut sehingga menyetujui untuk menikah dengannya. "Baik, Nak. Terima kasih karena kamu sudah mengerti," kata Fuad tersenyum ke putranya. Wajahnya terlihat bahagia Walaupun dia sedang sakit. Farida juga melakukan hal yang sama. Ana sendiri ingin mengutarakan pendapatnya tetapi ketika melihat Fuad yang merasa bahagia. Ana tidak tega untuk menolak. Apa yang harus dilakukan Ana? Wanita itu yakin kalau sebenarnya Wildan tidak mau menikah dengannya. "Wildan. Kamu antar Ana pulang ya, Nak," kata Farida. "Oh, gak apa, Bu. Saya pulang naik Bis saja," sahut Ana dengan cepat. "Gak boleh kayak gitu dong, Sayang. Lagi pula kan Wildan calon suami kamu. Nggak masalah kalian saling mengenal tapi harus dengan batasan karena Ibu sangat yakin kamu perempuan yang baik dan bisa menjaga harga diri dan membimbing Wildan juga, Ana," kata Farida dengan lembut ke Ana. Ana hanya meringis dan bingung. Tak bisa menolak. "Iya, Ma. Wildan antar dia dulu ya," kata Wildan. Dengan berat hati akhirnya Ana berpamitan juga dengan Fuad dan Farida. Dia sebenarnya tidak mau pergi dengan Wildan karena Ana tahu apa yang terjadi dengan Wildan hanya sandiwara belaka. Ana mengikuti Wildan berjalan setelah keluar dari ruang perawatan Fuad. Lelaki itu dengan langkah cepat berjalan begitu saja. Entah kenapa Ana merasa malas dan lelah karena dia tahu semua ini hanya sandiwara. "Kak Wildan. Saya akan pulang sendiri." Ana mengutarakan maksudnya. Dia berjalan juga secepat mungkin agar tidak ketinggalan Wildan dan mengatakan tidak ingin diantar pulang oleh lelaki tersebut. "Kamu pikir aku mau mengantarmu pulang. Aku juga sebenarnya nggak mau. Tapi ada hal yang harus kita bicarakan." Ana menghela nafas panjang. Dia tahu hal yang dibicarakan adalah mengenai masalah pernikahan yang pura-pura itu. Wildan hanya pura-pura ingin menikahinya, sebenarnya tidak ada niat sama sekali. "Baik, saya juga ada hal penting yang ingin di bicarakan dengan Kak Wildan." Akhirnya sebelum Ana pulang. Mereka singgah terlebih dahulu di sebuah Kafe. Di sana mereka akan berbicara satu sama lain. Di Kafe ini tidak terlalu ramai jadi suasana cukup nyaman dan kondusif untuk berbicara. Sementara Ana merasa tidak bisa memesan apa-apa di Kafe ini. Mungkin harganya juga mahal. Lagi pula, Kenapa Wildan harus mengajaknya ke tempat yang mahal seperti ini? Wildan memanggil pelayan. Dia memesan cappucino ke pelayan tersebut. Pelayan mencatat pesanannya. "Kamu pesan apa?" tanya Wildan. "Aku tidak ingin memesan apa-apa. Aku hanya ingin berbicara saja dengan Kak Wildan." "Oh, baik," kata Wildan. Tak ada niat menawarkan Ana. Kemudian pelayan tersebut pergi karena Ana tidak ingin memesan minuman. "Kak, Kenapa kita harus berbicara di tempat ini? Bukankah bisa berbicara di tempat biasa saja." Ana membuka suara. "Kenapa? Kamu nggak mampu bayar? Lagi pula aku juga harus mencari tempat yang nyaman untuk kita berbicara karena ini masalah yang penting!" ucap Wildan. Ana terdiam mendengarnya. Ucapan lelaki itu sungguh menohok untuknya. "Baik, sekarang apa yang ingin anda bicarakan, Kak. Saya sudah menolak permintaan Pak Fuad dan Ibu Farida agar kita tidak menikah semuanya juga sudah selesai. Kenapa Anda tiba-tiba mengatakan ingin menikah? Sebenarnya apa yang anda inginkan?" "Ya aku meng-apresiasi sikapmu yang menolak. Tetapi tiba-tiba kesehatan Papa menurun. Dia sangat mengharapkan pernikahan ini. Kamu tahu dia punya riwayat jantung ketika kamu menolak pernikahannya. Papa tiba-tiba jatuh sakit dan drop. Aku nggak bisa berbuat apa-apa terpaksa menerima pernikahan ini." Ana terdiam sebentar ketika Wildan mengatakan itu. Ada rasa sakit di palung hati yang paling terdalam. Bagaimana jika dia menolak. Apakah Ana mampu dengan kesehatan Pak Fuad yang sakit parah. "Kak, tapi pernikahan bukan permainan. Saya tidak bisa menikah kalau kakak juga terpaksa." "Kamu tahu. Pernikahan ini adalah amanat kedua orang tua kita. Bukan cuma keinginan dari Papaku saja. Jadi papamu juga menginginkan pernikahan ini. Menikahlah denganku. Kita berdua tidak akan ada yang dirugikan kalau kita sama-sama menepati kesepakatan pernikahan. Kita buat perjanjian yang tidak merugikan sama sekali. Aku jamin kita bisa keluar dari masalah ini." Ana terdiam Wildan mengatakan itu kepadanya. Ana sama sekali tidak ingin mempermainkan pernikahan. Tapi Pak Fuad kondisi kesehatannya juga tidak memungkinkan. Andai saja Wildan mengatakan ingin menikah dengannya secara serius bukan pura-pura. Sungguh hati Ana tak akan sesakit ini. "Aku sama sekali tidak mencintaimu dan tak akan pernah mencintaimu. Kamu jangan takut. Kita berdua tak ada yang di rugikan. Papaku terlampau sayang kepadamu karena kamu anak yatim piatu. Terimalah juga orang tuaku yang mencintaimu. Jika kita menikah maka kita tak perlu mencampuri urusan masing-masing." Ana menatap Wildan sebentar. Dia berada di persimpangan. Menolak bingung menerima pun dia terpaksa. Sakit juga ketika Wildan dengan tegas mengatakan tak akan pernah mencintainya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD