Kekesalan Alvin

1085 Words
“Sial! Kenapa gatal sekali dia, padahal sedang hamil juga? Kenapa dia bisa begitu luwesnya tertawa pada manajer Farrel. Sial! Dasar, wanita sialan!” Alvin terus mengumpati Elena di dalam ruangannya karena kesal melihat Elena melangkah dengan Farrel ke rooftop siang itu. “Mereka pasti mau mesra-mesraan di rooftop setelah makan siang di kantin,” omel Alvin geram. Soalnya di rooftop ada spot khusus untuk para karyawan pacaran dan bebas untuk melakukan skinship ringan karena jarang ada yang ke sana kecuali oknum-oknum yang ingin pacaran dan mereka juga kompak tidak akan saling mengganggu aktivitas masing-masing. Ia juga tak mengerti kenapa ia sangat marah pada Elena saat ini. Bukannya ia sendiri yang meminta Elena menjauh darinya? Bukannya dia sendiri yang benci dengan Elena dan tak mau lagi terlibat dengannya? Tapi, kenapa ia kesal setengah mati melihat tawa lepas Elena dan Farrel tadi. ‘Ini pasti karena aku kangen pada Luna saja. Aku akan suruh dia ke sini saja tiap hari biar aku ga mikir macam-macam sama wanita sialan itu,’ tekad Alvin dalam hati. Alvin meraih ponselnya lalu menghubungi Luna kekasih yang ia cintai. [Honey, kamu besok sibuk nggak?] [Aku sibuk kalo siang, Vin. Kalo pagi aku bebas mau ke mana juga] [Good! Kamu ke kantor aja tiap hari, ya! Aku bakal kasih kamu hadiah setiap kamu datang ke kantor] [Tumben, kamu izinin aku ke kantor setiap hari, Vin. Kamu ga keganggu sama kehadiran aku?] [Kan, cuma di pagi hingga makan siang, Honey? Aku bakalan pindahin jadwal meeting aku siang hari demi kamu. Aku kangen, tahu nggak?] [Aku juga kangen sama kamu. Apalagi saat kamu sibuk. Aku susah bener hubungin kamu, Vin] [Kali ini nggak lagi, Honey. Kita akan ketemu setiap hari di sini] [Oke, aku ga sabar menunggu besok, Vin] [Aku juga. See you tomorrow, Honey] [Bye, Vin] Alvin tersenyum lebar seusai menghubungi kekasihnya tadi. Ternyata benar. Rasa kesal tadi berganti rasa rindu pada sang kekasih. Rupanya ia hanya terlalu rindu pada kekasihnya hingga iri melihat Elena dan Farrel tadi. “Lihat saja, besok aku akan jauh lebih mesra daripada kalian!” gumam Alvin penuh tekad. Alvin berencana akan melakukan hot skinship di ruangannya ini dan sungguh berharap Elena melihatnya agar ia tahu di mana posisinya. Hari kedua menjadi suami istri saja sudah sangat menyiksa Alvin. Ia ingin segera lepas dari Elena. Ia sungguh berharap waktu 3 bulan cepat berlalu sehingga dirinya akan terbebas dan bisa tenang menjalani hubungan dengan Luna. *** “El, mau pulang sekarang, ya! Naik apa?” tanya Farrel saat melihat Elena sendirian di depan gedung perusahaan. Sepertinya Elena ingin pulang naik taksi. Farrel akhirnya berinisiatif ingin mengantar Elena pulang. “Aku mau cari taksi, Rel. Biasanya aku pulang bareng Nora, tapi kata Nora dia bakalan sibuk seminggu ini karena banyak tugas dari kamu.” “Iya, El. Tugasnya menumpuk minggu ini. Aku udah suruh Nora pulang tadi, biar kerjaannya disambung besok lagi atau sebagian dibawa ke rumah. Namun, dia ngotot pengen lembur. Katanya kalo di rumah dia malah ga konsen dan bawaannya mau scrolling sosmed aja,” timpal Farrel tertawa geli. Elena ikut tersenyum. “Emang gitu dia, Rel. Di rumah dia pengen nyantai katanya. Dia paling ga mau bawa kerjaan ke rumah. Rumah tempat istirahat bukan buat kerja, gitu katanya, Rel,” sambung Elena lagi. “Aku paling suka sama karyawan modelan Nora, El. Dia apa adanya, agak sedikit ceplas-ceplos, tapi urusan kerja dia the best banget. Gila! Aku aja kalah sama dia. Dia kalo ga kelar ga tenang, El,” puji Farrel kagum. “Iya, Rel. Aku aja bangga punya sahabat macam dia.” Farrel tersenyum menatap wajah cantik Elena. Ia sangat menyukai wanita ini sejak awal mereka berjumpa. Elena adalah sosok yang cerdas dan ramah. Farrel ingin membina hubungan yang serius dengan Elena dan ia akan wujudkan itu dengan mendekati Elena pelan-pelan, membuatnya akrab dan nyaman dengannya terlebih dahulu baru nanti ia akan menyatakan perasaannya. Kebetulan seminggu ini Nora yang biasa mengantar Elena pulang akan lembur selama sepekan. Ia akan ambil peluang untuk mendekati dan mengantar jemput wanita incarannya ini hingga Elena terbiasa dengan kehadirannya nanti. “Daripada naik taksi, mending kamu pulang bareng aku, El. Ngeri naik taksi malam-malam begini,” ajak Farrel tanpa banyak kata lagi langsung memegang kedua bahu Elena, memaksanya masuk ke dalam mobil, tak lupa memasangkan seat beltnya. “Aku bisa naik taksi, Rel,” tolak Elena tak enak hati. “Ga usah ga enakan sama aku, El. Pokoknya selama Nora berhalangan, aku yang akan antar jemput kamu,” tegas Farrel lembut, tapi sedikit memaksa. Elena tersenyum, sedikit tersipu. “Ya, udah kalo kamu maksa, Rel. Aku suka aja kalo ada yang nganter kayak gini. Aku jadi hemat ongkos, kan?” seru Elena sambil tertawa renyah. Farrel terpana melihat tawa renyah Elena saat ini. Cantik sekali wanita ini! Keinginan di hatinya semakin bertambah kuat untuk memiliki Elena kala melihat tawa riang Elena begini. Ia akan lakukan apa saja agar terus melihat wajah penuh senyuman ini ke depannya nanti. Farrel tersadar dari lamunannya dan menyudahinya dengan menutup pintu mobil lalu ia bergegas masuk ke mobilnya, menyalakan mesin kemudian mulai mengemudi dengan tenang sambil mengobrol santai, sesekali bercanda dengan wanita yang mulai mengisi hari-harinya dengan keceriaan. “Berengsek! Beraninya dia memanasiku dengan bermesraan di ruangan terbuka seperti ini! Sialan! Awas saja, besok akan aku omeli dia!” geram Alvin kesal. Sejak tadi ia menatap interaksi antara Farrel dan Elena yang membuatnya naik darah. Sambil mengomel kesal ia masuk ke dalam mobilnya dan tanpa banyak kata dan juga tanpa ia niatkan, ia malah melakukan hal gila yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dibalik rasa geramnya, ia malah nekat mengikuti mobil Farrel saat ini. Alvin tak mampu lagi mencegah dirinya sendiri saat ini. Otaknya melarangnya, tapi anggota tubuhnya malah melakukan hal sebaliknya. Belum pernah ia melakukan hal impulsif seperti ini sebelumnya. Dan hal gila yang ia lakukan ini, semuanya gara-gara Elena. “Lihat! Senang sekali mereka bercanda sambil menyetir begitu,” omel Alvin kesal saat mengintip dari jauh, gesture Farrel dan Elena di dalam mobil yang ia buntuti. Hatinya meradang. Elena selalu tegas dan ketus pada dirinya semenjak hamil. Kenapa pada Farrel ia bisa tertawa selebar itu? Dan hati Farrel semakin kesal saat melihat Farrel dan Elena berpamitan. Farrel membuka pintu mobil untuk Elena sesampainya dia di kontrakan Elena. Dan yang membuat ia tambah kesal adalah sikap Farrel pada Elena. Bisa-bisanya ia membukakan seat belt Elena dan memegang tangannya untuk membantunya keluar dari mobil ala-ala putri Inggris begitu. “Berengsek! Sok romantis banget dia! Awas, ya! Besok aku bakal lebih romantis dibanding kamu, Elena sialan!” Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD