Menjadi Suami Istri

1192 Words
“Selamat Pak Alvin dan Bu Elena, kalian sudah sah sebagai suami istri di mata hukum dan negara,” kata petugas catatan sipil siang itu. “Terima kasih, Pak,” ucap Alvin ramah. Alvin kemudian mengajak Elena, Dean, dan Nora segera meninggalkan kantor catatan sipil menuju parkiran. Sesampainya di mobil, Alvin kembali menegaskan semua syarat yang harus mereka jalani selama pernikahan berlangsung. “Ingat, kita bukan suami istri sungguhan! Kamu jangan bersikap seolah istri sungguhan. Hingga kontrakmu habis, kita tetap jalankan peran kita sebagai atasan dan bawahan di kantor. Aku punya kekasih yang sering datang ke kantor, kamu tahu itu, kan? Jangan mengganggu hubunganku dengan membocorkan rahasia ini, ngerti!” tegas Alvin kejam. Elena lagi-lagi menahan sakit di hatinya. Memangnya ia wanita haus kasih sayang, apa? Dia juga punya harga diri. Dia juga tak sudi mengumumkan pernikahan tak normalnya ini pada siapa pun di kantor. “Kalau itu tenang saja, Pak Alvin! Saya tidak akan mengusik anda. Bila perlu, Bapak jangan terlibat langsung dengan saya. Dalam 3 bulan ini, kita urus saja hidup kita masing-masing. Saya hanya akan menyelesaikan kontrak saya saja 3 bulan lagi dan setelahnya saya akan menghilang dari hidup bapak.” Elena menoleh pada sahabatnya lalu mengajaknya turun dari mobil Alvin sekarang juga. “Ra, temenin gue beli sesuatu dulu, yuk! Kita ga perlu pulang ke kantor lagi karena kerjaan kita juga udah beres,” pinta Elena cepat. Elena lalu menarik tangan Nora turun dari mobil Alvin lalu ia pamit pada Dean dan Alvin. “Kami turun di sini saja, Pak Alvin! Selamat jalan dan terima kasih untuk hari ini,” ucap Elena masih berusaha bersikap sopan meski menahan sakit di hatinya. Dirinya sungguh dianggap sampah saat ini. Dirinya benar-benar merasa terhina dan tak sanggup melihat wajah laki-laki kejam ini lebih lama lagi. Alvin bahkan tidak tersenyum apalagi menjawab ucapan Elena sama sekali. Ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan Elena dan Nora di parkiran kantor catatan sipil. “Sabar, El! Lo pasti kuat, kok!” hibur Nora langsung memeluk sahabatnya yang mulai terisak. Nora mengajak Elena duduk di sebuah kursi yang tersedia di sekitar parkiran lalu memeluknya erat, menepuk pundaknya dan membiarkan sahabatnya menangis hingga batinnya lega. “Menangislah puas-puas hari ini, El! Besok dan seterusnya, jangan lagi ada air mata! Lo pasti kuat menghadapi semua ini. Buktikan pada Alvin berengsek itu kalau lo mampu berdiri tanpa kehadirannya! Kalau bukan karena butuh status papa buat anak lo, rasanya gue ga rela lo nikah dengan laki-laki songong macam dia, El,” geram Nora emosi. Elena masih terisak di pelukan Nora saat ini. Harga dirinya hancur. Memang dirinya dinikahi oleh Alvin, tapi hinaan dan kata-kata kejam Alvin tadi, menegaskan di mana posisinya saat ini. Muluk-muluk rasanya ingin mendapatkan kasih sayang seorang papa bagi anaknya ini. Karena Alvin tidak ingin tahu-menahu soal anak ini. Alvin hanya kasihan dan ingin memberi status serta materi saja pada anaknya dan hanya inilah yang patut disyukuri saat ini. Sudah bisa dibayangkan betapa beratnya hidup yang akan ia jalani sebagai single parent ke depannya nanti. Namun, ia harus kuat dan tegar demi anaknya. “Makasih, Ra. Gue udah ga apa-apa sekarang. Gue akan terima takdir gue dan akan semangat jalani hidup gue demi anak ini. Akan gue didik dia menjadi anak yang baik. Akan gue pastiin semua kebutuhannya terpenuhi.” “Bagus, El. Buktikan pada si berengsek itu kalo lo ga butuh dia! Anak lo juga ga butuh papa songong macam dia.” “Iya, Ra. Gue juga bakal tolak uang dari dia buat anak gue. Gue ga mau anak gue makan sepeser pun uang dari papanya yang jahat. Gue ga sudi membesarkan anak ini dengan hasil keringat papanya yang kejam dan kasar.” “Tapi, biaya hidup anak itu besar, El,” ujar Nora mencemaskan keuangan sahabatnya. “Mama gue punya perusahaan kecil, Ra. Tiga bulan lagi gue yang ambil alih perusahaan kecil-kecilan milik mama gue. Dari sana gue bisa hidupin anak ini.” “Kalo gini gue tenang, El. Artinya hidup lo dan anak lo bakal terjamin tanpa bantuan Alvin sialan itu,” sahut Nora lega. “Iya, Ra. Gue yakin gue bisa sekolahin anak gue dan hidup layak tanpa bantuan dia.” *** “Ra, makan siang, yuk!” Elena dengan riang melangkah ke ruangan Nora, berniat mengajaknya makan siang bersama. “Lo makan siang duluan aja, ya! Kerjaan gue masih numpuk, nih!” sahut Nora, masih mengerjakan dokumen yang menumpuk di atas meja. “Lo butuh bantuan, Ra?” kata Elena menawarkan bantuan. “Nggak usah, El. Lo makan aja. Kasian ponakan gue kalo lo laper,” tolak Nora tak ingin membuat sahabatnya kelaparan. “Makan siang bareng aku aja, El,” sapa Manajer Farrel semringah. “Eh, Pak Farrel! Selamat siang, Pak,” ujar Elena balas menyapa Farrel. Farrel tersenyum lalu mendekati Elena dengan semangat. “Ga usah panggil Bapak kalo kita cuman berdua, El. Kan, udah sering aku bilang selama ini?” ucap Farrel santai. “Tapi ada Nora di sini, Pak. Bukan hanya kita berdua saja,” jelas Elena sambil menunjuk Nora yang masih sibuk dengan dokumennya. “Nora, kan, sahabat kamu? Dari awal aku udah ngomong santai mulu sama kamu, kamunya formal terus sama aku, El,” omel Farrel sewot. Elena tersenyum menahan geli melihat kesewotan Farrel. “Ah, baiklah, Rel,” ucap Elena geli. Farrel tertawa lebar. “Nah, gitu, dong!” seru Farrel senang. Farrel lalu pamit sebentar pada asistennya yaitu Nora untuk pergi makan siang bersama Elena. “Ra, aku tinggal makan siang dulu, ya! Kamu mau makan apa, biar aku bawain ke sini nanti?” tawar Farrel ramah. “Makasih, Pak. Beliin roti aja yang banyak plus kopi, ya, Pak! Soalnya ga sempat kalo mau makan berat, kerjaan dari Bapak kayak gunung gini,” ceplos Nora sambil menunjuk tumpukan dokumen di atas mejanya. Farrel tergelak mendengar celotehan asistennya. “Sorry, Ra! Mau bagaimana lagi? Lagi banyak proyek soalnya. Oke, aku tinggal dulu bentar, ya!” kata Farrel undur diri lalu ia menoleh pada Elena, bergegas mengajaknya makan siang bersama. “Yuk, kita ke kantin El!” “Ga ke restoran, Rel?” tanya Elena heran. Karena biasanya Farrel selalu makan di restoran bersama Nora. “Nggak sempat, El. Tuh, tugas Nora kayak gunung gitu! Aku harus bantuin setelah makan siang,” jelas Farrel menerangkan. “Kamu baik banget, Rel. Jarang-jarang ada atasan yang mau bicara santai sama bawahannya dan perhatian kayak kamu. Serius!” puji Elena takjub. “Karena aku pernah di posisi bawah, El. Dan ga enak rasanya kalo ditekan oleh atasan. Makanya aku ingin akrab dengan bawahanku. Ada saatnya harus tegas dengan bawahan, jika dia tidak sopan. Selagi dia sopan dan hormat pada kita, ngapain juga harus bersikap formal terus-terusan, ya, nggak?” ucap Farrel sambil tersenyum manis pada Elena. Elena tergelak renyah menatap wajah tampan atasan sahabatnya ini. “Iya, juga, sih? Capek kalo jaim mulu,” sambung Elena sambil tertawa renyah bersama Farrel menuju kantin siang hari itu. Sementara itu di ujung ruangan, Alvin mengeram kesal melihat Farrel tertawa lepas dengan Elena menuju ke dalam lift. Ia menatap punggung Elena bersama Farrel yang terus menjauh sambil mengumpat kesal. “Dasar wanita gatal! Bisa-bisanya jalan dengan laki-laki dalam keadaan hamil begitu. Berengsek!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD