Saya Setuju Menikah dengan Bapak

1067 Words
“Lo kenapa ngamuk-ngamuk gini, Vin?" tanya Dean heran. Dean melangkah masuk ke ruangan Alvin setelah ia menyelesaikan santap siangnya dan terheran-heran melihat sahabatnya menghamburkan dokumen dan kertas di atas mejanya. "Wanita sialan itu ga mau gue nikahin, Dean," jelas Alvin masih emosi saat mengingat pembicaraannya dengan Elena barusan. "Kenapa dia sampai ga mau? Lo kasar sama dia, ya?" tuduh Dean tepat sasaran. "Ga mungkin juga gue manis sama dia, kan? Gue kesal sama sikap keras hatinya, Dean," terang Alvin geram. Dean mencibir mengejek Alvin. "Kayak lo ga keras aja, Vin,” sindir Dean telak. "Gue lagi ga mau bercanda, Dean," omel Alvin geram. "Terus mau lo apa? Dia ga mau nikah sama lo, ya, udah? Malah bagus, asal dia ga nyebar gosip aja nanti," terang Dean santai. "Dia ga bilang soal itu. Tapi yang gue tahu dia wanita gila, tahu nggak?" desis Alvin kesal. "Kok, lo bilang gitu?" tanya Dean bingung. "Dia mau cari papa sewaan untuk anaknya dan akan menikah serta menyematkan nama belakang papa sewaan itu ke anaknya. Gila, kan? Dan dia minta gue untuk abaikan dia selama tiga bulan hingga kontraknya habis," desis Sean geram. "Jadi masalahnya di mana? Malah bagus dia ga nuntut elo, Vin. Biarin aja dia nikah sama orang lain! Kan, lo juga ga cinta sama dia dan udah punya Luna?" ucap Dean santai sekalian menguji Alvin. Ia ingin menguji sampai tahap apa Alvin menginginkan anaknya. "Sialan, Lo! Anak gue mau diakuin orang lain, tahu nggak? Dan gue ga rela nama belakang anak gue diganti nama laki-laki bayaran,” semprot Alvin garang. “Mau lo apa sekarang? Lo mau nikah beneran sama Elena dan merawat anak lo sama-sama, gitu?” Dean masih bingung dengan sikap Alvin. Apa dia sudah mulai mencintai Elena? Dari kekesalannya saat menceritakan soal Elena yang akan menikah dengan laki-laki lain, tampaknya Alvin memang mulai ada rasa pada Elena. Karena itulah Dean curiga dan ingin menguji sahabatnya ini. “Gila! Siapa yang mau nikah beneran sama Elena? Najis, tahu nggak? Gue cinta sama Luna dan satu-satunya yang ingin gue jadiin istri, hanya Luna dan itu pun ga sekarang,” cetus Alvin garang. “Trus mau lo apa? Yang jelas kalo ngomong, biar gue bantuinnya enak.” “Gue mau nikah di atas kertas selama 3 bulan lalu bercerai dan anak gue sah statusnya sehingga Elena ga bisa nyelipin nama laki-laki lain di belakang namanya. Dan gue mau nikah hari ini juga.” *** “Kenapa Bos panggil elo, El?” tanya Nora sesampainya Elena di ruangan Nora kembali. Elena menghela nafas lelah, menghembuskannya beberapa kali baru menjelaskan apa yang disampaikan Alvin barusan. “Dia mau nikahin gue,” sahut Elena sebal. “Hah! Serius? Kenapa dia berubah pikiran?” tanya Nora tak percaya. “Kesambet kali, Ra. Udah gue tolak juga, kok! Dia labil. Gue ga mau anak gue tahu kalo papanya kasar, labil, plin-plan dan jahat. Gue tetap mau nyariin papa sewaan yang lembut dan gue akan mencarinya mulai hari ini.” “Gila lo, El! Gue emang eneg sama Bos kita, tapi kalo soal identitas anak lo, gue lebih suka dia tetap dapat identitas asli papanya, El. Kenapa lo ga terima aja tadi? Kan, di atas kertas doang, El?” omel Nora tak habis pikir. “Habisnya dia kasar, Ra. Bilang mau nikahin gue, tapi nadanya menghina gue banget. Gue kesel sama dia, sekalian aja gue tolak,” jelas Elena kesal. “Lo harus pikirin anak lo juga, El. Dia butuh indentitas asli. Setelah cerai dari dia, mau lo bawa kabur ke mana juga gue setuju. Gue juga ga suka ponakan gue jadi ikutan kasar dan sombong kayak papanya. Mana perut lo bakal tambah besar. Belum tentu lo dapet papa sewaan dalam waktu dekat. Menurut gue terima aja, El,” bujuk Nora. Elena berpikir sejenak, mencerna ucapan sahabatnya. Semua yang dikatakan Nora memang benar. Masalahnya dia sudah menolak Alvin tadi. Untuk meminta lagi dari Alvin, Elena tak sudi. Sudah bisa dipastikan Alvin akan habis-habisan mengejek dan menghina dirinya nanti. Lamunan Elena tiba-tiba buyar saat suara lantang seorang laki-laki berteriak di belakangnya. Ia refleks menoleh dan melihat Alvin dan Dean sudah berada di dalam ruangan yang sama dengannya sedang melangkah ke arahnya. “Sekretaris Elena, kita harus bicara,” ujar Alvin lantang. “Apa lagi yang harus kita bicarakan, Pak? Bukannya tadi sudah jelas semua?” jawab Elena menahan dirinya untuk tidak mengemis agar dinikahi oleh laki-laki kasar di depannya ini. Nora mendekati Elena, mencubit pinggangnya pelan, memberi kode pada sahabatnya tersebut agar tidak keras kepala dan mau membicarakannya baik-baik dengan Alvin. “Sekretaris Elena, kami datang ke sini untuk mengajak anda pergi ke kantor catatan sipil sekarang juga untuk mengurus pernikahan anda dan Pak Alvin,” kata Dean menjelaskan. “Kenapa? Kenapa Pak Alvin berubah pikiran?” desis Elena tajam. “Karena ia sekarang baru yakin bahwa anak yang ada dalam kandungan anda adalah anaknya. Apalagi anda siap untuk melakukan tes DNA, kan? Meski anda sudah menikah dengan Pak Alvin nanti, anda tetap tak keberatan kalo tetap dites, kan, Sekretaris Elena?” “Tentu saja saya tidak keberatan karena satu-satunya laki-laki yang menyentuh saya hanyalah Pak Alvin. Saya tidak takut membuka fakta, Pak Dean,” ucap Elena tegas. “Karena itulah anda jangan mempersulit diri lagi. Kehamilan anda akan segera diketahui orang banyak. Dengan menikahi Pak Alvin, setidaknya setelah anda berhenti dari perusahaan ini, anda bisa menunjukkan surat cerai anda pada orang disekitar anda yang sekiranya akan menghina anda, Sekretaris Elena,” ujar Dean menegaskan. Elena menatap Alvin dan Dean bergantian dan akhirnya dengan berat hati menyetujui untuk menikah dengan Alvin di kantor catatan sipil saat ini juga. “Baiklah, demi anak ini, saya mau menikah dengan Pak Alvin, tapi dengan satu syarat yaitu anak ini tetap akan tinggal dengan saya,” ucap Elena tegas. “Aku juga ga mau repot ngurusin anak, Sekretaris Elena. Aku punya kekasih yang akan aku nikahi. Jadi, kamu tenang aja! Hak asuh aku serahkan sama kamu sepenuhnya. Aku akan beri tunjangan anak saja sampai ia menyelesaikan pendidikannya nanti. Dan setelah menikah nanti, kita tetap jalani hidup masing-masing dan menyimpan rahasia ini. Aku tak mau ada gosip di perusahaanku tentang kita,” kata Alvin sadis. Elena menelan bulat-bulat rasa sakit di hatinya. Kalau bukan karena anaknya yang membutuhkan status, rasanya ia tak sudi menikah dengan laki-laki kejam bermulut jahat seperti Alvin. Elena menghela nafas berat lalu buka suara. “Baiklah. Mari kita berangkat sekarang! Saya setuju menikah dengan Bapak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD