Aku Setuju Menikah dengan Kamu

1081 Words
“Sial! Gara-gara Elena dan omongan Dean, aku jadi ga nyenyak tidur semalaman,” omel Alvin sesampainya ia di perusahaannya siang itu. Ia kepikiran soal anak yang dikandung Elena hingga kesiangan berangkat kerja hari ini. Awalnya ia sedikit meragukan Elena. Namun setelah mendapat pencerahan dari sahabatnya kemarin, ia jadi benar-benar yakin bahwa anak yang dikandung Elena benar-benar anaknya. Elena yang ia kenal selama tiga bulan ini, bukanlah pribadi yang genit. Dia profesional dan sangat berdedikasi pada perusahaan. Ini juga menjadi salah satu alasan dirinya meyakini bahwa anak itu adalah anaknya selain penegasan Elena soal tes DNA kemarin. “Kenapa malam itu aku harus mabuk bareng dia, sih? Kenapa semuanya jadi berantakan begini?” keluh Alvin sambil terus melangkah menuju ke ruangannya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia tak sengaja mendengar suara Elena dan Nora sedang bicara di ruangannya. Alvin jadi ppenasara. Ia lalu melangkah mendekati ruangan Nora dan menguping pembicaraan kedua bawahannya tersebut dengan seksama. Beberapa menit kemudian, Alvin meradang saat mendengar ide Elena untuk mencari papa sewaan untuk anaknya. Ia tak habis pikir dengan pemikiran Elena. Kenapa ia sampai kepikiran ingin menyewa seorang laki-laki untuk menikahinya? Dan herannya lagi, kenapa ia kesal dan marah akan hal itu? “Elena sialan! Tak akan aku biarkan anakku menyandang nama laki-laki lain di belakangnya selain namaku. Awas kamu, ya!” desis Alvin emosi sambil melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Nora siang itu. *** “Apa lagi yang mau anda bicarakan pada saya, Pak Alvin?” Elena menatap tajam atasannya ini dan meminta alasan, kenapa ia dipanggil ke ruangannya seperti sekarang ini? “Kamu pikir aku sudi bicara sama kamu? Kalau bukan karena kamu hamil, aku malas bahas apa pun sama kamu, tahu kamu?” desis Alvin emosi. Sejak ia mendengar soal papa sewaan tadi, sejak itu pula hati Alvin masih bergemuruh menahan marah. Ia juga tak mengerti, tapi dirinya benar-benar kesal pada Elena saat ini. “Baiklah, kalau tak ada yang ingin bapak sampaikan lagi, saya permisi. Selamat siang, Pak Alvin,” pamit Elena bersiap melangkah keluar dari ruangan Alvin. "Berhenti di sana! Selangkah lagi kamu melangkah, maka aku berubah pikiran untuk tidak menikahi kamu," ancam Alvin lantang. Elena berbalik badan lalu mencibir pada Alvin. Ia tak habis pikir dengan sikap plin-plan atasan sekaligus papa kandung dari anak yang ia sedang kandung ini. “Saya tidak berminat lagi menikah dengan anda, Pak,” jawab Elena santai. Alvin membelalak tajam mendengar perkataan Elena barusan. "Apa kamu bilang? Kurang ajar!" maki Alvin emosi. "Bapak yang kurang ajar, bukan saya. Kemarin saya sudah meminta Bapak menikahi saya di atas kertas, tapi bapak menolak mentah-mentah, bahkan mengatakan saya adalah w************n yang suka menjajakan tubuh saya. Untuk apa saya menikah sama Bapak kalau Bapak saja menyangsikan saya?” geram Elena kesal. "Berani kamu, ya! Kamu benar-benar ingin cari mati berurusan denganku, Sekretaris Elena." "Saya berani karena saya tidak merasa bersalah apa pun sama Bapak. Saya berubah pikiran, Pak. Saya jadi tak rela anak saya mendapat seorang Papa yang kasar macam Bapak." Elena menatap tajam pada Alvin, menegaskan padanya bahwa dirinya tak sudi lagi menikah dengannya. "Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Kamu sedang hamil dan tak punya banyak pilihan, kalo kamu belum sadar! Kehamilan kamu tak lama lagi akan segera diketahui orang. Apa kamu mau dicap hamil di luar nikah? Apa kamu sudah sanggup menanggung malu, Sekretaris Elena?" desis Alvin lantang. "Nggak usah repot memikirkan nasib saya, Pak! Saya akan segera menikah dalam waktu dekat. Lupakan saja kalau saya pernah berkata saya hamil! Anggap saja saya tak pernah mengatakannya! Permisi!” tegas Elena sambil mulai melangkah ke arah pintu agar bisa menjauh dari CEO berengseknya ini. "Kamu mau menikah dengan papa sewaan yang ingin kamu cari lewat sayembara, begitu?" sindir Alvin tegas. "Bapak menguping pembicaraan kami tadi? Bapak benar-benar lancang!" omel Elena berbalik badan, mengurungkan niatnya melangkah keluar dari ruangan Alvin. "Kalian yang lancang karena bicara begitu lantang hingga aku bisa mendengar semua isi pembicaraan kalian dengan jelas ketika aku melintas tadi. Bagaimana jika staf yang lain ikut mendengarnya? Apa ga kurang ajar namanya saat kalian menjelekkan aku dan memakiku di dalam sana? Apa kalian ga mikirin reputasiku saat kalian bicara soal papa dari anak yang kamu kandung secara lantang begitu? “Apa pun itu, Bapak tetap menguping pembiacaraan kami dan saya tak terima privasi saya diganggu.” “Jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab dulu pertanyaanku! Apa kamu serius ingin mencari papa sewaan dan menikah dengannya hingga anak itu lahir?” tanya Alvin lantang. “Iya, saya akan mencari papa sewaan yang cocok dan menikah dengannya agar anak saya dapat nama belakang papanya walaupun papa sewaan.” “Kurang ajar! Beraninya kamu mengatakan hal ini padaku!” “Kenapa? Bukannya Bapak sendiri menolak menikahi saya kemarin? Kenapa harus repot memikirkan saya dicap wanita hamil di luar nikah segala? Abaikan saja saya, Pak! Saya hanya akan bekerja di sini sampai kontrak kerja saya habis yaitu tiga bulan lagi,” “Apa maksud kamu?” “Kontrak saya di sini hanya 6 bulan, kan? Saya tidak akan memperpanjangnya lagi dan akan berhenti 3 bulan dari sekarang sesuai kontrak. Saya harus mempersiapkan pernikahan saya. Mohon mulai hari ini, anggap saja saya hanya sekretaris Bapak! Lupakanlah kalau saya pernah mengatakan saya hamil! Anggap saja itu prank, Pak! Permisi!” Elena melangkah keluar ruangan dengan hati yang lega. Setidaknya ia bisa membuat Alvin kebakaran jenggot sekarang. Dan ia berkata begitu bukan tanpa alasan. Ia memang tidak ingin menikah dengan laki-laki kasar bermulut keji seperti Alvin. Biarlah anaknya tidak mengetahui siapa ayahnya. Ia akan mencari sosok lemah lembut sebagai papa sewaannya nanti. Mulai hari ini Elena akan mencari laki-laki yang mau ia sewa sebagai papa sewaan bagi anak di dalam kandungannya. “Berengsek! Kurang ajar! Sialan!” Alvin mengumpat berkali-kali di dalam ruangannya begitu Elena melangkah keluar meninggalkannya. Ia tak mengerti kenapa ia sangat marah begini. Mungkinkah ia tersinggung akan penolakan Elena? Elena benar-benar membuatnya tak bisa membantah lagi tadi dan membuatnya kesal setengah mati. “Wanita berengsek tak tahu diri! Sudah bagus aku ingin menikahinya dan memberikan nama belakangku untuk anaknya! Dasar tak tahu diuntung! Wanita sialan!” maki Alvin berapi-api. Ia heran kenapa dirinya masih juga belum bisa membendung emosi karena penolakan Elena tadi. Bukannya bagus kalau tidak jadi menikah dengannya? Ia bisa meneruskan hubungannya dengan Luna tanpa gangguan anak Elena lagi. Tapi kenapa ia tak terima Elena menikah dengan laki-laki lain? Kenapa ia tak rela anak yang dikandung Elena bakal menyandang nama belakang pria lain selain dirinya? “Argghhh! Berengsek! Tak akan kubiarkan kamu menikah dengan laki-laki lain, Wanita sialan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD