Memarahi Elena

1266 Words
“Bye, Honey. See you tomorrow,” ucap Alvin sambil melambaikan tangannya. Ia bahkan tak mood lagi mengecup bibir Luna saking kesalnya melihat pemandangan saat Elena dan Farrel saling bertatapan intens tadi. Ia ingin cepat-cepat masuk ke dalam dan melabrak serta menyindir Elena dan Farrel secepat mungkin. “Bye, Vin,” ucap Luna sambil melambaikan tangannya pada Alvin yang tak fokus lagi padanya sebelum kemudian melajukan kendaraannya menuju tempat kerjanya. Kenapa dengan kekasihnya? Kenapa dia jadi acuh begitu? Masa bodohlah! Luna sudah cukup bahagia dapat tas mahal model terbaru saat menemani kekasihnya sepagian tadi. Kira-kira besok pagi pesan apa, ya? Luna menimbang-nimbang ingin membeli apa besok pagi. Ia tak perlu pusing dengan uangnya karena Alvin yang akan membayarnya semahal apa pun itu. Luna melajukan mobilnya sambil tersenyum bahagia. “Sial! Aku kelamaan nungguin Luna pergi. Mudah-mudahan saja mereka masih di meja Elena. Aku akan melabrak mereka saat ini juga,” omel Alvin emosi. Alvin segera melangkah masuk menuju meja Elena dan harus menahan kesal karena oknum yang ia ingin labrak tak ada di lokasi terakhir mereka lagi. “Mereka pasti ke atas ke kantin di rooftop sana. Sialan! Tak mungkin aku menyusul ke sana,” geram Alvin kesal. Alvin mengepalkan tangannya geram sambil melangkahkan kakinya ke dalam ruangannya kembali. Ia menuju mejanya, memukul mejanya beberapa kali, tapi tak juga merasa puas. “Sial! Berengsek! Elena selalu membuatku kesal,” sentak Alvin emosi. Ia kesal membayangkan Elena suap-suapan, sesekali bertukar pandang dan saling berpegangan tangan di atas sana. Bahkan mereka bisa saja bertukar saliva di spot khusus pacaran di atas sana. “Aaagggrh ... !? Kenapa aku sangat kesal padanya, sih?” Dean tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu dan merasa heran melihat sahabatnya mengomel sendirian sejak tadi. Ada apa lagi dengannya? “Lo kenapa lagi, Vin? Kesambet?” ceplos Dean heran. “Berisik! Ngapain lo ke sini? Nggak pake ketuk pintu, lagi,” semprot Alvin garang. “Santai, Vin! Ada apa? Ga usah sewot ke gue, dong! Kan, gue udah biasa nyelonong kemari?” “Nggak ada apa-apa. Balik lo sana!” “Yakin ga ada apa-apa? Muka lo udah kayak benang kusut, soalnya,” kata Dean menambah kesal Alvin. “Sialan lo! Udah pergi sana! Gue mau sendiri.” “Ya, udah, gue cabut, ya! Gue ke sini cuman mau bilang, meeting kita sama investor ditunda besok. Sekarang gue mau ke kantin atas. Mau cari camilan. Lo mau nitip sesuatu, nggak?” ‘Kantin rooftop? Aku bisa minta Dean panggilin Elena kemari,’ batin Alvin semangat. Alvin menatap wajah Dean lalu mengatakan keinginannya. “Gue ga mau titip apa-apa. Kalo ketemu Elena, suruh dia temui gue di sini. Sekarang juga!” pinta Alvin datar. “Cie yang pengen ketemu istri! Kangen, ya?” ledek Dean gemas. Alvin menendang kaki Dean kesal. “Awww! Sakit, Vin!” jerit Dean memegangi tulang keringnya. “Makanya jangan asal, kalo ngomong! Najis gue kangen sama dia. Yang ada gue mau omelin dia bentar lagi,” geram Alvin kesal. “Astaga! Lo sensi amat pas udah nikah, Vin. Udah kayak wanita yang lagi datang bulan aja. Gue cabut ajalah. Males meladeni cowok PMS,” ceplos Dean kesal sambil mencebik meninggalkan sahabatnya. “Berengsek, lo!” maki Alvin kesal. Bagaimana mana Alvin tidak kesal? Bisa-bisanya Dean menyimpulkan dirinya kangen pada Elena. Amit-amit! Kalau saja Elena tidak mengandung anaknya, kenapa juga ia harus repot begini? Elena harus tahu bahwa dirinya tidak pantas berhubungan dengan lelaki mana pun sebelum melahirkan anaknya. Alvin kembali memaki-maki Elena sepuas hatinya. *** “Makasih traktirannya, Rel. Lain kali aku yang bayar, ya! Aku ga mau gratisan mulu,” ucap Elena sambil tersenyum. “Oke, as you wish, El! Aku balik ke ruanganku dulu, ya! Pasti Nora sudah lapar. Aku udah beliin dia gado-gado, nih! Sampai jumpa nanti, El,” ucap Farrel sambil melambaikan tangannya dan tersenyum manis pada Elena. Elena juga tersenyum manis pada Farrel. Ah, andai dirinya tidak hamil, dirinya akan berusaha menarik perhatian Farrel! Farrel sungguh sosok yang sangat baik, ramah dan suka bercanda. Beruntung sekali yang jadi pasangannya nanti. Elena menghela nafas lelah saat mengingat lagi nasib buruknya terlibat CEO laknat di perusahaan ini. “Puas pacarannya? Ikut ke ruanganku sekarang!” geram Alvin lantang sambil melangkah ke ruangannya. Elena menuruti kata-kata Alvin lalu berusaha meredam rasa kesalnya pada suami berengseknya ini. “Kamu itu jadi wanita jangan kegatelan, bisa nggak?” bentak Alvin tanpa basa-basi setibanya ia dan Elena di dalam ruangannya. Darah Elena naik ke ubun-ubun mendengar bentakan berbaur hinaan dari suami laknatnya ini. “Apa maksud Bapak?” “Nggak usah sok polos, deh! Kamu merayu manajer Farrel, kan? Ingat dan tahu diri, dong! Kamu itu ga virgin lagi dan sedang hamil, kalo kamu lupa. Nggak pantas kamu flirting di depan umum sama laki-laki lajang seperti manajer Farrel, tahu kamu?” sentak Alvin sadis. Wajah putih milik Elena kini merah padam seluruhnya. Ia tak akan tinggal diam lagi dihina begini. “Bukan urusan Bapak. Kita berdua orang asing, Pak. Ikatan kita hanya di atas kertas dan tak lama lagi akan berakhir. Perkara saya ingin mencari papa sambung dari anak saya, itu adalah urusan saya. Bapak tak berhak ikut campur urusan saya,” desis Elena emosi. “K-kamu!? Kamu itu sedang hamil anakku dan aku tak mau anakku bercampur dengan benih laki-laki lain, tahu?” bentak Alvin semakin emosi. “Terserah saya, dong, Pak! Mau saya kiss, hug, atau sleep dengan laki-laki lain, itu hak saya. Kan, kita sudah sepakat tidak mengurusi hidup masing-masing? Bapak mau tidur dengan wanita mana pun juga terserah Bapak. Demikian juga saya. Namun, perlu saya tekankan bahwa saya tidak semurah itu. Andai saya kebelet pengen tidur dengan laki-laki dalam beberapa hari ini, saya pastikan akan meminta cerai sebelum tanggal deadline kita. Bisa saja besok atau lusa, tergantung hasrat saya,” cetus Elena geram. Sudah cukup ia terhina oleh b******n ini. Setelah ia bertindak amoral di ruangan ini dengan kekasihnya sepagian ini dan sepertinya sengaja ingin ia pertontonkan mengingat 4 kali ia dipanggil ke ruangannya dan 4 kali juga ia harus menyaksikan hot kiss suaminya ini dengan kekasihnya, bisa-bisanya Alvin menuduhnya wanita gatal. “A-apa!? Berani kamu melawanku, ya! Awas saja kalau kamu berani mengotori anakku dengan benih lelaki lain!” Alvin melotot tajam. “Saya tidak salah, makanya saya berani. Dan seperti saya bilang tadi bahwa Bapak tak bisa mencegah hasrat saya. Oh, ya! Satu lagi, Pak. Besok saya tak bisa mengantarkan dokumen apa pun ke ruangan Bapak lagi. Karena hari ini hari terakhir saya bertugas sebagai sekretaris anda. Saya sudah mengajukan pindah ke divisi Pak Farrel dan dia sedang mengurusnya saat ini, sehingga besok saya akan mulai bekerja dengannya.” “Kata siapa kamu boleh mengundurkan diri, hah,” cetus Alvin tak terima. Tak akan ia biarkan Elena berduaan dengan Farrel. Ia tak mengerti kenapa, yang jelas ia tak ingin anaknya ternoda oleh laki-laki lain. “Dokumennya sudah ditandatangani Pak Dean selaku petinggi yang menerima saya bekerja di sini. Jadi, selamat bersenang-senang dengan kekasih anda tanpa gangguan saya. Mau anda bercinta di ruangan ini dengannya juga terserah Bapak karena mulai besok saya ke mana-mana akan bersama Pak Farrel. Permisi, Pak Alvin!” tegas Elena berapi-api lalu segera meninggalkan ruangan Alvin. “Heh, kita belum selesai bicara, wanita berengsek!” jerit Alvin emosi. Elena tak menghiraukan Alvin lagi. Ia sudah sangat mual melihat wajah papa dari anaknya ini. Sungguh ia sangat menyesal mendapatkan benih keturunan dari Alvin. Andai ia tak ingat dosa, sudah ia singkirkan janin di dalam rahimnya ini. Namun, ia sadar bahwa bayi ini tidak bersalah dan akan ia pastikan anaknya ini tidak meniru sifat papanya bahkan tak akan ia biarkan anaknya bertemu papanya selamanya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD