Kelabilan Alvin

1144 Words
Enam hari sudah usia pernikahan Elena dan Alvin. Tiga hari terakhir ini, Elena lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Farrel untuk meeting di luar, sedangkan Nora sahabatnya mengurus semua dokumen di kantor. Alvin masih sering terlihat di dalam ruangannya bersama kekasihnya dan sepertinya mereka sengaja mempertontonkan hot kiss mereka dengan pintu ruangan yang selalu dibiarkan sedikit terbuka seperti saat ini, misalnya. Elena dan Farrel melintas di depan ruangan Alvin dan lagi-lagi menyaksikan Alvin memagut mesra Luna. “Ga usah dilihat, El,” ucap Farrel refleks menarik tangan Elena dan otomatis tubuh Elena masuk ke dalam pelukan dan rangkulan Farrel. “Ah, iya, Rel! Ngapain juga nonton gituan?” sahut Elena tertawa renyah menutupi rasa sakit dan tersinggungnya karena perbuatan suaminya. Farrel tak membiarkan Elena menjauh darinya dan tetap dalam rangkulannya saat ini lalu sama-sama melangkah ke parkiran untuk meninjau lokasi proyek dengan para investor. Alvin mengeram kesal dalam hatinya saat melihat Farrel dengan luwesnya menarik Elena dalam pelukannya. Darahnya mendidih hingga ia tak fokus lagi memagut Luna saat ini. “Honey, nanti kita lanjut lagi. Sebentar lagi aku harus bekerja, tolong tinggalkan aku, ya!” pinta Alvin menahan amarahnya. “Oke, no problem, Vin. Makasih untuk sepatunya hari ini, ya! Besok aku akan pikirin lagi pengen apa,” ucap Luna semringah. Bagaimana tidak? Sudah tiga hari ini ia datang menemani Alvin. Hanya bermodalkan hot kiss, ia bisa mendapatkan perhiasan, sepatu dan tas branded. Siapa yang tidak betah bersama Alvin? Masalah tidur bersama, ia yakin lama-lama Alvin juga mau melakukannya dengannya nanti. Berawal dari hot kiss ini, ia yakin bisa menikmati tubuh Alvin. Ia akan mengundang Alvin ke apartemennya dan merayunya habis-habisan weekend nanti. “Bye, Honey! Aku ga nganter sampai ke depan, ya!” ujar Alvin sambil melambaikan tangannya ke arah Luna dari mejanya. Luna pun melambaikan tangannya sambil menutup pintu ruangan Alvin kembali. Seketika pintu itu tertutup, seketika itu pula seluruh dokumen di atas meja berhamburan dilempar Alvin ke udara dan berakhir di lantai. “Elena sialan! Wanita gatal murahan! Beraninya ia berpelukan di depan umum sambil tersenyum lebar begitu. Dasar jalang sialan!” desis Alvin berapi-api. Sungguh ia tak mengerti kenapa ia sangat marah karena Elena begini? Tiga hari ini ia menuruti tingkah kekanakannya dengan memanasi Elena. Setiap Elena melintas di depan ruangannya yang sengaja ia buka pintunya, ia langsung memagut Luna di pangkuannya. Ia tak mengerti kenapa ia melakukan ini dan ia sangat emosi melihat tak adanya reaksi dari Elena saat dirinya menyesap buas bibir Luna di depan matanya? Sebaliknya, Elena tak peduli, malah semakin mesra dengan Farrel dan ini membuat darahnya naik ke ubun-ubun. “Ada apa ini, Vin? Kenapa dokumen-dokumen penting udah ada di lantai semua?” “Tinggalin gue sendiri!” usir Alvin garang. “Astaga! Lo kenapa, Vin?” “Gue lagi ga mau ngomong sama siapa-siapa? Gue mau lampiasin emosi gue dulu, tahu lo? Sekarang buruan cabut dari sini atau gue hajar lo sekalian!” ancam Alvin lantang. “Lo ada masalah? Kalo ada ceritain, Vin! Jangan dipendam sendirian. Biar gue tebak! Ini masalah Elena, kan?” “Berisik! Ga usah bahas jalang itu lagi. Bisa-bisanya dia rangkulan mesra dengan manajer Farrel di depan umum gitu.” Dean geleng kepala melihat sahabatnya. “Gue asli bingung sama lo. Semenjak lo nikah sama Elena, bawaan lo selalu emosi mulu, Vin. Lo nyadar, nggak?” “Gimana ga kesal, coba? Dia buat gue emosi terus, Dean. Lo juga kenapa asal main izinin dia aja waktu dia pindah ke divisi Farrel, jadinya dia bebas bermesraan dengan Elena bahkan di depan umum, tahu nggak?” omel Alvin geram. “Emangnya kenapa? Ada yang salah? Kan, nggak? Coba dinginin kepala lo dulu! Lo dan dia cuman nikah kontrak. Lo setiap hari beradu bibir dengan Luna di depan dia, padahal secara hukum dia istri lo. Lo waras, nggak, Vin?” sindir Dean sinis. “Sialan! Kok, lo bilang gue ga waras, sih?” semprot Alvin kesal. “Meski dia bukan istri sungguhan lo, dia tetap istri lo yang sah secara hukum dan negara, Vin. Dia punya harga diri, tahu nggak? Dalam hal ini, ada harga diri seorang istri yang lo injak-injak. Lo mau bercinta sama Luna juga terserah lo, asal jangan di depan dia. Kenapa lo jadi kekanakan gini, sih, Vin?” omel Dean menceramahi sahabatnya. Alvin mencibir sinis. “Dia ga masalah juga, gue gituan sama Luna. Dia ga marah sama sekali, kenapa lo yang sewot?” “Diamnya wanita jauh lebih menyeramkan kalo lo mau tahu. Siap-siap aja dibikinin kejutan sama dia, Vin! Lagian ga usah urusin kerjaan dia, bisa nggak, sih, Vin? Beberapa bulan lagi dia bakal cerai dari lo. Biarin dia dekat dengan Farrel! Ga gampang laki-laki menerima wanita hamil. Jika, Farrel menerimanya apa adanya, itu artinya Farrel benar-benar jatuh cinta padanya,” saran Dean bijak. “Nggak, dia ga boleh dekat dengan laki-laki mana pun sebelum anak gue lahir. Gue ga mau benih gue dicampur sama benih laki-laki lain, tahu lo?” cetus Alvin mengada-ada. “Bayi lo itu, udah jadi, Vin. Mau Elena tidur dengan sepuluh laki-laki pun, itu tetap anak lo. Gue curiga, jangan-jangan lo cemburu sama dia! Lo suka sama Elena, ya, Vin?” tebak Dean menduga-duga. “Berengsek! Siapa yang suka sama wanita tidak berkelas macam dia? Cih! Amit-amit, tahu nggak?” “Ya, udah kalo ga suka. Biarin dia dan Farrel! Lo urus aja Luna! Tiga bulan lagi setelah lo cerai, lo bebas nikahin dia. Jangan sewot mulu!” ujar Dean menegaskan. “Lo kenapa belain manajer sialan itu terus, bukan belain gue, sih?” Alvin tak habis pikir. “Karena lo labil, tahu nggak? Males gue belain lo. Ga usah ngamuk-ngamuk lagi lain kali, Vin. Kalo gedeg lihat Elena, ga usah dilihat. Kan, beres? Belum tentu juga Elena betah menetap di sini selama tiga bulan, Vin. Dengan sikap lo yang sejak awal selalu kasar sama dia, gue yakin dia bakal bawa anak lo pergi jauh dari lo.” “Ga akan gue biarin dia bawa anak gue,” desis Alvin sambil mengepalkan tangannya geram. “Kenapa? Jiwa seorang papa udah muncul di diri lo, nih? Bukannya anak itu bakal jadi penghalang buat lo nikahin Luna? Kalo menurut gue, lo ga usah urusin Elena lagi dan ga usah terlibat sama anak itu. Fokus aja sama Luna! Anak itu bisa hancurin hubungan lo dan Luna. Jadi, ga usah peduli, bahkan ga usah dilihat sekalian ketika anak lo lahir!” tegas Dean menyarankan. “Kok, lo jadi lebih kejam dari gue, Dean?” “Gue bicara fakta, Vin. Elena juga benci sama lo dan ga akan mungkin mau kasih lihat anaknya ke elo. Dia ‘kan cuman minta nama belakang lo, biar anaknya ga lahir di luar nikah. Done, ya! Ga usah bahas Elena dan bayinya lagi. Gue gedeg sama emosi lo.” Alvin merenung. Semua yang dikatakan Dean benar adanya, tapi kenapa dalam hatinya ia tak rela melakukan apa yang disarankan Dean padanya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD