Bos Meresahkan

1200 Words
Pagi hari Frian sudah berada dikantor, bahkan para karyawannya belum pada berdatangan. Bahkan sekertarisnya yang bernama Rino yang masih tertidur seketika terbangun mendengar suara yang ternyata bos yang menelponnya dipagi hari dan menyuruhnya untuk datang kekantor segera. "Kenapa sih lu pagi-pagi banger udah nyuru gue buat kekantor" ucap Rino dengan datang yang sangat tiba-tiba sekali. Frian langsung mendongak dan menatap tajam Rino. "Biasa aja kali tatapannya" seketika nyali Rino menciut melihat tatapan tajam atasannya itu. Walaupun ia adalah sahabarnya Frian, Rino juga takut jika mendapat tatapan maut dari Frian. "Jadwal saya hari ini" ucap Frian tegas. "Sebentar akan saya ambilkan" balas Rino yang langsung pergi mengambil berkas yang diinginkan atasannya itu. "Ini pak" Rino meletakan berkas diatas meja Frian. Dengan cepat Frian melihat jadwalnya lalu menyuruh Rino untuk berbicara pada cliennya untuk tempat yang akan mereka tempati untuk pertemuan mereka. Rino mengangguk lalu melangkah meninggalkan ruangan atasannya itu. Frian kembali dengan berkas-berkas didepannya yang sangat banyak. Shittt Beberapa kali unpatan tersebut keluar dari mulutnya, pertanda bahwa ia tidak bisa fokus dengan apa yang dikerjakannya. "Perjodohan gila sialan" umpat Frian dengan membanting penanya dengan keras. Pikirannya tak pernah fokus sedari pagi, karena ucapan papanya yang akan menjodohkannya terus berputar dikepalanya. Tokkk, tokkk, tokkk "Masuk" teriaknya. "Pak 30 menit lagi ada pertemuan dengan R.A grup di Bria resto" ucap Rino. "Berangkat sekarang" ucap Frian lalu berdiri. "Baik pak" ucap Rino dengan sedikit membungkuk. Rino pun mulai berjalan mengukuti Frian yang sudah ada didepannya dan menahan rasa penasaran dalam dirinya. Sesampainya mereka berdua di Bria resto belum mendapati cliennya berada disana. "Kapan mereka datang Rino?" Tanya Frian yang sudah mengulangnya beberapa kali. "Pak masih ada 10 menit lagi sebelum pertemuan dimulai" ucap Rino. Shittt "Kenapa kau tak bilang dari awal Rino" kesal Frian. "Bukannya bapak yang ingin berangkat lebih awal" ucap Rino. "Berani kau menyalahkan saya Rino". "Maaf pak" balas Rino. Rino menghela napasnya kasar "serba salah gue" batinnya. "Mereka bilang akan sampai 15 menit lagi pak" ucap Rino setelah menelpon cliennya. "Suruh mereka percepat atau kerja sama batal" tegas Frian. Dengan cepat Rino menelpon cliennya lagi biar mereka segera sampai dan ia tak terus-terusan mendapat amukan dari atasannya. Selang 8 menit mereka pun tiba dan langsung meminta maaf pada Frian karena terlambat. Setelah pertemua para clienya pulang, beda halnya dengan Frian yang masih enggan berakjak dari tempat duduknya. "Rino tunggu disini, saya mau ketoilet sebentar" perintah Frian. "Baik pak, yang lama" ucapnya tentu diakhir ia mengucapkannya dalam hati. Setelah melihat Frian menjauh Rino langsung saja meraup napas sebanyam-banyaknya. "Gila kesambet apa dia hari ini, sampai-sampai gue susah buat napas" gumam Rino sambil menggengkan kepalanya. Disisi lain Frian telah selesai membuang hajatnya dan akan kembali kemejanya. Tetapi dipertengahan jalan tak sengaja ada yang menyenggol dan menumpakkan jus pada jasnya. "Maaf pak, maaf" Dengan amarah dan kekesalan yang bercampur jadi satu, Frian menatap tajam orang yang tengah membersihkan noda dijasnya. "Sekali lagi saya minta maaf pak" ucap seorang wanita yang telah menumpakan jus pada jasnya tadi. Tak ada respon dari orang yang ada didepannya akhirnya wanita itu mendongak. "Loh om" kaget wanita itu dengan menunjuk Frian. "Om kan yang nganteri aku pulang kemarin, maaf ya om" lanjutnya dengan membersihkan jas Frian kembali. "Mejauh, singkirkan tangan kotormu dari jas saya" tegas Frian lalu mundur beberapa langkah. "Ehh, tapikan om jasnya masih basah" ucap wanita itu yang tak lain bernama Celina. Celina pun akan melangkah tapi langang dihentikan oleh Frian. "Diam disitu" tegas Frian. "Om tapikan aku mau minta maaf, beneran ga sengaja numpahin jus kejas om dan aku juga mau bilang makasih karena om mau nganteri aku pulang kemarin" ucap Celin panjang lebar. "Kamu mau saya maafkan?" Tanya Frian dan Celina mengangguk. Melihat anggukan dari celina, Frian pun langsung tersenyum miring merencanakan sesuatu yang membuat siapa saja menjadi waspada. "Jadi kekasih bohongan saya" ucap Frian. "Ga mau ah, akukan udah punya pacar" tolak Celina karena ia tak mau menghianati kekasihnya. "Simpel, berarti kamu tak mendapat maaf dari saya dan kamu orang yang ga tau terima kasih" ucap Frian lalu berbalik untuk kembali menemui Rino. Mendengar ucapan Frian membuat Celina menjadi gelisah dan tak tau harus berbuat apa. "Tunggu om" sebelum Frian melangkah menjauh Celina sengera menghentikannya. Frian langsung tersenyu miring lalu membalikkan badannya dengan raut datar dan mengangkat alisnya. Dengan gugup Celina pun berkata "aku mau jadi pacar pura-pura asar om mau memaafkanku". "Pasti saya akan memaafkan mu" lalu Frian menyodorkan hpnya. "Tulis nomor telponmu" perintah Frian. Celina segera menulis nomor teleponnya dengan cepat. "Saya akan menghubungimu nanti" ucap Frian lalu pergi meninggalkan Celina. "Huff" "Gila tatapannya tajam banget, menakutkan sekali" gumam Celina. Disisi lain Rino tengah panik menunggu Frian yang tak kunjung datang. "Kembali kekantor" ucap Frian tiba-tiba dari belakang Rino. Rino tergingkat kaget dan menatap Frian tajam tapi dihiraukan oleh sang empu. "Dari mana aja lu lama banget" kesal Rino bahkan ia melupakan hal yang sebelumnya terjadi. "Toilet" saut Frian santai. "Ngapain aja lama banget?" "Sakit perut" bohong Frian lalu berjalan meninggalkan Rino. "Hei hei Frian tunggui gue" teriak Rino yang sudah tak melihat Frian lagi lantaran ketutup pintu. "Kok tiba-tiba dia berubah lagi, apa tadi karena sakit perut dia marah-marah ga jelas" bingung Rino setelah sadar akan perubahan dari atasannya. Sesampainya dikantor Frian kembali mengerjakan tugasnya dengan fokus. "Yan lu sebenarnya kenapa sih?" Tanya Rino penasaran, menurutnya sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu. "Ga papa, kenapa memangnya?" Tanya balik Frian. "Pagi tadi lu kayak orang kesurupan sampe gue ga berani bantah" kesal Rino. "Bagus dong seharusnya sekertaris menuruti bosnya dan ga membantah" ucapnya santai. "Enak aja gue bantah juga demi kebaikan lu" ucap Rino tak terima. "Ya tinggal cari sekertaris baru yang nurut" balasnya. "Terserah mana ada orang yang mau tahan dengan kelakuan lu itu" Rino tak mau kalah. "Gue mau bertahan disini karena lu sahabat gue kalau ngga ogah gue tahan sama bos ga berperasaan kayak lu" seketika Rino mengeluarkan unek-unek yang berada pada dirinya. Frian yang mendengarnya langsung menatap tajam Rino, tapi dihiraukan sama orang yang bersangkutan. Bahkan Rino mengungkit pas dirinya meminta libur dua minggu dan 5 kali juga ia mengganti kesertaris dalam waktu singkat. "Udah gue ga mau bahas itu lagi Rino" Frian menghentikan ucapan Rino. Frian tak habis pikir dengan kelakuannya saat itu bagaimana pada saat itu jika Rino tak cepat kembali ia tak bisa membayangkannya. "Lagian lunya aja yang mulai duluan" kesal Rino. "Gue tanya sekali lagi sebenarnya lu kenapa?" Tanya Rino. "Gue dijodohin sama bokap" jawab Frian akhirnya. "Hah serius?" Rino bahkan tak percaya dengan apa yang telah diucapkan oleh Frian. Sampai akhirnya mengalirlah cerita Frian mulai dari mamanya yang menyuruhnya pulang sampai papanya bicara ingin menjodohkannya dengan rekan bisnisnya dan ia berbohong diakhiri permintaan bahwa ia harus membawa wanitanya paling lambat minggu depan kalau tidak ia harus terima untuk dijodohkan. "Terus lu udah dapet ceweknya?" Tanya Rino dan dingguki Frian. "Wih siapa, kenalin dong sama gue" ucap Rino. "Nanti lu juga tau sendiri" jawab Frian. "Curang lu main rahasia-rahasian" ucap Rino. "Kerja" ucap Frian mau tak mau Rino mengiyakan dan kembali kemeja kerjanya. Frian sedang berpikir apa gadis itu mau ia ajak kerumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Harus mau batin Frian itukan salah satu tugas seorang kekasih juga fikirnya. Tak mau memusingkan gadis itu akhirnya Frian kembali fokus dengan pekerjaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD