Frian tengah santai diatas balkon apartemennya dengan pemandangan malam gedung-gedung tinggi didepannya.
Ia teringat dengan gadis itu lalu membuka hpnya dan menelponnya.
"Hallo" terdengar suara dari sebrang.
"Maaf ini siapa ya?" Lanjutnya dari sana dengan bertanya.
"Ini saya" jawab Frian.
"Oh om yang tadi siang ya?, ada apa om?" Tanya Celina.
"Besok temui saya dicafe festa jam makan siang" jawab Frian singkat.
"Ehh om bentar dulu, saya sibuk besok" bantah Celina cepat.
"Ga terima penolakan" ucap Frian lalu mematikan teleponnya.
Disisi lain Celina tengah dilanda kekesalan yang membuncak.
Dengan kesal ia melempar ponselnya keatas kasurnya.
"Sialan tuh om-om main perintah-perintah aja" kesalnya.
"Udah tau gue sibuk, ada jadwal jalan sama cowok gue" lanjutnya mau tak mau ia pun membatalkan jadwalnya besok dengan sang kekasih.
"Tapi ngapain ya om itu ngajak ketemuan" batin Celina yang juga penasaran.
"Tau ah mending tidur" ucapnya lalu merebahkan dirinya keatas kasur dan tertidur lelap.
Ditempatnya Frian masih asik dengan kegiatannya bahkan sesekali sambil minum dan menyebat rokoknya.
Kesibukannya kerja tak membuat ia jauh dari hal-hal itu karena menurutnya semua itu dapat menenangkan pikirannya saat ia sedang kalut atau banyak pikiran.
Seperti sekarang ia bahkan memikirkan bahwa besok ia akan membawa gadis itu bertemu dengan kedua orang tuanya, bahkan ia memikirkan apa yang akan orang tuanya rencanakan nanti.
Tingnong, tingnong, tingnong
Frian menoleh siapa yang bertamu dimalam hari pikirnya, dengan terpaksa ia bangun dan membuka pintu apartnya.
"Baaakk" salah satu tamu mengagetkan Frian.
"Ngapain kalian disini?" Tanya Frian saat melihat kedua temannya Frons dan Rino berada didepan pintu apartnya.
"Mau party" ucap Frons yang berlalu masuk dengan sendirinya.
"Party, ngerayaain teman gue melepas jomblonya" sambung Rino yang menenteng tas yang berisi minuman.
"Udah ayok" lanjut Rino dengan menarik tangan Frian yang masih terdiam didepan pintu.
Mau tak mau ia mengikuti kedua temannya itu.
Mereka duduk diruang tamu dengan Rino yang membuka beberapa botol minumannya dan Frons sedang mengambil gelas lalu Frian yang telah duduk dikursi.
"Bro kenapa lu ga bilang kalau udah punya cewek" ucap Frons sambil meletakkan gelas diatas meja.
Frian langsung menoleh dan menatap Rino tajam, tapi Rino langsung mengalihkan tatapannya kearah lain seolah tak tau apa-apa.
"Lain kali jangan lupa kenalin sama gue ceweknya, siapa tau aja dia berpaling sama gue" ucap Frons santai.
Frian langsung medelik tak suka dengan ucapan dari satu temannya itu, bahkan Rino pun tak habis pikir dengan pemikiran Frons yang asal jeplak tak tau situasi.
"Gak" ucap Frian.
"Udah mending kita rayain aja degan ini" ucap Rino berusaha mencairkan suasana dengan mengangkat gelas.
"Bener sekali, crisss" balas Frons yag mengambil gelasnya.
Mau tak mau Frian ikut mengangkat gelasnya tinggi.
"Criss" ucap mereka bertiga bersamaan.
Saking asiknya mereka minum sampai lupa waktu bahkan hampir menjelang pagi dan mereka bertiga pun sudah pada mabuk.
Dirumah Celina baru saja terbangun setelah melihat jam sudah menunjukkan 5 pagi.
"Hoamm" tangannya dengan mengambil ponsel yang ada dinakas.
Lalu ia terbangun dan berjalan kearah kamar mandi lalu membuat makanan.
Celina ialah seorang mahasiswa semester akhir yang tinggal jauh dari kedua orangtuanya.
Kedua orang tuanya sedang berada diluar negri sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga tak ada waktu untuk menemui putri satu-satunya itu.
Tapi untuk uang orang tuanya itu selalu mengiriminya banyak uang setiap bulannya.
Setelah memasuki kuliah ia memutuskan buat menyewa salah satu apartemen yang tak jauh dari kampusnya.
Jadilah sekarang Celina tinggal sediri dan menjadi wanita yang mandiri.
"Hemm wangi sekali" gumamnya yang sedang menghirup aroma masakan yang tengah dibuatnya.
Lalu ia menyajikannya diatas meja makan sampai terdengar bunyi bel dan Celina pun membukanya.
"Maix, tumben sekali pagi-pagi kemari" ucap Celina saat melihat kekasihnya berada didepan pintu apartnya.
"Aku kangen kamu" ucap Maix sambil memeluk Celina.
"Masuk dulu yuk, aku udah masak buat sarapan" Celina yang mengajak Maix.
"Kamu ga kangen sama aku ya" ucap Maix cemberut saat tiba diruang makan.
"Aku juga merindukanmu Maix" balas Celina.
Tak mungkin dirinya itu tak merindukan kekasihnya yang beberapa hari ini ia tak temui.
Bukan karena kesibukannya melainnya kesibukan dari kekasihnya itu yang sedang mejalankan sidang skripsinya.
Padahal Celina tak tau kebenarannya saja.
"Ayok makan dulu" ucap Celina dengan menyodorkan piring kedepan Maix.
"Makasih" ucap Maix dengan tersenyum lebar.
Mereka berdua pun asik dengan makanan mereka sampai selesai.
"Sayang kenapa batalin jalan kita nanti siang?" Tanya Maix.
"Ehh itu aku ada tugas kampus" balas Celina gugup, tak mungkun ia berkata jujur pada kekasihnya itu tentang jadi kekasih pura-pura dari orang lain buat nebus kesalahannya.
"Baiklah lagian aku juga ada tugas skripsi yang belum selesai" balas Maix.
"Mau kekampus sekarang?" Tanya Maix saat menunjukkan waktu pukul 8 pagi.
"Boleh, nanti aku ambil tas dulu dikamar" ucap Celina yang berlalu kearah kamarnya.
Setelah melihat Celina menjauh ponsel Maix berbunyi.
"Hallo"
"Sayang kamu dimana aku udah siap nih buat kekampus" ucap dari sebrang.
"Maaf sayang aku ga bisa nganterin kamu kekampus hari ini, aku lagi ada dirumah Celina" balas Maix.
"Ihhs, katanya mau putusin dia kapan sebenarnya"
"Sabar sayang katanya kamu mau shopping, aku harus ambil atm Celina dulu biar kamu puas shoppingnya" jelas Maix.
"Baiklah jangan lama-lama tapi"
"Iya sayang ga bakal lama kok, setelah dapetin atmnya nanti aku langsung jemput kamu kekampus" ucap Maix meyakinkan.
"Oke aku tunggu ya, bayy"
"Bayy sayang" ucap Maix lalu memutuskan sambungan telponnya karena ia melihat Celina berjalan mendekatinya.
"Ayok berangkat" ucap Celina dengan senyum manisnya dan dianggiki oleh Maix.
Sesampainya dikampus Celina langsung turun dari mobil Maix.
"Makasih ya udah mau nganterin" ucap Celina pada Maix.
"Iya sama-sama sayang" balas Maix.
"Oh ya sayang boleh ngga aku pinjeng uang kamu buat ngprint skrisi papa belum ngirim uang bulananku" ucap Maix.
"Boleh kok, nih gausah minjem pake aja kalau buat tugas kampus mah" ucap Celina yang menyodorkan kartu atmnya.
"Makasih sayang nanti aku balikin deh kalau udah ditf sama papa ga enak soalnya sama kamu aku udah sering banget minjem" ucap Maix tak enak.
"Ga papa ambil aja ga usah diganti" ucap Celina lagi.
"Yaudah kalau gitu aku langsung berangkat kekampusku dulu ya" ucap Maix.
"Iya hati-hati dijalan" ucap Celina sambil melambaikan tangannya pada Maix yang sudah berada didalam mobilnya.
Celina dan Maix beda kampus namun hubungan mereka terlihat baik-baiknya.
Setelah melihat mobil Maix melaju meninggalkan parkiran Celina bergegas dengan cepat memasuki kampus untuk bertemu dengan sahabat satu-satunya yang bernama Stela.
Ia butuh teman curhat sekarang agar bisa mengambil keputusan apa yang akan ia lakukan selajutnya.