Celina berjalan kesana kemari demi menemukan sahabatnya itu, karena telponnya yang tak kunjung diangkat jadi ia harus lebih ekstra mencari sahabatnya itu.
"Stelaaa" panggil Celina setelah menemukan keberadaan sahabatnya itu yang tengah asik dengan makanannya.
"Ngapain lu teriak-teriak kayak dihutan aja" saut Stela melihat Celina yang berada didepannya.
"Gue lagi galau nih mau cerita" ucap Celina sambil duduk didepan Stela.
"Mau curhat apa?, masalah cowok lu itu yang ga ada kabar?, udah mending putusin aja cowok kayak gitu ga baik buat lu" ucap Stela panjang lebar.
"Ihs bukan itu Stela, lagian pagi tadi Maix main keapart gue terus nganterin gue sampe kampus" kesal Celina.
"What, apa lagi yang lu kasih kedia?" Tanya Stela yang tau jika Celina bertemu dengan cowoknya pasti cowoknya minta sesuatu dari Celina.
"Dia minjem uang kegue buat nyelesain skripsinya, jadi gue kasih atm gue sama dia" jawab Celina santai.
"Gila lu ya, ngasihnya atm gue yakin sih atm lu digunain buat hal yang ga bener" saut Stela.
"Ga boleh nuduh orang begitu Stela ga baik" bantah Celina yang tak terima Cowoknya dikatain ga benar.
"Emang nyatanya begitu CELINA" ucap Stela penuh penekanan diahkir.
"Coba buka mata lu itu lebar-lebar buat liat kebenarannya" lanjut Stela.
"Udah ah gue mau curhat kelu bukan buat lu ngomentarin hubungan gue sama Maix" kesal Celina.
"Terus apa kalau bukan soal cowok matre lu itu" ucap Stela dengan nyolot.
"Jadi gini lu taukan cerita gue pas dianter sama om-om?" Tanya Celina dan Stela pun mengangguk.
"Gue ketemu lagi tuh sama om-om di Bria resto dan ga sengaja gue numpahin jus kejas dia" lanjut Celina.
"Terus si om-om marah ngga?" Tanya Stela cepat.
"Ya marah lah, bahkan dia ga mau maafin gue"
"Terus-terus"
"Dia mau maafin gue asar gue mau jadi kekasih pura-puranya" ucap Celina yang sudah cemberut.
"Terus lu teruma"
"Demi memdapatkan maaf sama balas budi atas kebaikannya gue terima, kalau gue tolak berarti gue ga tau terima kasih" jawab Celina dengan lesu.
"Bagus itu, gue harap sih hubungan lu sama om-om beneran" timpal Stela dengan santai sambil meminum minumannya.
"Apaan sih Stel ga lucu tau, jangan becanda" kesal Celina.
"Siapa yang becanda sih, kalau saran gue sih udah lu sama om-om itu dari pada sama Maix yang suka morotin lu" Stela menyarankan, bukan karena dia ga peduli sama sahabatnya itu justru karena ia peduli dan tak mau sahabatnya itu terus-terusan dimanfaatkan cowok.
"Tega sekali lu saranin gue sama om-om" Celina semakin dibuat bingung dengan jalan pikiran sahabatnya.
"Bukannya gue tega sama sahabat sendiri, tapi dalam bayangan gue om-om yang lu maksud itu kayak sugar deddy yang tampan dengan tubuh atletis ada kotak-kotak diperutnya terus orangnya kaya banyak duit" ucap Stela sambil membayangkan sugar deddy impiannya.
Plakkk
"Pikiran lu sugar deddy terus" kesal Celina yang menggeplak Stela.
"Aduhh, kira-kira dong kalau mukul" rintih Stela.
"Tapi benerkan ucapan gue, gue yakin filling gue kali ini bener" lanjut Stela dengan semangat dan penuh keyakinan.
"Karena filling gue ga pernah meleset" tambahnya.
Tak ada sautan dari orang yang ada didepannya seketika Stela menyerngitkan alisnya dengan memandang Celina penasaran.
"Jawab dong" sentaknya yang tak kunjung mendapat jawaban dari Celina.
"Gue akui filling lu kali ini benar" ucap Celina akhirnya, karena awalnya ia juga terpesona dengan orang yang dipanggilnya om-om itu, dan karena ia tak tahu namanya jadi ia panggil om-om padahal dulu ia pernah mendapat penolakan dari lelaki itu saat memanggilnya.
"Nah kan bener filling gue, udah sama dia aja. Percaya gue dia jodoh lu" ucap Stela tegas.
Celina langsung membulatkan matanya "ogah jodoh gue om-om" tolaknya.
"Tapi lu ga bisa nolak karena om-om itu jodoh lu, yang akan menjadi suami lu dan pasangan hidup lu" tegas Stela dengan nada serius.
"Jangan gitu lah" ucap Celina lesu.
Celina tau jika sahabatnya itu bisa dibilang seorang cenayan, tapi ia masih meragukan dan tak percaya walau udah bayak kebenaran yang terbukti dari ucapan sahabatnya.
"Percaya sama gue, lu akan bahagia sama dia dari pada sama cowok lu sekarang, yang akan selalu bikin lu nangis" ucap Stela sambil menggenggam kedua tangan Celina yang diatas meja.
Tatapan yang Stela berikan penuh dengan keyakinan dan suport untuknya.
"Liat aja nanti ya, sekarang kita ada kelas" ucap Celina dengan menarik tangannya pelan.
Stela melihat senyum tipis dari sahabatnya langsung mengangguk dan berdiri, lalu menuju kelas mata kuliahnya yang akan berlangsung.
Waktu terus berjalan sampai dimana jam sudah menunjukkan pukul 11 siang saat mereka keluar kelas.
"Lu jadi nemuin om-om lu itu?" Tanya Stela saat mereka baru saja keluar kelas.
"Hemm, jadi" ucap Celina yang mengangguk.
"Yaudah kalau gitu gue duluan" ucap Stela dengan menepuk pundak Celina dan berlalu mendahului.
"Semangat yang mau ketemu jodoh" teriak Stela yang berbalik lalu berlari meninggalkannya, bahkan Celina menjadi pusat perhatian teman kampusnya karena terakan Stela.
"Sialan lu Stela untung sahabat gue" gumam Celina yang tengah malu dilihat banyak temannya.
Tanpa banyak pikir Celina segera berlalu meninggalkan kelasnya menuju halte terdekat untuk mencari taksi lalu menuju cafe festa untuk bertemu dengan om-om itu yang bisa disebut sugar deddy kata Stela.
Sesampainya Celina dicafe festa ia langsung mencari tempat duduk yang kosong, karena ia tau jam makan siang masih hampir satu jam lagi tak mungkin om itu datang diwaktu yang masih jam kerja.
Disisi lain Frian yang masih terus bergulat dengan berkas yang begitu banyak diatas mejanya karena ia telat bangun.
Karena itu juga membuat ia harus berangkat kekantornya siang dan memdapatkan pekerjaannya yang sudah menggunung walau baru ditinggal beberapa jam.
"Tuan, ini adalah berkas-berkas dari perusahaan yang akan bekerja dengan perusahaan kita" ucap Rino yang meletakkan setumpuk berkas diatas mejanya lalu pergi.
"Sialan kau Rino, kemari kau" ucap Frian begitu dingin dan tegas pada Rino.
Baru juga Rino memegang kenop pintu langsung ia urungkan setelah mendengar ucapan dingin dari tuannya.
"Kenapa Tuan?" Tanya Rino yang dengan perlahan kembali mendekati tuannya.
Tanpa mejawah Frian melihat kearah jam lalu menatap Rino.
"Selesaikan pekerjaan saya, saya ada urusan penting" ucap Frian sambil berdiri lalu pergi meninggalkan Rino yang masih terpaku ditempatnya.
"Hah" ucap Rino cengo sampai gebrakan pintu yang tertutup menyadarkannya kembali.
"Sialan, urusan penting apa yang dia maksud. Bahkan semua jadwalnya gue tau dan ga ada jadwal penting dijam segini sampai sore nanti atau dia mau nemuin gadis yang waktu itu" ucap Rino dengan penuh kekesalan.
Waktu diBria resto Rino tau pertemuan Frian dan seorang gadis walaupun hanya dari jauh dan Rino menyimpulkan bahwa gadis itu adalah kekasih dari atasannya.