Sesampainya di cafe festa pangdangan Frian tertuju pada seorang gadis yang duduk didekat jendela lalu berjalan menghampiri.
"Saya kira kamu akan telat" ucapnya lalu duduk didepan gadis itu tanpa permisi.
"Om dateng-dateng ngagetin aja sih" ucap Celina yang tersentak dengan ucapannya.
"Pesan minum dulu om" lanjut Celina yang dihiraukan oleh Frian.
"Habiskan makananmu lalu ikut dengan saya" perintah Frian yang membuat Celina melongo.
"Om ga pesen minum dulu gitu atau makanan?" Tanya Celina.
"Tidak" ucap Frian dan Celina mengangguk melanjutkan makannya.
Keheningan terjadi diantara mereka berdua sampai Celina menyelesaikan makannya.
"Sudah selesai?, ikut saya" ucap Frian saat melihat makanan Celina telah habis lalu menarik lengannya pelan keluar cafe.
"Bentar dulu napa om jangan main tarik-tarik tangan aja" ucap Celina kesal.
"Sebenarnya om mau bawa saya kemana sih, katanya ketemuan dicafe sampe cafe om diem terus malah narik-narik dan sekarang mau bawa saya kemana" kesal Celina yang entah akan dibawa kemana dirinya.
"Rumah saya" jawab Frian santai.
"Hei om mau ngapain kerumah om bukannya kemarin bilang cuma dicafe terus kenapa om bawa saya kerumah om" cerocos Celina.
"Jangan-jangan om mau modus ya" tuduhnya.
"Kenapa kamu bawal banget sih" ucap Frian tanpa bahasa formalnya.
"Ya makanya jelasin dong biar ga salah pamah" ketus Celina.
"Kamu masih ingat dengan kesepakatan kita kemarin?" Tanya Frian dan Celina mengangguk.
"Sekarang tugas pertama kamu jadi kekasih saya yaitu bertemu dengan orang tua saya dan yakinkan pada mereka bahwa kamu adalah kekasih saya" jelas Frian.
"Kitakan cuma pacaran bohongan om" ucap Celina.
Frian memakirkan mobilnya lalu menatap Celina tajam.
Celina ketakutan melihat tatapan tajam Frian "oke jadi saya harus ekting seakan saya kekasih om" jelas Celina.
"Pintar, sekarang turun dan ingat jangan panggil saya om nama saya Frian Frengky Afmatya" ucap Frian dengan penuh penekanan.
Frian berjalan memasuki rumah dengan menggandeng Celina.
"Frian ko kamu ada disini ga kekantor kamu" tanya Briani pada Frian dan belum sadar ada orang lain bersama putranya.
"Katanya mama mau kenalan sama kekasih Frian" ucap Frian dan Briani tersadar ada seorang gadis dibelakang Frian.
"Hallo, tante kenalin nama aku Celina" ucap Celina sebaik mungkin sambil menyalimi Briani.
"Ehhh, cantik sekali kamu sayang. Ayok sini duduk" ucap Diani senang lalu membawa Celina keruang tamunya.
"Makasih tante, tante juga cantik" balas Diani.
"Kamu beneran kekasihnya Frian?" Tanya Briani.
"Jangan panggil tante, panggil aja mama biar sama kayak Frian" ucap Briani lagi.
"Iya mama" balas Celina.
Celina dan Briani terus mengobrol dengan sesekali mereka tertawa, Frian yang melihat itu menghela napas lega karena rencananya berjalan dengan sesuai rencana.
Seketika Frian mulai panik saat papanya datang tapi ia bisa mengontrol dirinya setenang mungkin.
"Ehh papa sudah pulang sini pa ada calon mantu" ucap Briani senang.
"Hallo om, aku Celina" ucap Celina ramah.
"Masih sekolah?" Tanya Frengky saat melihat gadis yang ada didepannya seperti masih belia.
"Saya kuliah om, baru memasuki semester akhir" jawab Celina gugup, bagaimana ia tidak gugup jika ditatap tajam seperti itu sama Frengky.
"Jadi kamu kekasih dari putra saya" ucap Frengky.
"Iya om, cicit Celina, ia benar-benar sangat takut kali ini.
"Iya dia kekasih Frian pa, jadi jangan natap dia seperti itu" balas Frian sambil merangkul Celina berusaha menenagkannya.
"Kapan kalian berdua akan menikah?" Tanya Frengky yang mulai santai.
"Papa apaan sih jangan bahas pernikahan dulu, Celin masih kuliah" ucap Frian.
"Ga ada yang melarang menikah saat masih kuliah" jelas Frengky.
"Kita masih mau pacaran dulu om" ucap Celina.
"Sampe kapan mau pacaran terus?, mending nikah enak semua biaya kuliah kamu dibiayain sama suami begitu pun kebutuhanmu" jelas mama pada Celina.
Celina bingung entah harus dengan cara apa lagi menolaknya.
"Ma kita masih pengen seneng-seneng dulu" balas Frian.
"Gimana bisa seneng-seneng orang kamu sibuk kerja terus" saut mama.
"Gini aja Celina kamu mau tidak menikah dengan Frian minggu depan?" Tanya Frengky dan Celina terdiam entah apa yang harus dia katakan.
Celina bingung lantaran pembasan yang melenceng, ia hanya kekasih pura-pura dari Frian jelas ia tak mau karena ia sudah mempunyai kekasih.
"Kalau kamu menolak Frian akan kami jodohkan dengan putri rekan bisnis saya dan mereka akan menikah minggu depan" jelas Frengky.
"Papa apa-apaan sih, Frian ga mau dijodohin lagian Frian udah punya kekasih" sentak Frian dengan penuh emosi.
"Pilihannya cuma dua menikah dengan kekasihmu itu atau dengan putri rekan papa, tak ada pembatalan pernikahan karena semuanya sudah papa siapkan" ucap Frengky tegas.
Frian tidak tau lagi harus bagaimana, semakin ia membahtah semakin papanya mengekang.
"Baiklah kita akan menikah minggu depan" putus Frian lalu menarik Celina dan membawanya pergi.
"Om apa-apaan sih, kanapa ga nolak" kesal Celina dengan menyentak lengan Frian.
"Ga ada alasan untuk kita menolak" ucap Frian fruatasi.
"Biar saya aja yang nolak kalau kayak gitu mah" lanjut Celina dengan berbalik yang akan kembali memasuki rumah Frian.
Tapi Frian menahan tangan Celina dengan cepat "apaan sih lepasin, saya mau bicara lagi sama orang tua om, buat batalin pernikahan ini. Semua itu pasti bohong cuma mau gertak om doang" ucapnya.
"Ga ada gertakan atau candaan dalam setiap ucapan dari papa saya, yang ada keseriusan dan perintah mutlak tak bisa ditolak dari setiap ucapannya" jelas Frian agar gadis didepannya itu mengerti.
"Tapi kan..." ucapannya terhenti kala Fian telah menariknya terlebih dahulu.
"Ikut saya" ucap Frian mau tak mau Celian pun mengikutinya dengan pasrah.
Frian melajukan mobil dengan kecepatan sedang dan membawa Celina kesuatu tempat, tapi bukan tempat tinggalnya.
Melainkan sebuah taman yang terlihat sepi tak banyak orang karena masih jam kerja dan kebanyakan orang masih pada kerja.
Mereka duduk disebuah bangku yang tak jauh dari jalan mereka berdua saling diam dengan pandangan dan pikiran masing-masing.
"Om kenapa om ga nolak aja sih tadi" ucap Celina yang masih tak terima dengan kejadian tadi.
Melihat keterdiaman Frian Celina kembali berbicara "batalin aja ya om nikahannya" ucapnya memohon.
"Tidak bisa dan kita harus menikah minggu depan" ucap Frian mutlak.
"Om jangan egois dong, om kan tahu kalau saya udah punya kekasih" sewot Celina.
"Putusin, kekasihmu bukan pria baik-baik" balas Frian yang membuat Celina emosi.
"Apaan sih om bilang gitu, om hanya orang asing yang ga tau apa-apa" marah Celina.
"Kekasih saya lebih baik dari pada om, yang suka memaksa orang lain. Udah pemaksa egois lagi" tambah Celina marah.
"Karena saya akan memutuskan apa yang inginkan dan orang lain atau kamu sekali pun tak dapat menolaknya" tegas Frian.
"Ayok saya antar kamu pulang, karena saya harus balik lagi kekantor, bayak kerjaan yang harus saya selesaikan" lanjut Fian sambil berdiri.
"Saya masih mau disini, sana aja balik kekantor mah biar saya pulang sendiri" balas Celina.
Frian mengangguk lalu pergi meninggalkan Celina duduk disana sendirian.
Celina melihat Frian yang telah pergi meninggalkannya menjadi sangat kesal.
"Dasar om-om gila kerja, ga bisa peka, ngeselin banget" greget Celina bahkan sampai meremas tasnya.
Celina menghela napas pasrah sambil mengatur emosinya dan kembali duduk tenang dengan pandangan lurus kedepan.