Ponsel Celina bedering menandakan ada seseorang yang tengah menelpon dirinya dan dilihat ia adalah sahabat satu-satunya yaitu Stela.
"Hallo"
"Dimana lu?, kelar belum pertemuan sama camernya?" Tanya Stela tiba-tiba dari seberang telponnya.
Memang ia telah menceritakan semuanya pada sahabatnya itu begitu juga pertemuannya dengan orang tua Frian melalui chat.
"Udah kelar, sini gih gue ada ditaman sendirian" balas Celina.
"Oke sharlock aja lokasinya nanti gue otw kesana" jawab Stela.
"Jangan lama-lama ya gue tungguin nih" Celina tau kalau temannya itu pasti lama maka dari itu ia bilang jangan lama.
Biar kebiasana sahabatnya yang suka lama itu hilang.
"Iya tenang aja gue ga bakal lama kok" balas Stela.
"Oke gue tutup dulu telponnya" ucap Celina dan dibalas oke oleh sahabatnya itu.
Setelah mematikan telponnya ia langsung segera mengirimkan lokasi dirinya pada sahabatnya itu.
Tak menunggu waktu lama Stela pun tiba dilokasi yang dikirimkan oleh Celina.
Ia dapat melihat punggung Celina dari sana karena posisi duduk sahabatnya itu membelakangi jalan.
Dorr
Sentak Stela dari belakang yang dapat membuat Celina terkaget dan berbalik melihat kearahnya.
"Sialan lu ngagetin aja" umpat Celina sambil memegang dadanya dan merasakan jantungnya berdetak dengan cepat karena kaget tadi.
"Haha, makanya jangan ngelamun aja" saut Stela yang dengan cepat duduk disamping Celina.
"Siapa juga yang ngelamun lunya aja mau ngagetin ga bilang-bilang" balas Celina.
"Kalau bilang-bilang bukan ngagetin namanya" timpa Stela.
"Terus apa namanya?"
"Nyentak"
"Sama aja ogeb" kesal Celina menatap tajam sahabatnya itu.
Celina tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat satunya itu yang suka sekali bikin dirinya selalu naik darah jika terus meladeninya.
"Oh ya gimana pertemuan lu sama orangtua om-om itu?" Tanya Stela mulai serius.
"Gue disuruh menikah sama om-om itu" jawab Celina dengan lirih dan lesu.
"Hahhaa" Stela tertawa kencang setelah Celina bilang akan menikah dengan om-om.
Sahabat ga tau diri emang udah tau sahabatnya lagi dilanda kegelisahan malah diketawain dengan keras.
"Apa gue bilang benerkan, lu bakal nikah sama tuh om-om" saut Stela yang masih senang mengetawainnya.
"Ih Stela gue ga mau sama dia, gue maunya nikah sama Maix" balas Celina sendu.
"Lu nikah sama Maix yang ada harta lu habis sama dia" jujur Stela sangat tak menyukai sahabatnya itu sama Maix.
"Jangan gitulah Stel, Maix bukan orang yang seperti itu" Celina tak tahu kenapa sahabatnya itu tak menyukai kekasihnya.
"Terserah mau lu gimana yang penting gue udah selalu ngingetin lu kalau Maix bukan cowok baik-baik" ucap Stela serius.
"Stell"
"Udah jangan bahas dia lagi eneg gue dengernya" ucap Stela.
"Oh ya terus gimana jadinya?, lu terima atau tolak tuh om-om?" Tanya Stela penasaran.
"Mau gue tolak tapi ga bisa, gimana dong Stela" Celina udah uring-uringan.
"Serius ga bisa ditolak?" Tanya Stela kaget dan Celina mengangguk.
"Jadituh pernikahan udah disiapin semua dan minggu depan acaranya, kalau gue nolak dia bakal menikah sama pilihan orangtuanya, karena dia ga mau jadi gue sasarannya yang harus nikah sama dia" ucap Celina menjelaskan semuanya pada Stela mungkin saja sahabatnya itu bisa membantu dirinya keluar dari masalah ini.
"Egois banget tuh om-om orang ga mau malah terus dipaksa" saut Stela.
"Stela batuin gue dong gimana caranya bikin pernikahan ini batal" mohon Celina.
"Sorry Cel, kali ini gue beneran ga bisa bantu, saran gue lu terima aja pernikahan ini lagian ga ada ruginya jugakan buat lu" jawab Stela.
"Ga ada ruginya dari mana justru gue yang sangat rugi udah nikah sama orang yang ga diinginkan, egois dan suka seenaknya sendiri yang ada gue selalu naik darah kalau serumah sama dia, dan gue juga ga mau putus sama Maix" marah Celina dan diakhiri dengan ucapan sendunya.
Celina merasakan dirinya tak berdaya jika berhadapan dengan Frian seakan ia terus dikendalikan olehnya.
Melihat temannya yang biasanya selalu ceria sekarang menjadi tak berdaya didepannya membuat dirinya kasihan pada sahabatnya itu.
Lalu Stela memeluk sahabatnya itu dengan erat seketika tangis Celina pecah dipundak Stela.
"Gue ga mau Stel nikah sama dia" lirih Celina.
"Maaf gue ga bisa bantu, tapi saran gue coba lu terima semuanya dengan lapang d**a biar semua yang terjadi sama lu selalu mendatangkan kebaikan" saran Stela.
"Sampai segitunya kamu tidak mau menikah dengan saya" ucap seseorang tiba-tiba dari belakangnya.
Mereka berdua melepaskan pelukannya dan mendongak melihat siapa yang berbicara.
"Om kok bisa ada disini?, bukannya tadi om udah pulang ya?" Tanya Celina pada Frian sambil menghapus air matanya.
"Saya hanya ingin megatakan bahwa kamu harus ikut dengan saya untuk fitting baju pengantin" ucap Frian lalu pergi dari sana.
Awalnya Frian hanya ingin melihat Celina sudah pulang atau belum, tapi setibanya disana ia melihat Celina sedang menangis dalam pelukan sahabatnya yaitu Stela.
Frian sudah mencari tau semuanya tentang Celina mulai dari apa yang disukai dan tidak disukai, orangtuanya, sahabatnya, bahkan kekasih dari Celina pun ia sudah tau semuanya.
Sedetail itu karena ia harus tau semua tentang gadis yang akan menikah denganya nanti.
"Tuhkan Stel lu lihat sendiri gimana kelakuannya" keluh Celina.
"Ngeselin juga ya, kalau sama gue udah habis tuh om-om gue bejek, tapi wajahnya enak buat dipandang dan terlihat dari bahu lebarnya kayaknya dia punya perut kotak-kotak cocok buat dipeluk sama dijadiin sandaran" saut Stela dengan mebayangkan bagaimana tubuh Frian jika ia peluk.
"Ihh Stela, bukannya bantu malah kayak gitu" kesal Celina lalu memukul-mukul pundak Stela.
"Aduh sakit tau Cel" adu Stela sambil meringis.
"Rasain bukannya bantuin sahabatnya cari jalan keluar malah mikirin yang lain, kalau gitu sana lu aja yang nikah sama tuh om-om" kesal Celina.
"Ayok gue mah kalau tuh orang mau, tapikan yang dia mau itu lu bukan gue jadi terima aja ya" balas Stela.
"Stel" lesu Celina.
"Udah dari pada musingin pernikahan yang ga bisa ditolak mending ikut gue jalan-jalan" ajak Stela sambil berdiri dari duduknya.
"Kemana emang?" Tanya Celina.
"Udah ayok ikut aja, tempat ini bisa bikin lu happy dan melupakan sejenak masalah lu" jawab Stela dengan menarik lengan Celina pelan.
Celina hanya menurut dan siapa tau aja sahabatnya itu ga bohong biar ia bisa lupain sejenak masalah yang tengah terjadi.
Disisi lain Frian baru saja sampai dikantornya dan banyak sapaan dari karyawannya ia hanya mengangguk dengan wajah datarnya.
"Dari mana bos?, tumben baru datang?" Tanya Rino pada Frian saat ia baru saja tiba diruang kantornya.
"Ketemu orangtua" jawab Frian cuek dan Rino hanya mengangguk paham.
"Oh ya Rin, saya mau lu handel semua pekerjaan gue buat besok" ucap Frian pada Rino setelah ingat bahwa ia harus pergi dengan Celina besok.
"Mau kemana memang?" Tanya Rino penasaran.
"Fitting baju pengantin" jawab Frian datar.
Rino langsung membolakan matanya setelah mendengar itu "seriusan lu mau nikah?, kapan?" Tanyanya.
"Minggu depan, dan stop bertanya saya masih banyak kerjaan" balas Frian agar sekertarisnya itu berhenti untuk banyak bertanya.
Soalnya teman yang merangkap jadi sekertarisnya itu akan terus bertanya kalau tak segera dihentikan.