Celina masuk kuliah pagi, sekarang ia telah berada dikantin bersama dengan sahabatnya yang juga sedang sarapan.
"Cel, lu jadi jalan sama tuh om-om siapa namanya kemarin?" Stela menanyakan nama om-om itu.
"Frian" jawab Celina.
"Oh iya om Frian itu, jadi lu fitting baju sama dia?" Tanya Stela.
"Ga tau ga ada chat sama sekali dari dia" jawab Celina cuek.
"Oh jadi lu lagi ngarepin chat dari om Frian itu" goda Stela.
Sepertinya sekarang sudah menjadi hobi Stela untuk menjahili dan membuat sahabatnya itu kesal.
"Tadikan lu yang nanya sendiri Stel ya jadi gue jawablah, mana peduli gue dia ngechat atau tidak, yang penting gue tenang tanpa gangguan dari om-om itu" ucap Celina kesal pada sahabatnya itu.
"Di iyain aja deh biar cepat" balas Stela dengan menganggukkan kepalanya.
"Oh ya gue masih ga percaya lu bakal nikah" ucap stela yang masih tak mempercayai apa yang telah terjadi pada sahabatnya.
"Ayok kekelas" ajak Celina pada sahabatnya.
Mereka berdua saling pergi dari area kantin dengan saling bergandeng tangan dan diselingi obrolan kecil dari keduanya.
"Cel nanti kalau udah nikah jangan lupain gue ya" ucap Stela pelan.
"Ga bakal, lagian siapa juga yang bakal lupain sahabat terbaik gue ini" Celina melepaskan gandengannya dan berganti merangkul pundak Stela.
"Janji ya, awas aja kalau lu ingkar gue akan obrak-abrik rumah lu nanti" saut Stela.
"Iya janji, gue ga bakal lupain lu sahabat terbaik gue sampai kapan pun" ucap Celana tegas lalu dibalas pelukan erat oleh Stela dan ia juga membalas pelukan dari sahabatnya tak kalah erat.
"Oh ya lu udah belajar belum buat tugas nanti presentasi?" Tanya Celina.
"Udha dong tenang aja, sama gue semua pelajaran apa pun pasti beres" saut Stela dengan semangat.
Mata pelajaran kuliah pertama mereka adalah kimia dan mereka mendapatkan tugas kelompok berdua, jadi mereka berdua harus bekerja sama demi mendapatkan nilai terbaik dari dosennya.
"Siap dah, ya udah ayok masuk" balas Celina saat mereka tiba diruang kelas.
Beberapa saat kemudian dosen masuk dan satu persatu kelompok maju untuk mempresentasikan tugas kelompok mereka dengan baik.
Celina awalnya gugup tapi dorongan semangat dari sahabatnya itu membuat dia menjadi percaya diri untuk memberikan presentasi terbaiknya.
Sampai selesai kelompok mereka salah satu kelompok yang mendapatkan nilai terbaik dari dosen.
"Huh syukurlah gue lega udah presentasi" ucap Stela saat mereka telah menyelesaikan presentasi dan dosen juga sudah keluar dari kelas.
"Gue juga sama akhirnya gue bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik dan semua ini juga berkat besty gue yang satu ini" balas Celina memeluk Stela dengan gembira.
"Biasa aja kali jangan lebai" saut Stela.
"Beneran tau Stel, tadi pas maju gue udah gugup banget tapi karena lu gandeng tangan gue dan bisikin semangat buat gue, gugup gue seketika hilang digantikan dengan semangat yang membara" balas Celina dengan semangat dan merentangkan tangannya keatas.
"Ya udah yuk pulang, ga ada mata kuliah lagi kan?" Tanya Stela.
"Ga ada ayok pulang" jawab Celina dengan merangkul sahabatnya itu untuk segera pergi dari ruang kelas.
Mereka berdua dengan semangat keluar dari kelas menuju keluar kampus, sesekali mereka berdua membalas sapaan dari para temannya yang beda jurusan dengannya.
Tapi baru aja tiba didepan gerbang disana banyak orang sedang berkumpul entah mengerubungi apa.
Saat lebih dekat keduanya pun membelah kerumunan dan terlihat disana Frian sedang bersandar pada mobilnya dengan kaca mata hitam bertengger dihidungnya.
Keduanya saling pandang "dia calon suami lu?" Tanya Stela memastikan dan Celina mengangguk.
"Tumben sekali tuh om-om pake baju kayak anak remaja gitu" saut Celina dengan melihat penampilan Frian yang tak seperti biasanya.
"Mana gue tau lu kan yang calon bininya" saut Stela.
"Lagian kenapa tuh om-om datang kesini bikin geger satu kampus aja" saut Celina yang melupakan sesuatu.
"Lah bukannya kalian berdua mau fitting baju pengantin ya hari ini" ucap Stela mengingatkan sahabatnya itu.
"Oh iya gue lupa" Celina menepuk dahinya keras.
Saking fokusnya mereka berdua berbincang sampai tak mengetahu jika Frian telah berada didepan keduanya.
"Udah selesaikan kuliahnya?" Tanya Frian yang mwmbuat Celina tanpa sadar mengangguk.
"Ayok pulang sama saya, bukannya kita mau fitting baju" ucap Frian dengan senyumnya.
Celina bingung kenapa sikap Frian berubah "mungkin untuk pencitraan" batinnya.
"Iya ayok" balas Celina membalas senyum Frian dengan canggung.
"Stel gue duluan, soalnya jemputan gue udah dateng" pamit Celina pada Stela.
"Ya udah sana pergi, jemputan gue juga udah sampai tuh" tunjuk Stela pada kekasihnya yang baru saja tiba disana.
"Ya udah gue duluan ya, dah" Celina melambaikan tangan pada Stela sebelu dirinya masuk kedalam mobil Frian.
"Dah" Stela juga membalas lambaian tangan dari sahabatnya itu lalu ia berlari kecil menghampiri kekasihnya, lalu segera memasuki jok samping kemudi.
"Kekasihnya Celina?" Tanya Fajar kekasihnya Stela, ia tahu bahkankan sudah kenal dengan sahabat kekasihnya itu.
"Iya tapi lebih tepatnya adalah calon suaminya" jawab Stela yang membuat Fajar kaget.
"Sejak kapan tuh orang punya pacar, peraan aku dia ga pernah keliatan punya pacar, kok tiba-tiba udah mau nikah aja" saut Fajar bingung.
"Dia ga pacaran lagi, tapi langsung nikah" jawab Stela dan membuat Fajar kaget.
"Seriusan berarti dia dijodohin dong" saut Fajar tapi Stela menggelengkan kepalanya.
"Dia itu ga dijodohin tapi dipaksa nikah sama tuh om-om yang ngambil kesempatan dalam kesempitan" saut Stela kesal dengan Frian yang semena-mena dengan sahabatnya itu.
Walau pun ia tahu mereka berdua berjodoh tapi cara untuk menyatukan keduanya itu membuatnya kesal dan kasihan pada sahabatnya.
"Kok bisa seperti itu sih, maksudnya gimana?" Fajar kebingungan.
Stela pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada sahabatnya itu sampai ia harus menikah dengan Fajar.
"Oh gitu ceritanya, terus kenapa manggilnya om-om, bukannya dia sepantaran kita ya?" Tanya Fajar.
"Sepantaran gimana" saut Stela mana bisa kekasihnya itu nyebut mereka sepantaran dengan om Frian itu.
"Usia kita itu beda jauh, usia kita mah baru 22 tahun, om Frian mah udah 28 tahun beda jauhkan bahkan sampe 6 tahun" jelas Stela.
"Tapi penampilannya tadi kayak anak kuliahan aja" saut Fajar, ternyata ia tertipu dengan penampilan orang itu.
"Iya keliatannya gitu, tapi nyatanya usia kita beda jauh" balas Stela.
"Udah ah jangan bahas mereka terus" timpal Fajar dengan sedikit menaikkan nadanya.
"Kamu yang mulai ya, kenapa kamu yang sewot" saut Stela tak terima.
"Ya udah maaf, sekarang kita mau kemana mumpung masih siang?" Tanya Fajar.
"Terserah" saut Stela ngambek.
"Jadi ngambek nih ceritanya, ya udah deh mending balik aja dari pada aku dicuekin terus" balas Fajar pura-pura tak jadi jalan berdua.
"Ih jangan dong" Stela menatap Fajar dengan cemberut.
"Ya jadi sekarang kita mau kemana?" Tanya Fajar sekali lagi dengan lembut.
"Terserah" jawaban itu lagi yang didengar oleh Fajar dari kekasihnya itu.
"Oke kamu ikut aku aja kesuatu tempat yang pasti bisa mengembalik moodmu menjadi kembali baik" ucap Fajar dengan senyumnya menatap Stela.
Itu membuat Stela menjadi salah tingkah dan pipinya bersemu merah lalu ia memalingkan wajahnya.
Fajar yang melihat itu hanya terkekeh dan kembali fokus pada kemudi dan jalanan yang dilewatinya.