Alex dan Liana mengikuti Jim dan Alex yang berjaan menuju uni apartemen Leona. Dia langsung berjalan kearah kamar Leona. Sesampainya dipintu, Alex membuka dompet yang diberika Rose, dan melihat catatan didalamnya, setelah itu dia memasukkan angka kombinasi, dan pintu apartemennya terbuka lebar. Keempat orang masuk kedalam, Edward menilai ruang foyer aman, tidak ada yang aneh
“Clear!” Ucap Edward .
“Yuk, kita lanjut!” Ajak Liana.
Mereka masuk lagi kedalaam, dan sesampai di ruang tamu mereka sangat kaget melihat apartemennya yang berantakan.
“DAMN! WHAT THE …” ucap Edward .
Semua perabotannya sudah tidak beraturan letaknya. Meja-meja jungkir balik, semua sofa-sofa juga jungkir balik. Piring dan gelas berserakan di lantai dan semuanya pecah. Isi kulkas telah tegeletak dilantai berserakan. Telur–telur dipecahkan dan dilempar ke dinding. Susana apartemen Leona sangat kacau…
“Astaga siapa yang melakukan ini?” Liana kaget. Jim dan Alex pun tampak tak kalah kaget melihat kondisidalam apartemen itu. Liana terduduk lemas. tidak ada kata- kata yang bisa diucapkan. Dia memegang tangan Edward .
“Siapa yang melakukan ini Edward ?” Bisiknya. Liana ingin berteriak namun suaranya tercekat.
“Aku tidak tau …” jawab Edward.
“Aku lemas sekali mellihat ini semua. Kalau benar begini, jangan-jangan Leona diculik Edward !” Lutut Liana semakin lemas. Dengan sisa- sisa kekuatannya, dia berdiri dan berjalan tertatih mengikuti Edward masuk keruang keluarga Leona, dan matanya terbelalak semakin lebar. Darah berserakan di lantai, dan dengan darah itu, ada tuLianan yang tertulis di dinding ruang keluarganya:
“TEMANMU BERSAMA KAMI! COBA CARI KAMI JIKA KALIAN BISA MENEMUKAN!”
“Astagaa… Edward ! Leona benar-benar diculik!“ Liana berteriak sangat kencang. Liana Shock berat, dia tidak bisa berpikir sehat lagi. Pikirannya kalut, jiwanya pun ikut tergucang, sementara giginya bergemeretak keras. Baru kali ini dia merasa seperti ini.
“Shh … sshh … tenang Liana, tenang.” ucap Edward sambil memeluk Liana yang gemetar hebat. Jim dan Alex segera melaporkan kejadian ini kepada kepala keamanan di lantai bawah dan kepada Maddy dan pengelola.
“Ms Maddy, benar terjadi penculikn, dan aa penerobosan ke dalam unit apartemen. Mohon bantuan,” Alex melaporkan melalui radio yang tergantung pada pinggangnya. Maddy menjawab bahwa tim bantuan akan segera naik keatas. Tidak lama, muncullah para tim bantuan dan para pengelola, termasuk Maddy juga.
“Apa yang terjadi?” Tanya Maddy kepada Jim dan Alex.
“Silahkan lihat sendiri Nona,” Jawab Jim mempersilahkan Maddy masuk. Maddy tercengang melihat kondisi ruangan yang amburadul. Tiba-tiba TV di ruang keluarga menyala sendiri, dan keluarlah video yang berisikan tulisan-tulisan
“s**t! Kita dipermainkan!” Edward brkata marah.
“Apakah Liana baik-baik saja Edward ?” Tanya Liana.
“Aku tidak tau Liana. Tapi aku harap dia baik-baik saja,”
“Cepat telepon Polisi! 911!” perintah Maddy kepada kepala tim keamanan. Edward dan Liana memandang kearah Maddy. Dan mengangguk keatas Maddy.
“Apakah kalian kenal mereka ini?” Tanya Maddy kepada Liana dan Edward .
“Tidak. Kami belum pernah mendengarnya.” Jawab Edward .
Liana yang masih Shock sekarang telah duduk di lantai dengan lemas.
“Anda baik-baik saja Ms Liana?” Tanya Maddy. Liana menggeleng.
“Aku sangat khawatir. bagaimana kalau mereka membunuh Leona?” Tanya Leona.
“Tenang Ms Liana, aku harap Leona temanmu akan baik-baik saja.” Jawab Maddy.
“Mr Edward , aku rasa kalian harus melaporkan segera kepada polisi tempat kalian melaporkan kemarin.” Saran Maddy.
“Yeah pastinya. Aku akan melaporkan semuanya,” Jawab Edward sambil mengambil foto-foto menggunakan handphonenya.
**
Sophia menghempaskan tubuhnya pada ranjang empuknya. Pulang dari kantor tadi, dia langsung mengirimkan surat permohonan cutinya. Setelah selesai mengirimkan email, Sophia lalu berbaring dengan santai di ranjangnya sambil melemaskan otot-ototnya.
“AHHH
enaknya selonjoran,” gumamnya kepada diri sendiri.
“Aku
benar-benar butuh refreshing. Aku tidak bisa begini terus. Aku harus pergi
liburan sendirian. Tidak bisa ditawar lagi! Sebelum aku menjadi gila, maka
lebih baik aku pergi! Demi kebaikan ku sendiri!” tekadnya sudah bulat. Dia
benar-benar harus pergi. Dia mengambil handphonenya, dan memulai berselancar
didunia maya. Dia mencari destinasi-destinasi liburan yang asik dihabiskan
sendirian. Setelah lama berselancar akhirnya Sophia tertidur dengan
handphone tergeletak di wajahnya.
Dia
kaget saat Alarmnya kembali menjerit-jerit membangunkannya. Dan akhirnya dengan
mata berat dia bersiap-siap.
“Eropa,
here I come!” ucapnya optimis.
Dan
disinilah dia. Didalam penerbangan selama 23 jam menuju ke Eropa. Dunia antah
berantah yang belum pernah diinjaknya. Setelah melalui counter cek in dan
segala macam adinistrasi, Sophia berjalan ke arah ruang tunggu. Namun sebelum
ke ruang tunggu, dia harus menyelesaikan imigrasi dulu. Sambil menunggu
imigrasi dia mengecek handphonenya.
“Ohya
aku lupa mengabari Monique. Mati aku!” Sophia menepuk jidatnya sendiri, segera
dia mengirimkan pesan singkat kepada sahabat karibnya itu.
Sophia:
Hai Monique! Maafkan aku lupa mengabarimu, kemarin aku ada beberapa masalah
dikantor, dan bla bla bla… pokoknya singkat cerita, aku sekarang sedang
mengantri pemeriksaan Imigrasi di airport dalam rangka perjalanan ke Eropa.
Maafkan aku lupa mengabarimu. Sarapan ada ditempat biasa. Jangan lupa s**u dan
roti dihabiskan. Agar tidak kadaluarsa, aku akan menelponmu segera, I love you!
Setelah
melihat read sign pada pesan yang dia kirim, Sophia kembali mengunci
handphonenya, dalam hati dia menghitung, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1…
handphone Sophia berbunyi, dan benar hitungannya dalam 10 detik setelah membaca
pesan darinya, Monique pasti akan menelponnya, dan Sophia sudah tau isi
omelannya. Ya! yang itu-itu lagi. Apa yang terjadi? Kamu kemana? Kamu kenapa?
Pergi dengan siapa? Mengapa tiidak mengajakku? Apa aku bukan sahabatmu? Kamu
bitch!. Itulah yang akan dikatakan Monique dengan histeris.
“Halo
bawel.” Sapanya sambil tertawa.
“APA
MAKSUDMU? APA YANG TERJADI? MENGAPA TIBA-TIBA PERGI? PERGI SAMA SIAPA? KENAPA
TIDAK MENGABARIKU? KEMANA KAMU PERGI? MENGAPA TIDAK MENGAJAKKU? APA KAMU TIDAK
MENGANGGAPKU SAHABATMU? KAMU b***h!” teriak Monique dengan histeris. Sophia
tertawa geli. Kali ini omelannya aga berbeda. Semakin meningkat, semakin
berinovasi.
“Ha
ha ha… tenang… tarik napas… aku baik-baik saja! Itu yang terpenting kan?” ucap
Monique sambil tertawa renyah.
“APA
MAKSUDMU TARIK NAPAS? APA MAKSUDMU BAIK-BAIK SAJA? APA KAU SUDAH GILAAAA? KAU
MEMBUATKU JANTUNGAN TAUUUU! DIMANANYA KAU BAIK-BAIK SAJA? AKU YANG TIDAK
BAIK-BAIK SAJA MENGINGATMU ENTAH BERADA DIMANA SEKARANG, MAUKEMANA, DAN PERGI
DENGAN SIAPA!” Monique menjawab dengan histeris lagi.
“Sudah,
tidak usah mengulang-ulang terus pertanyaanmu. Karena jawabannya akan sama
saja. Tidak ada yang berbeda,” jawabnya Sophia diplomatis.
“CERITA SEKARANG! SEBELUM KU TERBANG KESANA DAN MENJEMPUTMU PULANG KEMBALI!” ancam Monique. Dan Monique jika mengatakan akan menjemput, maka dia benar-benar akan melakukan itu. Dia akan benar-benar menjemput Sophiadan menyeret Sophia pulang kembali.
“Ha ha ha… terkadang aku tidak bisa membedakan kamu dan ibuku Monique! Rileks, aku baik-baik saja okay?”
“CEPAT CERITAAA!” Bentak Monique.
**