34

1632 Words
Saat hendak terbaring di atas ranjang dan melelapkan mata karena waktu juga sudah larut, tiba-tiba James memanggil Edward beberapa kali untuk bangun. “Edward, bangun! Aku ada sesuatu yang ingin ditanyakan,” ujar sang pemilik rumah. Sontak ragu-ragu untuk membuka mata karena sudah terlalu kantuk, tetapi Edward masih bisa menghargai saudaranya itu. “Iya, ada apa Mes? Ada yang bisa dibantu?” tanyanya sembari beranjak dan terduduk seketika. “Bukan. Aku Cuma mau tanya soal teman kalian itu secara lengkap.” Mendapat respons jawaban dari James, Edward sedikit bingung harus menjawab apa. Apa dia mengatakan yang sebenarnya tentang Rose kepada James. “Kenapa? Dia manusia bisa, kamu ada-ada saja.” Edward berusaha mengganti topik dengan berbagai candaan yang keluar dari sudut bibirnya. “Tidak mungkin, aku yakin pasti si penculik Rose itu ada hubungan dendam ataupun membenci bangsa mereka. Sebenarnya Rose itu siapa, sih?” Terdesak dan sepertinya percuma menutupi apa pun lagi, Edward mengatakan dan menceritakan semuanya kepada James. Dari mulai Rose diculik, sampai akhirnya mereka berhasil membebaskan sahabatnya penuh usaha. “Benar dugaan aku, bukan? Kalau sebenarnya Rose itu—“ Belum usai bicara, Edward menghentikan ucapan James. Laki-laki tersebut menatap sekeliling, memastikan tidak ada siapa-siapa yang mendengar, termasuk Pak supir dan pembantu di rumah James itu. “Udah, kita ganti pembicaraan saja, ya. Tidak baik kalau sampai Rose mendengarnya. Aku tidak enak dengan dia, karena wanita itu sahabat dekat Liana. Kami semua memang bersahabat dan saling melindungi.” Edward menambahkan. “Okey, kita bahas soal keberangkatan kalian besok dari sini sampai pulang kembali. Nah, kalian sudah ada pemikiran untuk mengurus paspor lebih cepat? Setidaknya pagi, sudah sampai di sana.” Menghela napas berulang kali, Edward menggeleng. “Ah, kamu ada-ada saja. Bukannya kamu tahu aku tidak bisa bangun pagi? Rasanya susah, seperti ada yang mengganjal di mata. Mana mungkin aku bisa,” ujar Edward kepada lawan bicara. “Ya sudah, kalau begitu masalah semuanya biar aku saja yang urus. Kebetulan besok aku ada jadwal pergi ke luar kota, untuk menyelesaikan pekerjaan. Bisa semua masalah keberangkatanmu dengan Liana aku yang mengurus.” Sangat berbaik hati, James menawarkan ucapan itu kepada Edward. Sontak tanpa berpikir lama, pria tersebut segera mengeluarkan dompetnya dan ingin membayar James atas tugasnya mengurus semua ini. “Aku ada uang, ini ambil! Hitung-hitung buat bayar kamu, selama dua kali berturut-turut menangani soal keberangkatan dan kepulangan kami. Terima kasih, ya.” Edward menyodorkan beberapa lembar uang kepada James, bukan dalam jumlah yang sedikit, tetapi sangat banyak serta terlihat tebal. “Yakin, kamu nantinya ada uang? Banyak gaya, ya. Udah, simpan saja uangnya, untuk ongkos kamu kembali pulang. Pasti perlu banyak dana untuk proses ke sana ke mari. Aku paham itu, kok.” Merasa tidak enak dan sedikit malu dengan perlakuan dan jasa James, Edward memaksa untuk memberikan uang tersebut kepada penerimanya. Namun, secara mentah-mentah James membawa uang tersebut dan memberi pilihan kepada Edward. “Aku terima, tetapi kamu harus pilih. Aku bakar uang ini, atau aku buang, atau aku kembalikan lagi kepadamu, untuk perjalanan kalian ke sana ke mari? Hanya ada dua pilihan ini, kamu harus jawab dan terima salah satunya!” Bimbang dan tentu merasa sayang jika uang sebanyak itu sampai terbuang atau habis sia-sia, Edward lebih memilih untuk mengambil kembali walaupun ada rasa malu di hatinya. “Okey, aku terima. Sekali lagi aku mohon maaf, kalau merepotkanmu.” Melangkah kembali ke arah Edward yang terduduk di atas ranjang, James melemparkan uang sebanyak itu ke arah laki-laki di depannya. Obrolan pun berakhir, Edward mengutip uang tersebut dan kembali memasukannya ke dalam dompet. ** “Jadi seperti itu ceritanya, Sa. Mutlak aku tidak ada mencoba untuk membuat James lelah ataupun ingin membuatnya seperti pembantu. Jujur, aku benar-benar bicara yang sebenarnya.” Edward menatap dalam mata sahabatnya itu. Dengan spontan, Liana balik membalas tatapan mata Edward. “Kamu tidak mengarang cerita, bukan? Aku hanya ingin mengajarkan siapa saja untuk hidup mandiri, Edward, itu saja! Bukan maksudku membela Tuan James, lantas melupakan kebaikanmu.” Liana menegaskan dengan wajah serius. “Iya, Liana, aku tahu. Kamu memang wanita paling terbaik di sisi aku, terima kasih.” Melempar senyum dan dibalas senyum juga oleh lawan tatapnya, Edward menjadi salah tingkah. Senyum lebar mendarat di wajah pria tersebut, dengan sangat puas. Sampai pada akhirnya tidak terasa, kendaraan roda empat yang mereka tumpangi tiba di tempat tujuan. “Kenapa sepi sekali, ya?” tanya Edward kepada Liana yang ikut turun dan berdiri di dekatnya. “Mungkin pesawat benar-benar sudah berangkat, Edward. Bagaimana ini?” “Tenang, biar aku telepon James dulu, untuk memastikan dia ada di mana dan apakah kita sudah bisa menunggu sampai benar-benar mendapat pesawat untuk terbang,” ujar Edward sembari mengeluarkan ponsel dari dalam koper. “Ah, ternyata ponselnya mati semalaman. Kenapa aku bisa tidak sadar, Liana?” tanyanya kemudian. “Mungkin habis baterai, atau lowbet?” sahut gadis itu setelahnya. “Semalam sisa 80%, bagaimana mungkin bisa habis secepat itu tanpa aku mainkan? Mungkin tersentuh, saya terakhir kali memainkannya tadi malam.” Edward menekan tombol daya yang ada di sisi ponsel, kemudian tidak lama logo merknya keluar dan membuat sang pemiliknya menghela napas panjang. “Untung saja bisa hidup, kalau tidak bisa hancur. Soalnya saat-saat begini sangat memerlukan alat hubung untuk ke sana ke mari,” sambungnya kemudian. Beberapa notifikasi terbaru masuk dan terlihat di layar benda pipih berukuran enam inci tersebut. Saat melihat dan membuka satu per satu, ternyata ada pesan tersemat dari kontak atas nama James di layar ponsel Edward. [Edward, mohon maaf, tiket penerbangan untuk hari ini habis. Karena terburu-buru untuk pergi menyelesaikan tugasku, jadi tidak kesampaian menunggu lagi. Jika kamu mau, datang saja ke Bandara, dan tunggu sendiri. Maaf, aku tidak bisa menolong untuk kali ini!] Pesan yang keluar dari layar ponselnya membuat Edward bingung, harus bahagia atau sedih. Di satu sisi, dia telah kehilangan harapan untuk kembali ke tempatnya. Akan tetapi, jika bahagia, dia juga bingung apa yang pantas dianggap senang. Hanya soal perpisahan dia bersama Rose yang tertunda, mungkin ini bisa menjadi alasan mengapa perasaanya sesenang itu. “Syukurlah, Edward! Aku malah bahagia, akhirnya bisa menunda waktu untuk semakin berlama-lama dengan Rose di sana. Aku masih belum siap juga kehilangan dia, Edward!” Merasa memiliki perasaan yang sama, Edward samar-samar tersenyum, tetapi ragu untuk memperlihatkannya. Laki-laki tersebut begitu terperanjat dengan kode alam yang sangat paham, dan seakan mengulur waktu perpisahannya dengan Rose. “Jadi bagaimana? Kita tetap menunggu di sini sampai ada pesawat yang berangkat ke jurusan tempat tinggal kita?” tanya Liana sembari mengangkat kedua alisnya. “Tidak akan ada, Liana. Seharusnya kita memang ditakdirkan untuk menunda perjalanan pulang, agar bisa berlama-lama dengan Rose di sana. Ayo, kita kembali pulang!” ajak Edward kemudian menarik pergelangan tangan Liana. “Mau pulang ke mana?” Liana yang seperti bertanya-tanya, menanggung ekspresi wajah tidak mengerti. “Pulang ke rumah James. Memang kamu mau ke mana? Pulang ke apartemen aku, tidak mungkin. Dalam sekejap bisa sampai ke sana? Itu mustahil!” Saling melempar gelak tawa yang terdengar renyah, keduanya berjalan kembali menyusuri jalanan untuk tiba ke rumah James lagi. Memerlukan waktu satu malam lagi untuk kembali meneteskan air mata untuk yang kedua kalinya atas perpisahan dengan Rose. * Hening dan terduduk sendiri di kamarnya, Rose terus memanggil nama Liana dan Edward berulang kali. Wanita tersebut berupaya untuk kuat, tetapi semuanya tidak bisa ditahan lagi. Kepedihan dan masa-masa bahagia bersama Edward dan Liana membuka memorinya kembali untuk mengingat soal kedua sahabatnya tersebut. “Liana, Edward, aku takut. Bagaimana kalau di sini aku malah semakin jatuh dan sakit? Aku benar-benar tidak bisa jauh dari kalain,” lirih tangisnya pecah seketika. Rose mengayunkan derai air mata yang menetes dengan deras, membasahi kedua pipinya. Tersentak dengan ketukan pintu kamar, wanita itu segera menghapus bulir bening yang menetes di netra. Dia menarik napas, kemudian mencoba terlihat sedang baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. “Permisi, Nona, saya masuk!” ucap wanita paruh baya yang mungkin akan berjasa untuk kehidupan Rose ke depannya. “Iya, silakan! Maaf, kamar saya masih berantakan. Belum ada waktu untuk beres-beres, karena masih sangat lelah,” ujarnya sembari melirik sudut-sudut kamar tersebut dan mencoba menghapus air mata yang masih menempel jelas di netranya. “Iya, saya tahu, Nona. Tidak masalah, karena saya hanya ingin mengantarkan kue ini.” Menyodorkan sepiring kue cokelat yang ada di atasnya, membuat Rose sontak tersenyum dan takjub. Dia tidak bisa menolak jika ada makanan berbau cokelat yang terlihat di depan mata. Jika tidak melahap, bukan seorang Rose namanya. “Wah, Mrs baik sekali. Beneran untuk saya? Terima kasih, ya.” Sembari meraih sepiring kue itu, Rose berusaha menghapus air matanya untuk beberapa kali lagi. “Nona habis menangis, ya? Terlihat, dari sudut matanya. Sembab dan masih membekas sisa-sisa air mata.” Wanita setengah baya itu tersenyum tipis. “Jangan pikirkan apa-apa lagi, Nona. Di sini ada saya yang akan jagain Nona Rose, melebihi rasa sayang orang tua kandung Nona sendiri. Jangan khawatir, saya terbiasa merawat seorang anak,” titah wanita itu lagi. “Tapi saya tidak bisa menahannya, Mrs. Pikiran saya selalu ingat tentang kedua sahabat saya itu. Mereka sangat begitu berjasa dalam masalah apa pun yang saya hadapi.” Menaikan volume suara sembari melirik lawan bicara di depan mata, Rose terlihat menahan tangisnya kembali. “Iya, saya tahu, Miss. Akan tetapi, semua ini sudah ada konsepnya. Bukan seenak itu Nona Liana dan Tuan Edward meninggalkan Miss Rose selamanya. Bukannya sudah saya bilang, mereka akan sering datang ke mari. Percayalah!” Tidak bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam tanpa suara, Rose menggeleng berulang kali. Bingung harus menangis atau apa, yang jelas perasaannya masih terasa sakit mengingat perpisahannya tadi. “Mungkin mereka sudah naik pesawat, ya, Mrs? Benar-benar pergi meninggalkan saya?” ungkapnya lagi dan lagi. “Sudah jelas, Miss. Tapi mereka pasti juga merindukan keberadan Nona Rose di sini. Mereka juga menyayangi Nona, saya yakin!” “Iya, Mrs, terima kasih.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD