1. Test Pack!
Pletak! Test pack buatan luar negeri itu terbanting hingga jatuh tidak berdaya di lantai kamar mandi. Kanaya menggeram tertahan. Ia menunduk lantas berjongkok. Dahinya ia tempelkan ke lutut dan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri dengan begitu erat. Seakan-akan hanya dirinya sendiri yang ia miliki untuk dijadikan pegangan.
Hening sejenak. Namun tak berapa lama tangis Kanaya pecah, tapi sekuat tenaga ia redam dalam diam. “Sayang?” panggil Arsyan sang suami dari luar kamar mandi. Kanaya diam. Mulutnya bergetar menahan isak tangis. “Aku masuk ya,” lanjut Arsyan yang kemudian membuka pintu kamar mandi itu perlahan. Bola mata Arsyan sontak membulat kala melihat sang istri yang sudah terduduk lemas di lantai kamar mandi. “Sayang, kamu kenapa?” tanya Arsyan dengan raut khawatirnya.
Arsyan ikut berjongkok di samping sang istri, ia menarik pelan Kanaya, berniat ingin merengkuhnya ke dalam pelukan. Namun saat tangan Arsyan baru menyentuh bahu yang berguncang halus itu, Kanaya sontak menarik diri. Tak ingin disentuh suaminya sendiri. Arsyan menghela napasnya pelan. Lalu pandangnya tidak sengaja terarah ke sebuah test pack yang tergeletak tidak jauh dari Kanaya. Pelan tangannya bergerak meraih test pack yang bentuknya menyerupai thermometer itu. Lagi dan lagi. Tanda negative untuk yang kesekian kali.
***
Dua anak manusia yang saling mencintai itu terbaring di atas ranjang saling berhadapan dan saling menatap. Arsyan mengusap pelan pipi Kanaya dengan ibu jarinya seraya tersenyum. “Jadi karena test pack itu?” tanya Arsyan membuka pembicaraan. Kanaya hanya menganggukkan kepalanya pelan. “Harus berapa kali sih aku bilang ke kamu? Aku akan tetap bahagia meskipun tanpa anak di rumah tangga kita,” ucap Arsyan sambil merapikan beberapa anak rambut Kanaya yang berantakan. Kemudian menyelipkannya ke belakang telinga.
Kanaya menelan ludah sebelum akhirnya balik bertanya. “Kamu tahu nggak, Bii? Dunia itu jahat banget sama perempuan yang nggak bisa kasih anak ke suaminya?” suaranya kembali bergetar menahan gejolak pilu yang kini berkecamuk dalam hati. “Aku ngerasa gagal jadi istri. Dan aku juga ngerasa nggak berguna jadi perempuan,” lanjut Kanaya yang kini kembali terisak.
“Hei.. kamu ngomong apa sih?” Arsyan menangkup wajah cantik istrinya itu dengan kedua telapak tangannya. Kanaya menggeleng. “Kamu nggak tahu gimana perasaanku setiap Mama kamu bahas-bahas tentang cucu kalau kita ke rumah? Kamu nggak tahu gimana perasaanku tiap Mama kamu selalu nyeritain teman-temannya yang sudah punya cucu? Berat Bii, sesak d**a aku,” ujar Kanaya dengan tangisnya yang pecah. Arsyan hanya menatap istrinya itu dengan sorot mata yang sendu. “Aku juga pengin punya anak. Aku juga pengin ngasih Mama kamu cucu. Aku harus gimana lagi coba?” Tanpa pikir panjang Arsyan menarik Kanaya dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Ia tempelkan satu sisi wajahnya ke kepala sang istri. Mengusap punggung yang berguncang karena tangis itu. Dan memberikan tepukan lembut di sana. Berharap Kanaya merasa lebih sedikit tenang.
Arsyan menghela napasnya pelan. “Maafin Mamaku ya,” ucapnya dengan suara rendah. Terdengar ada sedikit gurat penyesalan dan kesedihan di nada suaranya. Arsyan tahu betapa besar keinginan Rahayu, sang mama yang sudah lama merindukan kehadiran cucu. Arsyan anak tunggal. Dan usia pernikahannya dengan Kanaya sudah menginjak delapan tahun. Sudah puluhan rumah sakit, puluhan dokter spesialis yang mereka berdua datangi tapi sampai saat ini belum membuahkan hasil. Hingga akhirnya Arsyan pasrah dan tak ingin meneruskan program kehamilan bersama Kanaya. Itu semua berawal dari keadaan Kanaya yang tiba-tiba drop dan sempat mengalami pendarahan dan berujung menjalani rawat inap selama hampir satu minggu.
Kanaya menenggelamkan wajahnya ke d**a Arsyan. Menangis sesenggukan di sana, meluapkan semua kesedihan dan kekecewaannya pada diri sendiri. “Kamu harus tahu, Bii,” ucap Arsyan yang semakin mengeratkan pelukannya. “Mungkin buat sebagian orang, kehadiran anak itu penting. Tapi sayangnya, aku termasuk ke dalam sebagian yang lain,” lanjutnya.
Hening. Hingga perlahan isakan Kanaya perlahan mereda. Kanaya pun mendongak, menatap suaminya itu dengan sorot mata yang menyendu. “Ma-Maksudnya?” tanya Kanaya pelan nyaris berbisik. Arsyan tersenyum. Lalu mengecup singkat ujung hidung Kanaya yang mancung itu. “Kan aku udah bilang. Aku udah masrahin semua sama Tuhan. Kalau dikasih anak bersyukur, kalau pun nggak ya aku nggak akan protes. Anak itu rezeki dan rahim itu area Tuhan. Kata Dokter Gia, hehe.”
Kanaya menyeka sisa-sisa air matanya dengan punggung tangan. “Benar? Kamu nggak lagi ngehibur aku, kan?” Kanaya memastikan. “Yee, emangnya aku cowok penghibur?” celoteh Arsyan menggoda yang kemudian berujung dengan rintihan karena Kanaya melayangkan cubitan di perutnya. “Aww! Aduh! Sakit, Bii!” seru Arsyan yang sukses membuat tawa Kanaya berderai.
Melihat Kanaya yang sudah bisa tertawa membuat Arsyan pun sedikit lega. Dalam posisi yang masih saling berpelukan itu Arsyan menatap istrinya dalam-dalam. “Ada anak atau pun nggak, kamu tetap istriku satu-satunya. The one and only. Jangan sedih lagi. Kalau kamu mau ke rumah Mama, bilang dulu ke aku. Aku nggak ngizinin kamu ke rumah Mama kalau nggak sama aku, paham?” Kanaya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dan Arsyan menghadiahinya kecupan kasih sayang di kening istrinya itu. Sedikit lebih lama agar Kanaya benar-benar percaya dan tidak meragukan cintanya.
Kanaya menahan kikik geli ketika sang suami tidak menyudahi mencium keningnya. “Bii, udaaah,” rengek Kanaya menahan tawa. Namun alih-alih mengiyakan rengekan Kanaya, Arsyan malah mengeluarkan suara dengkurannya. Pura-pura tertidur. Kanaya pun berinisiatif melepaskan diri dari pelukan sang suami. Namun Arsyan malah semakin mengeratkan pelukannya. Semakin erat dan semakin erat hingga Kanaya merintih tidak bisa bernapas. “Bii.. lepasin nggak? Aku cubitin perut kamu, lho!” ancam Kanaya.
Arsyan sontak membuka kelopak matanya dengan derai tawa yang lebar. “Cubitin kayak gini maksudnya? Iya?” ujar Arsyan yang tanpa memberi aba-aba langsung menggelitik perut Kanaya. Kanaya berjinggat kaget. Refleks terbangun dari tidurnya, menyingkap selimut yang sedari tadi menutupi tubuh mereka berdua. “Ih! Curang! Aduh!” rintih dan racau Kanaya yang kegelian dengan tingkah sang suami.
Sejenak tawa lepas mereka memenuhi ruang kamar itu. Kanaya tertawa karena kelitikan dari Arsyan di pinggangnya yang tak kunjung berhenti. Sedangkan Arsyan tertawa karena melihat ekspresi Kanaya yang. Mereka tertawa seakan-akan kesedihan yang baru saja mereka rasakan perlahan menguap. Tidak ada lagi tangis, tidak ada lagi kesedihan. Hanya mereka berdua. Mereka yang saling mencintai satu sama lain. Yang berjanji akan terus bersama apa pun yang terjadi. Yang berjanji akan terus bertahan hingga maut yang memisahkan.
Namun aktivitas mereka tiba-tiba saja berhenti kala ponsel Arsyan yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur berbunyi. Satu pesan baru dari Rahayu, sang mama.
Mama:
Besok keluarga Budhe Ratmi datang dari Dubai. Kalian menginap di rumah Mama ya.