07. Part Of her Jobs

1513 Words
Tyo kembali menyeruak di tengah hingar bingar suasana bar yang bising. Dengan alunan musik beat yang menghentak-hentak, lampu sorot berwarna warni serta efek asap yang disemburkan di sekitar panggung dan dancing floor. Membuat temperatur dan keadaan di dalam ruangan itu semakin panas dengan semakin larutnya malam. Mengikuti langkah kakinya yang memburu, Tyo menuju ke arah sofa tempat Renata duduk bersama rombongan rekannya tadi. Dari jarak yang masih cukup jauh, pandangan mata Tyo dapat melihat dua orang pria yang baru saja duduk bergabung ke sofa itu. Sementara Rena dan model cantik lainnya sedang menemani dan asik mengobrol dengan seorang pria lain di sana. Tyo tahu benar bahwa ini hanyalah bagian dari pekerjaan Renata. Dan dirinya yang seorang CEO juga sering melakukan hal yang sama, bersenang-senang dengan para model atau artis cantik. Namun entah mengapa ada rasa tak rela yang merasuk di kalbu Tyo demi melihat Renata melakukan hal seperti itu. Renee, kenapa kamu harus menjadi seorang model? Kenapa pula kamu memilih bekerja seperti ini sih? Kedua mata Tyo semakin melebar saat melihat salah seorang pria yang baru tiba memasukkan sesuatu ke dalam segelas minuman. Tyo yakin sekali bahwa dia adalah pria yang tadi berada di toilet. Pria yang mengatakan akan memberikan obat perangsang, aprodisiak kepada Renata. "Dasar Bajigur tengik!" Umpat Tyo sambil mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat. Sekujur tubuhnya terasa panas karena terbakar oleh api amarah. Dia semakin mempercepat langkah untuk menghampiri sofa set tempat mereka berenam duduk bersama. Saat posisi Tyo sudah cukup dekat, dapat dilihatnya dengan semakin jelas bahwa Renata sedang duduk berdekatan dengan seorang pria berpakaian rapi. Mungkin seorang bos, tuan muda, atau bisnisman yang cukup sukses di sini. Cukup punya uang untuk membooking beberapa model cantik sebagai teman minum-minum. Renata terlihat tersenyum simpul saat menerima segala perlakuan dari pria itu. Si pria hidung loreng yang berani memberikan sentuhan-sentuhan tangan bahkan sampai-sampai membelai wajah, lengan serta kaki bagian atas gadis itu yang mulus. Bagian yang memang sedikit terbuka karena belahan gaun yang dikenakannya cukup tinggi. Raut wajah Renata terlihat tidak menolak namun juga tidak menikmati setiap sentuhan dari pria itu. Mungkin Rena menganggap hal ini hanya murni sebagai bagian pekerjaan' semata. Ingin kubunuh pria itu! Ingin kupotong tangan kotornya yang berani menyentuk tubuh Renee-ku! Otot-otot di kedua sisi rahang bawah Tyo sudah mengeras demi melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Dia bahkan menggelatukkan geliginya keras-keras saking kesalnya. Kemarahan Tyo semakin memuncak saat melihat si Bajigur tengik semakin intens merayu Renata. Dia bahkan mencoba untuk memberikan wine glass yang telah dia beri obat tadi kepada gadis itu. Renata yang tidak tahu apa-apa tentu saja tidak menolak pemberian dari pria yang dia temani. Diambilnya gelas itu, bahkan dia juga sudah mengarahkan bibir gelar ke bibirnya sendiri, bersiap untuk meneguk larutan merah dalamnya. "Renee!" Sapa Tyo dengan intonasi tinggi. Untuk menghentikan Renata meminum isi gelasnya. Tak ingin gadis itu kenapa-napa karena efek dari obat luknut aprodisiak. Ucapan Tyo yang bernada keras dan tiba-tiba dapat sukses menghentikan Rena untuk meminum isi gelasnya. Meskipun mungkin dia sudah mencicipi sedikit larutan itu dalam tegukan kecil. "Who are you? What the hell are you doing here?" Hardik Pria yang tadi memberikan minuman untuk Renata kepada Tyo dengan kata-kata kasar. Merasa sangat marah karena Tyo mengganggu rencananya, membuat Rena mengurungkan niat meneguk isi gelas yang sudah dipegangnya. Dia bahkan malah meletakkan gelas kembali di meja. "Me?" Tyo sedikit kebingungan harus menjawab apa tentang dirinya, seorang turis? Atau warga asing? Lebih bingung lagi kalau harus menjelaskan tentang hubungan dirinya dengan Renata. "I'm her boyfriend." Entah mengapa malah jawaban itu yang meluncur keluar dari mulut Tyo. Jawaban yang sudah jelas sekali kebohongannya. Namun juga sekaligus merupakan cita-cita dan hasrat terpendam Tyo untuk bisa menjadi kekasih dari Renata. "What a silly joke! Hahaha." Pria yang tadi bertanya merespon jawaban Tyo sambil tertawa terbahak-bahak. Beberapa orang lain yang duduk di sofa juga ikut tertawa terbahak bersamanya. Seolah Tyo baru saja mengatakan lelucon paling lucu abad ini. Tak hanya ketiga pria Bajigur sialan itu yang tertawa, kedua model cantik yang duduk bersama mereka juga ikut tertawa geli. Berbeda dengan reaksi para rekannya yang lain, Renata tidak ikut tertawa. Gadis itu malah memberikan tatapan dengan pandangan tak percaya kepada Tyo. Sebagai seorang model profesional, tentu banyak sekali pria yang mengaku-ngaku menjadi pacar Renata. Para pria yang jelas tergila-gila karena pesonanya. "Oh c'mon dude. Wake up from your dream!" Pria lain yang duduk di sofa ikut mengolok Tyo di tengah tawanya. Mengejek bahwa Tyo sedang bermimpi untuk menjadi kekasih Renata. "She is Miss Renata, our top model! She has a lot of boyfriend around the world." Pria terakhir ikut mencemooh Tyo juga. Menjelaskan bahwa Renata adalah seorang top model yang tentu mempunyai banyak sekali pacar di seluruh dunia. "Para pria gila yang hanya bisa memimpikan untuk menjadi pacar Renata!" Dia mengakhiri kalimatnya dengan nada dramatis yang semakin mengundang derai tawa para rekannya. "Renee, aku pengen ngomong sama kamu." Tyo tak menghiraukan celotehan dan cemooh yang ditujukan kepadanya. Dia mencoba meminta ijin untuk bisa berbicara dengan Renata secara sopan. Saat ini hanya ada Renata, dan Renata saja yang ada di dalam pikiran Tyo. Dia ingin mencegah dan menyelamatkan gadis itu dari ancaman minuman para pria Bajigur yang berbahaya. Serta lebih jauh Tyo lagi ingin membawa gadis itu pergi sejauh mungkin dari tempat mereka berada sekarang. "Do you know him?" Salah seorang model cantik teman Rena bertanya kepada Rena. Merasa penasaran dengan Tyo, karena tadi sempat melihat dia yang juga menghampiri Rena di back stage setelah pertunjukan berakhir. "No, I don't know him." Rena kali ini menjawab dengan nada datar tanpa ekspresi. Bahwa dirinya tidak mengenali Tyo. Namun Renata juga memberikan tatapan mata tajam yang langsung terarah kepada pria itu. Tatapan yang seolah mengatakan 'Pergi sana, jangan campuri urusanku!'. Oh shiiit! Umpat Tyo kecewa di dalam hati. Jawaban dari Renata itu seakan bagaikan belati tajam yang mampu menggoreskan luka dalam nan menganga di hati Tyo. Jadi kamu masih menganggap aku orang asing yang tidak kau kenali? Sebegitu tidak berartinya kah aku di depan matamu, Renee? Sekali lagi harga diri Tyo sebagai seorang pria seakan dihempas oleh terpaan ombak sebesar sunami akibat dari ucapan Renata. Sebagai pria dewasa yang sudah sangat berpengalaman dalam pergaulan, Tyo juga tahu benar arti ucapan itu. Jelas sekali bahwa dirinya sudah seharusnya pergi dan menyingkir jauh-jauh dari tempat Renata berada saat ini. Namun lagi-lagi segala kegilaan yang berkecamuk di dalam jiwanya membuat Tyo mampu untuk bertahan. Tetap berdiri di posisinya tanpa sedikitpun mundur atau beranjak pergi. Besarnya perasaan di dadanya kepada Renata seakan bisa mengalahkan segalanya, bahkan juga harga diri dan segala prinsip sebagai gentleman yang dianutnya selama ini. Tyo hanya ingin memastikan bahwa Renata akan baik-baik saja malam ini. Bahwa gadis itu akan bisa selamat dan terhindar dari jebakan para Bajigur tengik yang ingin menjebak dirinya. "It's ok, don't mind him then." Si Pria yang duduk di dekat Renata memutuskan untuk tidak menghiraukan Tyo. Dia mencoba melanjutkan aksinya untuk merayu gadis itu. "Ayo minumlah wine yang sudah aku persiapkan untuk kamu, My lady." "Okey ... " Renata akhirnya mengikuti untuk tidak menghiraukan Tyo. Dia sudah hendak meraih gelas anggur tadi saat sebuah tangan merebutnya dengan kasar. Kedua bola mata Renata melebar saat menyadari bahwa Tyo yang mengambil gelasnya. Tingkah yang terkesan kasar, tidak sopan, dan memalukan. Tak percaya bahwa pria yang terlihat gentleman itu bisa bertingkah kurang ajar dan tidak rasional di hadapan banyak orang begini. Renata merasa semakin kesal karena Tyo sudah merebut minuman yang diberikan oleh tamu spesial untuknya. Lebih jauh lagi, pria itu malah meneguk dan meminum sampai habis isi gelas itu. Tyo sudah tak bisa berpikir lagi saat Renata mengiyakan untuk meminum isi gelasnya. Otaknya tiba-tiba blank untuk mencoba mencari solusi yang tepat dalam keadaan ini. Yang bisa dia lakukan kali ini hanyalah mengikuti insting dari tubuhnya saja. Untuk merebut gelas yang ada di meja, sebelum Rena meminumnya. Lalu dia juga meneguk larutan merah pekat itu guna menjamin Renata tak menyentuhnya lagi. "Damn you madafaka!" Pria yang menawari Rena minuman mengumpat terang-terangan. Marah karena Tyo yang meminum anggur spesial yang telah dia persiapkan untuk Renata. "I'm sorry, I feel so thirsty." Tyo menjawab sambil menyunggingkan senyuman penuh kemenangan. Merasa gembira mendengar umpatan kesal si pria Bajigur tengik. "Security! Call the security guard here!" Pria itu sudah bangkit dari duduknya, berteriak-teriak untuk memanggil satuan pasukan pengaman bar. "Jangan. Maaf Mr. James, aku baru ingat kalau dia adalah temanku dari kampung halaman." Rena ikut berdiri dari sofa, mencoba menenangkan kliennya. Mau tak mau jadi panik juga kalau kliennya itu akan memanggil sekuriti. Meskipun Rena kesal dengan tingkah Tyo yang seenaknya, namun tetap saja dia tak setega itu untuk melihat saudara satu tanah airnya dipenjara di negara asing. "Do you really know him? - Kamu beneran mengenal dia?" James bertanya dengan tidak sabaran, masih berusaha mencari kebenaran ucapan Renata. "Yes, he is my Indonesian friend." Rena menjawab dengan tegas tentang adanya hubungan nasionalisme antara dirinya dengan Tyo. "Jadi akhirnya kamu mengakui aku sebagai teman?" Tyo sengaja bertanya dengan bahasa Indonesia agar hanya dapat dimengerti oleh Rena. Sebagai pembuktian bahwa dirinya adalah teman satu tanah air dengan gadis itu. Merasa bahagia dengan pengakuan Renata kali ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD