Bab. 4. Kabar Baik

1228 Words
Satu bulan yang lalu. "Kinan, besok kamu bisa datang ke Jakarta tidak Nak?” tanya Lusi kepada keponakannya dari sebrang telepon. “Nanti ya Tan, aku bicara dulu sama Ayah juga Ibu, mereka mengijinkan aku berangkat tidak?” jawab Kinan dengan sebuah tanya. “Pasti boleh dong, ini tentang pekerjaan dan masa depan kamu loh Nan! Masa iya nggak diizinin?” “Nanti kalau sudah ada kepastian malamnya aku chat Tante deh!” “Oke. Tante tunggu ya! Sayang benget kalau lowongan kerja itu nggak kamu ambil, sedangkan mereka lagi butuh banget karyawan. Om kamu yang akan bawa kamu masuk sana Nak!” “Iya Tan. Kinan usahakan besok berangkat, semoga Ayah dan Ibu memberi ijin.” “Baiklah, kalau begitu telepon Tante akhiri, jangan lupa nanti malam keputusannya kamu kasih tahu Tante! Biar Om kamu bisa ngomong sama atasannya kalau kamu bersedia kerja di sana!” “Iya Tan. Makasih ya!” Telepon dari Lusi akhirnya berakhir. Kinan merasa senang dan sedih secara bersamaan. Gadis cantik dengan tubuh langsing itu bingung saat dirinya akan berangkat ke Jakarta. Pekerjaan yang dia inginkan sudah di depan mata, membuat dirinya merasa bahagia, karena sebentar lagi, dia bisa meringankan beban keluarga. Kinanti meletakkan handphonenya, di atas meja kamarnya, lalu dia keluar untuk membereskan rumah yang tadi sempat terjeda. Kinanti hanya berasal dari keluarga sederhana. Jauh dari kata kemewahan. Ayah dan Ibunya hanya mengurus sawah dan ladang milik orang. Jika hasil panennya melimpah, orang tua Kinanti mendapatkan hasil dari panennya. Kinanti anak sulung dari dua bersaudara. Dia sering di panggil dengan sebutan Kinan. Adiknya masih kelas 2 SMP bernama Shifa. Kinanti hanya lulusan SMA, yang akan mengadu nasib di Ibu kota jika, dia mendapatkan izin dari orang tua. “Aku harus secepatnya menyelesaikan pekerjaan rumah ini. Agar aku bisa membuat surat lamaran, dan menyiapkan persyaratannya. Nanti saat Ayah dan Ibu pulang, aku akan meminta izin. Semoga semuanya di mudahkan,” gumam Kinanti lirih. Dari membersihkan rumah dan halaman, hingga mencuci baju, Kinanti sudah bereskan semuanya. Keringat terlihat membanjiri keningnya dan rambut panjangnya. “Alhamdulillah akhirnya tugas rumah selesai,” ucap Kinan sambil tersenyum senang. Kinanti menutup semua pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin menghilangkan keringat yang menetes dengan menyiapkan persyaratan lamaran kerja. Baru dia akan mandi dan membuat surat lamaran. “Setidaknya aku berusaha, perihal akan di beri izin atau tidak itu urusan nanti. Tapi aku berharap aku mendapatkan izin, biar aku bisa membiayai sekolah adikku, dan meringankan beban kedua orang tuaku!” Setelah semua persyaratan siap, Kinanti keluar kamar menuju kamar mandi yang bersebalahan dengan dapur. Selang sepuluh menit, Kinan keluar dari kamar mandi sudah berganti pakaian, tinggal menyisir rambutnya. Rumah sederhana itu nampak sepi saat pagi hingga siang hari. Kedua orang tuanya yang sedang di sawah, dan adiknya pergi ke sekolah. Membuat gadis cantik itu hanya sendirian di rumah. Rambut panjang sepunggung itu ia biarkan tergerai, Kinan mengambil selembar kertas dan alat tulis. Tangannya mulai menari di atas kertas untuk membuat surat lamaran. Hanya sebentar sekitar 5 menit, Kinan sudah selesai dengan surat lamarannya. “Selesai! Semoga lancar aku bisa mendapatkan ijin berangkat besok siang,” ucap Kinan sambil tersenyum bahagia, sambil melipat kertas yang ia pegang. Siang menjelang, kedua orang tua Kinanti pulang dari sawah, Kinan menyiapkan makan siang, yang tadi sudah semoga ia masak Hanya menu seadaanya, tidak ada makanan mewah terhidang di meja makan yang telah usang itu. Kinanti masak sayur asem, tempe goreng dan ikan asin adalah menu siang itu. Sebagai pelengkap Kinan membuat sambal dadakan. Setelah selesai Kinan memanggil kedua orang tuanya, yang masih duduk mendinginkan badan dari keringat yang mengucur. “Ayah, Ibu, makan siang sudah siap, mau makan nanti apa sekarang?” tanya Kinanti. “Nanti saja Nak. Ayah mau mandi dulu biar seger dan nggak bau matahari,” jawab Irfan ayah Kinan. “Baik, Yah!” Kinan beranjak dari teras menuju ruang tamu. Dia menonton tv sambil menunggu kedua orang tuanya selesai membersihkan diri. Cuaca yang terik membuat siang itu terasa sangat panas. Tidak ada hawa semilir angin membuat semakin gerah. “Kenapa Chanel tv ini tidak ada yang bagus. Hampir semua menayangkan siaran berita.” Kinanti menggerutu karena siaran tv tidak sesuai harapannya. Membuat Kinan semakin jenuh karena tidak ada hal yang membuatnya terhibur karena sendirian. Setelah tiga puluh menit menunggu, Kinan akhirnya dikagetkan dengan kedatangan sang ibu. “Eh, Ibu,” sapa Kinan setengah tersentak karena tiba-tiba ada seseorang yang duduk di depannya. “Ayo makan Nak. Kamu sudah masak, masa nggak ikut makan?” tanya Nita ibunya Kinan. “Kinan belum lama makan Bu, tadi lupa nggak sarapan,” jawab Kinanti. “Benarkah? Apa yang kamu lakukan kok bisa lupa sarapan?” “Itu Bu, tadi aku beres-beres rumah sampai ke halaman. Setelah itu aku beresin kamar,” jawab Kinan sambil nyengir. Kinan terpaksa harus berbohong dulu. Dia tidak ingin ibunya tidak selera makan karena dia meminta izin ke Jakarta. Nanti setelah kedua orang tuanya selesai makan, dia akan membicarakan semua ini, secepatnya. Karena hanya sampai nanti malam dirinya harus memberikan keputusan kepada Tantenya. Bu Nita akhirnya meninggalkan putrinya yang berada di ruang tamu, langkahnya menuju ruang makan. Di sana suaminya sudah menunggu. “Loh, Bu, mana si Kinan? Kok nggak ikut makan siang?” tanya Pak Irfan saat istrinya sudah duduk di kursi depannya. “Kinan baru saja selesai makan Pak. Tadi dia lupa nggak sarapan karena bersihin rumah,” jawab Bu Nita sambil mengambilkan nasi dan sayur untuk suaminya. “Ya sudah kalau begitu. Kita makan siang berdua saja!” “Iya Pak!” Makan siang hanya suara denting sendok yang menemani keduanya. Karena tidak ada obrolan yang menjeda makan siang keduanya. Setelah selesai, Pak Irfan menuju ruang tamu di mana Kinan berada. Di rumah sederhana itu, tidak ada ruang tv atau ruang keluarga, hanya ada ruang tamu, tiga kamar, satu dapur dan satu kamar mandi. Rumah sederhana yang mempunyai banyak cinta. “Kamu nonton apa Nak?” tanya Pak Irfan saat sudah sampai di ruang tamu. Kinan menoleh lalu memberi senyum kepada ayahnya. “Nggak ada yang menarik sih Yah, paling juga berita.” “Iya jam segini memang biasanya siaran berita.” “Ibu mana Yah?” tanya Kinan sambil menengok ke arah dapur. “Masih beresin bekas makan. Sebentar lagi juga ke sini,” jawab Pak Irfan. Setelah beberapa saat kemudian, Bu Nita datang sambil membawa segelas kopi untuk suaminya. “Ini kopinya Pak, silakan di minum!” “Iya Bu, taruh di meja saja!” “Bu, duduknya sebelahan sama aku ya, sini!” titah Kinanti sambil menepuk karpet sebelahnya. “Tumben ini putri ibu? Ada maunya ya?” tanya Bu Nita sambil senyum menggoda. “Ih, Ibu, ada hal yang harus aku bicarakan sama Ibu juga Ayah!” “Apa itu?” tanya Pak Irfan penasaran. Kinan bingung harus mulai dari mana membahas soal Tantenya yang menelepon. Hingga dia berkata dengan tergagap. Membuat kedua orang tuanya semakin penasaran. “Mmm, i-itu Yah, anu, Tante Lusi tadi pagi menelfon.” “Lalu? Jangan buat kamu semakin penasaran dong Nak!” Bu Nita mulai tak sabar menunggu putrinya mau bicara apa. “Ada lowongan pekerjaan Yah, Bu! Kalau kalian mengizinkan besok aku di suruh berangkat ke Jakarta,” jawab Kinanti sambil menunduk. Kinan sudah bersiap jika dirinya tidak mendapatkan ijin dari ke dua orang tuanya. Sedangkan di luar, ada seseorang yang mendengar semua ucapan Kinanti dengan gamblang. Membuat perempuan itu mulai berkaca-kaca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD