Bab. 3. Sebuah Rencana

1162 Words
Kinanti bersandar pada pilar besar di depan kamar Alvaro, gadis itu membungkam mulutnya meredam tangisnya. Ingin mencoba kuat menjalani hari ini, ternyata sangat sulit. Kinan menghapus kasar pipinya yang basah, ia segera menemui atasannya untuk meminta maaf karena sedikit terlambat. Kinan masuk ke dalam lift menuju lantai lima. Hanya hitungan menit, ia sampai di depan ruangan atasannya. Kinan menghembuskan nafas panjang untuk menetralkan rasa gugupnya. Setelah merasa baikan, gadis itu mengetuk pintu. Tok Tok Tok "Masuk!" titah Bu Tari dari dalam ruangan. Pintu ruangan terbuka, Kinan melangkah masuk dengan pandangan tertunduk. "Maaf Bu, kalau kedatangan saya mengganggu," ucap Kinan seraya tertunduk. "Masuklah Kinan! Ada apa?" Gadis yang berwajah pucat itu tersenyum tipis lalu melangkah masuk mendekat ke arah wanita modis yang duduk di meja kerjanya. "Begini Bu, saya hanya mau minta maaf karena saya datang sedikit terlambat. Jangan pecat saya!" Bu Tari tertawa pelan, ia menelisik wajah gadis di depannya yang pucat. "Kamu sakit Nan?" Kinan menggeleng, "Hanya sedikit pusing Bu! Tapi saya akan berkerja. Akan saya pastikan kalau saya baik-baik saja!" "Bukan begitu Kinan, kalau kamu sakit, kamu bisa kembali ke mes untuk istirahat!" Kinan tersenyum, karena sejak pertama wawancara kerja, atasannya ini sangat baik juga ramah. "Terima kasih Bu! Nanti kalau saya tidak kuat, saya akan izin," ucap Kinan sopan. "Baiklah. Kembalilah berkerja!" titah Bu Tari. "Baik Bu, saya permisi!" Kinan mundur dua langkah, sebelum akhirnya ia membalikkan badan melangkah menuju pintu. Setelah keluar dari ruangan Bu Irma, Kinan merasa lega. "Aku mau buat teh manis dulu deh, siapa tahu rasa pegal dan pusingku berkurang," monolog Kinan sambil berlalu menuju pantry. Sampai di pantry Kinan bergegas membuat teh hangat. Sarapan sudah ia lewatkan. Jangan sampai dia sakit lalu, merepotkan orang. Sebenarnya Kinan hanya mencoba menghibur dirinya sendiri. Hanya butuh waktu sepuluh menit, Kinan kembali mengambil semua peralatannya untuk membersihkan lantai 20. Sebenarnya ia ingin menghilang saja dari hotel ini. Hotel mewah yang menjadi impian banyak orang untuk bisa berkerja di sini. Namun setelah apa yang terjadi malam tadi, Kinanti merasa ingin melenyapkan diri dari muka bumi. Sekilas bayangan wajah kedua orang tua dan adiknya menari indah di pelupuk mata, membuat Kinanti beristighfar menyadarkan diri jika semua salah, dan ia harus berubah. Kinanti tak menghiraukan keadaannya untuk sekarang, yang Kinan lakukan asal ia tidak selalu ingat kejadian mengerikan semalam. Keringat membasahi keningnya. Wajahnya kian pucat. Untungnya tidak ada yang menyadari tentang kemeja yang ia pakai. Setelah bagian luar selesai, Kiananti mulai masuk ke ruang kerja Alvaro. Tok Tok Tok Kinan seperti biasa mengetuk pintu sebelum ia masuk. Namun beberapa detik menunggu jawaban, ia tak mendengar ada suara seperti biasanya. Kinanti mencoba menekan handel pintu ruang kerja Alvaro. Gadis itu mulai membuka pintu dengan pelan, kemudian masuk ke dalam. "Hufff ...!" Hembusan nafas panjang tanda ia lega karena bosnya tidak ada di ruangannya. Kinan bergegas, membereskan semua ruangan itu tanpa ada yang terlewatkan. Mengepel lantai adalah hal terakhir yang ia lakukan. Setelah semua beres, Kinan melihat jam yang berada di dinding ruang itu. "Sudah saatnya aku istirahat. Aku harus ke kantin duku untuk makan." Kinanti membawa peralatannya keluar dari ruang kerja Alvaro. Dia bergegas pergi dari lantai 20, dengan langkah lebar menuju lift. 'Kalau aku berhenti bekerja dari sini, bagaimana keluargaku yang di desa? Adikku juga membutuhkan banyak biaya untuk lulus sekolah. Biarkan seperti ini sampai nanti sore aku berbicara dengan lelaki sialan itu,' ucap Kinanti dalam hati. * Di kantin, Kinanti mengantri untuk mengambil makan siangnya. Dia juga sedang mencari tempat duduk. Matanya masih terus bergerak mencari temannya agar ia tidak makan sendirian di kantin. Irma melambaikan tangan ke arah Kinan yang membawa makanannya. "Kinan sini!" seru Irma dengan senyum mengembang. Kinanti berjalan pelan menuju meja yang diduduki Irma. "Untung ada kamu. Jadi, aku enggak makan sendirian," ucap Kinan mendudukkan bobotnya. "Cepet makan! Setelah ini masih banyak perkejaan yang harus kita selesaikan!" titah Irma menatap temannya dengan senyuman. Kinanti mengangguk lalu menyiapkan sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulutnya. Keduanya mengobrol seputar pekerjaan dan beberapa drama Korea yang sering mereka tonton. Jam makan siang selesai, Kinan kembali bekerja. Tujuannya kali ini adalah kamar pribadi milik Alvaro. Jantung Kinanti berdetak kencang. Seiring langkah kakinya yang mengayun pelan menuju lantai dua puluh. "Bagaimana ini Tuhan? Haruskah aku kembali ke dalam kamar terkutuk itu?" tanya Kinanti di sela langkahnya yang pelan. Saat tangannya akan memegang handel pintu, suara serak dan tegas menggema di pendengarannya. "Kiananti ...!" Kinanti tidak menoleh, mendengar suara itu seketika tubunya menggigil ketakutan. Karena tidak mendapat jawaban dari Gadis di depannya, Alvaro mencoba menyapaikan kemauannya dengan suara pelan. "Masuk ke ruangan kerjaku sekarang! Aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk bicara!" Kinanti akhirnya menoleh, dia menghebuskan nafas pelan, sebelum merubah langkahnya menuju ruang kerja Alvaro. "Duduklah!" titah Alvaro kepada Kinanti yang hanya berdiri menundukkan wajahnya. Gadis itu berjalan ke arah kursi, lalu duduk tanpa mau menatap lawan bicaranya. Sedangkan Alvaro masih diam menatap serius ke arah wanita yang masih mengunakan baju yang sama saat pagi tadi. Kemudian, pandangan Alvaro menelisik wajah Kinanti yang masih terlihat pucat. "Tetaplah bekerja sebelum aku mengambil keputusan," ucap Alvaro dingin. "Jangan pecat aku! Aku butuh perkerjaan ini untuk bertahan hidup," ucap Kinanti sambil meneteskan air mata. "Aku akan bertanya beberapa hal, apa yang kau inginkan kepadaku setelah kejadian ini?" Kinanti menaikkan pandangannya, menatap nyalang dengan air mata berderai membasahi pipi. "Jangan takut apa pun Tuan! Aku bukan wanita picik, aku tidak akan mengunakan kesempatan untuk memeras Anda," jawab Kinanti. Alvaro mengusap kasar wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Kemudian, tangganya bergerak menarik laci di sisi kanannya. Sebuah kertas disodorkan kepada Kiananti. "Aku akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi, asal kau mau menandatangani syarat yang akan aku berikan!" Alfaro berbicara dengan menatap gadis yang masih terisak di depannya dengan tatapan dingin. Degh! Jantung Kinanti terasa di remas kencang, saat mendengar pernyataan dari Alvaro. Air mata tak henti menetes seolah mewakili semua yang ia rasakan saat ini. Gadis cantik itu meraih kertas yang disodorkan oleh lelaki tampan itu dengan bergetar. Kinanti membaca semua yang tertulis rapi di sana. Secara garis besar surat itu hanya menjelaskan poin yang boleh dilakukan maupun tidak oleh Kinan. "Aku akan menikahimu secara sah, sampai batas waktu yang sudah tertulis di kertas itu! Kau akan aman dari segala gunjingan orang, jika kamu mengandung. Kau bahkan tidak perlu bekerja lagi karena aku akan memberikanmu nafkah sesuai nominal yang sudah tertulis di situ," jelas Alvaro menatap Kinanti penuh harap. Alvaro bukanlah orang yang jahat, membiarkan gadis yang sudah ia renggut kesuciannya karena kesalahannya. Ia tidak akan setega itu. Akhirnya ia membuat surat perjanjian itu sendiri tanpa bantuan pengacara atau sahabatnya. Karena Alvaro tidak ingin semua orang tahu mengenai masalah besar yang ia buat. Dalam surat itu, perjanjian hanya akan berlangsung selama dua tahun. Bagaimanapun akhirnya kelak, Alvaro tetap akan mengakhirinya. Meski Kinanti akan hamil atau pun tidak. Setelah lama terdiam menunggu jawaban dari Kinan, yang tak kunjung bicara, Alvaro mulai menanyakan jawaban itu. "Bagaimana? Apa kau setuju dengan semua poin itu? Aku rasa kamu tidak rugi dengan semua yang aku tulis di kertas itu?" tanya Alvaro.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD