Seorang wanita muda berwajah oriental berjalan ragu memasuki kantor Grass property. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kaca bertuliskan Grass Property. Dia menghela napas. Menelan salivanya dengan susah payah. Kepalanya bergerak menoleh ke arah kanan. Tepat pada seorang pria yang sedang berdiri tak jauh darinya. Menutup wajah tampannya dengan kacamata hitam dan juga topi di kepalanya. Pria itu mengacungkan jempol ke arahnya. Seolah meyakinkan si wanita bahwa semua akan berjalan sesuai rencana. Sesuai rencana ? Bahkan menjadi pemisah hubungan orang lain sama sekali tak pernah ada di rencana hidupnya. Ya. Tapi ini harus dia lakukan. Harus. Harus. Pria itu harus melakukan apa yang seharusnya. Yang seharusnya ada di rencananya. Dengan pasti tangan kurus wanita itu mendorong pintu ka

