Bab 1: Hujan dan Kenangan Lama
Hujan sore itu turun pelan, membasahi jalanan kota yang sibuk. Cinta menunduk, payung tipis di tangannya melindungi dirinya dari derasnya hujan, tapi tak mampu menyembunyikan pikirannya yang kusut. Hari ini, segalanya terasa berbeda—hatinya yang biasanya tenang kini diliputi kerinduan yang tak bisa ia ungkapkan.
Di seberang jalan, seorang pria berdiri di bawah naungan gedung, menatapnya dengan pandangan yang membuat jantung Cinta berdetak lebih cepat. Gavin. Nama itu masih mampu membuat hatinya hangat sekaligus perih. Bertahun-tahun berlalu, namun ada sesuatu di matanya yang tetap sama—ketulusan, kekuatan, dan rahasia yang belum pernah terucap.
Cinta menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, pertemuan ini bukan kebetulan. Ada sesuatu yang harus mereka hadapi—luka masa lalu, janji yang belum terselesaikan, dan perasaan yang belum pernah benar-benar pudar.
“Cinta…” suara itu terdengar lembut, namun menembus langsung ke hatinya.
Ia menatap Gavin, menahan campuran emosi yang mengalir: rindu, marah, dan harapan.
“Gavin… sudah lama,” bisik Cinta, suaranya nyaris tenggelam oleh hujan.
Gavin melangkah mendekat, setetes air hujan menetes di ujung rambutnya. “Ya… terlalu lama. Aku… aku menyesal.”
Cinta menelan ludah, hatinya bergejolak. Kata-kata itu mengingatkannya pada masa lalu yang manis sekaligus pahit.
Mereka berdua berdiri di tengah kota yang basah, diam sejenak, membiarkan hujan menenangkan amarah dan kerinduan yang menumpuk selama bertahun-tahun.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu begitu saja,” kata Cinta, suaranya tegas tapi gemetar.
Gavin tersenyum tipis, menunduk. “Aku tidak meminta itu. Aku hanya ingin… memulai lagi, dari awal.”
Dan di tengah hujan yang tak kunjung reda, sesuatu di hati Cinta perlahan mulai melebur—antara luka, rindu, dan harapan baru. Mungkin… ini adalah awal dari sesuatu yang tak bisa ia lari darinya.