bc

Cowok Ransel dan Cewek Koper

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
family
HE
time-travel
love after marriage
fated
second chance
kickass heroine
decisive
drama
bxg
campus
childhood crush
photographer
like
intro-logo
Blurb

Kirana selalu percaya kopor birunya bisa membawanya ke mana pun, asal jauh dari luka. Bara percaya ransel lusuhnya adalah satu-satunya rumah yang tak pernah mengkhianatinya.

Dikhianati oleh orang yang paling mereka percaya pacar sekaligus sahabat sendiri keduanya memutuskan hal yang sama: pergi. Jauh. Ke ujung dunia kalau perlu.

Tanpa saling kenal, mereka menyusuri kota-kota yang konon bisa mempertemukan cinta sejati dari gembok cinta di Paris, batu jodoh di Kyoto, hingga legenda kuno di Verona. Mereka bertukar cerita lewat akun anonim tanpa tahu siapa di baliknya, nyaris berpapasan berkali-kali, dan justru makin dekat lewat kata-kata yang mereka kira hanya didengar orang asing.

Sampai akhirnya, di tanah suci, di padang yang mempertemukan Adam dan Hawa, dua pengembara yang patah hati itu berdiri berhadapan.

Jabal Rahmah. Saksi bahwa cinta yang tersesat pun, cepat atau lambat, akan pulang.

chap-preview
Free preview
BAB 1 Pulang Lebih Awal
Bandara Husein Sastranegara masih ramai jam sembilan malam itu, tapi Kirana tidak peduli. Ia menyeret koper birunya melewati kerumunan dengan langkah cepat, senyum yang sudah ia siapkan sejak di pesawat masih tersimpan rapi di wajahnya. Liputan resor di Bali selesai dua hari lebih awal dari jadwal klien puas, fotonya bagus, dan yang terpenting, ia bisa mengejutkan Reza malam ini, tepat di hari jadi mereka yang keempat. Di dalam tasnya, ada sebuah kotak kecil berisi jam tangan yang sudah ia incar sejak bulan lalu. Ia membayangkan wajah Reza saat membuka pintu dan mendapati Kirana berdiri di depannya, bukan besok siang seperti rencana awal, tapi malam ini, dengan kue kecil yang ia beli di jalan dan lilin angka empat yang sedikit meleleh karena kepanasan di dalam tas. Taksi online yang ia pesan sampai lebih cepat dari perkiraan. Kirana membayar tanpa menghitung kembalian, menyeret kopernya menaiki tangga apartemen Reza ia sudah hafal setiap anak tangga itu, hafal bau cat tembok yang belum sepenuhnya hilang meski gedung ini sudah berdiri dua tahun, hafal derit pintu lift lantai tiga yang selalu terlambat setengah detik sebelum benar-benar terbuka. Kunci cadangan itu masuk ke lubangnya dengan mulus, seperti biasa. Kirana bahkan sempat berpikir untuk mengetuk dulu, memberi sedikit kejutan lewat suara, tapi ia mengurungkan niat. Biar benar-benar mengejutkan, pikirnya. Ia memutar kunci pelan-pelan, menahan tawa kecil yang sudah menggelitik di tenggorokannya. Pintu terbuka tanpa suara berarti. Lampu ruang tengah menyala redup cahaya lilin, bukan lampu utama. Musik pelan mengalun dari speaker kecil di sudut ruangan, lagu yang sama yang pernah diputar Reza saat pertama kali menyatakan perasaannya pada Kirana di kafe dekat Gedung Sate, dua tahun lalu. Untuk sepersekian detik, hati Kirana melompat penuh haru. Dia menyiapkan sesuatu juga rupanya. Kita jodoh, pikir yang sama di hari yang sama. Lalu ia melihat dua gelas jus jeruk di meja. Dua. Dan di sofa panjang tempat biasa mereka menonton film setiap Jumat malam, Reza sedang menciumi leher seseorang yang punggungnya menghadap ke pintu rambut panjang bergelombang yang sangat, sangat familiar. Rambut yang biasa ia kepang bersama-sama sebelum tidur setiap kali menginap di rumah masing-masing. Rambut yang pernah ia puji minyaknya wangi apa, karena Kirana ingin membeli yang sama. Naya. Kotak jam tangan di tangan Kirana terasa tiba-tiba seberat batu. "Kirana?" Reza yang pertama sadar, melompat berdiri, wajahnya pucat seketika seperti melihat hantu. Naya menoleh setengah detik kemudian, dan Kirana melihat matanya mata sahabatnya sendiri, yang sudah menemaninya sejak SMP, yang tahu semua rahasia terdalamnya, yang pernah memeluknya saat ayahnya meninggal melebar dalam kepanikan yang sama sekali tidak menyembunyikan rasa bersalah. "Ini... ini nggak seperti yang kamu pikir," Reza berkata, suaranya bergetar, tangannya terangkat seolah mau meraih Kirana yang masih berdiri kaku di ambang pintu dengan koper biru di satu tangan dan kotak jam tangan di tangan lainnya. Kirana ingin tertawa. Kalimat itu ini nggak seperti yang kamu pikir terdengar begitu murahan, begitu klise, sampai rasanya lucu kalau saja dadanya tidak terasa seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. "Terus ini apa, Za?" suaranya keluar lebih tenang dari yang ia duga. "Kalian lagi latihan drama?" Naya buru-buru menyambar selimut kecil di sofa, membungkus dirinya, air mata sudah menetes di pipinya. "Kiran, aku bisa jelasin" "Jangan." Kirana mengangkat tangan yang memegang kotak jam tangan, lalu menurunkannya lagi, seolah baru sadar benda itu masih ada di genggamannya. Ia meletakkannya pelan-pelan di meja dekat pintu, di sebelah sepatu Reza yang selalu berantakan kalau dilepas terburu-buru. "Aku nggak butuh penjelasan. Aku cuma... butuh tahu udah berapa lama." Hening. Musik masih mengalun pelan, lagu yang tadi terasa romantis kini terdengar seperti ejekan. "Delapan bulan," jawab Naya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar, seperti berharap kalimat itu tenggelam sebelum sampai ke telinga Kirana. Delapan bulan. Kirana menghitung mundur dalam kepala delapan bulan lalu ia sedang di Lombok, meliput pantai untuk sebuah brand skincare, dan Naya adalah orang pertama yang ia telepon setiap malam untuk cerita betapa indahnya sunset di sana. Delapan bulan lalu, Reza mengirimnya pesan "hati-hati di jalan ya sayang, aku kangen" yang ia baca berulang-ulang di kamar hotel karena kangen juga. Delapan bulan penuh kebohongan, dan ia baru menyadarinya malam ini, dengan koper masih di tangan dan kue ulang tahun yang mulai lembek di dalam tas. Kirana menunduk sebentar, menatap koper birunya sendiri koper yang selalu ia bawa ke mana-mana, koper peninggalan ayahnya, yang selalu ia percaya sebagai satu-satunya benda yang tidak pernah mengkhianatinya. Aneh rasanya, di tengah keruntuhan seperti ini, justru benda itu yang membuatnya merasa masih punya pijakan. "Kirana, tolong, dengerin aku dulu—" Reza melangkah mendekat, tapi Kirana sudah membalikkan badan, menarik gagang kopernya, dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Ia menuruni tangga yang sama yang baru saja ia naiki dengan penuh harap sepuluh menit lalu, melewati lift lantai tiga yang derit pintunya kini terdengar seperti tawa mengejek. Di lobi, ia berhenti sejenak, menyandarkan diri ke dinding, dan untuk pertama kalinya malam itu, air matanya jatuh bukan karena Reza, ia sadar, tapi karena Naya. Karena kehilangan seorang kekasih masih bisa ia terima sebagai risiko cinta. Tapi kehilangan sahabat yang tahu semua rahasianya, yang justru menjadi pisau yang menikam dari arah yang paling ia percaya itu luka yang lain jenisnya. Ponselnya bergetar di saku jaket. Ia mengeluarkannya dengan tangan gemetar, berharap itu ibunya, atau siapa saja yang bisa membuatnya merasa tidak sendirian malam ini. Bukan. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal, dikirim dua menit lalu: "Kirana, ini Naya. Please jangan pergi dulu. Ada yang lebih penting dari ini yang harus kamu tahu soal Reza, dan soal kenapa semua ini terjadi. Ini bukan cuma tentang aku sama dia." Kirana menatap layar ponselnya lama sekali, jantungnya berdebar dengan alasan yang sama sekali berbeda dari sepuluh menit lalu. Ada yang lebih penting dari ini? Apa lagi yang belum ia ketahui?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
833.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
385.8K
bc

Not just, the Beta

read
362.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook