9. Pandangan Ketiga

1162 Words
Maira terlihat sedang mengisi obrolan bermanfaat dengan beberapa anak SMP dan SMA yang ada di panti itu. Dia menjelaskan tentang pelajaran apa pun yang dia tahu, seperti ilmu agama, tajwid, dan cara membaca huruf Al-Qur'an yang baik dan benar, juga pengetahuan tentang wanita menurut Al-Qur'an. Maira senang bisa memberikan ilmu yang dahulu dia dalami kepada anak-anak di sana. Sehingga tidak akan sia-sia seluruh ilmunya. Umi yang melihat pemandangan indah itu mengulum senyumnya. Semenjak keberadaan Maira di sini, tugas-tugasnya dalam menjaga dan membimbing anak-anak sedikit berkurang. Maira memang gadis yang baik dan dapat diandalkan, dia cukup memberi manfaat untuk orang-orang di sekitarnya. Tidak lupa, dia pun tampak ikhlas dan senang dalam melakukannya. "Terima kasih ya, Kak, aku senang banget bisa sharing dengan Kakak. Di sekolahku banyak banget soalnya yang pacaran, hehe." Seorang gadis cantik dengan gigi kelinci mengungkap isi hatinya. Dari tadi dia yang sangat aktif bertanya tentang urusan remaja. "Iya, Cia, sama-sama. Kakak juga senang kok bisa sharing sama kalian," jawab Maira dengan senyum teduhnya. Umi menghampiri gadis itu, dia ingin meminta tolong Maira untuk menjemput Ika dan kawan-kawannya. Biasanya anak-anak itu memang tidak dijemput, dan mereka keseringan mencari kesempatan untuk bermain jauh-jauh. Umi tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka. "Maira," panggil umi. "Iya, Mi?" Gadis itu segera menoleh pada umi. Dia bangkit dari duduknya. "Apa kalian masih sibuk?" tanya umi. "Nggak, kok, Mi. Sudah selesai," jawab Cia. Mereka libur sekolah hari ini sebab kelasnya kebanjiran. Tadi malam hujan turun deras sekali dengan frekuensi cukup tinggi selama dua jam. Umi tersenyum pada mereka. "Maira mau gak kalau Umi suruh jemput Ika dan yang lain. Mereka pasti sedang bermain kalau jam segini belum sampai rumah," ucap umi. "Mau, kok, Mi. Maira siap-siap dulu," ucap gadis itu. Dia sudah hendak melangkah. Maira tidak keberatan dalam membantu umi, bagaimanapun juga itulah yang harus dia lakukan. Dia sudah cukup beruntung sebab diberikan tempat di sini, dan tentunya dia tidak akan membuat orang-orang di dalamnya kecewa. Gadis itu sudah berada di depan bangunan SD tak jauh dari panti. Maira berjalan kaki ke sana, dan perjalanannya hanya memakan waktu kurang lebih sepuluh menit. Dia melihat banyak anak-anak yang lalu lalang, membuatnya sedikit kesulitan mencari Ika dan yang lain. Setelah menengok ke sana dan ke mari, akhirnya Maira menemukan satu di antara mereka. "Lian," panggil Maira. Bocah laki-laki itu menoleh ke arahnya, tapi tidak segera bangun dari duduknya. Lian terlihat sedang menyendiri di bawah pohon di halaman sekolah itu. Maira menghampirinya. "Lian kok sendirian? Teman-teman yang lain ke mana?" tanya Maira hati-hati setelah berjongkok di depan bocah itu. Lian mengangkat bahunya, tidak mau tahu. Dia tampak seperti biasanya, murung dan menyendiri. Maira masih tidak tahu apa penyebab bocah ini tidak bersemangat. Yang Maira tahu, Lian sebenarnya masih memiliki ibu dan ayah. Namun, entah apa yang membuatnya harus berakhir di panti. Umi memang sempat menceritakan riwayat hidup anak-anak itu pada Maira, tapi tidak semuanya. Maira meraih kedua bahu mungil bocah lelaki itu. "Lian pulang sama Kakak Maira, yuk," ajak Maira dengan nada bersahabat. Bocah itu bangkit dari duduknya, dia menerima uluran tangan Maira. Segera Maira menuntun Lian sambil mencari Ika dan yang lainnya. Dia yakin mereka semua masih ada di sekitar sini. Dan benar saja, Maira melihat mereka sedang memanjat pohon seri di samping halaman sekolah. Anak-anak itu terlihat tertawa gembira, sangat berbeda dengan Lian. Mili melempar sepatu pada Ika dan Alka yang sedang berada di atas pohon, dia menjahili dua pejuang yang memanjat pohon mencari buah. Sedangkan Tiya dan Dewi terlihat sedang menikmati tangkapan buah mereka. "Mili! Jangan lempar-lempar sepatu aku!" protes Alka sebab Mili melempar sepatu miliknya. Maira menghampiri anak-anak itu. "Subhanallah, Ika...! Alka...!" pekik Maira tertahan. "Ayo turun, itu dalamannya kelihatan, loh. Anak perempuan tidak boleh manjat-manjat," omel Maira dengan suara kecilnya. Mili yang barusan melempar sepatu pada mereka tertawa menutup mulut, sedangkan Tiya dan Dewi terlihat mengejek dua anak itu. Alka yang mendengar suara Maira pun segera turun lebih dulu. Ika masih berada di atas pohon, bocah perempuan itu memanjat di tempat yang paling tinggi. Maira menggelengkan kepalanya. "Tuh, kan, Ika, sih, udah dibilangin jangan manjat-manjat," ucap Tiya ikut mengomeli. Beberapa detik kemudian, akhirnya Ika mendaratkan kaki di tanah. Dia tampak manyun. "Kalian ini, bikin Kakak geregetan," ucap Maira sambil mencubit pipi Ika gemas. Dia menyadari perasaan Ika yang menyesal, tampak jelas dari raut manyunnya. "Ika cuma pendek manjatnya." "Pendek dari mana? Ika lebih tinggi dari aku," ucap Alka. "Sudah, sudah. Besok-besok tidak boleh manjat-manjat, oke," pinta Maira. Anak-anak itu mengangguk. Maira segera mengajak mereka pulang. Di perjalanan pulang, Maira melangkah dengan posisi diapit oleh anak-anak itu, sesekali mereka bercerita. Lian tetap berada di genggaman Maira, dia tidak akan membiarkan anak itu terdiam sendirian. Lalu, sebuah mobil tampak melambat di samping mereka. "Kak Maira!" panggil seorang anak setelah membuka jendelanya dengan sangat antusias. Maira dan anak-anak yang berjalan bersamanya menoleh. "Eh, Aisyaa," kata Maira. "Papa! Aisya mau sama Kak Maira," pinta Aisya, membuat mobil yang dikendarai Wiliam berhenti. Gadis kecil itu segera membuka pintu mobilnya dan turun. "Aisyaa," panggil Wiliam sebab putrinya itu bergerak sangat terburu-buru. Wiliam menarik rem tangannya. Dia membuka pintu mobil dan segera turun menyusul Aisya. Putri kecilnya itu tampak berlari ke arah Maira. Maira yang melihat sinyal jika Aisya hendak memeluknya segera membuka tangan. Dia tidak menyangka kalau gadis kecil itu merindukannya. Aisya terlihat sangat senang bertemu dengan Maira, dan Wiliam baru menyadarinya. Pria itu berdiri tak jauh dari mereka, dia seperti melihat pemandangan yang luar biasa. Peri kecilnya terlihat begitu bahagia bersama Maira dan anak-anak itu. Wiliam berjalan menghampiri mereka. "Aisya," panggilnya. "Kak Maira ikut sama Aisya, yuk. Aisya sama papa juga mau ke panti," ajak Aisya. Maira tertegun. Tentu saja tidak bisa, dia sedang bersama anak-anak yang lainnya. "Gak bisa gitu dong. Kak Maira, kan, lagi sama kita," ucap Mili terdengar protes. "Iya, nih," timpal Dewi. "Yang lain juga boleh ikut bareng Aisya, kok," sambung Aisya. "Beneran?" kata Ika terdengar antusias. "Iya. Papa Aisya juga ngebolehin. Kan, Pa?" Aisya menoleh pada Wiliam yang berdiri tak jauh di belakangnya. Anak-anak itu menoleh pada Wiliam, tak terkecuali Maira. Seketika, tatapan antara dua insan itu betemu. Wiliam memusatkan perhatiannya pada Maira. Maira yang merasa ada tatapan lain dari mata Wiliam segera mengalihkan pandangannya. "Pa, boleh, kan? Mereka juga mau ke panti," ucap Aisya pada papanya. Wiliam menunduk, melihat Aisya yang barusan menepuk lengannya. "Iya, Sayang, boleh." Aisya tersenyum semangat. "Ayuk, Kak." Segera dia menarik tangan Maira untuk berjalan ke mobilnya. Bocah itu tampak sangat bergembira. "Wah, Aisya, aku boleh duduk di depan?" pinta Alka tanpa malu, seolah dia telah mengenal teman baru. "Boleh. Aisya duduk di belakang sama Kak Maira," jawab Aisya. Wiliam membantu melipat kursi tengah untuk anak-anak yang lain masuk. Maira, Aisya, dan Ika duduk di tengah, Alka di depan, dan sisanya di belakang. Ketika hendak masuk ke dalam mobil itu, sekali lagi tatapan antara Maira dan Wiliam bertemu. Pria itu memejamkan matanya saat Maira mengalihkan mata. Tidak mungkin tatapan ketiga ini membuatnya jatuh cinta. Wiliam tidak lupa senyum pertama gadis itu yang dia lihat ketika berkunjung ke panti bulan lalu, dan waktu itu rasanya biasa saja. Namun, mengapa sekarang sedikit berbeda. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD