10. Jadi Mama Aisya

1187 Words
Aisya tidak melepas pegangan tangannya pada Maira, bahkan saat mereka sudah turun dan sampai di halaman panti asuhan Ar-Rayyan. Umi yang melihat sebuah mobil masuk ke halaman segera keluar. Wanita paruh baya itu sedikit terkejut ketika melihat Maira dan anak-anaknya yang lain turun dari mobil itu. Meski umi tahu itu mobil Pak Wiliam, tetap saja umi tidak enak sebab anak-anaknya numpang di mobilnya. Umi mengucapkan banyak terima kasih pada pria itu setelah mendengar penjelasan mereka. Dan rasa syukur terima kasihnya semakin bertambah saja saat Pak Wiliam lagi-lagi berinvestasi untuk panti asuhannya, meski dalam bentuk makanan, tetap saja hal itu sangat mereka syukuri. "Silahkan masuk, Pak Wiliam. Biar anak-anak saja yang membawa nasi kotaknya," ucap umi pada Wiliam yang baru saja menurunkan plastik-plastik besar berisi nasi kotak dari bagasi mobilnya. "Tidak apa-apa, Umi. Biar saya saja," jawab Wiliam. Namun, umi tidak akan membiarkannya mengangkat sendirian. Dia menyuruh beberapa anak-anaknya untuk membantu Pak Wiliam, tak terkecuali Maira. "Maira, Ika, dan yang lain, itu bantuan Pak Wiliam angkat makanannya ke dalam, ya," pinta umi. "Baik, Mi," jawab mereka yang mengurungkan niat untuk masuk. "Aisya tunggu di dalam saja, ya. Kak Ika akan temani Aisya. Biar Kakak saja yang mengangkat makanannya," ucap Maira pada Ika dan Aisya. "Siap, Kak," kata dua bocah itu. Mereka langsung masuk ke dalam. "Aisya, Kak Ika mau tunjukin sesuatu, Aisya mau liat gak?" ucap Ika yang masih terdengar di telinga Maira ketika dua anak itu berjalan ke dalam. Gadis itu mengulum senyum. Bahagia rasanya melihat gadis-gadis kecil itu akur dan bermain bersama. Maira segera berjalan menuju mobil Wiliam. Dia langsung meraih plastik-plastik yang sudah berjejer di dekat mobil. Wiliam menutup bagasinya setelah semua plastik itu keluar. Dia melihat Maira yang hendak mengangkatnya. "Biar saya saja, tidak apa-apa," ucap Wiliam sambil mengulurkan tangan, hendak meraih beberapa plastik di sana. "Tidak apa-apa saya bantu, Pak," jawab Maira yang sudah memindahkan dua plastik besar itu ke tangan kanan dan kirinya. "Em, panggil Wiliam saja," pinta pria itu. Maira bergeming sejenak. Tidak mungkin dia hanya memanggil Wiliam saja. Usia mereka berbeda sangat jauh. Maira masih menginjak usia dua puluh tahun, sedangkan Wiliam sudah memiliki Aisya, yang bahkan sudah kelas 2 SD. Usia Pak Wiliam pasti sudah sekitar tiga puluh tahunan, pikir Maira. Gadis itu hanya tersenyum, tanpa mengangguk, juga tanpa menggeleng. Dia bingung harus jawab apa. Hal itu membuat Maira segera berlalu dengan dua plastik berisi nasi kotak di tangannya. Wiliam terpaku, seketika benaknya terasa ditusuk anak panah. Apa-apaan yang dia katakan? Tidak mungkin barusan dia menyuruh Maira untuk memanggilnya dengan sebutan nama saja. Wiliam memukul-mukul kepalanya yang terasa eror. Pria itu segera mengangkat plastik yang tersisa, lantas membawanya masuk ke dalam panti asuhan. Di dalam, umi sudah mengatur anak-anaknya untuk duduk yang rapi. Bagian wanita di sebelah kiri, sedangkan laki-laki di sebelah kanan. Mereka semua duduk melingkar di atas tikar yang berjejer. Maira dan Wiliam meletakkan bungkusan yang mereka bawa di sana. "Sebentar ya Pak Wiliam. Ustadz Romi sedang dalam perjalanan ke sini," ucap umi pada pria itu. "Tidak masalah, Umi. Lebih baik anak-anak didahulukan untuk makan siang," ucap Wiliam. "Baiklah, kalau begitu kita makan siang dulu kali ini." Umi melempar senyumnya. Hari ini sedikit berbeda dari biasanya. Sebelum ini, Wiliam hanya menyempatkan diri untuk mengobrol dan memanjatkan doa bersama anak-anak, umi, dan Ustadz Romi. Namun kali ini, dia ikut makan siang bersama putrinya, juga anak-anak panti, dan pengurus di sana. Wiliam melihat Aisya yang tampak tak mau pergi dari samping Maira. Meskipun sedang makan, peri kecilnya itu tidak berhenti mengajak Maira berbicara. Ada saja sesuatu yang dia ungkapkan padanya. Maira pula tampak meladeninya dengan sabar dan ikhlas. "Kak Maira suka cabai?" tanya Aisya yang sedang menyingkirkan segala jenis cabai pada nasi kotaknya. "Suka. Aisya nggak suka cabai ya?" tanya Maira balik, yang mendapat gelengan dari gadis itu. Maira membantu Aisya menyingkirkan cabai-cabai di kotak nasinya. "Aisya suka ayam?" tanya Maira. Gadis kecil itu mengangguk. Maira mengangkat paha ayam miliknya. "Apa Aisya mau lagi?" tawar Maira. "Buat Aisya?" tanya bocah itu. Maira menjawabnya dengan anggukan antusias. "Kalau ayamnya buat Aisya, Kak Maira makan pakai apa?" ucap gadis kecil itu, tampak polos, tapi penuh makna. "Kak Maira kan suka cabai, jadi bisa pakai cabainya, ini juga masih ada tempe dan tahu," papar Maira. "Aisya nggak mau. Buat Kakak Maira aja, nanti Kak Maira makannya nggak habis kalau ayamnya Aisya ambil," kata Aisya. Maira terkekeh kecil. Tidak dia sangka Aisya memiliki pola pikir yang baik. Gadis kecil itu sangat peduli dengan sekelilingnya. Maira mencubit pipi Aisya gemas menggunakan tangan kirinya. Tanpa sadar, senyum Wiliam mengembang sempurna. Dia belum menyentuh nasinya sedikit pun. Sejak tadi tatapannya tidak lepas dari putri kecilnya yang sedang bersama Maira. Seorang marbot panti yang juga sedang menikmati makan siang bersama mereka menyadari makanan Wiliam yang masih utuh, pria itu duduk di sebelahnya. "Nggak dimakan, Pak?" tanya marbot itu. Wiliam tersadar dari angan-angannya. "Oh, dimakan, kok." Pria itu mengulum senyum. Aisya yang mendengar suara papanya segera menoleh pada pria itu. Maira yang melihat Aisya pun mengikuti arah pandangnya. "Itu papa Aisya," ucap Aisya pada Maira. Maira tidak berhenti mengulas senyum untuk gadis kecil itu. "Aisya berangkat dan pulang sekolah selalu sama papa ya?" Sebisa mungkin Maira mencari topik untuk meladeni Aisya. "Iya," jawab Aisya. "Tapi kadang Aisya sebal kalau papa jemputnya telat," sambungnya sambil menyuap nasi ke mulutnya. "Emang papa Aisya sering telat?" "Iya. Kadang Aisya sampai tidak ada teman menunggu lagi di sekolah karena sudah pada pulang dan papa belum sampai," papar bocah itu. "Um, rumah Aisya jauh ya dari sekolah?" "Jauh, Kak. Harus naik mobil," jawab Aisya, polos. Maira hanya mengangguk-angguk, dia bingung harus berkata apa lagi. "Kalau dulu, waktu masih ada mama, Aisya nggak pernah dijemput telat. Setiap pulang sekolah juga mama selalu ajak Aisya jalan-jalan," jelas Aisya pada Maira. "Waah, seru dong...," respon Maira untuknya. "Tapi sekarang Aisya jarang jalan-jalan. Papa selalu saja sibuk." "Aisya kan anak pintar, jadi harus belajar mandiri, yah," ucap Maira, dia menatap manik mata Aisya sebelum kembali melanjutkan makan. Aisya tampak diam saja. Maira pikir gadis kecil itu sudah lelah berbicara, dia juga terlihat anteng dengan makanannya. Namun ternyata tidak. Tiba-tiba saja Aisya berkata sesuatu yang membuat setiap orang yang mendengarnya terbelalak. "Kalau Kak Maira jadi mama Aisya mau nggak?" "Uhuk!" reflek Maira menutup mulutnya yang baru saja dia isi nasi. Gadis itu buru-buru mencari air. Ika yang berada di sebelah kirinya memberikan segelas air pada Maira. Bukan hanya Maira yang merasa awkward. Tentu saja Wiliam yang juga mendengarnya merasakan kecanggungan. Apalagi ketika umi dan beberapa pengurus panti yang lain menoleh. Tak sedikit anak-anak yang juga ikut andil dalam membuat suasana mereka semakin canggung. Wiliam berdeham beberapa kali untuk mengisyaratkan mereka agar tidak menganggapnya serius. Dehaman itu pun dia buat untuk membantu Maira agar tidak merasa tersudutkan. Mereka kembali pada makanannya setalah umi mencoba mencairkan suasana. "Eh, ada yang mau es teh? Ini es teh buat semuanya. Ayo siapa yang mau?" ucap umi dengan intonasi semangat sambil membuka wadah es teh di dekat mereka. "Aku mau, Mi," seorang anak yang menunjuk diri berhasil membuat suasana kembali cair. Anak-anak lain yang juga menginginkan es pun segera mendekati umi dengan gelas di tangan masing-masing. Sedangkan Maira, dia masih bungkam di samping Aisya. Padahal gadis kecil itu menunggunya berbicara sejak suara batuknya tadi terdengar. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD