Lian dan Sieera baru saja tiba di sebuah apartemen. Sudah sebulan lamanya Lian menyembunyikan fakta tentang Maira dari ibunya. Kini, dua pasangan tak halal itu selalu menikmati hari-hari bersama.
Sieera menghampiri Lian yang sedang berkutat dengan ponsel di sisi ranjang. Pria itu sedang berkirim pesan dengan rekan bisnisnya, mereka sedang membahas kerja sama perusahaan.
"By the way, kapan kau akan menikahiku, Honey?" tanya Sieera dengan suara manja yang sangat Lian suka.
Pria itu mengalihkan pandangannya dari ponsel, dia menatap kekasih tercintanya. "Tidak perlu terburu-buru, Sayang. Mamaku masih belum bisa melupakan gadis itu," jawab Lian.
"Oh, gadis yang menyebalkan. Apa aku akan selalu kalah dengannya?" ucap Sieera, terdengar mendesak Lian agar segera menikahinya.
Lian menaruh ponsel di atas kasur, pria itu bangkit dari duduknya. Dia menghampiri Sieera yang tampak menekuk wajah. Lian meraih pipi wanita itu.
"Kamu tidak akan pernah kalah, Sayang. Kamu yang nomor satu dalam hidupku," bujuk Lian.
"Benarkah?" ucap Sieera memastikan. "Lalu kenapa aku tidak mendapat posisi di hidupmu?"
"Kamu akan tetap jadi kekasihku sampai kapan pun, Sieera. Posisi apa lagi yang kau inginkan?" tanya Lian.
"Aku mau jadi istrimu, Honey. Bukankah selama ini kita masih terjebak dalam hubungan gelap, aku tidak mau seperti ini lagi," jawab Sieera berterus terang.
"Tunggu sebentar lagi, aku pasti akan menikahimu."
Sieera menatap pria itu penuh arti. Dia sudah bosan bersembunyi seperti ini. Sieera ingin Lian segera menikahinya.
"Janji." Sieera mengangkat jari kelingkingnya, meminta Lian untuk berjanji padanya.
Pria itu memenuhinya. Dengan senang hati dia mengaitkan jari kelingkingnya pada Sieera. Mereka sama-sama tersenyum dalam jarak yang sangat dekat.
"Aku berjanji," ucap Lian sebelum jarak antara mereka habis terkikis.
Pria itu mencium bibir Sieera. Begitupun dengan Sieera, dia melingkarkan tangannya ke belakang leher Lian, lalu menaikkan kedua kakinya ke pinggang pria itu. Lian menopang tubuh Sieera dengan tangannya. Ciuman itu terlihat semakin panas seiring dengan gerakan mereka yang semakin intim.
***
Di sebuah pasar tradisional. Maira bersama Ika tampak sedang berjalan di hamparan toko yang berjejer. Beberapa plastik berisi bahan makanan terlihat menggantung di tangan Maira. Setelah selesai memilih beberapa ikan segar, Maira menuntun Ika menuju gerobak es cendol. Mereka kehausan.
"Ika mau beli es?" tawar Maira.
"Boleh, Kak?" gadis kecil itu berkata dengan riangnya.
Maira mengangguk dengan senyum hangatnya. Betapa terlihat bahagianya Ika dengan tawaran es cendol itu. Umi juga sudah mengizinkan Maira membeli minuman seandainya belanjaan telah terbeli semua tapi uang belanjanya masih tersisa.
"Es cendolnya dua ya, Bu," pesan Maira.
"Oke, Neng, ditunggu ya," jawab Sang Ibu yang sedang membuatkan es untuk pembeli sebelum mereka.
"Iya, Bu." Maira mengajak Ika duduk di kursi panjang di dekat gerobak cendol itu. "Sini, Dek," ucap Maira.
Ika menurut, dia duduk di samping Maira. Siang itu cuacanya sangat panas, Maira mengipas-ngipas wajahnya yang mulai memerah. Gadis itu masih belum terbiasa beraktivitas tanpa cadar di luar ruangan. Terkadang Maira berpikir ingin mengenakan kembali cadarnya. Namun kondisinya yang tidak punya uang, juga panti asuhan yang tidak menyediakan cadar, membuat Maira tidak bisa memaksanya.
Sekarang pun syukur-syukur sebab masih ada baju yang pas untuk dia pakai. Kadang saja Maira mengeluh sebab kerudung yang tersedia tidak sepanjang kain yang biasa dia gunakan. Hal itu membuat Maira harus rajin-rajin mencuci pakaiannya. Beruntung Maira punya satu cadangan kerudung yang dia temukan hari itu.
"Es cendolnya, Neng." Ibu itu memberikan dua gelas es cendol kepada Maira dan Ika.
"Terima kasih, Bu," jawab dua gadis itu bersamaan.
Maira dan Ika segera menyantapnya setelah berdoa. Mereka tampak sangat menikmatinya. Lalu, tak sengaja Maira melihat seseorang yang mungkin dia kenal. Gadis itu hampir saja tersedak. Maira memutar tubuhnya menghadap ke meja yang sebelumnya berada di belakangnya. Sejenak dia menghentikan kegiatan minum untuk menutupi sebagian wajahnya dengan sisa kain kerudung yang dia kenakan.
"Ada di toko di ujung pasar ini, Tuan. Mereka sudah menunggak selama dua bulan."
Begitulah yang Maira dengar saat dua orang pria berbadan tegap dan berjaket hitam itu melewati tempatnya.
"Kakak Maira kenapa?" tanya Ika heran sebab melihat Maira yang tiba-tiba menyembunyikan wajahnya.
Maira tak menjawab keheranan adik kecilnya. Jantungnya sudah cukup berdetak hebat sebab melihat pria itu, Mr. Harley.
"Kakak kepanasan, yah?" tanya Ika lagi, gadis kecil itu hanya ingin memastikan kondisi Maira.
Mr. Harley menghentikan langkah saat sekilas matanya merasakan bayangan seseorang. Pria itu menajamkan pendengarannya.
"Ada apa, Tuan?" tanya seorang pria di samping Mr. Harley.
"Bagaimana kabar gadis yang saya beli waktu itu? Kalian sudah menemukannya?"
"Maaf, Tuan. Kami belum menemukannya."
Harley menoleh ke belakang, dilihatnya gerobak cendol dan beberapa orang yang sedang menikmati minuman di sana. Pria itu berbalik arah, berjalan menuju tempat penjualan cendol yang tadi dia lewati. Namun dia tidak lagi menemukan seseorang yang sempat terbayang dalam benaknya.
Pria itu bertanya pada ibu penjual cendol, "Apa tadi ada seorang gadis dan anak kecil yang duduk di sini?"
"Wah, yang mana ya, Pak? Lumayan banyak gadis dan anak kecil yang duduk di sini sebelumnya," jawab ibu itu.
"Seorang gadis dengan kerudung hitam dan anak kecil berkerudung biru," ucap Harley.
"Ooh, Neng itu, barusan selesai tadi. Mereka sudah bayar kok, Pak," ucap ibu penjual cendol.
"Apa mereka sering beli di sini?" tanya Harley lagi.
"Iya, Pak. Sudah jadi langganan, kadang anak yang dibawa Enengnya beda-beda," papar Sang Ibu.
Harley menarik sudut bibirnya. "Terima kasih," ucap pria itu sebelum meninggalkan gerobak cendol. Dia kembali melanjutkan langkah bersama anak buahnya.
***
Sedangkan, di pinggir jalan raya itu, Maira dan Ika tampak berjalan terburu-buru.
"Ada apa, sih, Kak? Padahal es cendol Ika belum habis tadi," ucap Ika, ada nada kecewa dalam ucapannya.
Maira yang tampak gusar hanya bisa meminta maaf pada gadis kecil itu. Tak bisa dia bayangkan apa jadinya jika Tuan Harley melihat dirinya. Gadis itu merasa sangat terancam sekarang, seperti buronan. Maira sungguh khawatir dengan kondisi ini, apalagi saat mengetahui bahwa anak-anak buah Tuan Harley masih mencarinya.
Gadis itu tidak tahu harus bagaimana, dia takut jika melapor pada umi. Selain itu, Maira pun takut jika umi tahu tentang dirinya. Maira tidak pernah cerita pada umi jika sebenarnya dia sudah menikah, dan dijual oleh suaminya. Maira khawatir mereka akan membencinya dan tidak mau menerimanya.
Tanpa sadar, air mata Maira mengalir. Buru-buru dia menyekanya sebelum orang-orang melihatnya, mereka sudah berada di dalam angkot sekarang, dan sedang berjalan menuju panti.
"Kak Maira kenapa?" tanya Ika yang menyadari gadis itu menangis. Maira hanya melempar senyum dengan gelengan kepala.
Tiba-tiba raut Ika ikutan sedih, dia merasa sedikit bersalah sebab protes tentang es cendol yang belum habis. "Ika minta maaf kalau buat Kakak sedih, Ika gak marah kok karena es cendol tadi. Kak Maira jangan nangis," bujuk Ika.
Lagi-lagi, gadis itu hanya mampu tersenyum. Dibawanya Ika ke dalam pelukan. Terkadang dia bersyukur memiliki teman seperti Ika, meski dia hanya bocah yang usianya sangat jauh darinya.
"Makasih, ya, Ika Sayang. Kak Maira gak nangis, kok."
"Ika lihat tadi mata Kakak berair. Kak Maira nangis," timpal Ika.
"Kakak sedih sebab ngajak Ika pulang buru-buru, padahal es cendolnya belum habis. Maafin Kakak, ya."
"Ika gak marah, kok, Kak. Gak apa-apa. Kak Maira jangan sedih," bujuk Ika, meski memang sebenarnya dia kecewa sebab Maira mengajaknya pulang terburu-buru. Namun sekarang dia membuang jauh-jauh perasaan kecewanya.