2. Derita

1119 Words
"Mas Lian, mau sarapan apa?" "Aku makan di kantor saja." "Bukan kah ini hari minggu, Mas Lian pergi ke kantor?" tanya Maira. "Bukan urusanmu. Tidak usah banyak tanya padaku." Lian menerobos pintu kamarnya, membuat Maira tersingkir. Gadis itu mengubah raut wajahnya. Semakin hari, dia merasakan Lian yang dingin. Maira mengikuti langkahnya. Pria itu sudah hendak keluar rumah, tanpa berkata sepatah kata lagi pada istrinya. "Mas Lian," panggil Maira. Namun tidak dihiraukan oleh pemilik nama. Maira mempercepat langkahnya sebelum suaminya itu keluar. Dia menarik ujung baju Lian. "Mas Lian, hari ini mama mau datang ke mari," ucap Maira cepat. Lian memutar tubuhnya tak kalah cepat, lalu mendorong Maira menjauh darinya. Pria itu menatap nyalang. Maira yang terkejut terpaksa mundur beberapa langkah. Dia menatap bingung pada suaminya. "Jangan panggil namaku sesuka hatimu! Aku tidak suka mendengarnya!" bentak Lian. Dahi Maira berkerut semakin bingung. Apa yang terjadi padanya? Kenapa menjadi seperti ini. Lian menunjuk wajah Maira dengan jarinya. "Dan jangan berkata macam-macam tentangku pada mamaku! Atau kau akan tahu akibatnya!" Gadis itu tersentak. Seketika, perasaan menusuk menghujani rongga dadanya. Maira menelan air mulutnya. Dia bisa melihat kemarahan pada mata Lian. "Jangan ikut campur urusanku!" pungkas Lian sebelum melangkah keluar meninggalkan rumah. Maira mendudukkan tubuhnya di kursi ruangan itu. Matanya nanar menyadari apa yang barusan terjadi padanya. Pandangannya tertuju pada lantai putih di bawah kaki putihnya. Dia memikirkan apa kesalahannya sampai membuat suaminya itu marah besar. Hari semakin siang, mama tiba di rumah Lian, dan dia hanya mendapatkan Maira di sana. Meswa bertanya tentang keberadaan putranya. "Loh, Mai. Lian ke mana?" tanya Meswa pada Maira yang sedang membuat minuman untuknya. "Ke kantor, Ma," jawab Maira seadanya. "Kantor? Ini kan hari minggu," kata Meswa bingung. Dia melangkah mendekat pada menantunya itu. Maira diam tak menjawab. Dia tidak tahu harus berkata apa. Namun, ibu mertuanya itu terus menatapnya meminta penjelasan. "Kamu yakin dia pergi ke kantor, Mai?" tudung Meswa. Maira hanya mengangguk. Bagaimana pun juga, itulah yang dia dengar dari suaminya tadi. Meswa menghela napasnya. Dia tahu kalau putranya itu sebenarnya pergi bersama w************n itu. Berkali-kali Meswa menjelaskan bahwa dia tidak suka melihat Lian berpacaran dengan Sieera. Namun, dengan berani putranya itu membantah. "Maira, Sayang. Sekarang ini kamu kan istrinya Lian. Lebih baik kamu nasihati dia, dan jangan bolehkan dia pergi kalau hari libur seperti ini," papar Meswa. Maira menangkap penjelasan ibu mertuanya itu dengan baik. Mungkin benar ucapan mama, seharusnya Maira menasihatinya tadi, pikir gadis itu. Malam tiba dengan cepat. Maira baru saja selesai membaca Al-Qur'an saat suara ketukan pintu terdengar. Dia mendengar suara Lian, buru-buru gadis itu menuju pintu, lantas membuka kaitan kuncinya. "Assalam--" "Siapa yang menyuruhmu mengunci pintu!" bentak Lian memotong ucapan salam Maira. Gadis itu terkejut saat tiba-tiba mendengar suara tinggi suaminya. "Maira cuma takut kalau ada orang yang masuk tiba-tiba, Mas," papar Maira, menjelaskan dengan sabar. "Kau pikir ini rumahmu! Aku tidak punya waktu menunggumu membukakan pintu!" Lian menerobos masuk setelah berkata dengan suara itu, suara tinggi yang membuat Maira ketakutan. Dia menyadari Lian yang tidak suka jika dia mengunci pintu. Padahal, dahulu ayahnya selalu berpesan untuk mengunci pintu saat berada di rumah sendirian. Maira menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir, lalu kembali mengunci pintu rumah. "Mas Lian mau minum apa?" tanya Maira dengan suara bergetar, menahan air mata dan perasaan menusuk di dadanya. Lian yang baru saja meneguk sebotol air menatapnya sinis, lalu berkata, "Telat! Lagi pun aku tidak suka minuman buatanmu." Maira menahan napas dan bibirnya yang bergetar. Lian membuang napas setelah menaruh kembali botol minumnya di kulkas, lalu membanting pintunya. Pria itu melangkah meninggalkan gadis itu di sana. Air mata lolos dari pelupuknya, Maira menutup mulut dan hidungnya dengan punggung tangan, menahan isak dan suara tangisnya. "Salah Maira apa Ya Allah ...," lirihnya. Lian sudah mengganti pakaiannya, lalu dia melihat Maira yang berjalan masuk ke kamarnya. Pria itu menghentikan langkah Maira. "Mau ke mana?" Maira belum menjawab. Dia menatap manik mata Lian yang tidak suka melihatnya. "Mulai malam ini kau tidur di kamar tamu, aku tidak mau berbagi tempat denganmu." Maira mengerjapkan matanya yang pedih diterpa angin. Gadis itu tidak tahu lagi bagaimana cara mengontrol diri. Kali ini, Lian melihat air mata itu mengalir di wajahnya. "Maira salah apa, Mas ...?" lirihnya. "Salahmu! Kau membuat mama bergantung padamu! Aku tidak mendapat posisi di kantor, aku tidak bisa memegang saham, aku tidak dipercaya mama karenamu!" Lian menunjuk wajah Maira tepat di depan mata gadis itu. "Gara-gara kau juga mama membandingkan Sieera denganmu!" "Sieera?" Maira mencoba bertahan meski tubuhnya ingin tumbang. Apa semua itu berarti Lian tidak serius menikahinya. "Ya! Sieera pacarku, dia yang lebih cocok menjadi istriku, bukan kau!" Air mata tak terelakan lagi, membuat pandangan Maira buram. "Kenapa Mas Lian tega sama Maira...? Maira udah gak punya siapa-siapa lagi. Mas Lian amanah terakhir yang ayah kasih buat Maira, supaya Maira bisa menyusul mereka di surga. Mas Lian sudah menghancurkan surga Maira!" Plak! Pipi kemerahan itu semakin merah saja sebab menerima tamparan keras dari Lian. Darah segar sampai mengalir dari lubang hidung Maira. Gadis itu merasakan perih pada kulit wajahnya. "Keluar dari kamarku!" usirnya sambil menunjuk pintu keluar buat Maira. Tangisan Maira semakin keras, sungguh perih dia rasakan pada pipinya, ini pertama kalinya seseorang menyakitinya. Betapa sakit hati Maira setelah menyadari suaminya lah orang pertama yang menampar wajahnya. Tanpa menunggu lagi, gadis itu berlari meninggalkan kamar Lian. Semalaman Maira menangis, mengaduh, meminta pertolongan pada Sang Pemilik Hati. Tidak bisa dia percaya bahwa Lian hanya bermain-main dengannya. Semakin sakit saja hatinya setelah menyadari ayah sudah tidak ada di sisinya. Maira menjerit pilu dalam batinnya. Hal itu membuat Lian geram, semalaman dia mendengar suara tangis Maira, telinganya benar-benar panas rasanya. Lian memukul pintu kamar itu. "Berhenti menangis atau aku akan menjualmu ke pelelangan!" ancam Lian. Namun, Maira tidak bisa menghentikan tangisnya begitu saja. Perasaannya benar-benar terkoyak dan sulit terobati. Lian mendorong pintu kamar itu kasar, lalu memarik paksa Maira keluar dari sana. Kekuatannya lebih besar sehingga mampu membuat Maira terseret. Gadis itu meringis kesakitan. Dia memohon ampun pada lelaki itu. "Ampun, Mas! Jangan jual Maira!" racaunya sambil berusaha lepas dari tarikan Lian. Maira sesegukkan. Dia berusaha menghentikan tangisnya sekuat yang dia bisa. Lian keluar dari kamar itu setelah mengumpat dan membanting pintunya. Kemudian, besok malamnya, entah apa yang Lian inginkan, tiba-tiba saja dia bersikap baik pada gadis itu. Lian mengajaknya keluar. Maira sempat ragu, tapi dia tidak bisa menolak ajakan baik suaminya. Lalu, benar saja keraguannya itu. Lian membawanya pergi untuk menjualnya. Dia melakukan cara baik agar tidak sulit memaksa gadis itu masuk ke mobilnya. Pria itu semakin berani melakukan hal ini sebab Sieera memintanya. Dia pun sudah tidak betah tinggal satu atap bersama gadis yang tidak dia suka. Lian sudah menyusun rencana besar untuk hal ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD