Sean menatap mata Alexandria dalam dan berupaya untuk mencari kemarahan atau rasa tidak suka disana. Hasilnya nihil. Alexandria balik menatapnya dengan tatapan yang sama ketika ia membaca buku favoritnya, meminum kopinya di pagi hari, atau kegiatan lain yang tidak membutuhkan emosi. “Al, kau tidak marah?” Alexandria marah pada Sean, tapi ia lebih marah pada keadaan karena ia tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. “Aku tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi, Sean. Aku tidak bisa menyimpulkannya hanya dengan sudut pandangku saja.” Untuk pertama kali dalam hidupnya, hati Sean berdesir hangat karena ucapan seorang wanita. Sean mengulum senyumnya dengan perlahan. “Kau butuh penjelasan?” Alexandria mengangguk. Ia butuh meredakan emosi sesaat yang tidak bisa ia lampiaskan. “Aku tida

