Sean duduk di kursi dengan tangan yang terbuka lebar untuk menerima semua tawaran dari Alexandria. Ia menatap tajam Alexandria yang kini dengan perlahan membuka baju satinnya dengan gerakan lambat dan menggoda. Wanita itu sengaja menggerai rambutnya yang indah dan membuat Sean semakin panas. Jubah satin itu jatuh mengenaskan di lantai dan seketika Sean melihat tubuh indah Alexandria yang dibalut lingerie seksi pilihannya yang diberikannya beberapa waktu lalu.
“Al.” Sean menyuruh Alexandria untuk mendekat ke arahnya. Wanita itu menurutinya. Alexandria menghampiri Sean dan dengan lancang, Alexandria mengecup rahang Sean yang tegas. Kecupannya turun ke leher Sean, sementara tangan pria itu merambat ke punggung Alexandria dan mengelusnya.
Kali ini, Alexandria benar – benar merasa bahwa ia memang jalang. Sesaat setelah ia memutuskan untuk masuk ke kelab malam saat itu, Alexandria hanya meyakinkan bahwa ia hanya bertugas untuk memuaskan—bukan menantang. Entah setan mana yang memasukinya hingga ia berani menantang Sean dengan cara yang berbahaya seperti ini.
Tangan Alexandria menyusup ke kemeja Sean setelah sebelumnya ia membuka beberapa kancingnya. Alexandria mengelus perut kokoh Sean dan bermain – main disana.
“Al, enough,” ucap Sean begitu ia tidak kuat jika Alexandria sengaja mempermainkan semua perannya dengan lama. Sean hanya ingin segera menyentuh Alexandria.
“Wait, Sean.” Alexandria berbisik dengan s*****l di telinga Sean dan pria itu tersenyum miring.
Entah sudah berapa lama mereka melakukan semuanya dengan lamban. Baik Sean maupun Alexandria kini seolah kehilangan akal mereka. Jam yang sudah menunjukkan pukul dua malam tidak menghentikan mereka untuk segera menyelesaikan kegiatan mereka. Bergelung di selimut seraya mengecupi leher jenjang Alexandria yang sebelumnya sudah memerah, Sean mengelus paha Alexandria dengan seduktif di bawah selimut.
“Sean,” panggil Alexandria dengan susah payah.
Sean hanya menjawabnya dengan gumaman—terlalu asyik dengan apa yagn dilakukannnya. Membuat Alexandria melanjutkan, “Aku lelah.”
Sean tersenyum dengan licik ketika mendengar Alexandria memohon. “Kau yang memancingku, Al.”
“Dan aku tidak menyangka kau akan sangat terpancing seperti ini, Sean.” Alexandria bermaksud untuk menjauh dari Sean jika saja Sean tidak menarik tangannya ke atas kepala dan membuat Alexadria tidak bisa bergerak.
“Aku belum selesai.”
Alexandria menghela napas. Ia benci dengan dirinya yang tidak bisa menahan godaan akan Sean Wijaya.
***
Sean memainkan rambut Alexandria yang indah dengan wanita itu yang bebaring di dadanya. Alexandria merasakan tangan Sean yang bebas mengelus punggungnya. Setelah kegiatan mereka yang tak ada habisnya, Sean akhirnya menuruti permintaan Alexandria dan berhenti.
“Sean.” Panggilan Alexandria itu kembali dijawab gumaman oleh Sean.
“Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi berjanjilah kau tidak akan marah.”
Sean mengerutkan dahinya karena tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Alexandria. “Tergantung apa yang akan kau bicarakan, Al. Jika kau ingin mengatakan bahwa kau akan pergi dariku, tentu saja aku marah,” jelas Sean yang membuat Alexandria memutar bola matanya.
“Ini tentang Kenneth.”
Sean berhenti memainkan rambut Alexandria dan menunggu wanita itu melanjutkan perkataannya.
“Dia tadi bertamu ke sini.”
“Lalu, Al?”
“Dia menciumku.”
Alexandria merasakan tubuh Sean menegang. Sedetik kemudian, Sean menegakkan tubuhnya dan melepaskan pelukannya dari Alexandria.
“Apa, Al?”
Alexandria menghela napasnya. Ia tahu Sean akan marah jika ia mengatakannya. Tapi, akan lebih marah jika pria itu tidak tahu sama sekali. Dan, Alexandria akan semakin bersalah pada Sean.
“He kissed me. Hanya sebatas—”
“Al, hanya sebatas kecupan dari seseorang yang sudah menjadi milikku?! Apa dia kehilangan akalnya?! Aku sudah menduga jika dia memang memiliki perasaan padamu, aku tahu jika ia menyukaimu. But, screw it! Kau harus bersamaku, Al. Dia tidak boleh memilikimu!” Kemarahan Sean yang pertama kali dilihat oleh Alexandria mampu membuatnya tidak berkutik. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin, pertama ia akan meredakan amarah Sean pada adiknya, lalu ia akan berkata bahwa Alexandria bukan milik siapa – siapa.
“Sean—”
“Fu*k it, Al!”
“Sean, tenangkan dirimu. Kau membuatku takut.”
Sean memandang Alexandria dengan muka yang memerah. Ia marah pada adiknya, sangat marah. Alexandria bukan milik Kenneth dan tidak akan pernah menjadi milik pria itu.
“Sean, pertama, dia hanya mengecupku—mungkin dia hanya kehilangan akalnya untuk sejenak. Kedua, aku bukan milikmu, Sean. Kau membeliku—fine, tapi bukan berarti kau membatasi aku. Aku membebaskanmu untuk jatuh cinta kepada siapapun, begitupun kau.”
“Menjadi partner tidur, dan orang yang kau beli—bukan berarti kita harus saling mencintai, bukan?”
Ya, tidak ketika kau memang tidak menyadarinya, Al. “Al, bagaimanapun, kau berhutang banyak padaku. Sudah sepantasnya aku yang memilikimu.” Masih ada nada marah di ucapan Sean.
“Dan aku akan membayarnya dengan tubuhku, bukankah itu perjanjiannya? Aku mendapat uangmu dan kau mendapat tubuhku.” Alexandria heran dengan sikap Sean yang seolah pria itu mencintainya.
“Alexandria Neville, aku melarangmu untuk berhubungan dengan lelaki manapun kecuali aku, kau mengerti?”
Alexandria menganga karena tidak percaya dengan ucapan Sean. “Kau egois, Sean.”
“I am.”
“Aku membencimu.”’
“Tapi, kau masih membutuhkan uangku, Alexandria. Admit it, kau belum bisa lepas dariku.”
***
Esok harinya, Sean bersikap seolah malam itu mereka baik – baik saja. Tidak seperti Alexandria yang masih enggan berkata apapun padanya. Wanita itu mendiamkannya sepanjang perjalanan mereka ke kampus Alexandria.
“Apa aku perlu menjemputmu?”
Alexandria berhenti sejenak ketika akan membuka pintu mobil Sean. “Kau tidak melarangku untuk berhubungan dengan sopir bus, bukan?"
“Al.”
Alexandria menghela napas. “Aku tidak peduli. Terserah kau mau menjemputku atau tidak.” Sean mengumpat ketika Alexandria sudah keluar dari mobilnya. Ia sadar bahwa ia sudah salah berucap semalam. Tapi, itu memang benar. Alexandria miliknya, terlepas dari mereka yang saling mencintai atau tidak. Yang terpenting, Alexandria tinggal bersamanya dan sudah menjadi miliknya.
Sean mengendarai mobilnya untuk pergi ke kantor Kenneth. Cukup jauh dari kantornya, tapi Sean tidak peduli. Ia rela membatalkan semua jadwalnya hari ini hanya untuk menemui Kenneth. Pria itu mencengkram setir mobilnya ketika mengingat apa yang diucapkan Alexandria beberapa waktu lalu. Kenneth mencium Alexandria. Alexandria—yang seharusnya miliknya. Sean membenci itu semua.
Sesampainya di tempat yang ia tuju, Sean langsung memasuki lift yang akan membawanya ke ruangan adiknya itu.
“Kenneth Wijaya,” panggilnya ketika ia melihat Kenneth sedang berbincang dengan bawahannya seraya membolak – balik dokumen yang ia bawa.
Kenneth cukup terkejut melihat kedatangan Sean ke kantornya. Ia menghampiri Sean dan bertanya, “Kak, untuk apa kau kemari?”
“Bisa aku bicara di ruanganmu?”
Kenneth hanya bisa mengangguk dan berjalan menuju ruangannya.
“Jadi, ada apa?” Kenneth menatap Sean seraya duduk di kursi kerjanya.
“Apa yang kau lakukan kemarin, Kenneth?” Sean melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Aku—”
“Kau bertemu Alexandria. Di apartemenku.” Sean melihat adiknya terperangah ketika ia mengatakan hal itu. Kenneth seperti ketahuan berselingkuh dengan Alexandria di belakang Sean.
“Kak, apa—”
“You kissed her.”
Kenneth terdiam. Kejadian yang Kenneth yakini menjadi alasan mengapa Sean repot – repot mau ke kantornya, dan kejadian yang tidak akan pernah Kenneth sesali. Ia tidak merasa menyesal karena mencium Alexandri—walaupun hanya sebatas kecupan kecil.
“Iya, Kak. I did kiss her.”
Sean bangkit dari duduknya dan memukul meja kokoh di depannya. Ia menatap Kenneth dengan mata yang menyalang.
“Apa maksud perlakuanmu, s****n?!” Sean menarik kerah kemeja Kenneth dan membuat pria itu berdiri di hadapannya.
“Aku hanya menciumnya. End of the story.”
Sean semakin mencengkram kerah Kenneth, mukanya memerah karena menahan amarahnya. Kenneh tersenyum licik, ia tidak takut dengan kemarahan Sean.
“Kau seharusnya tahu posisimu, Kenneth! Kau tidak bisa memilikinya!”
Kenneth tertawa meremehkan Sean. “Kenapa, Kak? Bukankah kalian tidak saling mencintai?”
BUG!
Sean memukul rahang Kenneth dengan keras hingga tubuh adiknya itu hampir terjatuh. Sean tidak peduli, tetap saja ia kembali memukul wajah adiknya itu.
“Aku yang memilikinya, Kenneth!” Pukulan terakhirnya membuat Kenneth benar – benar terjatuh di lantai. Ia tidak peduli jika nanti Ayah mereka akan mengamuk besar padanya. Ia tidak peduli. Yang kini ia pedulikan hanyalah Alexandria.
“Go ahead, Sean. Karena, dia akan mencintaiku—walaupun kau memilikinya.”
“Shut up, Kenneth!”
Kenneth bangkit dan kembali menatap Sean walaupun dengan hidung yang sedikit mengeluarkan darah.
“Dia bukan milik siapa – siapa, Sean. Jadi, bagaimana jika kita berlomba untuk mendapatkannya?”
***