Sean sampai di kampus Alexandria dan segera memasuki koridor yang cukup ramai. Pria itu tidak tahu dimana Alexandria berada, tapi ia yakin Alexandria masih berada di kampus ini. Beberapa orang memperhatikannya di sepanjang koridor—Sean tidak terlalu risih karena itu, ia sudah terbiasa.
Sean memasuki ruangan terbuka yang ada di ujung koridor. Sepertinya kantin yang ada di kampus itu. Pria dengan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku itu menangkap sesosok perempuan yang sedang berbicara dengan beberapa temannya.
Dengan langkah cepat, Sean langsung menghampiri Alexandria. Wanita itu belum menyadarinya dan masih saja membaca makalah di hadapannya. Hingga gadis yang ada di sampingnya memukul pelan lengannya dan memberi kode pada Alexandria untuk melihat ke belakang.
“Al.” Alexandria langsung menatap Sean dengan tidak percaya karena pria itu berada di kampusnya ketika ia ada tugas kelompok—yang pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan.
“Sean, apa yang kau lakukan disini?”
Sean tidak menjawab dan hanya menarik tangan Alexandria. Lalu, pria itu berbisik, “Pulang, Al.”
Alexandria menatap Sean dengan kesal. Yap, Sean Wijaya dengan segala kediktatorannya.
“Aku harus pergi.” Alexandria menatap teman – temannya dengan perasaan bersalah. Ia harus mengurus beberapa hal tentang tugas itu dan Sean mengganggunya. Terlebih Alexandria yakin bahwa teman – temannya akan menanyakan Sean Wijaya padanya.
***
Di dalam mobil, hanya sunyi yang menemani mereka. Tidak ada percakapan dan mereka hanya berfokus pada pikiran mereka. Alexandria masih merasa kesal pada Sean. Sementara Sean tidak tahu harus melakukan apa untuk memberitahu bahwa ia menyesal telah berbicara seperti itu pada Alexandria.
“Kapan kau lulus, Al?” Pertanyaan pertama yang meluncur dari Sean untuk mencairkan suasana.
Alexandria yang awalnya menatap ke luar jendela mobil akhirnya menoleh pada Sean. “Tahun depan.”
Sean hanya mengangguk dan kembali bertanya, “Setelah itu, kau bekerja dimana?”
“Entahlah. Tapi, mungkin aku ingin menjadi editor, atau penulis.” Alexandria memang menyukai sastra. Oleh karena itu ia mengambil jurusan Sastra Inggrisi kampusnya. Saat itu ia berumur tujuh belas tahun, dan berkat beasiswa akhirnya ia bisa berkuliah dan berharap bahwa ia akan lulus tepat waktu. Menjadi penulis adalah cita – citanya sejak dulu, tapi ia tidak yakin akan menjadi penulis yang hebat sekarang.
“Writer, sounds good.”
Alexandria sadar bahwa Sean ingin menghapus suasana canggung di antara mereka. Tapi, tetap saja Alexandria masih marah pada pria egois itu. Jadi, Alexandria memilih untuk diam saja.
“Perjanjian kita akan tetap berlangsung, Al.” Ucapan Sean membuat Alexandria mengerutkan dahinya.
“Walaupun kau sudah bekerja sekalipun.” Pria itu melanjutkan dengan nada santainya.
Alexandria menegakka tubuhnya dan menatap Sean. “Aku sudah mendapat uangku sendiri saat aku bekerja, Sean. Aku tidak butuh kau lagi.”
“Bukan seperti itu, isi perjanjian kita, Alexandria Neville.”
“Oh ya? Kalau aku tidak salah, kita tidak benar – benar membuat perjanjian, Sean Wijaya. Itu hanya ultimatum bodohmu saja.”
Sean memberhentikan mobilnya dan menatap Alexandria.
“Dan bagaimana jika aku menemukan seseorang yang sudah aku cintai? Kau tidak bisa terus menahanku, Sean.”
Sean tersenyum miring. “Benarkah? Kau akan menemukan orang yang akan mencintaimu?”
“Sean, aku mempunyai masa depan. Hidupku bukan hanya tentang memuaskanmu saja.” Oh yang benar saja, tentu Alexandria tidak akan menghabiskan hidupnya dan mengorbankan masa depannya untuk hanya menyerahkan tubuhnya pada Sean Wijaya. Ia tidak mau dan tidak akan pernah mau. Ia memang sudah berencana bahwa setelah Diandra tidak meminta uangnya lagi, dan ia sudah mendapatkan uangnya sendiri—ia akan segera pergi dari Sean.
“Ya, tapi kau tidak bisa lepas dariku, Al. Tidak akan pernah.” Sean kesal mendengar Alexandria yang mengatakan hal itu padanya.
“Kenapa, Sean? Ucapanmu tidak masuk akal.”
“Karena hanya aku yang bisa membawamu ke surga.” Ya, hanya Sean Wijaya.
“Itu bukan alasan, Sean. Setelah aku yakin aku tidak butuh uangmu, aku akan segera pergi darimu. Dan kau akan mengijinkannya.
“Oh, try me, Al.”
***
“Al.” Sean membuka pintu kamar Alexandria dan melihat wanita itu sedang memajamkan matanya seraya berbaring di kasurnya. Sean yakin wanita itu tidak tertidur.
“Alexandria—”
“Sean, please. Aku lelah bertengkar denganmu.” Jujur saja, Alexandria sedang tidak ingin melihat muka Sean. Ia tidak ingin berdekatan pria itu. Dan Alexandria yakin bahwa pria itu mendatanginya ketika ia ingin menuntaskan nafsunya.
Alexandria merasa bahwa Sean sedang duduk di sampingnya dan me£>natap ke arahnya. Tapi, ia tidak peduli dan tetap memejamkan matanya.
“Kulkas kita kosong, Al. Aku ingin mengajakmu untuk membeli makanan.”
Wait...what?
Alexandria membuka matanya dan menatap Sean dengan pandangan tidak percaya. Oh man, pria ini tidak mungkin serius.
“Really, Sean? Tidak bisakah kau membelinya sendiri?” Alexandria menatap Sean dengan kesal dan kembali berbaring memunggungi Sean. Ia tidak mau tahu apa lagi yang akan dilakukan oleh pria itu.
“Al, seriously. Aku tidak pernah membeli bahan makanan, biasanya anak buahku yang—”
“Kalau begitu, suruh saja orang – orangmu itu, Sean.”
“Al.” Alexandria tetap tidak merubah posisinya dan berpura – pura tertidur.
“This is me, trying to say sorry, Al.” Ucapan Sean membuat Alexandria menegakkan tubuhnya dan kembali menatap pria itu—dengan lagi – lagi—pandangan tidak percaya. Ia heran dengan sikap Sean yang seperti ini.
“Apa, Sean?”
Sean menghela napas. “Aku tidak terbiasa meminta maaf, Al. Bahkan pada Alesya Wijaya saja aku jarang meminta maaf—walaupun aku yang bersalah. I wasn’t born to say apology. Aku tidak bisa.”
Entah apa yang membuat Alexandria mengeluarkan kekehan kecil. Sikap Sean yang seperti ini terlihat menggemaskan di matanya.
“Tapi, Sean. Aku ingin mendengar permintaan maafmu itu.”
Sean menatap Alexandria dengan kesal. “I’ve told you, aku tidak bisa.”
“Sean."
“Okay, i’m sorry. Aku tau ucapanku semalam membuatmu kesal, dan aku minta maaf.” Sean terlihat seperti anak kecil di mata Alexandria sekarang.
“Tatap aku, Sean. Begitulah cara meminta maaf yang benar,” ucap Alexandria begitu melihat Sean yang menunduk sedari tadi.
Sean menatap jengkel ke arah wanita itu. “Kau menjahiliku, that’s enough, Al.”
Alexandria tertawa mendengarnya. “Jadi?”
“Kita ke supermarket.” Sean menggenggam tangan Alexandria dan berhenti ketika akan keluar dari kamarnya, ia berbalik menatap Alexandria. Ia mencium bibir kesukannya dan melumatnya pelan. Setelah melepaskannya, ia menatap Alexandria dengan jahil dan membuat Alexandria heran melihatnya.
Dengan gerakan cepat, Sean meremas b****g Alexandria dan menepuknya pelan. “Jangan menjahiliku lagi, Al.”
Alexandria memekik karena tindakan Sean. “Sean!”
***