“Aku tidak suka pedas, Al.”
“Ini enak, Sean. Kau harus mencobanya.”
“Al, please. Yang tidak pedas, okay?”
“Sean, aku ingin yang pedas.”
“Al.”
“Sean.”
Mereka berada di supermarket dan sedang meributkan camilan ringan yang mereka sukai. Alexandria menatap tajam Sean yang membuat pria itu juga menatapnya dengan mata elangnya. Oh, kini tatapan itu tidak akan membuat Alexandria takut—jika yang ia pertaruhkan adalah chips kesukaannya.
“Permisi, Pengantin Baru.”
Sean dan Alexandria serentak menoleh pada seorang lansia yang mengambil kue yang ternyata dihalangi oleh mereka. Lansia itu tersenyum pada mereka saat ia sudah mengambil camilan kue ringannya.
“Kalian serasi. Tapi, usahakan jangan berdebat di depan umum, well, aku tahu bagaimana rasanya menjadi pengantin baru.”
Lansia itu pergi dari pandangan mereka. Meninggalkan Alexandria dan Sean yang masih menatapnya dengan heran.
“Sean, apa maksudnya tadi?!”
Sean mengangkat kedua bahunya tidak peduli. “Ia mengira kita baru menikah, Al.”
“Hanya karena kita berdebat tentang rasa chips bodoh itu? That’s ridiculous!”
Sean mengambil chips yang tidak pedas beberapa bungkus dan tersenyum jahil pada Alexandria. “Tidak pedas, Al.”
“Sean!”
***
“Apa kita harus membelinya juga?” Pertanyaan Sean membuat Alexandria yang kini sedang mengecek belanjaan mereka akhirnya menoleh pada Sean. Terlihat pria itu sedang menggengam beberapa kotak pengaman. b****y hell...
“Sean, astaga! Simpan itu!” Alexandria kelabakan dan segera merebut benda yang dipegang Sean dan meletakkannya ke tempat semula.
Sean tersenyum miring melihat kelakuan Alexandria. “I’m just asking, Al.”
“Sean, jangan melakukan hal aneh di tempat umum. Dan aku tahu pengaman yang sering kau pakai tidak kau beli di supemarket murahan seperti ini.” Alexandria berbisik dengan tatapan mengancam pada Sean. Pria itu hanya terkekeh kecil melihat kelakuan Alexandria.
“Ya, tapi tidak ada salahnya jika kita membeli satu, bukan?”
Alexandria menghela napas dan mendorong trolly-nya untuk meninggalkan Sean, tapi sebelumnya ia berkata, “Jangan salahkan aku jika aku hamil karena kau membeli pengaman yang salah, Wijaya.” Melihat Alexandria yang berucap sinis padanya, membuat Sean lagi – lagi terkekeh geli.
Setelah keluar dari tempat perbelanjaan itu, Sean tidak membawa Alexandria untuk pulang ke apartemennya—walaupun wanita itu sudah merengek untuk segera pulang. Sean justru membawa Alexandria ke café yang tidak jauh dari apartemen mereka.
“Sean, seriously. Aku ada kuliah pagi besok,” rengek Alexandria ketika melihat Sean menyeruput frapuccino-nya dengan santai. Astaga, rasanya Alexandria ingin menampar wjajah tampannya sekarang juga.
“Chill, Al.”
Alexandria kesal dengan pria itu dan akhirnya memalingkan wajahnya.
“Sean.”
Entah kenapa Alexandria sontak menoleh saat nama Sean dipanggil. Alexandria menatap seorang wanita dengan tinggi semampai dan tubuh proposional, memakai dress hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
“Gheani?”
“I am, Stranger.” Gheani tersenyum lebar dan memeluk Sean dengan akrab begitu Sean berdiri untuk menghampirinya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Sean dengan nada tenang.
“Good. Mom menyuruhku untuk kembali ke negara ini dan tinggal di sini.”
Sean menarik bangku untuk Gheani yang tepat berada di tengah – tengah antara dirinya dan Alexandria. “US sounds good, isn’t it?”
“Exactly, bahkan aku berniat untuk tetap tinggal di sana. Sayang Mom tidak mengijinkannya.” Sean mengangguk dan kembali menyeruput minumannya. Mereka tampak asyik dengan obrolan mereka hingga melupakan kehadiran Alexandria.
Alexandria mulai semakin terasa bosan ketika Gheani dan Sean tetap mencapakkannya. Ia sengaja menghela napas, dan akhirnya berhasil mencuri perhatian Sean.
“Oh, Gheani. Ini Alexandria Neville.” Sean memperkenalkan Alexandria pada wanita berumur dua puluh enam tahun itu.
“Hai, Alexandria Neville.”
“Hai. Please just call me Alexa.” Gheani tersenyum menanggapinya. Ia kembali berbicara dengan Sean mengenai kehidupannya di Amerika—yang menurut Alexandria sangat menyebalkan.
“Oh ya, Sean. Ibumu mengundangku ke rumahnya besok. Kau akan kesana juga, bukan?” tanya Gheani karena tahu bahwa Sean sudah tidak serumah dengan orangtuanya. Alesya Wijaya menghubunginya ketika ia memberitahu bahwa ia sudah berada di negara ini. Alesya memintanya untuk datang ke rumahnya.
“Mom belum memberitahuku. Tapi, ya, aku akan kesana. Benar, kan, Al?”
Alexandria yang awalnya hanya melamun akhirnya tersentak ketika Sean memanggilnya. “Apa?”
“Kau akan pergi bersamaku ke rumah Mom. Oke?”
Alexandria mengangguk. “Ya, tentu.”
Gheani mengerutkan dahinya karena melihat kedekatan Alexandria dan Sean. “Siapa dia, Sean?” tanya Gheani yang cukup mengagetkan Alexandria karena menurutnya pertanyaan wanita itu sangatlah...tidak sopan. Seolah makna pertanyaannya adalah; untuk apa kau mengajak wanita seperti Alexandria, Sean?
“Dia—"
“Aku temannya.” Alexandria memotong perkataan Seanyang membuat Sean menatap tajam ke arahnya.
“Really? Aku tidak menyangka Sean akan berteman dengan wanita yang sangat jauh dari umurnya.” Perkataan Gheani cukup menyinggung Alexandria—juga Sean. Seolah Sean adalah penjahat kelamin tua yang mengidap p*******a.
“Ya, kita bertemu di kampus—secara tidak sengaja. Dan, akhirnya kita berteman. Sean sering membantuku mengerjakan essay kuliahku,” ucap Alexandria dengan sedikit gugup.
“Jadi, kau hanya berteman dengan Sean untuk membantu tugasmu?”
Sean menghela napas melihat sikap Gheani yang menurutnya terlalu berlebihan. “Ghenai, enough. Hubunganku dan Alexandria—kau tidak perlu mngetahuinya.”
Alexandria tersenyum dengan lebar begitu melihat Gheani yang akhirnya mengaku kalah.
***
“You’re such a bad liar, Al. Kau harus tahu itu,” ucap Sean ketika mereka berada di perjalanan menuju gedung apartemen Sean.
“Lalu apa yang harus aku katakan padanya? Bahwa aku adalah gadis jalang yang masih duduk di bangku kuliah yang dibeli Sean Wijaya dan harus selalu menuntaskan nafsunya karena membutuhkan uang pria itu? Begitu, maksudmu?” Alexandria menatap Sean dengan tajam.
“Bukan, Al. Kau bisa mengatakan bahwa kau partner-ku.”
Alexandria mendelik ke arah Sean seraya tertawa mengejak pada pria itu. “Sebenarnya siapa dia, Sean? Kelihatannya ia menyukaimu.”
“Sasha Gheani Arsatya. Berumur dua puluh enam tahun. Anak tunggal dari Renata Arsatya dan Azrian Arsatya. Ayahnya sudah tiada sejak dia berumur tujuh tahun. Renata yang akhirnya berjuang mati – matian meneruskan perusahaan suaminya, dan akhirnya ia bertemu Ayahku dan mereka menjalin hubungan bisnis.” Sean menjelaskannya dengan santai seolah ia sudah hapal silsilah keluarga Gheani di luar kepala.
“Dan Ayahmu yang mengenalkannya denganmu, lalu ia ingin kau mengenalnya dalam artian yang lain?" tebak Alexandria dan membuat Sean terkekeh geli.
“Tidak sepenuhnya salah, Al. Tapi, ibuku yang menyuruhku. Ia juga mengenal Renata.”
Alexandria hanya mengangguk mengerti. “Well, Sean. Gheani bisa kau masukkan kedalam list; wanita yang mempunyai kesempatan untuk kau nikahi.”
Kali ini, Sean tertawa mendengarnya. “Terimakasih atas saranmu, Al.”
“Kau tidak mau memasukkan namamu juga?” Sean melanjutkan.
Alexandria hampir tersedak ludahnya sendiri. Konyol. “Oh, no thanks, Tuan Wijaya.”
***
“Mom, aku menemukan gadis itu.”
“Siapa maksudmu?”
“Gadis itu, anak haram itu.”
“Bicara yang jelas, Gheani.”
“Alexandria Neville. Aku bertemu dengannya.”
“Dimana, Ghe?”
“Itu tidak penting. Tapi aku rasa, dia berhubungan dengan Sean Wijaya.”
“Anak haram itu? Mungkin kau salah lihat, Gheani. Tunggu, kita hanya tahu namanya—kita memang belum mengetahui wajahnya.”
“Oh, really? Memangnya ada berapa Alexandria Neville di negara ini?”
“Gheani.”
“Mom, kau tidak mau membalas si Jalang itu?”
“Sasha Gheani Arsatya, tenangkan dirimu.”
“Aku tidak peduli, Mom. Aku akan terus mencari tahu tentang anak haram itu.”
***