Alexandria meletakkan beberapa kantong belanja di dapur dan diikuti Sean dengan kantong belanjaan yang lebih banyak.
“Wow, aku rasa ini pertama kalinya aku berbelanja sebanyak ini. Terimakasih, ATM-ku.” Alexandria menepuk pundak Sean dengan jenaka yang membuat Sean mau tidak mau tertawa. Entah sejak kapan ia dan Alexandria sudah tidak terlalu canggung.
“Ini bukan untukmu saja, Al.” Sean berkata seraya menyimpan barang – barang dari kantong belanja tadi ke tempat yang seharusnya.
Alexandria ikut membantu pria itu. “Ya, ya. Aku sadar diri, Sean. Tenang saja.” Lagi – lagi, Sean tertawa mendengarnya. Saat Alexandria akan menyimpan beberapa bumbu dapur, ia cukup kesulitan karena tempatnya cukup tinggi. Damn you, tubuh kecil. Alexandria masih berusaha melakukannya sendiri hingga tak sadar bahwa Sean memperhatikannya sejak tadi.
“Jangan malu untuk meminta bantuan, Al.” Sean bergegas mengambil benda yang dipegang Alexandria dan meletakkannya dengan mudah. Tak sadar, dari jarak sedekat ini, Alexandria bisa mencium harum tubuh Sean yang memabukkan. Oh girl, ia sudah terlalu sering berdekatan dengan Sean dan seharusnya harum tubuh Sean sekarang tidak membuatnya seperti ini.
“Al.” Wanita itu tetap bergeming.
“Alexandria.”
Akhirnya, lamunan Alexandria buyar dan menatap Sean yang kini terheran karena Alexamdria yang sibuk dengan pikirannya.
“Ada apa, Al?” Pertanyaan Sean dijawab gelengan oleh wanita itu.
Sean tersenyum miring, pria itu mendekatkan dirinya pada Alexandria dan berbisik, “Jangan bepikiran kotor, Al.”
Alexandria sontak terkejut karena ucapan Sean. Ia mendorong d**a Sean dengan kesal dan segera pergi dari dapur itu untuk menuju kamarnya. Alexandria masih bisa mendengar Sean yang terkekeh geli di belakangnya.
Alexandria menyiapkan buku – buku yang ia perlukan untuk kuliah besok dan memasukkannya ke tas. Alexandria berbalik ketika pintu kamarnya terbuka hanya untuk melihat Sean yang memandangnya. Pria itu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Alexandria dan merengkuh pinggangnya dari belakang.
Sean mulai mencumbui leher belakang Alexandria dan tangannya menggerayangi bagian tubuh Alexandria yang lain.
Alexandria tahu apa yang akan Sean lakukan. Jadi, ia memilih untuk menjauhkan dirinya dari Sean. “Besok aku kuliah, oke? Malam ini saja, Sean, tahan Big Guy-mu.”
Sean menaikkan sebelah alisnya. “Apa maksudmu, Al?”
“Aku tahu apa yang akan kau lakukan, Sean. Dan aku tidak bisa—tidak malam ini.”
Sean tersenyum miring dan membaringkan tubuhnya di kasur. “Oh, really? Well, Al, aku hanya ingin tidur.” Alexandria memutar bola matanya melihat kelakuan Sean. Tapi, ia memilih untuk ikut membaringkan tubuhnya di samping Sean.
“Kau tidur di sini?” tanya Alexandria ketika melihat Sean yang terlihat nyaman di kasurnya.
“Setahuku, apartemen ini milikku. Jadi, tentu saja aku boleh tidur di sini, bukan?” Sean menjawabnya dengan sinis dan membuat Alexandria memutar bola matanya, lagi.
“Al.”
Alexandria yang sudah siap untuk menarik selimut, mengurungkan niatnya dan berbalik untuk menatap Sean. “Apa lagi, Sean Wijaya?”
“Boleh aku bertanya?”
“Apa, Sean? Sikapmu aneh.”
Giliran Sean yang memutar bola matanya karena Alexandria bersikap menyebalkan. “Untuk apa uang yang aku beri padamu?”
Seketika tubuh Alexandria menegang. “Kenapa kau bertanya?”
“Aku ingin kita cukup terbuka satu sama lain. Well, aku hanya berjaga – jaga jika saja kau membeli obat – obatan dengan uangku itu.”
Alexandria memukul Sean dengan bantal ketika pria itu mengatakan hal tersebut. Astaga. Alexandria tidak habis pikir jika Sean akan berpikir seperti itu. Wanita itu menganggap bahwa Sean tidak perlu tahu untuk apa Alexandria menggunakan uang itu. “Aku tidak mau kau tahu.”
Sean mengeryitkan dahinya. “Hei, Al. Ini tidak adil. Kau tahu keluargaku, sementara aku tidak.”
“Sean, keluargamu terkenal. Kau tahu itu.”
Sean menghela napas. “Aku hanya ingin tahu.”
Alexandria menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia tidak mau Sean mengetahui seluk – beluk keluarganya. Diandra dan Aiden tidak perlu ia beritahu kepada Sean. “Sean, jangan memaksaku.”
“Al, please. Aku ingin kau menceritakannya padaku.”
Alexandria menegakkan tubuhnya dan memilih untuk menyandarkan tubuhnya untuk mencoba tenang. Wanita itu menatap Sean yang juga menatapnya. Seoah tatapan Alexandria memohon agar Sean tidak memaksa dirinya untuk bercerita sementara tatapan Sean memaksa Alexandria untuk tetap menceritakan hal itu. “Sean...”
Sean menghela napas. “Tidak, semakin kau menolak untuk bercerita, semakin aku penasaran, Al.” Alexandria menatap Sean dengan kesal.
***
“Lyana, bagaimana keadaanmu?” tanya Diandra pada adiknya yang terbaring lemah di kasur rumah sakit itu. Selama satu bulan wanita muda itu berada di rumah sakit—membuat Diandra semakin khawatir.
“Dimana Al?” tanya Lyana dengan pelan. Suaranya hampir tidak terdengar jika saja Diandra tidak mendekatkan diri pada adiknya.
“Ly, pentingkan dirimu dulu. Anak itu baik – baik saja.” Diandra mencoba sabar walaupun ia sendiri kesal pada Lyana yang selalu bertanya tentang Alexandria yang kini sudah berumur tiga tahun.
“Aku ingin melihatnya.”
“Lyana.”
Tangan Lyana tergerak untuk menggenggam tangan Diandra. Walaupun hanya menggenggam tangan saja, butuh tenaga ekstra untuk Lyana melakukannya. “Sekali ini saja, Kak.”
Diandra tidak suka keadaan ini. Keadaan dimana adik satu – satunya itu sudah putus asa dengan keadaannya. Kanker otak yang menggerogotinya harusnya tidak membuat keadaan Lyana seperti ini. Ia tidak rela.
“Ly, percayalah. Dia baik – baik saja.”
“Kak, aku ingin melihatnya. Untuk terakhir—”
“No, Ly. Kau tidak akan berakhir seperti ini.” Diandra merasa air matanya sudah berkumpul di pelupuk mata. Ia tidak mau mendengar pernyataan adiknya.
“Kak Di, aku—”
“Mama.” Suara anak kecil itu menarik perhatian Diandra dan Lyana. Seketika itu juga senyum pada wajah pucat Lyana terbit. Melihat Alexandria datang kemari untuk menjenguknya—sudah lebih dari cukup untuk membuatnya senang. Setidaknya ia bisa mengingat wajah cantik anak itu ketika ia sudah tiada.
“Al, kemari.” Lyana mengulurkan tangannya untuk menyuruh Alexandria duduk di samping ranjangnya.
Tangan Lyana dengan susah payah mengelus rambut indah Alexandria. Ia tersenyum milhat anak kecilnya itu menatapnya dengan tatapan yang tidak terbaca. Alexandria hanya tahu bahwa Lyana sakit—dan Ibunya akan sembuh, pikirnya.
“Mama, ayo pulang,” ujarnya seraya menggenggam tangan Lyana yang bebas. Lyana tersenyum mendengar ucapan polos Alexandria.
“Iya, Al. Mama pulang.”
Diandra menutup mulutnya untuk menahan isakannya. Ia tidak mau melihat ini semua.
“Kak Di,” panggil Lyana dengan lemah. Diandra membalikkan tubuhnya untuk menatap Lyana. "Berjanjilah untuk menjaga Al, Kak. Aku mohon.”
“Ly.”
“Kak, aku mohon.”
Saat itu, tidak ada yang bisa Diandra lakukan selain mengangguk untuk menyetuju permintaan terakhir adiknya. Tidak ada yang bisa Diandra lakukan untuk mencegah kepergian adiknya.
Brian masuk ke ruangan itu untuk membawa Alexandria ketika Lyana masih tersenyum dan mengelus rambut Alexandria dengan sayang. Sebelum pria itu keluar, tanpa sepengetahuan Diandra, Lyana menyelipkan kertas lusuh di tangan Brian. Pria itu mengeryitkan dahinya pada adik iparnya. Tapi, Lyana hanya menjawabnya dengan senyuman tipis.
Setelah itu, Lyana pulang. Seperti yang ia katakan. Ia pulang.
***
“Aku masih bisa merasakan usapan halus di rambutku sampai sekarang, Sean.” Alexandria dengan menceritakannya dengan pandangan kosong. Tidak ada air mata yang mengalir di kedua pipinya. Hanya ada ingatan lama yang kembali terbuka, lembar demi lembar.
“Sejak saat itu kau diasuh oleh Diandra?” tanya Sean dengan nada tenang.
“Ya. Tapi Diandra membenciku, aku hanya pembawa s**l untuknya. Aku masih beruntung karena Brian masih mau menyayangiku.”
Sean masih menatap Alexandria. “Lalu, kau melakukan hal ini, untuk apa, Al?”
Alexandria tersenyum tipis pada Sean. “Cerita ini belum selesai.”
***