Part | Sixteen

1225 Words
FLASHBACK Brian membuka kertas lusuh pemberian Lyana sesaat setelah pemakaman adik iparnya itu selesai. Disana, tertulis; A. Ar. Brian tidak mengerti apa maksud tulisan itu. Tapi, ia yakin bahwa itu berhubungan dengan Alexandria ataupun Lyana. Alexandria bukan anak Brian dan Diandra, juga Lyana. Tapi, Brian mencintainya sama seperti ia mencintai Aiden—anak kandungnya sendiri. Tahun demi tahun, Alexandria semakin besar dan tumbuh menjadi anak yang cantik. “Al,” panggil Brian suatu hari saat Alexandria sedang menuangkan teh hangat. Anak itu menatapnya dengan tatapan bertanya.  Brian menghampirinya, ia berniat untuk memberitahunya bahwa ia akan mencari tahu siapa orangtua kandung Alexandria. Ia ingin mengatakannya pada gadis itu, tapi, ia memilih mengurungkan niatnya. *** “Ia selalu bertingkah aneh, Sean. Seolah ia ingin memberitahu sesuatu padaku.” Alexandria melanjutkan ceritanya. Sean masih setia mendengarkan. “Diandra yang mengatakan bahwa suaminya tahu siapa orangtua kandungku. Tapi, aku tidak sempat menanyakannya.” “Kenapa, Al?” “Diandra membenciku dan aku bisa memakluminya.” Alexandria kini mulai berkaca – kaca. “Alexandria, tell me.” “Terkadang kita melakukan hal yang tidak bisa kita banggakan. Benar, Sean?” Sean mengerutkan dahinya. “Bicaramu, aku tidak mengerti.” “Brian koma dan itu karena ia menyelamatkanku dari kecelakaan. Aku hampir tertabrak dan Brian menyelamatkanku. Sebagai gantinya, ia koma hingga sekarang dan Diandra membenciku.” Pernyataan Alexandria cukup membuat Sean terkejut. Ia tidak menyangka atas hal yang terjadi dalam hidup Alexnadria. “Al, itu bukan salahmu.” “Tapi aku yang menyebabkannya, Sean.” Alexandria kini menatap Sean dengan air mata yang meluruh di pipinya. “Diandra menyuruhku untuk membantunya membayar biaya rumah sakit yang membengkak. Aku melakukannya, Sean. Dan atas dasar dendam padaku, Diandra selalu meminta uangku dalam jumlah banyak tiap bulan—sampai suaminya terbangun dari koma. Untuk pembayaran jasa, katanya.” Alexandria melanjutkan. “Al, itu konyol. Dia tidak bisa bersikap seperti itu padamu.” Sean kesal ketika mengetahui hal apa yang mendasari Alexandria nekat menjual tubuhnya saat itu. Ia sedikit lega begitu Alexandria tidak memutuskan untuk menjadi perempuan jalang yang menjajakan tubuhnya ke sembarang lelaki. Setidaknya, hanya pada Sean. “Al, tatap aku.” Alexandria yang tadi menunduk akhirnya menatap Sean dengan mata yang berkaca – kaca. “Aku akan membantumu, Al.” Alexandria tersenyum mendengarnya. “Kau sudah cukup membantuku, Sean.” Sean menggelengkan kepalanya ketika menyadari bahwa Alexandria salah tangkap. “Bukan, Al. Aku akan membantumu untuk melakukan apa yang Ibu angkatmu mau—with or without our aggrement.” “Apa maksudmu, Sean?” Sean menangkup kedua sisi wajah Alexandria dengan lembut. “Aku akan membantumu, tapi kau tidak perlu membalasnya dengan apa yang sering kita lakukan.” “So, you just spend your money for nothing?” “Mungkin, Al, jika maksud nothing itu adalah membantumu terbebas dari tekanan Diandra. Ya, Al, for nothing.” Sean tersenyum lembut pada Alexandria. “Lalu, apa untungnya untukmu?” “Kau bersamaku?” “Tanpa memuaskan nafsumu?” Sean tertawa. “Kau tahu bagaimana kebutuhan biologisku, Al. Tapi, maksudku, kau tidak harus tersiksa jika berhubungan denganku. Kau ada jika aku mau, tapi jika kau ingin menolak—kau berhak.” "Aku tidak mengerti kenapa kau melakukan hal ini, Sean.” Sean mengangkat bahunya. “Kita akan bertahan lebih lama, bukan?” “Maksudmu, perjanjian kita?” ralat Alexandria. “Al, kita.” *** Alexandria sedikit heran dengan sikap Sean yang begitu lembut padanya pagi ini. Ia tidak mengerti juga untuk apa Sean membantunya tentang Diandra. “Al, sebenarnya berapa yang Diandra minta padamu?” tanya Sean saat mereka berada di meja makan pagi itu. “Cukup banyak. Dan, hingga waktu saat ayahku bangun.” Sean menyesap kopinya dengan santai. “Aku akan membayarnya langsung, agar kau tidak perlu memikirkan Ibumu itu.” Alexandria menghela napasnya. “Percuma, Sean. Perjanjiannya adalah hingga Ayahku sadar. Jika kau membayar lunas sekalipun, ia akan memintanya lagi untuk bulan depan.” “Oh, jika ia tahu Sean Wijaya. Mungkin ia akan berhenti.” Sean tidak menyadari perkataannya itu membuat Alexandria kesal setengah mati. “Tidak, jika ia tahu Sean Wijaya. Maka, ia akan semakin memerasku, Sean. Please, sekali ini saja, Sean, biarkan aku menyelesaikannya sendiri.” “Lama – kelamaan, aku akan merasa bahwa aku hidup mengontrak di dunia ini.” Alexandria menggerutu. Sean tersenyum pada Alexandria. Menghampiri wanita itu dan akhirnya mengecup bibir wanita itu. “Okay. Tapi, biarkan aku membantumu, Al.” “Thanks.” Alexandria tersenyum tulus pada Sean. Sean mengangguk. “Oh, Al. Kita juga akan mencari orangtuamu, okay?” “Okay.” *** Alexandria terkejut ketika ia melihat Gheani menarik kursi yang ada di depannya saat ia duduk di café di dekat kampusnya. Gheani tersenyum pada Alexandria—namun, membuat Alexandria takut karenanya. “Kau masih mengingatku, Alexa?” tanya Gheani yang hanya dijawab anggukan oleh Alexandria. Tentu saja, baru kemarin mereka bertemu—tidak mungkin Alexandria akan lupa. Gheani memesan minuman yang ia inginkan pada pelayan dan gerakannya itu tidak luput dari perhatian Alexandria. “Kau baru saja pulang?” tanya Gheani. Alexandria hanya bisa mengangguk lagi dan menyeruput minumannya karena tidak tahu apa yang harus ia jawab. Sebenarnya, ia tidak suka Gheani berada di sini. Ia hanya ingin menikmati waktu sendirinya—yang tentunya sendiri. “Untuk apa kau di sini, Gheani?” Akhirnya Alexandria mengutarakan apa yang ia simpan di kepalanya. Well, mungkin perkataannya lebih kepada; aku tidak ingin kau di sini, Gheani. Gheani tersenyum, dengan gerakan yang santai ia menyeruput minman yang sudah ia pesan. “Alexa, aku hanya ingin mengobrol denganmu.” Alexandria menggeleng. “Tidak, Gheani. Jangan berkata seperti itu—aku tahu kau ingin menanyakan sesuatu padaku.” “Well, Alexa. Aku hanya ingin tahu, siapa orangtuamu. Aku sepertinya mengenalmu sebelumnya.” Gheani berucap dengan santai yang berbanding terbalik dengan Alexandria yang kini terkejut dengan perkataan Gheani. “Untuk apa?” Gheani kembali tersenyum, dan Alexandria membenci senyumannya itu. “I’ve told you, Alexa. Aku sepertinya mengenal orangtuamu.” “Gheani, aku tidak peduli.” Gheani masih tersenyum palsu pada Alexandria. Kini, Alexandria meyakinkan dirinya bahwa ia membenci wanita yang di depannya itu. “Diandra Anastasia dan Brian Tandra.” Alexandria cukup terkejut ketika Gheani benar – benar mengetahui nama orangtuanya. “Bagaimana kau tahu, Gheani?” “Itu tidak penting, Alexa darling. Tapi, bukankah kau bukan anak kandung mereka. Bahkan kau adalah anak yang ditemukan oleh Lyana Azriella. Benar?” Alexandria menahan napasnya ketika mendengar nama wanita yang sudah mengurusnya itu. Ia tidak tahu bahwa Gheani akan mengetahui tentang keluarganya sejauh itu. “Cukup, Gheani. Apa maksudmu?” Alexandria ketakutan untuk alasan yang belum ia tahu. Ia tidak suka dengan kelakuan Gheani. “Aku hanya memastikan, Alexandria. Dan sekarang aku sudah yakin.” Gheani bangkit dari duduknya. Ia tersenyum kembali pada Alexandria dan meninggalkan Alexandria dengan kebingungannya. Alexandria menatap kepergian Gheani dengan dahi yang berkerut. *** “Mom, aku sudah menanyakannya.” Gheani menghampiri Renata yang kini berada di halaman belakang rumahnya. “Apa, Gheani? Mom tidak mengerti maksudmu.” Gheani duduk di samping ibunya. “Alexandria Neville. Ia memang anak dari Jalang itu.” “Bagaimana bisa kau sangat yakin, Gheani?” “Aku menanyakannya langsung. Ia tidak bisa berkata apa – apa ketika aku mengatakan nama orangtua angkatnya.” “Lalu, apa yang kau mau, Ghe?” Renata menatap anak satu – satunya itu dengan senyuman lembut. “Maksud, Mom, kita?” “Ya, Gheani. Kita.” “Revenge.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD