04

899 Words
"Apa usaha yang dibuka di samping kita Arthur, cafe?" Tanya Sean sembari membuka tuxedo yang tadi ia kenakan.   Ia baru saja sampai di penthouse nya setelah menyelesaikan acara pembukaan gedung kantor barunya tadi. Dan ia cukup terkejut saat melihat bangunan di sampingnya yang berdiri anggun dengan suasana hangat  namun sejuk karena banyaknya pepohonan layaknya cafe atau restoran Eropa lainnya yang nampak tak beroperasi. Maklum saja, ia sama sekali belum sempat menilik gedung kantornya yang baru lantaran mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu.   “Apa sudah tidak berguna lagi? Kita bisa membelinya jika memang begitu.” Tanya Sean kembali. Oh ingatkan semua orang bahwa Sean adalah pria egois perfeksionis yang sangat ambisius.   "Tidak tuan, hanya coffee shop milik mahasiswa setempat."   "Kau memintanya tutup?" Pasalnya Arthur pasti faham mengenai Sean yang tak senang jika acaranya diusik oleh kegiatan sekitar   Arthur menggeleng, "tidak tuan. Kebetulan memang mereka sedang tutup untuk beberapa hari."   Sean mengangguk faham. "Kembalilah Arthur, besok kau masih harus bekerja. Terima kasih untuk kerja keras mu malam ini, nanti akan ku kirimkan hadiah mu."   Arthur tersenyum simpul dan membungkuk pamit mengundurkan diri.   Sean bergerak mendekati ranjang dan menghempaskan tubuhnya pada ranjang berukuran king size miliknya. Ia memejamkan matanya, hari ini cukup melelahkan untuknya. Meski hanya beberapa jam saja, namun ia harus berjalan mondar mandir memamerkan senyum palsunya dan berbasa-basi dengan para koleganya. Mengertilah, sebenarnya Sean tak pernah menyukai hal-hal seperti itu.   Sean menghembuskan nafasnya lelah, ia merasakan dingin dan hampa disaat seperti ini. Ia merutuk kebodohannya yang memilih ranjang berukuran sangat besar namun hanya ditempati olehnya seorang diri. Jelas hal itu tak dapat menghilangkan rasa dingin dari pendingin ruangan dan udara kota Amsterdam yang dingin malam ini. Sean menggeram pelan, andai saja ia tak salah mencintai wanita pasti saat ini ia bisa merasakan ranjangnya menghangat karena kehadiran sosok lain.   Sean membuka matanya dan menggeleng pelan. Tidak, ia tidak butuh wanita dan cinta seperti itu. Ia bukan orang miskin, jika memang ia membutuhkan seseorang untuk menghangatkan ranjangnya tentu saja ia akan mudah menunjuk wanita manapun yang diinginkannya. Ya, Sean tak akan pernah jatuh dalam kesalahan yang sama lagi. Ia tak akan jatuh cinta lagi untuk selamanya.   ***   "Cath," suara Vanila menggema di koridor kampus.   Cathie hanya mendengus melihat tingkah bar-bar sahabatnya itu. "Aku pergi dulu, okay."    Cathie mengangguk dan memberikan kecupan singkat pada bibir Demon, kekasihnya. Ia lantas berbalik dan bersedekap menanti Vanila yang tengah melangkah dengan senyum lebar kearahnya.   "Makan apa pagi ini, kenceng banget." Sarkas Cathie saat Vanila sampai di hadapannya.   Vanila menggaruk tengkuknya tak gatal, "sorry. Tapi aku sedang bahagia."   Cathie menarik alisnya sebelah, "aku diterima magang di kantor terkenal Cath." Cathie hanya mendengus mendengar jeritan Vanila yang kembali menggelegar.   "Suara mu, astaga." Cathie mengerang frustasi.   Vanila hanya terkekeh sembari memamerkan senyum lebarnya, ia merangkul Cathie untuk melangkah menuju kelas mereka.   "Jadi kamu magang dimana?" Tanya Cathie pada akhirnya.   "Di Crovplt.Inc, gila itu perusahaan besar Cath." Lagi-lagi Vanila tak bisa menutupi kegembiraannya.   Cathie mendesah pelan, "shut up Vanila."   Pernahkah Cathie bilang jika Vanila adalah tipe wanita kelebihan energi? Jika belum, biar Cathie jelaskan.    Vanila adalah gadis yang ditemuinya 3 tahun lalu, notabennya Vanila adalah adik tingkatnya namun karena dirinya yang malas-malasan dalam kuliah jadilah ia banyak mengulang materi di semester awal dan bertemu dengan Vanila sebagai maba saat itu. Vanila adalah sosok gadis periang, sangat. Cathie tak bisa memungkiri bahwa Vanila adalah penghangat suasana disaat kumpul bersama. Namun tak ayal, Cathie kadang sebal dengan sifatnya yang tak bisa mengontrol suaranya saat merasa bahagia. Tapi tetap saja, bagi Cathie sahabat terbaiknya hanya satu yakni Vanila.   "Kamu magang bagian apa? Staff bagian audit?" Vanila yang menggeleng menjadikan Cathie mengernyit bingung.   "Terus?" Tanya Cathie bingung.   Vanila masih setia memasang senyum lebarnya, "i'm a secretary."   Cathie mendelik saat mendengar penuturan Vanila. "Are you serious? Wah gila," sahutnya.   "Kamu gak panas kok Nya," lanjutnya setelah memeriksa kening Vanila.   Vanila memanyunkan bibirnya. “Aku sehat ih," serunya sebal. "Lah aku kira kamu sakit Nya," kali ini Vanila yang mendelik mendengar penuturan Cathie.   "Kamu ambil prodi apaan sih Nya sampai magang jadi sekretaris?" Geram Cathie gemas.   "Emang anak akuntansi gak boleh jadi sekretaris ya?" Tanya Vanila dengan polosnya.   Cathie memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas pelan, "ya bukan Nya, tapi kan–"   "Nah itu, yaudah." Seru Vanila penuh semangat memotong ucapan Cathie.   Cathie mendesah pasrah, "yaudah terserah."   Vanila tersenyum lebar dan memeluk Cathie sejenak dari samping.   "Terus kerjaan kamu?"    Vanila menoleh sejenak pada Cathie, "nanti ngomong Clark. Aku ijin ambil cuma malem doang boleh gak ya?"    Kali ini Cathie menghentikkan langkahnya dan mendelik tak suka, "jangan gila! Kamu tuh manusia Nya bukan robot. Gak bisa habis kerja di kantor kamu mau ke coffee shop sampe tengah malem? Kamu ambil cuti aja."    Kali ini senyum Vanila memudar, "tapi Cath.."   "Dengarkanaku Nya, kamu memang pekerja keras tapi gak gitu juga. Belum lagi kamu juga harus bolak balik ke kampus nantinya." Lanjut Cathie.   Vanila mendesah pasrah, "nanti aku ngomong sama Clark."   Cathie menggeleng, "aku kasih ijin. Jangan lupa kalo aku juga pemilik coffee shop itu."   Vanila mengangguk pasrah, toh ia juga takkan bisa menang melawan Cathie.   "Lagian ya Nya, kamu gak mungkin gak di gaji kok. Kamu tau kan sebesar apa perusahaan itu,kamu pasti dapet gaji lebih besar dari coffee shop ku. Apalagi jadi sekretaris manager."    Vanila mengangguk perlahan, namun tak lama ia membulatkan matanya menatap Cathie.   "Aku bukan sekretaris manager," katanya.   "Terus?"   "Aku jadi sekretaris CEO nya," kali ini Cathie yang harus dibuat menganga tak percaya.   >><< 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD